Wanodya berambut pendek sebahu itu tengah duduk santai di sofa depan kamarnya. Kesepuluh jemari lentiknya nampak dengan cepat mengetik di keyboard laptop berwarna abu-abu yang ada di pangkuanya.
“Kak Meesa,” panggil Radhika yang tiba-tiba duduk di ujung sofa satu nya lagi.
Meesa menurunkan kakinya yang tadi tengah selonjoran. Ia bahkan menutup laptopnya untuk menghargai Radhika yang sepertinya ada perlu penting denganya.
“Iya, Dhika. Kenapa?”
“Kak Meesa lagi sibuk ya?”
“Gak terlalu sih, tadi cuman lagi cari-cari latihan soal,” jawab Meesa ramah.
“Bisa bantuin aku? Aku ada pr matematika. Tapi aku gak paham materinya, ‘kan Kak Meesa tahu kemarin aku jagain Mami di rumahh sakit,” melas Radhika membujuk Meesa.
Meesa terkekeh melihat raut adik sepupunya tersebut.
“Ya udah mana pr nya?”
“Ini!”
Radhika menunjukan buku tugas matematikanya. Meesa mempelajari sejenak materi milik Radhika. Ternyata materi mengenai persamaan garis lurus.
“Ini kamu bisa pakai rumus y-y1=m(x-x1). Ini kamu masukan dulu, m nya 3, y1 nya -3, dan x1 nya -2. Nah ini udah bisa kamu hitung, coba kamu hitung,” terang Meesa begitu detail.
Radhika mengangguk paham, ia menghitung dengan di bimbing oleh Meesa yang begitu sabar mengajarinya. Rafandra keluar dari kamar, ia menghampiri Meesa dan Radhika yang sepertinya tengah asik.
“Ada apa nih? Kayanya asik banget,” timbrung Rafandra yang duduk di salah satu single sofa dekat Radhika.
“Belajar dong biar pinter,” songon Radhika.
“Rafandra juga mau dong, Kak. Di ajarin sama kaya Bang Dhika,” pinta Rafranda.
“Iya boleh.”
“Rafandra ambil buku dulu ya.”
Rafandra bergegas mengambil bukunya yang ada di kamar. Sementara Meesa dan Radhika kembali melanjutkan kegiatan mereka. Seusai mengambil buku ternyata Rafa juga ikut belajar bersama. Saat ini ketiga laki-laki itu seperti murid Meesa. Rafa memang sedikit lebih pendiem dari pada Rafandra yang lebih aktif.
Tidak terasa ternyata jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Mereka pun sudah mulai mengantuk. Akhirnya belajar bersama Meesa akhiri.
“Makasih ya, Kak. Aku jadi gak bingung lagi sekarang hehe,” ucap Rafandra berterima kasih.
“Sama-sama. Lebih giat lagi belajarnya biar makin bisa,” pesan Meesa memberesi beberapa barang yang berantakan.
“Oh maksud kamu anak saya bodoh hah? Sok pinter banget kamu,” murka Agnia yang entah sejak kapan berada di ujung undakan anak tangga.
Meesa mendongakan kepalanya, menatap takut-takut kedua iris mata Agnia yang telah berkobar api kemarahan.
“Maaf Tante Agnia, tapi bukan gitu maksud Meesa. Maksud Meesa-,”
“Halah, sombong banget sih jadi orang. Paling juga kamu menang olimpiade kemarin gara-gara beruntung aja pas jawab soal. Udah Rafa, Rafandra masuk kamar. Besok kalau kalian Mama masukan les aja. Gak usah minta ajarin dia yang sok pinter itu,” potong Agnia marah.
“Maaf Tante, Meesa tidak bermaksud seperti itu. Rafandra, maaf ya maksud aku bukan kaya gitu,” sesal Meesa dengan raut wajah yang sangat bersalah.
“Rafa, Rafandra, Radhikha, masuk kamar!”
Ketiga sepupu laki-laki Meesa itu menurut. Rafa dan Rafandra bergegas masuk kamar dan langsung menutup pintu kamar mereka karena takut. Sebenarnya Radhika ingin membela namun tatapan tajam dari Agnia membuatnya mengurungkan niat untuk membela Meesa.
“Masuk, Radhika!” tukas Agnia tak terbantahkan.
“Iya, Tante.”
Agnia berjalan ke arah Meesa, ia langsung menjambak rambut sebahu milik Meesa dengan erat. Meesa tidak mampu melawan, ia hanya berusaha menahan rasa sakit yang mulai menjalar di kepalanya.
“Kamu pikir kamu siapa? Jangan merasa yang paling hebat ya kamu.”
“Ma-maaf Tante. Meesa tidak bermaksud. Ssshhhh ... tolong lepasin, Tante.”
Agnia justru semakin menjambak rambut Meesa dengan kuat.
“Lepasin hm? Kenapa? Sakit? Mau nangis? Nangis aja. Kamu pikir saya akan kasihan sama kamu?”
“Maaf Tante, maafin Meesa.”
Agnia melepaskan dengan menghempas tubuh Meesa ke lantai. Meesa yang tidak siap pun kepalanya membentur ujung meja dengan keras.
“Rasakan itu. Ingat, Meesa ... sampai kamu ngadu hal ini ke ayah kamu. Saya akan lakukan lebih dari ini,” ancam Agnia yang kemudian meninggalkan Meesa begitu saja.
Meesa terduduk di lantai, kepalanya berdenyut sangat sakit. Setetes rudira kental menetes di lantai marmer putih. Meesa membulatkan matanya, ia langsung menyentuh dahinya yang ternyata berdarah. Apa separah itu? Ia pikir tadi hanya terbentur biasa atau paling tidak benjol.
Meesa bergegas membersihkan darah yang menetes di lantai dengan tisu. Kemudian ia bergegas ke kamar untuk mengobati lukanya.
Untung saja lukanya tidak parah. Hanya saja ujung meja marmer yang ada di depan kamarnya tadi memang cukup tajam. Di tambah lagi tadi Agnia memang menghempaskan dengan cukup keras.
“Ssshhh ... astagfirullah, sakit banget ya Allah,” lirih Meesa saat mengobati lukanya.
Tok ... tok tok ... tok ....
Meesa menoleh ke arah pintu kamarnya khawatir. Ia takut yang mengetuk itu adalah Jayendra atau Elakshi.
“Kak Meesa ... ini aku Radhika.”
Meesa menghela nafas kasar, untung saja. Ia bergegas membukakan pintu kamarnya untuk menghampiri Radhika.
“Iya, Dhika. Kenapa? Ada tugas yang kesusahan lagi?” tanya Meesa pada Radhika.
“Enggak, Kak. Ini aku ada plester,” tampik Radhika memberikan sebungkus plester bermotif.
“Eh? Terima kasih, Radhika. Emm ... aku mohon jangan bilang siapa-siapa ya.”
“Iya, Kak. Tenang aja. Ya udah aku ke kamar ya.”
“Iya, sekali lagi terima kasih ya. Selamat malam, Radhika.”
“Malam juga, Kak.”
Radhika kembali masuk ke kamarnya demikian pula dengan Meesa.
***
Elakshi hendak membangunkan Meesa untuk pergi salat subuh berjamaah. Ia menyirit saat mendapati dahi anaknya tertempel sebuah plester bermotif dinasaurus. Dengan lembut Elakshi membangunkan Meesa dan terus mengamati plester tersebut.
“Meesa ... bangun, Sayang. Ayo sudah waktunya salat subuh.”
Meesa menggeliat tak nyaman, kemudian ia memerjapkan matanya karena sebenarnya ia masih merasa sangat ngantuk.
“Bunda ....”
“Iya, Sayang. Ini Bunda, ayo bangun dulu.”
Meesa mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian mulai mengumpulkan nyawanya.
“Sayang, ini dahi kamu kenapa?”
Meesa yang belum sepenuh sadar pun meraba dahinya. Ia memutar otaknya untuk memikirkan alasan agar bundanya percaya.
“Kemarin gak sengaja kepentok meja belajar, Bun,” elak Meesa berbohong.
Maaf ya Allah, Meesa gak bermaksud untuk bohongin Bunda.
“Inna lillahi, kenapa bisa, Nak?”
“Emm ... itu, kan Meesa mau cari pensil Meesa yang jatuh. Terus bangkitnya Meesa gak hati-hati. Jadi kepentok ujung meja,” terang Meesa dengan sedikit gugup karena dia tidak pernah berbohong.
“Ya Allah, lain kali hati-hati ya, Sayang. Ya udah, sekarang kamu ambil wudu dan siap-siap salat jamaah.”
“Iya, Bun.”
Meesa bangkit dari kasurnya untuk segera mengambil air wudu. Namun agar lebih cepat, ia mengambil mukenahnya dan nanti akan ia taruh di sofa seperti biasa. Biar nanti ia bisa langsung turun ke musala tidak perlu kembali ke kamar lagi.