Part 30

1238 Kata
Denallie menarik selimut Meesa agar menutupi sampai leher gadis itu. Tangan keriputnya membelai lembut rambut sebahu itu. “Kenapa kamu menuruti kata kakek kamu? Seharusnya kamu menolak dan bilang kamu sedang sakit, Lavanya,” tegur Denallie lembut. “Tidak apa, Nek. Lagi pula kan kalau aku banyak gerak nanti cepet sembuh,” kilah Meesa. “Tapi lihat, kamu justru tambah sakit, ‘kan?” “Sekarang kamu istirahat. Nenek akan temani kamu, sudah lama bukan kita tidak tidur bersama?” sambung Denallie yang kemudian tidur di samping Meesa. Denallie memeluk Meesa, cucunya yang satu ini sangat jarang sakit. Atau bahkan ini kali pertama ia melihat kondisi Meesa seperti ini. “Nenek tahu, kamu adalah gadis baik, sngat baik. Tapi Lavanya, bilang ‘tidak’ itu tidak akan merubahmu jadi jahat.” “Jadi baik itu adalah kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan. Akan tetapi jangan sampai kamu lupa, kamu juga harus baik ke diri kamu sendiri,” imbuh Denallie memberi nasehat. “Iya, Nek.” Meesa memiringkan tubuhnya mengharap Denallie. Ia menikmati setiap belaian Denallie yang sedari tadi terus membelai rambut sebahunya. “Nanti, jika Nenek sudah tidak ada. Kamu harus tetap jadi gadis baik, ya? Tapi jangan lupa untuk baik hati juga pada dirimu sendiri. Tidak masalah jika kamu mesti menolak keinginan seseorang jika itu akan membuatmu susah,” pesan Denallie yang entah kenapa membuat perasaan aneh pada diri Meesa. “Iya, tapi Nenek gak akan ninggalin Lava, ‘kan?” “Umur tidak ada yang tahu, Lavanya. Tapi kamu tenang saja, Nenek akan selalu ada untuk, Lavanya.” “Lava tidak tahu akan jadi apa hidup Lava tanpa Nenek.” Denallie tersenyum sangat manis. Ia merentangkan tanganya agar Meesa mendekat dan masuk dalam pelukanya. “Hidup kamu akan tetap berjalan. Jangan taruh kehidupan kamu pada seseorang, Lavanya. Karena jika orang itu pergi, kehidupan mu akan hancur.” “Lava sayang banget sama Nenek. Makasih ya udah ajarin banyak hal ke Lava. Maaf Lava belum bisa balas semua kebaikan Nenek,” ujar Meesa sendu. “Kamu sudah membalasnya, Sayang. Jadilah gadis yang baik dan selalu membanggakan keluarga.” “Nek, apa orang jahat itu ada?” Pertanyaan Meesa barusan membuat Denallie terkekeh ringan. “Tentu saja, Sayang.” Meesa menyirit, “tapi menurut Lava tidak ada. Nenek tahu alasanaya kenapa?” “Kenapa, Sayang?” “Semua orang itu baik, Nek. Yang jahat itu opini dari sudut pandang lainya. Karena mereka adalah protagonis di cerita masing-masing, namun antagonis di cerita orang lain,” terang Meesa begitu lugu. “Hahaha, Nenek harap tidak ada orang yang menyakiti gadis setulus kamu.” Obrolan mereka berlanjut sampai akhirnya Elakshi dan Jayendra datang. Elakshi nampak tergopoh-gopoh bahkan ia menaiki tangga dengan berlari. Tadi Denallie menelfonya bahwa kondisi Meesa di perparah dengan alergi gadis itu yang kambuh. “Astagfirullah, Sayang. Kita harus ke rumah sakit. Bunda takut kamu kenapa-napa, Nak. Kita ke rumah sakit ya?” bujuk Elakshi yang baru saja datang. “Meesa sudah lebih baik, Bun.” “Baik-baik saja gimana. Kondisi kamu seperti ini.” “Iya, Lavanya. Lebih baik kamu menuruti kata Bunda kamu. Nenek akan menemanimu periksa,” bujuk Denallie. Mendengar Denallie yang akan menemaninya periksa akhirnya Meesa menurut. Ia di bantu dengan Jayendra dan Elakshi untuk menuruni anak tangga. Sedangkan Denallie mengikuti dari belakang. *** Gadis berambut panjang sepunggung itu nampak mengucek matanya sambil ngegerundel kesal. Tadi asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya membanngunkanya, katanya ada teman laki-laki Gavesha yang berkunjung dan ingin bertemu dengan Gavesha. Gavesha terus mengumpati nama Davendra, karena yang terlintas di pikiranya hanya seorang Davendra. Siapa lagi yang bisa mengusik tidur manisnya selain Davendra. Tidak memperdulikan penampilanya yang sangat kucel dan seperti gembel. Gavesha dengan cuek pergi ke ruang tamu untuk menemui Davendra. “Ada apasih, Dave! Kan gue udah bilang hari ini tuh gue gak bisa di ganggu. Lagian kan lo bisa whatsupp gue aja,” gerutu Gavesha dengan mata yang setengah terpejam. “Gue Nalendra.” Gavesha membuka matanya lebar-lebar. Ia membuka sedikit mulutnya kemudian ia memasang tanduknya. “Lo ngapain ke rumah gue hah?!” kesal Gavesha dengan muka garang seperti biasa. “Lo bisa gak sih, setidaknya kalau gak bisa jadi orang baik. Jadilah tuan rumah yang baik. Tanyain kek mau minum apa,” koreksi Nalendra yang terdengar sangat mengesalkan di telinga Gavesha. “Air comberan aja terlalu baik buat lo. Cepet to the point, maksud lo apa? Ganggu istirahat gue aja lo.” Gavesha duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamunya. Tak lupa ia menaikan kakinya ke meja dan melipat kedua tangannya di depan badanya. Tatapan matanya masih sayu karena mengantuk. “Gue mau bahas tentang proposal buat acara pemilihan ketua OSIS dua minggu lagi. Lo tau kan waktunya dikit lagi, lo malah santai-santai-,” “Santai-santai gundul mu. Gue baru aja pulang dari Surabaya tadi malam. Lagian kan lo ketosnya, masa apa-apa gue. Gak guna banget lo jadi ketos,” potong Gavesha dengan sarkas dan pedas. “Ya kan ini emang tugas lo.” “Sekertaris g****k. Kalau lo tanya masalah kaya gini harusnya lo tanya sekertaris, kenapa dia ngerjain nya lamban bener. Lagian lo kaya iya-iya aja, biasanya terima beres juga,” sungut Gavesha penuh emosi. “Bisa gak sih lo kalau ngomong sama gue biasa aja. Kan gue tanyanya baik-baik.” “Gak.” “Udah, ‘kan? Ya udah sana lo pulang,” imbuh Gavesha mengusir Nalendra. “Gave! Gue serius,” peringat Nalendra. Gavesha mendesah kasar sejenak. Ia menatap manik mata yang sangat mirip dengan milik Davendra. “Apa, Nalendra Hirawan? Kalau lo tanya proposal, lo tanya ke Deepsikha. Lagian kan lo tau gue sama Deepsikha kemarin sibuk ngurusin olimpiade. Lagian kenapa gak lo aja yang ngerjain? Mana ada ketua OSIS kerjaanya cuman ngeroasting sama evaluasi aja. Kerja kagak, komen terus,” oceh Gavesha. “Terus? Kan acara sebentar lagi. Senin seharunya sudah di ACC sama kepala sekolah.” Gavesha menyirit, bukanya saat ini seharusnya Nalendra berada di sekolah? Kenapa laki-laki menyebalkan itu justru ada di rumahnya dan malah memakai baju rumahan. “Lo gak sekolah?” heran Gavesha saat tersadar. “Hehehe, demam gue kemarin jadinya hari ini gak masuk buat pemulihan,” tukas Nalendra cengengesan. Gavesha menyipitkan matanya, kemudian menunjuk Nalendra dengan jari telunjuk. “Halah, paling lo bolos.” “Serius gue sakit.” Gavesha mengangguk sejenak. “Sakit jiwa,” tandasnya enteng. “Mulut lo,” peringat Nalendra yang kesal. “Ya udah sekarang lo hubungi Deepsikha tanya kejelasan proposalnya gimana. Yang jelas gue gak tau apapun, Deepsikha belum kasih apapun ke gue.” “Ya lo lah yang hubungi dia.” “Kok gue!” protes Gavesha.” “Ya masa gue semua sih? Kan lo biar berguna jadi waketos.” Gavesha berdiri dari duduknya. Wajahnya memerah, jika di film kartun pasti saat ini di kepalanya sudah keluar tanduk dengan rambut yang berasap-asap. “Ulangi lagi coba,” geramnya sambil mencengkram vas bunga yang ada di meja ruang tamu. Nalendra mendapat signal bahaya pun, ia segera bangkit dan perlahan berjalan mundur menuju pintu keluar. Gavesha tak tinggal diam, ia terus maju untuk memojokan Nalendra. “Iya-iya, gue yang akan hubungi Deepsikha. Biar kali ini gue yang urus, lo hanya perlu duduk manis dan menerima proposal yang udahh di ACC sama kepala sekolah. Ya udah, gue pamit ya,” pamit Nalendra sebelum menghilang di balik pintu utama rumah Gavesha. “Hm.” Gavesha kembali menurunkan vas bunga kesayangan mamanya itu. Menghadapi Nalendra memang perlu tenaga lebih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN