Part 32

1150 Kata
Cakrawala malam ini nampak begitu cerah dengan sang candra yang ikut menampikan cahayanya. Gavesha duduk di meja makan setelah tadi Meera, kakaknya, memanggilnya untuk makan malam. Gavesha adalah anak kedua dari dua saudara. Ia memiliki satu kakak perempuan yang saat ini tengah kuliah di tempat yang sama dengan Kaivan. Dengan senang Gavesha menerima sepiring nasi dengan lauk yang di berikan oleh Xena. “Gavesha, katanya Meesa sakit? Itu bener?” tanya Xena yang sambil menyiapkan makanan untuk Meera. “Iya, Ma.” “Sakit apa dia?” timpal Baasima yang ikut menimbrung. “Demam, sama alergi debu.” “Meesa ponakanya Kaivan itu? Yang kemarin ikut olimpiade sama kamu bukan?” timbrung Meera sambil menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya. “Iya.” Gavesha baru saja hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, namun Xena sudah menyerbunya dengan pertanyaan lagi. “Gimana keadaan Meesa sekarang?” “Kayanya udah membaik sih, Ma. Aku belum ketemu dia hari ini,” jawab Gavesha kemudian melanjutkan makanya. Mereka kembali hening. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring. “Kamu sudah menentukan ingin lanjut kemana, Gavesha?” tanya Baasima tiba-tiba. “Apa kali ini aku boleh memilih?” heran Gavesha karena biasanya Baasima dan Xena yang akan menentukan semuanya. “Terserah kamu, asal itu masih sekolah favorit.” Gavesha mengangguk singkat. “Belum, tapi mungkin nanti aku akan mencari dulu refrensinya.” “Gak berminat lanjut ke SMA Nabastala?” tawar Meera ikut menimbrung. Gavesha nampak bimbang. SMA Nabastala merupakan SMA favorit. Akreditasinya tidak usah di ragukan lagi. Namun untuk masuk ke sana cukup sulit, karena untuk jalur prestasi SMA Nabastala memberikan minimal nilai UN 36. Nilai yang di ambang sempurna, di tambah lagi untuk seleksi rapor tidak boleh ada nilai C. “Nanti akan aku pikirkan,” balas Gavesha. “Kalau menurut Mama sepertinya lanjut SMA Nabastala aja. SMA Nabastala kan bagus, apalagi kamu lulusan SMP Nabastala, banyak juga prestasi yang kamu raih di SMP Nabastala. Mama yakin kamu pasti di terima di sana,” saran Xena. Gavesha tersenyum kecut. Awalnya ia senang karena di beri kesempatan memilih. Namun pada akhirnya ia tidak memiliki pilihan bukan? “Ya sudah, sepertinya Gavesha lanjut ke SMA Nabastala aja,” putusnya pasrah. “Kamu harus belajar lebih giat. Papa hanya ingin kamu masuk jalur prestasi. Papa dengar juga di sana ada sistem kelas akselerasi. Kamu pasti bisa masuk sana, bukan?” Nafsu makan Gavesha mendadak hilang. Ia menaruh sendok nya dan menjauhkan piringnya. “Gavesha sudah selesai makan. Gavesha ingin belajar saja,” tutur Gavesha bangkit dari kursi meja makanya. “Bagus, Papa dengar try out pertama akan di adakan sebulan lagi, ‘kan? Jangan sampai mengecewakan Papa dan Mama,” peringat Baasima. “Iya, Pa. Tenang saja.” Gavesha melangkah menuju anak tangga untuk naik ke kamarnya. Ia memutuskan untuk mengunci kamarnya, kali ini ia tidak ingin belajar. Gavesha mencari ponselnya, ia mencari headset miliknya kemudian mematikan lampu kamar. Dan hanya menyalakan lamu LED berwarna biru miliknya. Dengan volume penuh ia mendengarkan musik lewat headset miliknya. Tidak peduli apapun, ia hanya ingin kepalanya berhenti memutar perkataan-perkataan papanya yang menyakitkan. Gavesha menyembunyikan mukanya di salah satu bantal yang ada di kamarnya. Kemudian ia mulai berteriak sekencangnya namun suaranya tidak terdengar begitu keras karena teredam oleh bantal. “AAAAAAAAAAAAAAAA!! GUE CAPEK!” umpatnya sambil berteriak. Gavesha menangis sejadi-jadinya. Meluapkan semuanya tanpa sepengetahuan siapapun. Ia menggingit dan memukuli bantalnya. Melampiaskan semua kekesalahanya. Gavesha tidak membayangkan bagaimana ia bisa memenuhi semua ekspetasi papanya. Jika boleh jujur, Gavesha tidak sepintar itu. Semua ia dapatkan karena ia harus belajar tanpa henti dan terus menghafal segalanya. Yang lebih tidak masuk akal adalah ia hampir tidak tidur di setiap ada ujian agar hasilnya sempurna. Ya, bisa di bilang Gavesha mendapatkan itu semua dengan kerja keras dan memaksakan dirinya. Ia bukan Meesa yang memang mudah menyerap semua pelajaran karena dia cerdas. Jika Meesa bisa mengerti dalam waktu lima menit, maka Gavesha harus susah payah untuk memahaminya selama lima belas menit. Malam semakin larut, emosi Gavesha mulai menurun. Sampai akhirnya ia tertidur dengan telinga yang tersumpal headset. *** Pagi ini suasana antero SMP Nabastala nampak ramai karena hari ini para juara akan kembali masuk seperti biasa. Bahkan tadi waktu Gavesha datang di jam enam pagi untuk urusan OSIS beberapa siswa telah menyapanya dan memberikan selamat atas kemenanganya. Semua semakin ricuh saat ternyata Lal dan Meesa datang hampir bersamaan. Meski keduanya tidak berangkat bersama, namun kedatangan mereka yang hampir berbarengan membuat bisik-bisik semakin ricuh. Kabar ada hubungan antara Lal dan Meesa memang sudah tersebar luas. “Apa bener Kak Lal jadian sama Kak Meesa?” “Lal beneran punya hubungan sama Meesa?” “Kapan mereka deketnya kok gue gak pernah lihat?” “Eh mereka datang samaan!” “Baru juga gue mau deketin Meesa.” “Susah sih sainganya Lal.” “Kalah telak, Bro. Hahaha, yang ada lo di hajar sama dia.” “Emang bener Meesa sama Lal?” “Jodoh gue, berani-beraninya Lal ambil start duluan.” “Kak Lal beneran jadian sama Kak Meesa?” “Kak Lal!” “Kak Lal kabar itu bener?” “Yaahh ... kalau sainganya Kak Meesa mah mana bisa aku.” “Enak ya Meesa, baru datang dapet Lal. Lha gue kagum sejak ospek Lal tau gue nafas aja gak.” “Eh Kak Meesa awas!” “Meesa!” “AAAAAAAAA MEEESAAAA!” “Lal, cewek kita gak papa kan?” “Mereka bener punya hubungan spesial?” “Meesa yang di gituin gue yang baper!” “Sumpah sih Meesa beruntung banget.” “Huaaaaaa Kak Meesa ... aku mau tuker posisi.” “Gini amat ngontrak di bumi.” “Pemberangkatan ke Mars setelah jam istirahat makan siang ya, Guys.” “Gak panas sih, cuman udah gosong aja.” “Gak papa, cuman hati yang patah.” Meesa hampir saja terjatuh karena tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri. Untung saja Lal yang berjalan di belakangnya segera sigap menarik tangan Meesa. Lal tanpa bicara apapun ia langsung jongkok dan membenarkan tali sepatu milik Meesa. Hal itu yang membuat pekikan histeris dari para siswi. “Eh eh, gak usah Lal. Biar aku aja,” tolak Meesa yang hendak berjongkok membenarkan tali sepatunya namun kalah cepat sama Lal. “Hati-hati, jangan ceroboh,” tukas Lal yang kembali bangkit. “Terima kasih.” Meesa menampilkan senyum manisnya yang membuat kedua pipi cubbynya terangkat. Sejujurnya Lal ingin sekali mencubit gemas kedua pipi gembul itu jika tidak ingat ini sekolahan. “Sama-sama.” Lal kemudian pergi meninggalkan Meesa. Sebenarnya ia ingin menyelamatkan jantungnya. Ketika dekat dengan Meesa, jantung Lal berdetak begitu cepat dan membuatnya selalu gugup. Rupanya Meesa tidak aman untuk jantungnya. Meesa hanya menatap punggung lebar itu cengo. Baru saja Lal bersikap normal dan manis, namun kenapa secara drastis Lal kembali dingin dan meninggalkan Meesa? Lamuan Meesa buyar saat beberapa siswa siswi menggerombolinya untuk mengucapkann selamat. Bahkan ia mendapatkan beberapa hadiah dari beberapa siswa yang mengaguminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN