“Meesa,” panggil salah seorang laki-laki yang berpenampilan sedikit amburadul.
Kemeja berwarna birunya sedikit keluar dari celana dan dasi yang berwarna senada itu nampak hanya mengalung di rahang yang kokoh tersebut.
“Nalendra, ada apa?” ucap Meesa menghentikan langkahnya.
“Gue mau minta tolong, bisa gak lo tampil di acara Gebyar Demokrasi Nabastala minggu depan?”
“Maaf, tampil sebagai apa?” tanya Meesa yang masih bingung.
“Kan nanti seharian kita free class. Sebagai hiburan selain band, gue mau lo tampil main piano. Gue denger dari Davendra lo jago banget main pianonya,” terang Nalendra mengenai acara event terbesar SMP Nabastala setelah event hari ulang tahun yayasan Nabastala tentunya.
“Oh gitu, nanti aku bakal main lagu apa emangnya?”
“Terserah lo sih. Yang menurut lo cocok aja buat acaranya. Mau ya?”
“Iyaa ....”
“Makasih ya, nanti gue hubungi lo lagi. Lo mau pulang? Mau bareng gue?”
Belum saja Meesa menjawab namun suara melengking milik Gavesha sudah terdengar menggelegar di gedung dua.
“PULANG-PULANG, ENAK BANGET LO. BELUM SELESAI INI RAPATNYA. BALIK GAK LO, NALENDRA!!!”
“Terima kasih tawaranya, Nale. Tapi maaf aku udah di jemput kok sama supir. Mending kamu balik rapat gih sana. Gavesha udah marah-marah tuh,” ringis Meesa.
“Gavesha mah setiap saat juga selalu marah kali, Sa,” bisik Nalendra sambil terkekeh pada Meesa.
“Coba ulangi, lo ngomong apa? Lo pikir gue gak denger hah?” murka Gavesha yang saat ini sudah ada di samping Nalendra.
“Hahaha ada-ada aja kalian. Ya udah aku duluan ya, assalamu’alaikum,” pamit Meesa.
“Wa’alaikumussalam, hati-hati, Sa.”
“Iya, makasih Gavesha. Semangat rapatnya!”
Gavesha hanya mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi sebagai jawaban.
“Wa’alaikumussalam. Sumpah adem banget auranya Meesa, kagak kaya aura nenek lampir samping gue,” lirih Nalendra yang sayangnya di dengar oleh Gavesha.
“Lo bilang apa? Ayo ulangi.”
“Gavesha melepas sepatunya hendak menimpuk Nalendra yang terus saja membuatnya emosi. Tak ingin kena sasaran maut Gavesha dengan secepat kilat Nalendra lari menjauh dari Gavesha.
“Belum juga kita nikah, Sha. Udah KDRT aja lo,” goda Nalendra sambil terus berlari kencang.
“Siapa yang mau nikah sama lo!” sarkas Gavesha yang tak kalah nyalang.
Sementara beberapa murid SMP Nabastala yang masih belum pulang hanya geleng-geleng melihat tingkah keduanya. Tidak menjadi rahasia jika ketua osis dan wakil osis itu tidak pernah akur.
***
“Assalamu’alaikum,” salam Meesa yang baru saja memasuki rumah.
“Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang. Kamu gak ingat kalau di sini kamu itu cuman numpang,” cecar Atreya yang tengah duduk santai di ruang tamu.
“Maaf, Kek. Tadi Lavanya ada ekskul musik,” terang Meesa.
“Halah gak usah banyak alasan kamu. Mentang-mentang ayah dan bunda kamu tidak ada kamu pikir kamu bisa bebas?”
Meesa menunduk takut, ia tidak berani menjawab perkataan Atreya lagi.
Atreya bangkit dari duduknya untuk menghampiri Meesa. Kemudian ia mencengkram erat rahang Meesa.
“Kalau sampai ada kabar yang tidak menyenangkan tentang kamu, lebih baik kamu keluar dari rumah ini!”
“Iy-iya Kek.”
“Mas! Lepasin Lava,” titah Denallie yang baru saja keluar kamar.
Atreya melepaskan cengkramanya namun ia juga mendorong Meesa sehingga Meesa terjatuh. Denallie bergegas mendekat kearah Meesa untuk memastikan apakah cucu kesayanganya terluka.
“Mas, jangan sakitin Lava terus. Dia tidak salah apa-apa.”
“Tidak salah apa-apa kamu bilang? Karena ibu dia, Jayendra menjadi membangkang. Ia lebih memilih ibunya dari pada perempuan pilihan ku yang lebih kaya dari ibu gadis sialan itu,” sungut Atreya marah.
“Sudah, Mas. Itu masa lalu.”
“Tetap saja. Setiap aku melihat wajah dia, aku selalu teringat semua kejadian itu. Rasanya aku ingin sekali menyiksanya sampai mati.”
“Jaga ucapan kamu ya, Mas!” sentak Denallie.
Meesa takut, kini ia merangkul erat Denallie. Kedua sorot Atreya benar-benar tidak ada kebohongan di sana. Bahkan Meesa tidak berani lagi menatap manik mata itu.
“Belain aja dia. Dulu Jayendra, sekarang kamu. Mereka berdua memang pembawa sial di keluarga kita.”
“Cukup Mas! Ayo, Sayang kita ke kamar. Jangan dengerin kata Kakek ya.”
Denallie membantu Meesa berdiri, kemudian ia masih tetap merangkul Meesa dan mengantarkan gadis itu ke kamarnya. Sesampainya di kamar Meesa benar-benar menangis. Jujur ia sangat takut dan benar-benar takut dengan ucapan Atreya barusan.
“Udah, Sayang. Jangan takut, kan ada Nenek di sini. Jangan di dengerin ya ucapann Kakek barusan. Jangan di masukin ke hati.”
Meesa mengangguk sambil masih sesegukan. Sejujurnya ia tidak tahu dan tidak paham apa maksud dari kakeknya. Yang ia tahu memang sedari dulu Atreya tidak menyukainya. Ia berfikir mungkin Atreya tidak menyukainya karena dia perempuan.
Atreya begitu menyayangi Radhikha, Rafa, bahkan Rafandra. Rafandra adalah yang paling di banggakan oleh Atreya. Selama ini Meesa sudah berusaha mengambil hati Atreya. Dia melalukan semua perintah yang Atreya suruh, memenangkan banyak perlombaan agar Atreya bangga, dan selalu menjadi baik agar Atreya meliriknya.
Hanya saja Atreya tetap membencinya. Sebesar apapun usaha yang Meesa buat untuk membuat Atreya luluh, itu akan selalu sia-sia.
“Nek, Lava salah apa? Kenapa Kakek benci banget sama Lava?”
Tanpa sadar, Denallie meneteskan air mata. Ia benar-benar tidak tega menatap nayanika itu yang kini berubah menjadi sangat sendu.
“Kamu gak salah apa-apa. Kayanya Kakek cuman capek aja. Kakek sayang kok sama Lava, sayaaang banget,” beber Denallie.
“Kakek sayang Lava?”
“Iya, cuman caranya beda. Kakek mau Lava jadi orang yang hebat, tangguh, dan kuat.’
“Oh, jadi Kakek ngelakuin itu semua biar Lava jadi orang yang kuat ya, Nek?” ulang Meesa.
“Iya, Sayang.”
“Kalau gitu, Lava akan jadi orang yang lebih kuat biar Kakek lebih sayang sama Lava.”
Denallie memeluk erat cucu kesayanganya tersebut. Cucu nya yang paling lugu dan penurut. Tidak pernah sekalipun Denallie mendengar satu saja keluhan dari Meesa.
“Maafin perbuatan Kakek yang tadi ya, Sayang?”
“Kenapa minta maaf? Kan Kakek kaya gitu biar Meesa jadi orang yang kuat. Jadi Nenek gak perlu minta maaf atas perbuatan Kakek.”
“Iya, Sayang. Kamu harus jadi orang yang kuat ya. Nenek tahu, Lavanya adalah cucu Nenek yang terkuat,” pesan Denallie.
“Iya dong.”
“Sekaran kamu bersih-bersih sama istirahat dulu. Abis itu kita salat magrib berjamaah.”
“Iya, Nek.”
Denallie meninggalkan kamar Meesa dengan perasaan tak karuan. Rasanya ia ingin mengadukan semua perbuatan Atreya pada Jayendra. Hanya saja ia takut jika nanti Atreya semakin murka pada Meesa.
“Sudah selesai kamu mengurusi anak pembawa sial itu?” sinis Atreya saat Denallie memasuki kamar.
“Mas! Mas udah keterlaluan ya. Apa Mas gak kasihan sama Lavanya? Dia salah apa sih Mas?” protes Denallie menyuarakan perasaan hatinya.
“Dia salah karena dia hidup.”
“Astagfirullah, nyebut kamu Mas. Dia itu cucu kamu lho.”
“Aku tidak pernah anggap dia sebagai cucu ku.”
“Tapi kenapa, Mas?”
Atreya memutar balik badanya untuk menatap Denallie.
“Kamu masih ingat? Karena Jayendra lebih memilih Elakshi, aku kehilangan mega proyek besar dan aku hampir bangkrut karena hal itu.”
“Tapi gak seharusnya Mas siksa Lava seperti itu,” sanggah Denallie.
“Aku tidak peduli. Sudahlah kenapa kamu terus membelanya. Dia memang pantas mendapatkan itu semua.”
“Mas, Lava itu tidak salah apa-apa. Lagi pula itu masa lalu. Sekarang ekonomi kita juga membaik kan? Karir Jayendra juga bagus, Elakshi juga banyak membantu kita. Jangan di butakan sama dendam masa lalu, Mas. Apalagi Lava yang tidak tahu apapun menjadi imbas di sini.”
Plak ....
Atreya dengan tidak punya hati menampar Denallie.
“Berhenti bela dia, Denallie! Atau aku akan melakukan semua hal yang aku lakukan ke dia!” marah Atreya menggebu-nggebu.
Kaivan yang tadinya mendengar keributan dari kamar orang tuanya pun bergegas berjalan ke sana. ia tersentak saat melihat sang ibu terduduk di lantai sepertinya habis di tampar oleh ayahnya.
“Ayah! Kenapa ayah tampar Ibu?” ucap Kaivan tak terima.
“Tanya saja pada Ibumu. Kenapa dia selalu membela gadis sialan itu.”
“Maksud Ayah?”
“Panas kuping Ayah, dia selalu saja membela Lavanya.”
Kaivan mengangguk, ternyata pertengkaran kedua orang tuanya di sebabkan oleh ponakan sialanya tersebut. Kaivan membantu Denallie untuk bangkit dan menidurkanya di atas kasur.
“Ada yang sakit, Bu?” tanyanya sangat khawatir.
“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Kamu baru pulang kuliah?”
“Iya, Bu.”
“Ya udah sana bersih-bersih dulu,” suruh Denallie pada Kaivan.
“Ya udah kalau gitu Kaivan ke atas dulu ya.”
“Iya, Sayang.”
Sampai di luar kamar Denallie, Kaivan mengeram kesal dan kedua telapak tanganya mengepal. Sejak ada Meesa di rumahnya kedua orang tuanya selalu saja berantem karena gadis itu.