Part 12

1181 Kata
Gadis berambut panjang sebahu tersebut nampak menatap kosong ke arah jendela kamarnya. Ia menyirit saat menatap lampu kamar di lantai tiga rumah sampingnya tersebut masih menyala. Apa gadis berambut sebahu tersebut belum tertidur? Padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. “Pantes dia pinter banget, kayanya dia berusaha sekeras itu,” monolognya. Ia mendongak, keningnya terlihat menyirit saat memperhatikan apa yang ada di lantai tiga rumah tersebut. Seperti tidak ada yang beres, saat ia hendak bertanya melalui telfon yang sudah berada di genggamanya tiba-tiba lampu kamar itu mati. Sepertinya gadis berambut sebahu itu sudah pergi tidur. Hampir sebulan Gavesha mengenal Meesa. Menurutnya gadis itu tak lebih dari gadis lugu, baik, dan naif. Ia tipekal orang yang mudah di bodohi, sepertinya? Mengingat kebelakang saat gadis itu mulai masuk ke kehidupanya, banyak yang berubah. Saat ini ia mempunyai teman selain Davendra, karena kehadiran Meesa yang cukup cerewet pun membuatnya jadi ikut cerewet juga. Entah kenapa dia yang dulu selalu acuh pada sekitar, semenjak ada Meesa semua berubah. “Gue tau lo orang baik, tapi gak semua orang itu juga baik, Lavanya Meesa.” Gavesha tau jika mustahil Meesa mendengar perkataanya tersebut. Tapi entah harus bagaimana ia menjelaskan ke Meesa. Tak memikirkan tentang Meesa, lebih baik Gavesha pergi tidur. Besok ia harus rapat pagi bahkan ia harus rela bolos bimbingan olimpiade. Pemilihan pengurus osis yang baru akan di lakukan setelah ia selesai melakukan olimpiade. Itu semua karena Nalendra, laki-laki sialan itu sepertinya sengaja mengerjainya. Bagaimana bisa Gavesha memikirkan dua hal berat selama bersamaan? Olimpiade yang sangat menguras otak dan pemilihan pengurus osis yang sangat menguras tenaga. “Nyesel gue mau jadi pasangan tuh cowok nyebelin,” gerutu Gavesha. Bukan, bukan pasangan dalam artian kekasih. Tapi pasangan kandidat tahun lalu. Sialnya ini semua perintah kepala sekolah yang ingin dirinya dan Nalendra menjadi pasangan ketua dan wakil ketua osis. *** Gavesha terperanjat saat melihat jam beker di nakas tempat tidurnya. Astaga sudah jam enam pagi. Tanpa ba bi bu Gavesha langsung menyambar handuk yang ada di kursi belajarnya. Masa bodoh dengan pamornya, tidak ada waktu lagi untuk rutinitas pagi. Gavesha hanya mandi selama sepuluh menit kemudian bersiap dengan tergesah-gesah. Ia bahkan tidak menacap dirinya di cermin, yang terpenting rambutnya nampak rapi dan seragamnya sudah terlihat cukup rapi. Gadis mungil tersebut nampak berlari menuruni anak tangga di rumahnya, di meja makan Xena dan Baasima melihat putri bungsunya terheran-heran. “Jangan lari-lari, Gavesha,” peringat Baasima. “Hehehe, Pa ayo berangkat.” “Gak sarapan dulu, Gavesha?” tawar Xena. “Gak keburu, Ma. Vesha udah telat, ayo Paaa ...,” rengek Gavesha menarik lengan Baasima. “Ya sudah, kamu bawa roti sama s**u kotak ini. Makan di mobil,” tukas Xena tidak dapat Gavesha bantah. “Iya-iya. Ya udah Ma, Vesha berangkat dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Gavesha menyalimi tangan keriput Xena. “Wa’alaikumuusalam. Jangan lupa di makan sarapanya.” “Siap!” Gavesha pun langsung menarik tangan Baasima. Tidak ada waktu lagi, bahkan ia mengumpat dalam hati saat merasakan ponselnya terus bergetar. Sepertinya Nalendra tengah menerornya. Sesampainya di mobil, Gavesha memilih untuk mematikan ponselnya saja. Masa bodoh nanti Nalendra akan mengamuk. Ia ingin menikmati sarapanya tenang sembari perjalanan menuju sekolah. “Bagaimana persiapan olimpiade kamu, Gavesha?” basa basi Baasima yang masih fokus menyetir. “Sejauh ini oke.” “Kenapa tiba-tiba kamu ikut matematika? Bukanya kamu sudah menyiapkan dari dulu untuk pelajaran IPA terpadu?” “Papa ingat Meesa?” “Cucunya Nek Denallie?” tebak Baasima tepat sasaran. “Yup! Dia yang mewakili IPA.” “Waw, pintar dong dia?” “Banget. Dia yang ngalahin Gavesha di olimpiade nasional kemarin.” “Oh, tapi kamu bisa tetap mempertahankan peringkat paralel tahun ini bukan?” Gavesha menghentikan makanya, ia nampak berfikir sejenak. Mengalahkan Meesa? Jika dulu Gavesha tidak pernah ragu untuk bersaing dengan siapapun, termasuk Davendra. Namun kali ini apakah ia siap untuk melawan Lavanya Meesa? “Kenapa Gavesha? Kamu tidak sanggup?” “Bisa,” jawab Gavesha penuh keyakinan. “Papa harap kamu menepati omongan mu. Ajak saja Meesa belajar bersama di rumah, kamu bisa bertanya bagaimana gadis itu mendapatkan otak cerdasnya.” Gavesha mengangguk kaku, mendadak nafsu makanya hilang. Meskipun ia kerap salip menyalip dengan Meesa, namun tingginya kemampuan gadis itu tidak main-main. Meesa sepertinya memang mempunyai otak yang cerdas dari sananya, sedangkan apa yang gadis itu selama ini dapatkan hanya hadiah dari kerajinanya. “Sudah sampai. Belajarlah yang rajin, jangan lupa bawa piala pulang,” ujar Baasima menjulurkan tanganya untuk di salimi oleh Gavesha. “Iya, Pa. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Gavesha menunggu mobil Baasima pergi dari pelataran SMP Nabastala. Ia membuang roti selai coklat kesukaanya tersebut ke tempat sampah. Ia sudah tidak nafsu makan. Langkahnya nampak lesu menuju ruang osis di gedung dua lantai tiga. Di ambang pintu ruang osis, seorang laki-laki bertubuh jakun tampak menyender dengan raut wajah datar. Gavesha menghela nafas sejenak, ia menyiapkan mental bertemu laki-laki menyebalkan tersebut. “Ck! Lama, lelet banget sih lo jadi orang. Buang-buang waktu gue aja, cepet buka pintunya,” cerocos Nalendra yang hanya di jawab deheman oleh Gavesha. Gavesha sedang tidak mood untuk berdebat. Ia menurut saja segera membuka pintu ruang osis tersebut. Tanpa tau sopan santun Nalendra masuk begitu saja dan langsung tiduran di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. “Mana makalah yang di minta sama Pak Adytama?” Sekali lagi tak ada jawaban dari Gavesha, gadis itu langsung melemparkan makalah yang cukup tebal di depan wajah Nalendra. “Lo jadi cewek lemah lembut dikit aja bisa gak sih? Lihat noh si Meesa, kalem, lemah lembut, adem liatnya,” sindir Nalendra semakin membuat mood Gavesha memburuk. “Gue ya gue, Meesa ya Meesa. Gue gak akan bisa jadi Meesa, begitu juga Meesa gak akan bisa jadi gue.” Setelah mengatakan tersebut, Gavesha langsung pergi begitu saja. Lebih baik ia mengikuti bimbingan olimpiade saja. Mungkin puluhan soal deret bilangan tersebut mampu membuat moodnya naik. “PMS tuh bocah? Sewot bener,” monolog Nalendra menanggapi Gavesha yang pergi begitu saja. “Gavesha!” panggil gadis sebahu tersebut saat melihat Meesa yang baru saja keluar dari gedung dua. “Meesa? Lo kok gak ikut bimbingan?” heran Gavesha pasalnya sekarang sudah hampir jam tujuh. “Hehehe, telat.” Gavesha meraih muka gadis itu yang nampak memerah. Ia harus berjinjit karena tinggi badan Meesa yang lebih tinggi tiga belas senti meter darinya. “Muka lo kenapa? Ini kaya kesiram air panas?” Meesa tampak gelagapan, ia menjauhkan dirinya dari Gavesha. “Ga-gak papa kok. Kemarin aku ceroboh mau minum s**u eh terpeleset jadi s**u panasnya kena muka ku deh,” bohong Meesa. Percayalah bisa di bilang ini pertama kali ia berbohong. Tapi tak mungkin bukan jika ia berkata yang sebenarnya? “Bener?” tanya Gavesha penuh selidik. “Iya, Gavesha.” “Ya udah kalau gitu lain kali hati-hati. Udah di obatin kan?” “Udah kok.” “Ya udah, yok ke ruangan bimbel. Pasti lo kena marah Bu Wikrama, Bu Wikrama kalau marah serem tau!” kompor Gavesha bercanda. “Hahahaha, hush jangan gitu. Pamali ngomongin guru.” Mereka pun berjalan ke gedung satu tempat ruangan bimbingan olimpiade berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN