Part 37

1146 Kata
Kaki Meesa baru saja menapak di pelataran SMP Nabastala. Namun seorang gadis berambut panjang sepunggung menghampirinya dengan sumringah. “MEESAAAA!” jeritnya sambil berlari ke arah Meesa. “Hati-hati, Gave,” tegur Meesa yang ngeri kalau tiba-tiba Gavesha tersandung lalu terjatuh. Gavesha tidak mengindahkan perkataan Meesa, benar saja padahal hanya tiga meter lagi namun ia hampir saja jatuh jika Davendra tak peka. Davendra juga baru saja datang. Dia hendak pergi ke kelas namun mendengar pekikan Gavesha dari tengah lapangan. Instingnya yang kuat mengatakan Gavesha akan tersungkur pun membuatnya mengikuti Gavesha. “Inna lillahi. Astagfirullah, Gavesha. Baru aja bilang,” omel Meesa yang kini berjalan cepat menghampiri Gavesha. “Kan gue udah bilang, Gave. Hati-hati. belum juga nutup ini mulut. Untung aja ada Davendra,” cerca Meesa yang begitu cerewet seperti ibu yang memarahi anaknya. Sementara itu Gavesha hanya cengengesan sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Hehehe, maaf, Sa. Gue terlalu excited. Eh, itu kepala lo kenapa?” Gavesha hendak memegang dahi Meesa namun justru di tahan sama Davendra. “Jangan di pegang b**o. Udah tau itu sakit,” tegur Davendra. “Hehehe, kenapa, Sa?” “Gak papa kok, cuman kena ujung meja belajar aja,” bohong Meesa entah sudah keberapa kali. “Separah ini?” heran Davendra. “Iya.” “Kok bisa sih, Sa? Lo jatuh model apa bisa kaya gini?” “Panjangg ceritanya, Gave. Udah ayo sekarang kita ke kelas.” Gavesha merasa ragu jika Meesa berkata jujur. Tapi ia memilih untuk diam saja, rasanya tidak ada hak untuk bertanya lebih dalam. Apalagi Meesa terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut. *** Bel istirahat makan siang baru saja berbunyi. Meesa dan Gavesha bergegas untuk ke kantin karena keduanya sudah merasa sangat lapar. Apalagi sebelum jam istirahat tadi adalah jam pelajaran bahasa mandarin. Kepala mereka terasa akan pecah karena bahasa paling sulit tersebut. “Biar gue aja yang pesen. Lo cari meja ya. Lo mau apa?” usul Gavesha saat melihat kantin sangat penuh saat ini. “Nasi goreng ayam sama jus mangga. Ini uangnya.” “Oke.” Meesa bergegas mencari meja, untung saja masih ada meja yang kosong jadi mereka tidak perlu bergabung dengan murid yang lainya. Meesa duduk sambil memainkan ponselnya untuk menunggu Gavesha yang sedang memesan makanan mereka. “Meesa? Lo sendiri aja?” sapa Shankara yang sedang cari meja namun sayangnya semuanya telah terisi. “Eh, Shankara. Sama Gavesha, tapi dia lagi pesan makanan.” “Davendra kemana?” “Lagi ada urusan volly. Kenapa?” “Gue sama Lal boleh duduk di sini? Soalnya udah pada penuh,” harap Shankara yang saat ini sudah membawa senampan makanan yang tadi ia pesan. “Oh, iya boleh. Lagian juga masih ada ruang.” “Makasih ya.” “Sama-sama.” Shankara dan Lal duduk di hadapan Meesa. Kemudian tak lama Gavesha datang membawa pesanan Meesa dan gadis itu. “Eh ada kalian,” sapa Gavesha yang duduk di samping Meesa. “Iya, kita udah gak kebagian tempat duduk.” “Ooh.” Lal sedari tadi memang diam saja, namun pandangan mata laki-laki jakun itu tidak teralihkan dari paras ayu Meesa yang sepertinya terdapat luka di sana. Sejujurnya gatal sekali mulut Lal ingin bertanya itu dahi Meesa kenapa, namun gengsinya terlampau tinggi. Apalagi di sini ramai. “Gak usah segitunya kali Lal lihatin Meesanya,” goda Shankara sambil menyenggol lengan Lal. Meesa yang mendengar namanya di sebut pun mendongakan wajahnya. Ia menatap Lal benar saja ternyata Lal sedang memperhatikanya. “Kenapa, Lal?” “Kenapa?” tanya Lal balik. “Hah?” “Dahi lo.” Shankara hendak menyemburkan tawanya. Ia baru sadar ternyata Lal bisa peduli ketika menemukan perempuan yang dia cintai. Dulu ia sempat berpikir bahwa orang tipe Lal tidak akan pernah jatuh cinta. Jangankan jatuh cinta, berteman aja dia nampak ogah-ogahan. “Oh ini? kena ujung meja.” Lal tersenyum smrik kecil, ia tahu bahwa Meesa berbohong. Terlihat dari lirikan gadis itu yang menatap kanan bawah. Namun tak ingin memperpanjang masalah karena ia tidak mempunyai hak untuk menanayakan lebih dalam Lal hanya mengangguk singkat sebagai tanda mengerti. “Hati-hati, jangan ceroboh.” “Iya, terima kasih.” “Hm.” “Khem ... aduh tenggorokan gue kok tiba-tiba seret ya,” celetuk Shankara mengkode Gavesha. “Kok panas banget ya,” timpal Gavesha yang peka. “Kebakar sih kalau gue.” “Kita yang cuman ngontrak mah bisa apa, ya kan Shan?” “Hooh. Khem ... khem khem, seret banget tenggorokan gue.” Lal hanya mendengus melihat tingkah dua makhluk itu. Ia dengan cuek melanjutkan makanya. Namun tidak dengan Meesa ia justru dengan polos memberi Shankara minum. “Ini Shan, minum dulu.” Shankara menerima minuman dari Meesa dengan senang hati. Malah dengan sengaja ia mengejek Lal supaya laki-laki merasa cemburu. “Minumanya makin seger apalagi yang kasih cantik.” “Hush ... hati-hati lo nanti kalau pulang, Shan,” timbrung Gavesha yang ikut menggoda. “Hahaha, iya juga. Ya udah nanti gue lewat jalan yang satunya.” “Emang kenapa, Shan? Ada begal ya? Sekarang emang marak sih kasus p********n. Kata Nenek aku kemarin ada orang yang di komplek A kena begal. Kamu udah tahu belum, Gave?” tutur Meesa yang sangat lugu. Bahkan Meesa nampak bercerita dengan antusias. “Hahaha, sedikit tertekan sama gemes sih gue, tapi gak papa,” kekeh Gavesha saat melihat sifat lugu Meesa. Shankara ikut tertawa lepas, hingga mereka menjadi pusat perhatian saat ini. “Hahaha, sumpah sih. Keram perut gue, hahahaha. Sa ... Sa ... lo jangan polos-polos, hati-hati nanti kalau polosin-,” “ADOH!” pekik Shankara saat tulang keringnya di tendang oleh Lal dengan tidak berperasaan. “Jaga omongan lo,” bisik Lal lirih. “Iya-iya, ampun Lal.” “Kenapa sih kalian?” heran Meesa. “Gak ada apa-apa kok, Sa. Udah habisin aja makanan lo segera.” Beberapa menit mereka baru saja tenang. Hanya obrolan ringan yang mmebuat meja makan tidak terasa begitu tegang. Meesa yang hendak minum hampir saja tersedak saat tiba-tiba Davendra datang menggebrak meja. Tanpa ba bi bu Davendra meminum minuman asal yang ada di meja yang di isi oleh Meesa, Gavesha, Shankara, dan Lal. “Dave! Itu minuman gue!” protes Gavesha yang merebut paksa minumanya yang akan di habiskan oleh Davendra. “Iiihh ... itu minuman gue, Davendra! Gue gak mau tau beliin yang baru cepetan!” Gavesha merengut kesal saat es teh nya di habiskan oleh Davendra. “Pelit banget sih lo.” “Ganti!” “Iya-iya, bawel banget sih. Widih di sini rame ternyata,” ucap Davendra yang menyadari ternyata di sana ada Shankara dan Lal. “Sepi kuburan lah, Dave,” timpal Shankara yang ada di hadapan Meesa. “Hahaha, iya juga sih.” “Udah sana lo beliin gue minum!” Gavesha mendorong Davendra yang tadi duduk di sampingnya secara paksa. “Iya-iya.” Davendra bergegas untuk memesan makanan sekaligus mengganti minuman milik Gavesha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN