Siang ini auzora menggelap tertutup dengan mega kelabu. Kilatan cahaya pedang langit saling menyahut. Kondisi gadis di balik jendela ukuran satu kali satu meter itu semakin membaik. Bintik-bintik merah yang ada di wajahnya sudah mulai hilang. Tidak lagi bersin-bersin dan suhu tubuhnya sudah stabil.
Sebuah playlist podcast dari salah satu platform berbayar menggema di setiap sudut ruangan. Rintik mulai datang. Menambah kesan melankolis dalam ruangan lima kali delapan meter tersebut.
“Enak sekali kamu bersantai,” tegur Agnia yang membuka pintu kamar Meesa dengan keras.
“Astagfirullah,” reflek Meesa terkejut.
“Sekarang kamu beliin saya makan di luar,” titah Agnia dengan kasar.
“Tapi Tante, di luarkan udah mau hujan.”
“Gak usah manja, lagi pula apa gunanya payung? Cepat belikan keluarga saya makan.”
“Ba-baik, Tante. Tante mau Meesa belikan apa?”
“Terserah apa saja yang bisa saya makan.”
“Ya sudah, biar Meesa belikan dulu. Maaf, Tan tapi uangnya?” pinta Meesa takut-takut.
“Uang-uang, pakai uang kamu lah. Anggap saja bayaran kamu tinggal gratis di sini. Lagi pula setiap kamu makan saya tidak pernah minta bayaran, ‘kan?” sinis Agnia yang kemudian meninggalkan kamar Meesa begitu saja.
“Iya, Tan. Maa-maaf.”
Meesa mengganti pakaianya dengan pakaian yang lebih hangat dan celana panjang. Setelah itu ia mengambil dompetnya dan bergegas membelikan Agnia makanan sebelum tantenya itu mengamuk. Meesa celingak-celinguk mencari payung di tempat payung yangg biasanya ada di pojok ruang tamu.
Ternyata tidak ada satupun payung yang ada di sana.
“Belum berangkat saja? Kamu kan tahu saya sudah sangat lapar. Kamu mau membunuh saya dengan membiarkan saya mati kelaparan?” murka Agnia yang dari tadi duduk santai di ruang tamu sambil membaca majalah.
“Maaf, Tan. Ini Meesa lagi cari payung, kok gak ada ya. Tante Agnia tahu payungnya kemana semua?” heran Meesa.
“Ya sudah, gak usah pakai payung. Gitu aja ribet. Gak usah manja deh kamu. kamu itu bukan putri raja. Hujan masih air aja takut.”
“Sudah sana cepat pergi,” sambung Agnia.
“Baik, Tan. Assalamu’alaikum.”
Meesa berjalan cepat agar tidak kehujanan, namun saat sampai di pos satpam, Pak Setya mencegahnya.
“Non Meesa mau kemana? Kan Non Meesa masih sakit,” larang Pak Setya keluar dari post satpam.
“Meesa mau beli makan buat Tante Agnia, Pak.”
“Biar saya saja yang belikan, Non,” tawar Pak Setya tidak tega pada Meesa.
“Tidak perlu, Pak. Nanti yang ada Tante Agnia marah sama Meesa,” tolak Meesa halus.
“Ya sudah, kenapa Non gak bawa payung? Nanti kalau Non kehujanan gimana? Kan Non Meesa belum sembuh.”
“Payungnya gak ada, Pak. Gak papa, Meesa kan kuat anaknya hehehe,” kekeh Meesa ringan.
Pak Setya kembali masuk ke pos satpam. Beliau mengambil payung hitam miliknya untuk di berikan ke Meesa.
“Kalau gitu pakai payung saya saja, Non,” desak Pak Setya.
“Terima kasih ya, Pak. Ya udah Meesa pergi dulu. Assalamu’laikum.”
“Wa’alaikumussalam, hati-hati, Non.”
“Iya, Pak.”
Meesa pergi melewati jalanan komplek yang kebetulan sangat sepi. Anila berhembus sangat kencang, bahkan membuat rambut sebahu itu berterbangan tak karuan. Awan semakin menghitam dengan petir yang terus bersahutan.
Meesa mengeratkan sweater hangat miliknya. Meski sweater yang ia gunakan kini cukup tebal, namun angin yang berhembus tetap saja terasa dingin di kulit kuning langsat miliknya. Di tambah dengan kondisinya yang belum stabil.
Meesa celingukan mencari penjual sambil berfikir enaknya ia membelikan Agnia apa. Siang-siang mendung begini, bakso sepertinya enak. Meesa bergegas mencari penjual bakso keliling yang biasanya lewat di komplek tersebut.
Tanpa aba-aba, hujan tiba-tiba saja turun dengan begitu lebat. Meesa terkejut, ia segera memakai payung yang di berikan oleh Pak Setyo. Sebenarnya cukup mencekam suasananya, apalagi Meesa adalah penakut. Hujan turun begitu lebat, bahkan meski ia menggunakan payung, baju Meesa terus kecipratan air hujan.
“MEESA!” sapa Davendra dari depan rumahnya.
Meesa yang melihat Davendra pun menghampiri Davendra sejenak.
“Iya, Dave. Kenapa?”
“Lo ngapain hujan-hujan gini? Mau kemana?”
“Mau beli makan.”
“Lo belum makan? Makan aja di rumah gue,” ajak Davendra.
Meesa menggeleng. “Gue udah makan. Ini mau beliin makan buat Tante Agnia,” balas Meesa.
“Tapi ini hujanya lebat banget. Lo bakal tetep kehujanan walau pakai payung. Neduh di rumah gue dulu ya? Kalau udah agak reda, nanti gue anterin beli makanya,” tawar Davendra.
“Terima kasih, Dave atas tawaranya. Tapi maaf, kasian Tante Agnia pasti udah laper banget. Kalau nunggu hujan reda kelamaan,” tolak Meesa halus.
“Tapi hujan lebat banget, Sa. Lo juga kelihatan masih pucet. Lo belum sembuh bener, yang ada nanti lo makin sakit.”
“Gue gak papa, Dave. Ya udah gue duluan ya. Tante Agnia udah nungguin dari tadi.”
“Ya udah kalau gitu gue ikut. Takut lo kenapa-napa di jalan, kondisi lo aja belum stabil gini,” tandas Davendra.
Davendra masuk ke dalam rumahnya sejenak untuk mengambil payung. Akhirnya ia menemani Meesa untuk membeli makan.
“Lo mau beli apa emang?” tanya Davendra yang berdiri di samping Meesa saat ini.
“Gak tau juga sih, bakso deh kayanya.”
“Ya udah, ayo gue anter. Gue tau Mang Ujang mangkal dimana kalau hujan begini.”
“Iya, terima kasih ya. Maaf ngerepotin lo hujan-hujan gini.”
“Santai aja, lagi pula hujan-hujan gini juga enaknya makan bakso.”
Benar kata Davendra. Kalau lagi hujan begini Mang Ujang suka nongkrong di pos ronda komplek D yang terlihat lebih luas dari pos ronda biasanya. Meesa dan Davendra naik dulu di pos untuk menunggu pesanan mereka di siapkan.
“Gimana keadaan lo? Kata Gavesha kemarin parah banget keadaan lo,” ucap Davendra membuka percakapan sambil menunggu bakso pesanan mereka.
“Hahaha, Gavesha berlebihan. Alhamdulillah, udah mendingan bahkan lo bisa lihat sendiri. Udah sehat lah.”
“Kok bisa sih sampai kaya gitu?”
“Ya emang gue alergi debu. Kebetulan juga kemarin lagi sakit, jadi makin parah. Tapi udah mendingan kok, muka gue juga udah balik cantik lagi kan?” pede Meesa.
Davendra tertawa, “hahaha. Lo selalu cantik.”
Rona merah terlihat begitu jelas di muka Meesa. Bahkan Davendra bisa melihatnya. Apalagi paras imut itu tengah sedikit pucat, jadi begitu kentara seperti memakai blash on.
“Lo gak papa? Kok tiba-tiba pipi lo merah gitu?”
“Eh?”
Meesa memegang kedua pipi cubbynya. Terlihat begitu menggemaskan posenya saat ini. Davendra mengacak-ngacak rambut sebahu yang nampak sedikit lepek itu. Tapi hanya sebentar, setelah itu ia menyelipkan anak rambut yang nampak berantakan karena ulahnya ke telinga Meesa.
“Lo lucu banget sih. Gue ragu kalau lo anak SMP. Persis banget kaya anak TK hahahaha.”
“Iiihh ... enak aja,” rengek Meesa yang terlihat semakin menggemaskan.
“Tapi mana ada anak TK yang menangin olimpiade IPA terpadu tingkat Jawa-Bali,” lanjut Davendra kembali terkekeh.
“Hahaha, bisa sih kalau dia punya iq yang tinggi.”
“Ini Mbak Meesa sama Mas Davendra, pesanananya udah siap,” ujar Mang Ujang memberikan pesanan Meesa dan Davendra.
“Jadinya semua berapa, Mang?” tanya Davendra mengeluarkan dompetnya.
“Sama pesanan Mbak Meesa, Mas?”
“Eh gak usah, punya aku biar aku bayar sendiri,” elak Meesa saat Davendra ingin menjawab iya.
“Udah Sa gak papa.”
“Tapi kan ini pesanan ku banyak banget, Dave.”
“Santai. Berapa, Mang?”
“Seratus dua puluh ribu, Mas.”
Davendra mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan selembar lagi berwarna hijau.
“Punya saya emang berapa, Mang?”
“Setarus, Mbak.”
Meesa mengeluarkan uang seratus ribu dari dalam dompetnya, namun di tolak sama Davendra.
“Gak usah, Sa. Gak papa kali, santai aja.”
“Makasih, Dave. Nanti gantian gue yang traktir lo,” balas Meesa tak enak hati.
“Iya.”
“Ya udah, Mang. Meesa sama Davendra duluan ya. Semangat Mang Ujang jualanya, semoga laris,” pamit Meesa ramah pada Mang Ujang.
“Iya, Mbak Meesa. Hati-hati ya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waa’laikumussalam.”
Mang Ujang menggeleng sambil tersenyum, ia tidak menyangka di jaman sekarang masih ada gadis selugu dan sesopan Meesa. Namun memang baru satu bulan gadis itu pindah, ia sudah mulai di kenal dengan warga sekitar karena kesopananya.
Meesa heran saat Davendra mengikutinya padahal blok komplek milik Davendra berbalik arah dari rumah Neneknya.
“Dave, kok lewat sini?” heran Meesa.
“Gue mau anterin lo dulu.”
“Aduh, gue jadi makin gak enak.”
“Gak papa, gue takut lo kenapa-napa. Gue gak akan tenang tinggalin lo pulang sendiri hujan-hujan gini apalagi keadaan lo yang masih sakit,” tutur Davendra tulus.
“Terima kasih ya, maaf ngerepotin terus hari ini.”
“Lo gak pernah ngerepotin gue, Sa. Ini inisiatif gue sendiri, jadi santai.”
Cukup lima menit akhirnya sampai di depan rumah megah minimalis punya Denallie. Davendra pun sudah pamit barusan. Meesa bergegas masuk dengan keadaan yang hampir basah kuyup meski dia memakai payung.
“Lama sekali sih! Kamu ini beli dimana?” marah Agnia.
“Maaf, Tante. Tadi Meesa harus cari muter-muter dulu.”
“Alasan saja kamu. Gara-gara kamu saya sudah berselera lagi.”
“Taruh itu di ruang makan. Sekarang kembali ke kamar. Sebagai hukuman siang ini kamu tidak boleh makan,” lanjut Agnia.
Meesa tidak berani menolak. Lagi pula ia tidak berselera untuk makan, jadi tidak masalah jika siang ini dia tidak makan.
“Baik, Tan. Maaf sudah buat Tante Agnia marah.”