Part 40

1181 Kata
Part 40 Saat ini jarum jam telah pukul setengah satu siang, namun gadis berambut sebahu tersebut masih belum mengisi perutnya. Sedari tadi Meesa sedang sibuk berdiskusi dengan Charity mengenai lagu yang akan dia bawakan saat event minggu depan. “Gimana kalau lagu dari Bruno Mars yang judulnya Talking to the Moon,” saran Charity. “Baik, Bu. Akan saya coba.” Meesa mencoba untuk memainkan piano yang ada di hadapanya. Tuts demi tuts ia mainkan dan kali ini yang berbeda adalah suara indahnya ikut mengalun. Jika biasanya Meesa hanya akan memainkan piano klasik minggu depan ia akan bermain piano sekaligus bernyanyi. Charity cukup kagum saat mendengar suara Meesa, ternyata gadis itu juga memiliki suara yang merdu dan khas. Permainan piano Meesa terdengar oleh beberapa siswa yang sedang lewat koridor ruang musik. Dia memanggil temanya untuk melihat saat mendengar kali ini Meesa bukan hanya bermain piano tapi bernyanyi juga. Ruang musik yang tadinya hanya ada Meesa, Charity, dan beberapa anak band saat ini mulai di penuhi dengan beberapa siswa-siswi SMP Nabastala yang kepo dengan permainan piano Meesa. “Gak nyangka suaranya merdu banget ternyata.” “Gue pikir dia cuman bisa main piano aja.” “Makin insecure ini.” “Meesa bakal tampil di acara Gebyar nanti?” “Iya, katanya Kak Nalendra pas rapat kemarin, Kak Meesa akan tampil.” “Gue gak sabar lihat pas acara nanti. Sekarang aja sebagus ini.” “Mundur deh gue kalau sainganya Kak Meesa.” “Kak Lal pasti makin suka sama Kak Meesa.” “Senyumnya ya Allah, manis banget.” “Andai Meesa pacar gue, sombong pasti gue.” Masih banyak lagi pekikan dari pada siswa-siswi yang berebut untuk menonton Meesa latihan. Seorang laki-laki jakun dengan tinggi seratus enam puluh delapan senti meter melirik sejenak apa yang sedang menjadi pusat perhatian. Sampai akhirnya tanpa sengaja manik mata hazelnya bertubrukan dengan iris coklat tua itu. “Cantik,” lontarnya tanpa sadar memuji gadis imut yang tengah memainkan piano tersebut. Gemuruh tepuk tangan terdengar nyaring saat gadis itu telah selesai memainkan pianonya. Kali ini pandangan mereka tidak hanya ke gadis cantik itu, namun ke suara tepuk tangan dari telapak tangan kekar yang ada di belakang mereka. “KAK LAL?” “Demi apa Kak Lal barusan senyum?” “Lal pasti senyum ke arah gue!” “Ngarep lo, jelas-jelas Lal senyum buat Meesa.” “Lal, lo mau gak pacar gue?” “Gue juga bisa nyanyi lo kaya Meesa.” “Kak Lal!!” “Demi apa itu tadi Lal?” “Lal tadi beneran senyum?” Meesa menyirit saat mendengar pekikan nama Lal. Apa Lal melihat ia latihan barusan? “Latihan cukup sampai sini saja. Lebih baik kamu pergi makan siang sebelum bel masuk berbunyi. Tapi nanti pulang sekolah, saya tunggu untuk latihan lagi. Jaga suara kamu ya, saya juga cukup terpukau dengan suara kamu,” ucap Charity memerinkan Meesa untuk pergi istirahat. “Terima kasih, Bu Charity. Kalau gitu saya pamit, selamat siang.” “Selamat siang, juga.” Setelah menyalimi Charity, Meesa pergi dari ruang musik untuk pergi ke kantin. Sepertinya hari ini ia akan pergi ke kantin sendirian. Karena hal itu Meesa hanya ingin membeli roti dan air mineral saja terus nanti ia bisa memakanya di kelas. “Kak Meesa, tadi permainan piano Kak Meesa bagus banget. Suara Kak Meesa juga merdu. Aku tadi lihat Kak Meesa paling depan sendiri lho,” papar seorang gadis berkuncir kuda yang menghampiri Meesa. “Terima kasih.” “Kak, emang bener Kak Meesa jadian sama Kak Lal?” tanya blak-blakan adik kelasnya itu. Meesa menatap sekilas dari bednya, sepertinya ia adalah anak kelas delapan. “Kita cuman temenan aja.” “Berarti aku masih ada kesempatan dong buat jadi pacar Kak Lal!” Meesa hanya menggeleng saja melihat tingkah adik kelas nya yang random itu. “Hahaha, ada-ada aja kamu.” “Ya udah kalau gitu aku mau balik ke kelas dulu. Daaa ... Kak Meesa.” “Iya, daaaa ....” Meesa kembali berjalan sendirian. Ia mengeluarkan ponselnya, untuk bertanya dimana keberadaan Gavesha. Lebih tepatnya apakah gadis itu sudah makan. Karena memang Gavesha akhir-akhir ini sangat sibuk mengurusi organisasinya. Meesa berniat untuk membelikan Gavesha roti juga jika gadis itu belum makan. Karena tidak terlalu fokus dengan ponselnya Meesa jadi tidak melihat jika ada tiang di hadapanya. Untung saja sebuah telapak tangan melindunginya sehingga dahinya tidak jadi kejedot tiang tersebut. Meesa terkejut, ia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya jika Lal tidak sigap menangkap ponsel Meesa. “Jangan ceroboh, Lavanya,” peringat Lal dengan suara khasnya yang berat. Meesa cukup merinding mendengar perkataan tersebut. “M-maaf ....” “Minta maaf ke diri lo sendiri.” “Iya, Lal. Makasih udah nolongin aku lagi.” Lal mengangguk, ia memberikan ponsel Meesa kembali. Iris mata hazel itu menajam, saat dengan samar ia melihat leher putih itu seperti ada bekas kemerahan. Tangan Lal menyibak rambut sebahu yang menutupi luka itu, hingga pada akhirnya matanya melotot saat tahu benar itu adalah bekas tangan yang mencekram. Itu artinya Meesa telah di telah di cekik yang bisa ia pastikan itu adalahh tangan laki-laki dewasa karena jika perempuan tidak akan sebesar itu bekas nya. Sementara Meesa yang tidak nyaman, ia menyingkirkan tangan Lal yang memegang rambutnya. “Kenapa?” desak Lal seperti menahan amarah. “Hah?” “Jangan pura-pura bodoh, Lavanya.” Meesa menunduk takut. Tatapan mengintiminadi Lal apalagi saat ini terlihat jelas jika laki-laki itu tengah menahan amarah membuat Meesa takut dan beringsut. “Jawab, Lavanya.” “Ma-maaf,” “Berhenti minta maaf. Gue tanya ini kenapa!” “Lal, aku takut,” cicit Meesa yang mulai menjauhkan tubuhnya dari Lal. Lal menghela nafas kasar. Ia tidak menyadari bahwa perlakuanya barusan membuat Meesa takut dan tidak nyaman. Setelah menetralisir emosinya, Lal mencengkram pergelangan tangan Meesa lembut. “Lo belum makan, ‘kan?” Meesa hanya mengangguk lemah, sampai akhirnya Lal menariknya menuju lift. “Kita mau kemana?” lirih Meesa karena masih takut dengan Lal. Lal hanya diam enggan menjawab pertanyaan Meesa barusan. Setelah itu Meesa tidak berani lagi berbicara apapun. Ia menurut saja kemana Lal akan membawanya. Sampai akhirnya Lal menariknya ke kantin yang nampak mulai sepi. “Apa?” “Hah?” Lal hanya mendengus, kenapa Meesa tidak pernah peka dengan semua perkataan singkatnya. Kan Lal malas berbicara panjang. Dari pada mengulang pertanyaanya Lal langsung saja pergi ke stan yang berada di dekat mereka. “Pecel satu, teh hangat satu.” “Siap, Den.” Meesa benar-benar seperti anak ayam yang begitu menurut pada induknya. Ia tidak berani melawan Lal apalagi bertanya lagi. Lal membawa Meesa ke salah satu meja yang ada di dekat mereka. Setelah itu ia menyodorkan sepiring nasi pecel dan segelas teh hangat yang baru saja ia pesan. “Makan,” titah Lal. “Ini kan makanan kamu.” “Makan, Lavanya.” Meesa tidak berani lagi berontak, ia langsung memakan saja nasi pecel yang di belikan oleh Lal. Sementara itu Lal yang melihat Meesa begitu menurut denganya hanya tersenyum simpul, ia membantu memegangi rambut Meesa agar Meesa tidak kesusahan makan nya, karena paras ayunya tertutup dengan rambut hitam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN