Hari ini Elakshi dan Jayendra akan pulang, sementara luka bekas cekikan di leher Meesa masih belum hilang sepenuhnya. Meesa membuka jendela kamarnya, sore ini langit nampak begitu cerah. Meski jarum jam berada di angka lima, namun auzora masih nampak kebiruan.
“Ya Allah, maafin Meesa. Akhir-akhir ini Meesa suka bohong, tapi Meesa gak berani jujur, ya Allah,” monolog Meesa pada langit.
Meesa bingung mesti bagaimana, tapi dia tidak tahu kenapa Atreya, Kaivan, Agnia, dan Anwa begitu membencinya. Seperti kemarin sore ternyata Anwa baru saja keluar dari rumah sakit. Baru saja pulang, namun Anwa sudah menyiksanya karena Meesa hanya membeli makanan untuk 10 orang saja.
Karena hal itu, Meesa tidak boleh makan malam dan di larang keluar untuk membeli makanan lagi. Untung saja kemarin siang Lal membelikanya nasi pecel, jadi Meesa tidak terlalu lapar.
Ketika tidak ada Jayendra atau Elakshi, Meesa memang jarang makan. Ada saja kesalahan di mata mereka yang akibatnya hukuman tidak makan untuk Meesa. Ekavira sangat baik sebenarnya, terkadang Ekavira diam-diam memberinya makan. Namun ketika ketahuan, maka Meesa akan di siksa.
Ada luka baru juga di paha Meesa. Luka itu di berikan oleh Atreya karena Meesa tidak sengaja membuatkanya teh dengan gula pasir.
Tok ... tok ... tok ....
“Sayang ini Bunda. Bunda datang bawa banyak oleh-oleh buat kamu,” ucap Elakshi di balik pintu kamar Meesa.
Meesa segera menghapus air matanya dengan kasar. Kemudian ia tersenyum sangat lebar sebelum hendak membukakan pintu untuk Elakshi.
“Bunda! Meesa rindu banget sama Bunda!”
Elakshi terkekeh melihat putri semata wayangnya yang begitu antusias.
“Rindu sama Bunda aja nih?” goda Jayendra yang menenteng sebuah boneka beruang ukuran jumbo.
“Ayaahh ... Meesa juga rindu banget sama Ayah. Ini boneka buat Meesa?” pekik Meesa senang.
Jayendra mengangguk, ia memberikan boneka tersebut yang langsung di peluk erat oleh Jayendra.
“Bilang apa Sayang sama Ayah?” peringat Elakshi.
“Terima kasih, Ayah!”
“Kamu suka, Sayang?”
“Buka banget!”
Mereka bertiga masuk ke kamar Meesa. Ternyata bukan hanya boneka, Elakshi juga membelikan beberapa baju dan jajanan untuk Meesa.
“Ini nanti berikan ke Gavesha sama Davendra ya,” pesan Elakshi.
“Siap, Bunda.”
“Gimana anak Ayah selama Ayah tinggal? Gak nakal, ‘kan?”
“Inn syaa Allah. Oh ya, minggu depan Meesa bakal tampil lho di acara Gebyar Demokrasi Nabastala,” cerita Meesa antusias.
“Iya? Hebat banget anak Bunda,” puji Elakshi yang begitu tulus.
Saat ini mereka benar-benar seperti keluarga yang sangat bahagia. Meesa duduk di antara Elakshi dan Jayendra. Ia menceritakan beberapa cerita yang Jayendra dan Elakshi lewatkan.
“Ayah pingin banget dateng ke acara itu nanti. Ayah mau lihat anak kesayangan Ayah bernyanyi,” seru Jayendra yang menyambut antusias cerita Meesa.
“Ayah tenang aja, nanti Meesa minta tolong deh Davendra buat videoin. Soalnya kalau Gavesha gak mungkin, kan Gavesha bakal jadi panitianya,” balas Meesa lugu.
“Hahaha, iya deh kalau gitu. Jangan lupa nanti tunjukin videonya ya.”
“Siap!”
“Ya sudah, Sayang. Bunda sama Ayah ke bawah dulu buat bersih-bersih. Setelah ini kita salat berjamaah, kamu salat kan, Sayang?” ujar Elakshi begitu lembut.
“Iya, Bunda.”
Elakshi dan Jayendra meninggalkan kamar Meesa. Setelah keduanya keluar Meesa bernafas lega. Ia membereskan sejenak beberapa barang pemberian Elakshi dan Jayendra. Kemudian dia bersiap untuk salat magrib setelah ini.
***
“Dave!” panggil seorang laki-laki yang parasnya tidak jauh beda dengan paras tampan Davendra.
Davendra hanya meliriknya ogah-ogahan. “Apa?”
“Lo ada ngerasa aneh sama Meesa?” ucap Nalendra serius.
“Biasa aja sih dia, kenapa?”
“Gue kemarin lusa ketemu sama dia-,”
“Gue setiap hari ketemu sama dia, Nale,” potong Davendra malas.
“Ck, jangan potong dulu ucapan gue. Gue serius.”
“Iya-iya.”
“Lo gak lihat ada luka di lehernya?”
Davendra menimpuk Nalendra dengan bantal yang tadi ia buat untuk tiduran.
“Astagfirullah, Nale. Meesa bukan cewek yang kaya gitu ya. Boro-boro, dia aja suka ngelepasin tangan gue waktu gandeng dia,” cecar Davendra marah.
“Ck. Dengerin dulu.”
“Cepet napa, jangan setengah-setengah kasih infonya,” kesal Davendra yang sebenarnya ia sudah sangat kepo.
“Gue kemarin lihat kaya ada bekas cekikan di lehernya. Terus emang lo yakin kalau luka di dahinya itu bener gara-gara gak sengaja kena ujung meja?” papar Nalendra.
Davendra merenung. Tidak sekali memang ia melihat Meesa dengan luka-luka. Ia mengingat beberapa waktu lalu dia dan Gavesha memang sempat curiga. Namun siapa yang menyakiti Meesa? Sementara yang ia lihat Jayendra dan Elakshi begitu menyayangi Meesa. Jadi mana mungkin jika mereka menyiksa Meesa.
“Gue gak tau.”
Davendra dan Nalendra saling tatap beberapa saat.
“Lo tau apa yang ada di pikiran gue?” ucap Nalendra memberi kode.
Davendra menghela nafas kasar. “Gue sama Gavesha udah pernah curiga. Emang gak cuman sekali gue sama Gavesha lihat luka di tubuh Meesa. Tapi kalau yang lakuin Om Jayendra atau Tante Elakshi itu gak mungkin, Nale.”
“Gak mesti mereka.”
“Makdus lo ....”
“Iya!”
“Tapi keluarga Pak Atreya kan di kenal baik-baik, Nale,” kilah Davendra yang masih belum percaya.
Nalendra hanya merotasikan bola matanya malas. Kenapa di saat seperti ini Davendra sangat lemot.
“Lo jangan ke makan ucapan Meesa yang anggap semua orang baik deh,” malas Nalendra.
“Berarti, kemungkinan Om Jayendra sama Tante Elakshi siksa dia juga dong?” debat Davendra.
“Iya sih.” Nalendra menjeda sejenak ucapanya. “Dia gak pernah cerita ke lo gitu?”
“Gak pernah. Dia cuman bilang kalau semua orang baik ke dia.”
“Gue heran, kenapa ada orang yang bisa nyakitin gadis selugu dia,” heran Nalendra.
“Gue jarang sama dia sih akhir-akhir ini. Soalnya lagi sibuk urus volly. Besok deh gue tanya ke dia,” enteng Davendra yang justru mendapat hadiah tonyoran dari Nalendra.
“g****k, ya dia gak akan cerita lah,” umpat Nalendra kesal.
“Terus gimana?”
“Kita selidiki aja. Ini kan termasuk kekerasan pada anak gak sih? Bisa di penjarakan,” usul Nalendra.
“Kaya lo gak tau hukum Indonesia aja, kalau punya duit ya gak akan di penjara.”
“Heh! Kan seenggaknya kita bantu Meesa, dodol!”
“Kenapa lo ngebet banget? Suka ya lo sama dia?” tebak Davendra.
“Siapa yang gak suka sama dia? Lo juga suka kan sama dia?”
Nalendra menaik turunkan alisnya menggoda Davendra.
“Dih, sok tau.”
“Ngaku aja, lo suka kan sama Meesa? Tapi gue denger-denger dia lagi di pepet sama si kulkas itu kan?” ejek Nalendra semakin menjengkelkan.
Davendra menatap Nalendra sengit. Ia bangkit dari kasur empuknya untuk mengusir Nalendra yang sangat menyebalkan.
“Pergi gak lo!” usir Davendra membawa guling yang siap untuk menimpuk Nalendra.
“Hahahahaha, sok bener sibukin diri. Bilang aja gak kuat lihat crush ngecrushin kelas sebelah,” ledek Nalendra sambil tertawa terbahak.
BRAK ....
Davendra menutup pintu kamarnya dengan keras. Tak lupa menguncinya aga Nalendra tak kembali ribut.
“Setan emang Nalendra,” gerutunya mengumpati Nalendra.
Namun saat ini pikiranya memikirkan Meesa. Sepertinya ia sudah kekanak kanakan. Meesa tidak salah apapun. Lagi pula kalau Meesa dekat dengan siapapun itu juga hak Meesa. Seharusnya Davendra sadar, dia tidak punya hak untuk marah atau melarang. Lagi pula Lal memang orang baik, jadi ia tidak perlu khawatir jika Meesa bersama laki-laki itu.
“Argh ... kenapa sih sama gue.”
Davendra menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Jika boleh jujur, ia tertarik pada Meesa sejak pertemuan pertama mereka. Wajah lugu dan lucu Meesa membuatnya langsung tertarik dengan gadis itu.
Apalagi saat ia tahu bagaimana kepribadian Meesa, bagaimana baiknya gadis itu pada orang lain, dan melihat semua kemampuan gadis itu, Davendra benar-benar menyukai Meesa. Benar memang kata Nalendra, siapa yang tidak menyukai Meesa?
“ARGHHH!”
Davendra mengacak-ngacak rambutnya kasar. Kepalanya rasanya ingin pecah. Ya dia mengakui, dia sengaja menyibukan diri agar tidak selalu berinteraksi dengan Meesa. Meesa yang dasarnya polos dia memaklumi saja. Bahkan Meesa kerap kali memberinya perhatian seperti membelikan minum atau roti untuk dirinya.
Menyukai cewek frendly memang sesusah ini. Apalagi dia bukan siapa-siapa. Tapi Davendra takut, jika Meesa mengetahui bahwa dirinya menyuaki Meesa, ia takut Meesa menjauh.
“Bodo amat dengan cinta-cintaan, stres gue lama-lama!”