Part 33

1425 Kata
Upacara hari ini berjalan hampir dua jam. Sungguh kaki Meesa sangat pegal. Di tambah lagi saat ini ia harus berdiri menghadap seluruh murid SMP Nabastala untuk menerima piala kejuaraanya dan hadiah dari sekolahnya. “Sa, kaki lo gak pegel? Gue mau pura-pura pingsan tapi nanti reputasi gue sabagai waketos paling kuat tercemar. Masa gini doang gue pingsan,” bisik Gavesha yang berdiri di samping Meesa. “Ssssttt ... bentar lagi selesai, Gave. Udah jangan kebayakan ngeluh,” balas Meesa yang ikut berbisik. Mereka saat ini harus di paksa berdiri menghadap ke seluruh murid SMP Nabastala yang lebih sialnya lagi sinar matahari menyentrong langsung ke arah mereka. Sesi foto akhirnya selesai. Upacara di bubarkan, namun tidak dengan para murid emas SMP Nabastala yang harus tetap berdiri dan menerima semua ucapan selamat dari para guru. Gavesha dari tadi terus mengeluh pada Meesa. Bahkan ide tidak masuk akal mengenai pura-pura pingsan. Setelah lima belas menit kemudian akhirnya selesai dan mereka bisa kembali pergi ke kelas masing-masing. “Sumpah sih demi apa kaki gue rasanya mau lepas,” keluh Fashikha yang dengan santai duduk di tengah lapangan karena tidak lagi kuat berdiri. “Lebai lo,” cibir Deepsikha. “Sama, gue rasanya mau pingsan,” timpal Gavesha yang kini ikut duduk di samping Fashikha. “Udah, kalian kok malah duduk di sini. Mending ayo kita balik ke kelas,” tegur Meesa. “Bentar, gue gak kuat lagi berdiri.” Meesa menghela nafas menunggu kedua gadis itu. Ralat, sebenarnya bukan hanya Gavesha dan Fashikha yang ngegembel di tengah lapangan. Namun Davendra dan Shankara pun ikutan. Meesa menyapu kringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. Lal yang melihat Meesa kepanasan, dia berdiri di depan Meesa untuk menutupi cahaya matahari yang langsung menyentrong ke paras ayu milik Meesa. Perlakuan Lal barusan ternyata di lihat oleh beberapa siswi yang belum masuk kelas. Mereka memekik dan berteriak memanggil temanya untuk melihat betapa romantis perlakuan Lal. “Huaaaaaaa gini amat ngontrak di bumi.” “Masih pagi udah bucin mulu.” “Mereka beneran pacaran ya?” “Beruntung banget kayanya Meesa dapetin Lal.” “Lal juga pasti beruntung bisa dapetin cewek sebaik Meesa.” “Lal jagain dulu ya cewek kita.” “Kak Meesa! Mau dong ganti posisi.” “Damage banget pas Kak Lal langsung berdiri di depan Kak Meesa.” “Kenapa gak ke video sih tadi.” “Skandal baru nih.” “Gue kapal Lal Meesa.” “Ayo kawal kapal kita sampai jadian.” “Kak Lal ternyata orangnya romantis ya.” “Gue baru tahu Lal punya hati hahaha.” “Gue pikir dulu dia gak suka cewek.” “Kalau tipenya Lal modelan Meesa, mundur deh gue.” “Ya mana mau Lal sama spek dakjal sama lo. Berbeda sama Meesa yang spek bidadari berhati malaikat.” “HAHAHAHAHA.” “Teman lo, sok dingin tapi bucin,” bisik Davendra pada Shankara. “Gue juga heran. Gengsi segede gaban.” “WOY SA SPILL LO PAKAI DUKUN YANG MANA?” pekik Fashikha yang heboh. Meesa yang tak mengerti pun hanya terkekeh menanggapinya. “Sa, traktir ya nanti makan siang,” goda Gavesha menaik turunkan alisnya menggoda Meesa. “Emang ada apa? Gue gak ulang tahun hari ini,” balas Meesa polos. “Susah, Lal. Polos bener si dedek emesh. Tapi tenang, nanti gue ajarin dia biar jadi pro,” celetuk Fashikha yang di balas tatapan tajam oleh Lal. “Sesat.” Meski hanya satu kata bahkan dengan nada dingin Fashikha menggoyangkan badan Gavesha dengan kuat. Lal baru saja menotice nya. Demi apa dia harus syukuran. “Gave! Lal tadi ngomong sama gue?” speachlees Fashikha yang masih tidak percaya. “Sama setan belakang lo kali,” celetuk Gavesha asal. “Deep, gue akhirnya ngomong sama Lal!” “Jangan panggil gue Deep! Berasa suram aja gue,” kesal Deepshikha. “Udah ih kalian kenapa malah asik-asikan ngerumpi di sini sih. Ayo balik ke kelas bentar lagi pelajaran pertama di mulai,” peringat Meesa. “Iya-iya.” Keempat remaja itu bangkit dari duduknya. Mereka bergegas menuju lift khusus siswa untuk naik ke lantai lima. Kebetulan Meesa berdiri di belakang sendiri dan si sampingnya ada Lal dengan tubuh tegap dan ekspresi datar seperti biasa. Meesa merasa tidak enak Lal terus-terusan menolongnya. Jadi ia berniat untuk menraktir Lal di istirahat makan siang nanti. “Lal,” panggil Meesa yang untungnya Lal langsung peka dan menoleh ke arahnya. Jadinya Meesa tidak perlu mengulangi untuk memanggil Lal. “Kenapa?” “Emmm ... aku gak enak sama kamu. Kamu kan terus-terusan bantu aku, jadi sebagai balasanya, eh bukan balasan sih. Tapi sebagai rasa terima kasih aku, nanti aku mau traktir kamu pas jam istirahat makan siang.” “Please ya jangan di tolak. Aku bingung mau balasnya gimana. Tapi kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa kok langsung minta tolong ke aku. Aku pasti bantu, janji,” sambung Meesa merayu Lal. Meesa memegang lengan kekar Lal. Ia bahkan memerjapkan matanya lucu agar Lal mau menerima undanganya ini. “Harus?” “Harus!” “Oke.” Meesa tersenyum lebar. Ia sangat senang akhirnya Lal menerima ajakanya. “Terima kasih ya.” “Hm.” *** Sesuai janji Meesa ke Lal. Siang ini Meesa akan menraktir Lal. Meesa dengan semangat merapikan alat tulisnya. “Gave, kita ke 9 A2 dulu ya.” “Ngapain?” heran Gavesha. “Mau jemput Lal,” balas Meesa enteng yang membuat Gavesha tersedak ludahnya sendiri. “Uhuk ... uhuk ... uhuk ....” Meesa panik, ia menepuk-nepuk punggung Gavesha dan memberikan air mineral miliknya kepada Gavesha. “Kamu gak papa, Gave?” “Gak papa, gak papa. Coba lo ulang, lo mau ngapain ke kelas 9 A2?” “Jemput Lal,” ulang Meesa lugu. “Lo beneran ada hubungan spesial sama Lal?” “Nggak, Gave.” “Terus kenapa pakai jemput dia segala. Gini Sa, gue tau lo itu anaknya lugu bin polos. Tapi, dimana-mana tuh seharusnya cowok yang jemput cewek. Bukan cewek yang jemput cowok. Biar kelihatan elegant gitu lho,” ceramah Gavesha. “Apaan sih, Gave. Gue tuh cuman mau nraktir Lal sebagai tanda terima kasih dia udah selalu bantu gue,” terang Meesa. “Ooh ... lo gak sekalian traktir gue?” Gavesha menaik turunkan alisnya dengan wajah tengilnya. “Ya udah deh ayo. Hitung-hitung syukuran abis menang olimpiade kan, hahaha.” Meesa dan Gavesha tertawa bersama. Keduanya keluar kelas hanya berdua karena Davendra sedang ada urusan volly. Katanya sebentar lagi akan ada turnamen volly antar sekolah. Jadi Davendra sibuk mengurusi turnamenya. Meesa berdiri di depan kelas 9 A2. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan Lal. “Cari siapa, Sa? Cari Lal ya?” tanya gadis berambut blonde dengan name tag Lengkara. “Eh kok kamu tahu, hehehe. Bisa tolong panggilin Lal?” “Masuk aja kali. Bangku Lal ada di belakang pojok kiri. Gue duluan ya, byeee ....” “Iya, terima kasih, Lengkara.” “Yoi.” “Lo aja yang masuk, gue tunggu sini,” ujar Gavesha yang lebih memilih menunggu Meesa di depan kelas. “Oke, tunggu bentar ya.” Meesa masuk ke kelas 9 A2 yang tidak jauh beda dengan kelasnya. Ia menghampiri Lal yang tengah sibuk mencatat sepertinya. “Maaf, Lal. Jadi ‘kan?” cicit Meesa takut-takut. “Iya.” Lal dengan segera membereskan buku-bukunya. Kemudian dia berjalan di samping Meesa untuk pergi ke kantin bersama. Mereka semakin menjadi pusat perhatian. Apalagi saat mereka memasuki kantin berdua. Di tengah jalan tadi Gavesha di tarik paksa oleh Nalendra. Ya urusan apalagi kalau bukan urusan OSIS. “Kamu mau pesen apa?” tawar Meesa saat melihat kantin yang sudah ramai. “Samain aja kaya punya lo.” “Emm ... aku mau makan siomay, kamu mau siomay?” “Iya.” “Minumnya?” “Air mineral aja.” “Ya udah, kamu cari mejanya biar aku yang pesen.” “Oke.” Meesa berjalan untuk mengantri ke stan penjual siomay. Untung saja tidak terlalu ramai. Setelah sepuluh menit kemudian Meesa datang membawa senampan makan siang mereka. Lal membantu Meesa yang nampak ke susahan dan semua pemandangan itu tidak luput dari perhatian murid SMP Nabastala. Lal dan Meesa duduk berhadapan. Tidak ada percakapan di antara mereka. Namun di sela-sela makan Lal memberikan handphonenya kepada Meesa yang membuat Meesa bingung. “Nomor lo.” “Ha? Maksud kamu?” “Ketik nomor lo,” imbuh Lal dengan satu kata lagi. Namun tetap saja, Meesa masih bingung maksud Lal. Lal yang peka sepertinya Meesa tidak paham maksudnya ia kembali memperjelas perkataanya. “Gue minta nomor lo.” “Ooh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN