Meesa menunggu ayahnya di halte dekat sekolah. Jarum jam di arloji yang melingkar di tangan kirnya telah menunjukan pukul lima. Namun Jayendra masih saja belum menjemputnya. Meesa mengayunkan kedua kakinya yang menggelantung. Tadi ayahnya bilang ada urusan sebentar.
“Ayah kenapa lama sekali sih,” gerutunya sambil menunduk melihat kedua kaki yang sedari tadi ia ayunkan.
“Kenapa belum pulang?”
Meesa mendongak terkejut dengan suara barinton yang baru saja menghampirinya. Ia makin terkejut saat mendapati Lal sudah ada di depanya.
“Lal?”
“Iya.”
“Ayah belum jemput, tadi katanya ada urusan sebentar tapi gak selesai-selesai,” adu Meesa pada Lal.
“Bareng?” tawar Lal singkat.
“Terima kasih atas tawaranya. Tapi gak usah, tadi aku udah hubungi ayah. Sepertinya bentar lagi juga sampe,” tolak Meesa halus.
“Oh.”
Lal duduk di samping Meesa, baru saat ini ia sedekat ini. Bahkan dapat ia akui, wajah Meesa jika di perhatikan dari sedekat ini terlihat semakin cantik.
“Kamu gak pulang?”
“Nungguin lo,” jawab Lal enteng.
Meesa merasa tidak enak. Lagi-lagi ia menyusahkan Lal.
“Gak usah ngerasa gak enak. Ini kemauan gue sendiri,” timpal Lal seakan dapat membaca pikiran Meesa.
“Kamu cenayang?” tebak Meesa begitu lugu.
Lal terkekeh dan untuk pertama kali nya Meesa melihat tawa ringan milik Lal. Beberapa saat Meesa sempat terpana karena Lal terlihat begitu tampan ketika tertawa.
“Gak gitu juga, Va.”
“Va?” beo Meesa heran.
“Nama lo Lavanya kan?”
“Oh gitu. Maaf hehe, gak biasa. Biasanya temen-temen panggilnya Meesa.”
“Gak boleh hm ... gue panggil Lavanya?”
Meesa sedikit gugup karena Lal semakin mendekat kearahnya. Kedua iris coklat tuanya membalas tatapan hangat yang di berikan kedua bola mata hazel itu.
“Bo-boleh,” jawab Meesa gugup.
Lal kembali menjauhkan wajahnya, sejujurnya ia iseng saja menggoda Meesa. Meesa terlihat semakin menggemaskan saat takut.
“Lo takut sama gue?”
“Enggak, kenapa harus takut? Kan kamu orang baik.”
“Siapa yang bilang?”
“Aku. Lagi pula di dunia ini itu tidak ada orang jahat, Lal. Kamu hanya harus mengerti posisinya, mengapa dia melakukan hal itu, dan coba posisikan diri kamu di posisinya saat itu. Kamu akan mengerti, kenapa dia melakukan hal itu. Jadi tidak ada orang jahat di dunia ini,” papar Meesa begitu lugu.
Lal tersenyum dengan begitu manis mendengar penutusan Meesa yang begitu polos. Kalimat Meesa seperti kalimat anak kecil yang masih mempunyai hatii yang bersih.
“Lo salah. Sifat dasar manusia itu ada 4. Melankolis, phlegmatis, sanguinis, dan kholeris. Tapi sayangnya lo gak tau, kalau sebenarnya semua sifat itu bisa di manipulatif. Jangan terlalu lugu, Lavanya. Atau lo akan hancur karena stigma yang lo buat sendiri,” urai Lal yang membuat Meesa bingung.
“Maksudnya?”
Lal mendengkus. Ia merotasikan bola matanya malas serta membuang mukanya. Untung saja Meesa adalah pujaan hatinya.
“Nanti lo juga akan paham. Intinya jangan terlalu lugu dan percaya sama orang,” tandas Lal ketus.
“Kamu kesel ya sama aku?” tebak Meesa yang membuat Lal semakin kesal namun juga gemas dengan Meesa.
“Gak.”
“Maaf ya. Ya udah nanti aku lebih pahami lagi tentang sifat dasar manusia.”
“Buat apa?”
“Biar kamu gak kesel lagi,” ujar Meesa polos.
Lal tersenyum kembali, sungguh ia sangat gemas dengan Meesa.
Sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti di hadapan mereka. Jayendra menurunkan kacanya untuk memberi tahu Meesa agar segera masuk mobil.
“Ah itu Ayah. Lal aku duluan ya. Terima kasih udah nemenin. Assalamu’alaikum,” pamit Meesa melambaikan tanganya dan berjalan menjauh dari Lal.
“Sama-sama, waalaikumussalam.”
Lal memperhatikan mobil ayahnya Meesa sampai akhirnya tidak terlihat. Kemudian ia kembali masuk ke dalam mobil alphard berwarna hitam yang tidak jauh dari halte tadi.
“Langsung pulang, Den?”
“Iya, Pak.”
Supir Lal yang telah berusia setengah abad itupun langsung menjalankan mobil milik majikanya tersebut. Ia sudah bekerja di keluarga Lal sejak Lal bersekolah TK. Lal adalah sosok laki-laki pendiam dan penurut, menurutnya. Lal juga bersikap sopan dan tidak semena-mena hanya saja memang dia sedikit berbicara.
“Gadis imut tadi pacar, Den Lal?” goda sang supir.
Lal melirik spion tengah sebentar. “Bukan,” jawabnya singkat.
“Tapi Den Lal suka sama dia kan?” tebak Pak Palguna tepat sekali.
“Tidak,” elak Lal singkat.
“Saya tuh tahu Den Lal sejak kecil. Saya juga pernah muda, jadi saya tahu gimana tatapan ke temen biasa atau ke orang yang di sukai. Lagian kalau Den Lal gak suka, kenapa Den Lal rela nungguin dia sampai di jemput ayahnya?”
Lal membuang mukanya, ia menatap jalanan yang nampak macet karena memang saat ini jam pulang kantor juga.
“Kelihatan banget ya?” cicit Lal namun masih bisa di dengar oleh Pak Palguna.
“Kelihatan, Den. Dari cara Den Lal natap dia, perlakuin dia, bahkan saat Den Lal biacara sama dia kelihatan banget.”
“Ooh ....”
***
Meesa duduk di samping ayahnya, karena hari ini bundanya pulang terlebih dahulu. Ia dengan santai memakan makanan yang di berikan oleh Jayendra. Rupanya tadi Jayendra ada ketemuan penting dengan salah satu klien di restaurant. Karena lama dan membuat Meesa menunggu hampir satu jam. Jayendra membungkuskan salah satu makanan kesukaan Meesa.
“Tadi itu Lal?” tanya Jayendra yang fokus menyetir.
“Iya, kenapa, Yah?”
“Gak papa. Ayah kaya gak asing aja sama wajahnya.”
“Ayah kenal sama Nawasena Gasendra?”
“Atlet karate yang terkenal itu kan?” tebak Jayendra sedikit ragu.
“Iya, itu ayahnya Lal.”
Jayendra mengangguk mengerti. Pantas saja ia seperti mengenal Lal. Ternyata dia adalah anak dari salah satu atlet ternama di negri ini.
“Kamu deket sama dia?”
“Maksud, Ayah?” tanya Meesa balik.
“Ya kali aja anak Ayah udah besar,” goda Jayendra.
“Kan Meesa emang udah besar, Yah. Meesa udah kelas sembilan tau. Abis ini mau SMA,” balas Meesa lugu.
Jayendra tergelak dengan keluguan putri kesayanganya. Satu tanganya ia gunakan untuk mengacak-ngacak rambut sebahu itu dengan gemas.
“Ayah ... kan Meesa lagi makan tau. Ayah juga lagi nyetir, jangan gitu,” protes Meesa yang semakin membuat Jayendra gemas.
“Hahaha, kamu itu ada-ada aja.”
“Emang kenapa?”
“Gak kenapa-napa, Sayang.”
Meesa kembali melanjutkan makanya. Jalanan cukup padat senja ini. Bahkan saat ini mereka tengah terjebak macet yang cukup parah. Namun Meesa tidak masalah, dia tengah asik makan dan tidak terganggu dengan bising klakson-klakson mobil yang tidak sabaran.
“Meesa,” panggil Jayendra pada Meesa yang tengah asik makan.
“Iya, Ayah?”
“Ayah gak masalah kalau kamu deket sama laki-laki manapun. Asal kamu bisa jaga diri. Tapi, kalau menurut Ayah lebih baik kamu tidak usah pacaran dulu. Kamu lebih baik fokus belajar dan kejar cita-cita. Katanya mau jadi psikiater, ‘kan?” pesan Jayendra.
“Iya, Ayah. Lagi pula Meesa gak ada niatan pacaran.”
“Ayah tidak melarangmu karena Ayah tahu kamu tahu yang terbaik untuk diri kamu sendiri.”
“Iya, Ayah.”