Sinar baskara siang ini nampak begitu terik dan panas. Piluh buliran-buliran bening itu menetes bercucuran. Sesekali laki-laki berkulit agak gelap itu mengusap keringat yang menetes terus menerus karena latihanya siang ini.
Setelah di rasa cukup, ia memutuskan untuk istirahat dan di lanjutkan latihan nanti sepulang sekolah saja. Davendra berjalan santai hendak pergi ke kantin yag ada di gedung tiga agar nanti dekat ketika ia ingin pergi ke kelas. Kedua matanya menajam saat melihat seorang gadis berambut sepunggung yang jalan dengan terus menggerutu.
“Gavesha!” teriaknya memanggil Gavesha yang berada sekitar lima meter di hadapanya.
Gavesha menoleh, ia seperti mendengar suara yang tidak asing. Sampai akhirnya kedua bola mata coklat terangnya bertubrukan dengan bola mata elang milik Davendra.
“Tungguin gue.”
Davendra sedikit berlari agar bisa menyamakan posisinya dengan Gavesha.
“Lo mau kemana?”
“Kantin.”
Davendra menyirit, bukan kah tadi Gavesha sudah ke kantin dengan Meesa?
“Bukanya lo udah ke kantin sama Meesa?” heran Davendra.
“Gak jadi, tadi Meesa ke kantin sama Lal.”
“Lal?” beo Davendra.
“Iya.”
“Kok bisa dia sama Lal?”
“Meesa traktir Lal sebagai tanda terima kasih. Tadi sebenernya pergi sama gue juga sih. Tapi gara-gara Nalendranjing gue gak jadi ke kantin malah suruh revisi proposal. Kembaran lo yang satu itu emang pengen banget gue geprek!” gerutu Gavesha dengan menggebu-nggebu.
Davendra terkekeh, Gavesha dan Nalendra memang tidak pernah bisa akur. Keduanya selalu saja berantem itu alasan Gavesha hanya berteman dengan Davendra. Sedangkan jika bersama Nalendra mereka bak kucing dan tikus.
“Hahaha, ya udah ke kantin sama gue aja. Kayanya juga Meesa udah balik.”
“Hooh.”
Gavesha dan Davendra sama seperti biasanya. Mereka memang nampak begitu dekat bak orang pacaran. Apalagi dulu sebelum ada Meesa, Davendra lah pawang Gavesha.
“Dave, lo mau lanjut kemana setelah ini?” tanya Gavesha membuka pembiacaraan mereka.
“Gak tau juga sih. Lo tau SMA Warastika, ‘kan? Katanya volly di sana bagus, kayanya gue mau masuk ke sana. Kenapa? Lo di tuntut apalagi?” tebak Davendra yang sudah mengetahui gelagat Gavesha.
“Hahaha, sok tau lo. Gak ada apa-apa, gue cuman bingung mau lanjut kemana.”
“Lo gak bisa bohongin gue, Sha. Gue kenal lo gak cuman setahun dua tahun ini. Gue kenal lo sejak SD,” ucap Davendra menatap sendu ke arah Gavesha.
Gavesha menghela nafas panjang, ia masih bungkam enggan menjawab pertanya Davendra.
“Ya udah kita makan aja dulu. Lo mau makan apa biar gue pesenin?”
“Samain aja sama lo, tapi gue mau boba minumnya.”
“Oke.”
Gavesha mencari tempat duduk untuk dirinya dan Davendra. Untung saja kantin terlihat lenggang karena memang setelah ini bel masuk berbunyi. Gavesha memilih salah satu meja yang ada di pojok karena dia ingin duduk senderan sejenak. Hari ini gadis berambut sepunggung itu memang banyak melamun, ia memikirkan ucapan Baasima semalam.
Karena terlalu hanyut dalam lamuanya, Gavesha tidak mendengar Davendra yang baru saja datang membawa semangkuk soto ayam kesukaanya. Bahkan Gavesha tidak menyadari jika saat ini Davendra sudah duduk di hadapanya.
“Makan, Sha. Bel bentar lagi bunyi,” peringat Davendra yang membuyarkan lamuan Gavesha.
“Kenapa? Lo kaya banyak banget pikiran. Masih belum mau cerita?”
“Huft ... gue bingung, Dave,” tutur Gavesha yang akhirnya mulai terbuka.
“Kenapa?”
“Lo tau? Kemarin Papa tanya gue mau lanjut kemana. Ya gue tanya, apa gue milih? Kan lo tau biasanya semuanya di atur sama Papa sama Mama. Tapi kata Papa gue boleh milih, asal masih sekolah favorit,” cerita Gavesha.
“Terus kenapa lo sedih? Bagus dong? Lo bisa milih mau lanjut kemana yang sesuai kriteria lo. Lagi pula lo gak akan susah buat masuk sekolah favorit. Prestasi lo banyak, nilai lo tinggi, apa yang perlu lo galauin?” komentar Davendra.
“Iya. Tapi tiba-tiba Kak Meera bilang kenapa gue gak masuk SMA Nabastala aja? Sialnya gara-gara dia ya lo tau lah apa yang terjadi selanjutnya.”
Davendra mengangguk mengerti kemana arah pembiacaraan Gavesha.
“Lo gak jadi punya pilihan?”
“Yup! Dan ya ... lo tau kan Papa ingin gue gimana?”
Davendra tersenyum kecut. Ia bisa menebak semuanya.
“Oke, gue juga akan masuk SMA Nabastala,” putus Davendra yang membuat Gavesha tersedak.
“Uhuk ... uhuk ... uhuk ....”
Davendra segera mencobloskan sedotan boba milik Gavesha kemudian membantu gadis itu meminum es bobanya.
“Pelan-pelan kali, Gave. Bel nya masih sepuluh menit lagi,” kekeh Davendra.
Gavesha menendang kaki Davendra yang berada di bawah meja karena kesal.
“Kenapa lo jadi ke SMA Nabastala? Katanya mau ke SMA Warastika.”
“Ya gak papa, nemenin lo. Kasian lo kan gak punya temen selain gue,” tengil Davendra yang membuat Gavesha semakin kesal.
“Enak aja. Temen gue banyak ya!”
“Mana ada yang betah temenan sama lo. Galaknya aja ngalahin Fir’aun.”
“Sekata-kata lo.”
“Hahahaha.”
Meski Gavesha saat ini murid emas SMP Nabastala, ia tetap takut-takut karena memang seleksi masuk SMA Nabastala itu tidak main-main.Namun Davendra terus meyakinkan Gavesha dan mengatakan bahwa Gavesha pasti bisa.
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seperti biasa murid kelas unggulan harus mengikuti jam tambahan untuk persiapan try out. Gavesha memijat pangkal hidungnya pelan. Kepalanya terasa begitu sakit mungkin karena semalaman menangis dan dia kembali terbangun di jam dua dini hari.
“Gave, lo gak papa?” tanya Meesa yang melihat Gavesha seperti sakit.
“Gue gak papa kok.”
“Kalau gak kuat mending izin aja. Kayanya capek banget gitu,” saran Meesa tak tega melihat Gavesha.
“Gue gak papa, Sa. Cuman emang agak pening aja.”
“Jangan terlalu di paksain, Gave. Kasian tubuh kamu.”
“Lo tenang aja, kalau gue gak kuat nanti gue bilang ke lo.”
“Oke.”
Seorang pria berumur empat puluhan masuk ke kelas mereka. Sore ini adalah jam tambahan bahasa inggris. Meesa sedari tadi sesekali memperhatikan Gavesha. Ia tahu Gavesha sepertinya sangat sulit untuk fokus. Karena hal itu Meesa kembali memperhatikan Pak Gauri untuk membuatkan catatan bagi Gavesha.
Akhirnya setelah satu jam setengah jam pelajaran tambahan mereka selesai juga. Meesa memberikan buku catatan yang sudah tertulis rapi semua hal penting yang di sampaikan Pak Gauri tadi ke Gavesha.
“Gue tau tadi lo gak bisa fokus. Jangan khawatir, ini udah gue catetin. Habis ini lo istirahat aja dulu. Kalau udah gak pusing baru belajar biar bisa fokus dan mudah fahamnya,” tutur Meesa yang membuat Gavesha tertegun.
“Huuaaaa makasih Meesa! Lo emang yang terbaik deh. Sayang banget sama lo pokoknya,” pekik Gavesha sangat senang.
Bahkan saat ini Gavesha memeluk Meesa begitu erat sehingga seluruh pandangan anak-anak 9 A2 terpusat ke mereka.
“Apa kalian lihat-lihat? Iri kan gak bisa peluk Meesa, hahahaha,”sentak Gavesha membuat semuanya tidak lagi memperhatikanya.
Meesa hanya terkekeh ringan. Ada-ada saja ulah Gavesha.
“Mes, gue tau lo tekanan batin sama Gavesha. Kalau lo mau tuker tempat duduk, dengan senang hati lo bisa duduk sama gue,” tutur Adhisti, laki-laki paling tengil setelah Davendra.
“Hahahaha, ada-ada aja lo.”
“Enak aja lo!”