Part 42

1118 Kata
Selepas salat isya Meesa bersiap untuk pergi ke rumah Gavesha. Ia membawa beberapa paper bag yang berisi oleh-oleh dari padang untuk keluarga Gavesha. Setelah siap, ia keluar kamar tak lupa menutup pintu kamarnya. Sampai di lantai dua, Meesa ternyata bertemu dengan Jayendra yang baru saja keluar dari kamarnya. “Meesa, mau kemana?” tanya Jayendra mengetahui putrinya itu nampak rapi. “Mau ke rumah Gavesha buat kasih ini,” balas Meesa mengangkat beberapa paper bag yang ada di tanganya. “Ya udah, pulangnya jangan malam-malam ya,” pesan Jayendra. “Iya, Yah. Meesa pamit dulu ya, assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Setelah menyalimi punggung tangan Jayendra, Meesa malnjutkan langkahnya untuk pergi ke rumah Gavesha. Di teras rumah ternyata ada Agnia dan Pranaya yang tengah duduk santai. “Meesa, mau kemana malam-malam begini?” tanya Pranaya dengan menyesap kopi hitamnya. “Mau ke rumah Gavesha, Om. Kalau gitu Meesa pergi dulu ya. Assalamu’alaikum, Om, Tante,” pamit Meesa ramah. “Anak gadis kok kerjaanya kluyuran mulu. Kaya gak punya rumah aja. Ups ... kan emang di sini cuman numpang,” nyinyir Agnia sinis. “Wa’alaikumussalam,” ucap Pranaya menjawab salam Meesa. Meesa hanya tersenyum manis menanggapinya. Kemudian ia bergegas untuk pergi dari sana sebelum Agnia marah kepadanya. Pak Setya yang tadi sedang duduk-duduk santai di pos satpam, ia bangkit saat melihat Meesa hendak keluar. “Non Meesa mau kemana malam-malam gini?” tanya nya hendak membukakan pagar. “Mau ke rumah Gavesha, Pak. Ya udah Meesa pergi dulu ya. Assalamu’laikum, Pak Setya. Semangat jaga rumahnya!” “Wa’alaikumussalam, hati-hati, Non.” Meesa tertawa ringan. “Rumah Gavesha cuman di samping, Pak.” “Hehehe, ya kan tetep aja hati-hati jalanya,” balas Pak Setya yang juga tertawa renyah. Kedua langkah Meesa melangkah riang, sesekali ia bersenandung. Meesa bisa langsung saja masuk perkarangan rumah Gavesha karena ternyata pagarnya tidak ke kunci. Saat ia hendak menuju pintu utama rumah Gavesha, ternyata Gavesha dan Davendra berada di gazebo depan lantas memanggilnya. “Meesa!” panggil Gavesha dengan suara melengkingnya. Meesa menoleh ke arah gazebo, ia tersenyum saat melihat Gavesha dan Davendra ternyata telah berada di sana. “Haii!” “Lo bawa apa itu?” to the point Gavesha saat melihat paper bag yang di bawa oleh Meesa. “Heh! Gak ada sopan santunya. Tamu tuh tawarin duduk dulu kek, minum, malah tanya bawa apa,” tegur Davendra menggeplak kepala Gavesha dengan buku tulis. “Hehehe, ayo sini duduk dulu, Sa. Lo mau minum apa?” sambut Gavesha. “Hahaha, santai aja. Ini mau kasih oleh-oleh dari Ayah sama Bunda. Ada juga buat Davendra, tapi gue gak bawa. Sorry ya, Dave. Gue gak tau kalau lo ada di sini,” terang Meesa yang duduk di samping Gavesha. “Makasih ya, Sa! Bilangin juga salam ke Om Jayendra sama Tante Elakshi, makasih banyak,” seru Gavesha yang membuka isi paper bag dari Meesa. “Santai aja kali, Sa,” balas Davendra menanggapi ucapan Meesa tadi. “Kalian lagi apa nih? Gue gak ganggu, ‘kan?” “Gak lah, kita cuman lagi belajar bersama aja sih. Lo mau ikut?” tawar Gavesha. “Boleh, tapi gue ambil buku dulu ya. Sekalian ambil oleh-oleh buat Davendra.” “Santai aja kali, Sa.” “Gak papa, sekalian. Tunggu ya.” Meesa berjalan cepat untuk mengambil bukunya di rumah sementara Gavesha hanya geleng-geleng melihat tingkah Meesa. Terkadang Meesa juga suka random dan yang paling menghibur adalah kepolosan gadis itu. Meski terkadang Gavesha harus menjelaskan secara detail namun ia senang dengan itu semua. Gavesha memekik saat ternyata orang tuanya Meesa membelikanya kain songket yang terkenal dengan harga yang cukup tinggi. “Demi apa, kain songket ori ini kayanya!” seru Gavesha senang. “Heh! Lo gak usah norak gitu deh. Kalau Meesa tau kan gue yang malu. Mana lo buka di depan dia lagi,” omel Davendra kesal pada Gavesha. “Udah lo diem aja. Baik banget Tante Elakshi sama Om Jayendra.” Gavesha tiba-tiba terdiam. Ia kembali melipat kain songket dari Meesa. “Dave, lo ada ngerasa yang aneh gak?” “Apa?” “Meesa bilang Ayah sama Bundanya dari Padang, berarti yang siksa Meesa bukan bonyok nya dong. Lo juga sadar gak? Luka-luka yang dulu ada tubuh Meesa, itu pas bonyok nya gak ada di rumah. Berarti ....” Gavesha menggantungkan ucapanya. Ia saling tatap dengan Davendra. Davendra yang seakan mengerti ia mengangguk cepat seperti menerima dengan baik signal kode yang di berikan oleh Gavesha. Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya belajar. Davendra ke rumah Gavesha untuk membahas ucapan Nalendra. “Kalau menurut lo siapa yang paling mungkin siksa Meesa?” tanya Davendra pada Gavesha. “Kalau Nenek Denallie kayanya gak. Soalnya Meesa sering banget cerita tentang Nenek Denallie. Menurut gue juga Nenek Denallie tuh emang sayang banget sama Meesa,” papar Gavesha. “Kalau Pak Atreya?” “Gue gak seberapa kenal sih. Kan Pak Atreya tuh sibuk. Jarang ada di rumah juga.” “Dia tinggal sama siapa aja sih?” “Setau gue, ada keluarganya Tante Agnia sama Tante Anwa. Terus juga ada Kak Ekavira sama Kak Kaivan. Kak Ekavira menurut gue sih juga gak. Dia kan sibuk syuting. Setau gue juga Kak Ekavira mau main film deh,” urai Gavesha rinci. “Gimana kalau keluarga Tante Agnia? Tante Anwa? Sama Kak Kaivan?” Belum sempat Gavesha menjawab ternyata Meesa baru saja datang membawa beberapa buku dan paper bag yang sepertinya untuk Davendra. “Lagi bicarain apa nih? Seru banget kayanya. Oh ya, ini buat lo, Dave.” “Makasih ya, Sa. Sampaiin salam gue ke orang tua lo, makasih banyak juga,” ujar Davendra menerima paper bag dari Meesa. “Iya, sama-sama. Kita belajar apa ini?” “IPS aja gimana?” usul Gavesha. “Oke.” Mereka mulai berdiskusi mengenai bab Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainya. Gavesha dan Davendra banyak berdepat namun untung saja ada Meesa sebagai penengah. Mereka berdiskusi dengan pro dan kontra bahkan tak jarang saling geplak. Belajar bertiga seperti itu memang lebih menyenangkan. Apalagi sedari tadi Meesa banyak tertawanya karena perdebatan Gavesha dan Davendra. “Lagi bahas apa sih, seru banget ini kayanya. Lho ada Meesa juga di sini?” kata Xena yang menghampiri dengan membawa minuman dan cemilan. “Iya, Tante Xena.” Meesa menyalimi punggung tangan Xena dengan sopan. “Ma, ini tadi Meesa ngasih oleh-oleh lho dari Padang,” ungkap Gavesha memberikan paper bag yang tadi dari Meesa. “Waahh ... siapa nih yang dari Padang?” “Ayah sama Bunda, Tante,” balas Meesa. “Sampaiin ucapan terima kasih Tante ke Bunda sama Ayah kamu ya.” “Iya, Tante.” “Ya sudah, semangat kalian belajarnya. Tante tinggal masuk dulu ya.” “Iya, Tante.” “Iya, Ma.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN