Dengan nafas menggebu Kaivan naik ke lantai tiga. Tidak peduli apapun Kaivan langsung saja membuka kamar Meesa. Ia mencari keberadaan Meesa di setiap sudut ruangan tersebut, namun sayangnya ia tidak menemukan gadis imut itu.
“Meesa! Kemana lo?” sentaknya bernada tinggi.
“Maaf, Kak Kaivan. Ada apa cari Meesa? Meesa baru saja mandi,” ucap Meesa yang baru saja masuk kamar dengan handuk yang masih membungkus rambutnya.
Dengan langkah lebarnya Kaivan berjalan cepat ke arah Meesa yang masih ada di ambang pintu. Tanpa belas kasih Kaivan mencekik Meesa dengan kuat.
“Sejak keberadaan lo Ayah sama Ibu sering berantem karena lo! Lo itu emang pembawa sial,” murkanya yang masih mencekik leher Meesa dengan kuat.
Meesa berusaha melepaskan cekikan Kaivan. Saat ini paras ayunya telah berubah menjadi memerah karena mulai kehabisan nafas.
“Lo seharusya pergi dari sini, keberadaan lo di sini tuh cuman bawa sial aja!”
“Ma-maaf Kak, to-tolong lepasin, sesak Kak,” mohon Meesa denga terbata.
Kaivan tersenyum miring bahkan saat ini semakin mencekik erat leher Meesa. Hingga pada akhirnya seorang wanita berkepala tiga itu memekik saat melihat apa yang sedang di lakukan oleh Kaivan. Wanita tersebut segera berlari untuk menyelamatkan gadis malang itu yang kini mulai kehabisan pasokan oksigen.
“Astagfirullah Den Kaivan, nyebut Den. Ini Non Meesa, astagfirullah. Lepasin Den lepasin, kasihan Non Meesa,” pekiknya berusaha melepaskan tangan Kaivan dari leher Meesa.
Bukanya melepaskan cengkaramanya, Kaivan justru mendorong asisten rumah tangga itu.
“Lo cuman pembantu di sini, pergi atau lo gue bunuh juga!”
“Astagfirullah Den, nyebut Den. Non Meesa salah apa sama Den Kaivan? Tapi jangan kaya gini juga, kalau Nyonya Denallie tahu pasti Den Kaivan di marahin sama Nyonya.”
Kaivan menghempaskan langsung tubuh Meesa, ia menatap kesal pembantunya tersebut.
“Sampai lo berani ngadu hal ini ke siapapun, gue akan buat lo kehilangan pekerjaan lo,” ancam Kaivan pada pembantu tersebut.
“Dan untuk lo. Sampai lo ngadu hal ini ke Ibu atau orang tua lo, habis lo sama gue.”
Setelah mengancam kedua orang tersebut, Kaivan meninggalkan mereka untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Di sisi lain, Meesa terbatuk dan masih berusaha mencari pasokan oksigen untuk masuk ke paru-parunya. Dadanya benar-benar sangat sakit dan saat ini ia yakin tenggorokanya pasti sangat merah.
Laksmi segera merengkuh cucu dari majikanya tersebut. Ini keterlaluan, ia tidak peduli jika harus kehilangan pekerjaanya.
“Non Meesa baik-baik aja?” tanyanya yang masih merengkuh tubuh Meesa.
“Meesa baik-baik aja kok, Mbak. Mbak Laksmi jangan adukan hal tadi ke siapapun ya,” balas Meesa lirih.
“Tapi tadi Den Kaivan udah keterlaluan, Non,” elak Laksmi.
“Meesa gak papa kok, Mbak. Makasih ya udah bantuin Meesa tadi.”
Meesa tersenyum manis, nafasnya sudah mulai stabil. Dadanya jusa sudah tidak terlalu sesak. Laksmi tersenyum kecut melihat betapa lugunya Meesa. Meesa adalah gadis yang sangat baik. Dia kerap kali membantu pekerjaan nya meski ia sudah melarangnya.
“Tapi, Non-,”
“Meesa baik-baik aja kok. Meesa takut kalau Mbak Laksmi ngadu, nanti Kak Kaivan apa-apain Mbak Laksmi,” potong Meesa.
“Ya Allah, Non Meesa baik banget sih. Tapi saya gak papa kalau harus di pecat, Mas Kaivan tadi sudah sangat keterlaluan, Non,” desak Laksmi.
“Meesa gak papa kok. Sekarang waktunya Mbak Laksmi pulang, ‘kan? Mbak Laksmi pulang aja, pasti anak Mbak udah nunggu di rumah.”
“Kalau gitu, kalau Non ada apa-apa Non hubungi saya ya. Saya janji akan selalu bantu Non, sekalipun saya harus kehilangan pekerjaan saya,” tutur Laksmi tulus.
“Iya, Mbak. Terima kasih ya. Mbak pulangnya hati-hati juga.”
“Iya, Non. Terima kasih, Non juga hati-hati ya. Mbak yakin Non pasti kuat jalani semuanya.”
“Iya, Mbak.”
Laksmi terlebih dahulu membantu Meesa untuk masuk ke kamar. Kemudian ia keluar setelah memastikan Meesa baik-baik saja.
Setelah Laksmi keluar, Meesa melikat lehernya di depan kaca. Benar saja, sesuai dugaanya ternyata terdapat bekas cekikan yang sangat terlihat. Leher putih milih Meesa tercetak jelas bekas lima jari yang memerah.
“Ya Allah, gimana ini nutupinya,” monolog Meesa pada dirinya sendiri.
Meesa merapikan dulu penampilanya. Ia menyisir rambutnya yang belum sempat ia keringkan. Azan magrib telah berkumandang, Meesa menatap kosong ke arah cermin. Alasan apa lagi nanti? Jelas sekali ini adalah bekas cekikan.
Meesa memutuskan untung menggerai rambutnya dan nanti akan langsung memakai mukenahnya saja. Sebelum pergi mengambi wudu, ia tersenyum sebentar ke arah cermin. Senyum yang sangat manis untuk dirinya sendiri.
“Ayo Meesa, kamu pasti bisa!”
***
Gadis berambut sebahu itu mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Ia menikmati semilir anila malam yang menerpa paras ayunya. Ia menghentikan kayuhan sepeda miliknya saat melihat penjual nasi goreng keliling.
“Bang, nasi goreng 5 sama mie goreng 5 juga ya,” pesan Meesa pada penjual nasi goreng keliling itu.
“Iya, Neng. Di tunggu ya.”
“Iya, Bang.”
Meesa duduk di salah kursi plastik yang ada tak jauh dari gerobak nasi goreng tersebut. Ia menatap sekitar untuk menghilangkan kejenuhanya.
“Eh Meesa?” sapa Nalendra yang masih duduk di atas jok motornya.
“Hai Nalendra, kita ketemu lagi haha.”
“Kan kita satu komplek sama satu sekolah, Sa. Pasti sering ketemu dong,” kekeh Nalendra yang duduk di samping Meesa.
“Bang, Nasi mawut 1 sama nasi goreng nya 3 ya,” ucap Nalendra memesan.
“Iya, Mas. Tapi agak lama ya, soalnya si Neng pesen banyak.”
“Wih borong nih.” “Santai aja, Bang.”
“Hehehe, kan kamu tahu aku tinggalnya rame-rame,” balas Meesa ringan.
“Lo santai saja kali sama gue, Sa. Gak usah kaku gitu pakai aku-kamuan.”
“Iya.”
“Gimana, lo mau bawain lagu apa nanti pas Gebyar Demokrasi?” ucap Nalendra membuka pembicaraan.
“Belum tahu juga sih. Nanti mau gue tanyain dulu ke Bu Charity.”
“Lo bisa nyanyi gak?”
“Emm ... dikit sih.”
Nalendra merubah posisinya untuk menghadap ke Meesa. “Nah kalau gitu sekalian aja lo main piano sama nyanyi,” seru Nalendra semangat.
“Hahaha, tapi kalau suara gue jelek gimana? Yang ada nanti acaranya rusak gara-gara suara gue,” kekeh Meesa.
Meesa memang pandai memainkan beberapa alat musik terutama piano, namun dia masih belum percaya diri untuk menyanyi.
“Gue yakin suara lo merdu. Ngomong gini aja enak, apalagi kalau nyanyi,” gombal Nalendra.
“Hahaha, nanti gue bicarain sama Bu Charity.”
Nalendra menajamkan penglihatanya. Cahaya di sini memang remang-remang. Namun ia masih bisa melihat jelas seperti ada bekas merah di leher Meesa. Apalagi saat angin menerbangkan rambut Meesa, membuat leher putih Meesa terekspos.
Sementara itu Meesa yang menyadari Nalendra begitu berlebihan menatap lehernya membuatnya tidak nyaman.
“Kenapa, Nale?”
“Lo baik-baik aja kan, Sa?”
“Iy-iya kok.”
“Itu leher lo kenapa?”
Meesa sontak menutup lehernya ia gugup saat ini. Apalagi tatapan mengintimidasi milik Nalendra.
“Eh emang leher gue kenapa?” tanya Meesa balik.
“Lo yakin lo baik-baik aja?”
“Iy-iya.”
“Jujur aja, Sa.”
Meesa menghela nafas kasar. Ia menunduk takut. Nalendra tidak tega melihat wajah pias Meesa. Ia merasa bersalah karena mendesak Meesa seperti tadi.
“Sorry, kalau lo gak mau cerita ke gue gak papa kok. Cuman kalau lo ada apa-apa jangan sungkan buat bilang ke gue. Atau kalau lo masih canggung sama gue, lo bisa langsung hubungi Davendra atau Gavesha,” urai Nalendra.
“Ma-maaf ... terima kasih ya, Nale. Em ... tolong jangan bilang ke siapapun ya?” mohon Meesa.
Nalendra menghela nafas kasar.
“Oke. Tapi lo janji, kalau ada apa-apa lo cerita.”
“Aku baik-baik aja kok.”
Gue tau lo gak baik-baik aja, Sa.
Nalendra tersenyum dan mengangguk mempercayai saja ucapan Meesa barusan.