Part 29

1277 Kata
      Di sebuah kamar minimalis berwarna dark blue tersebut seorang remaja laki-laki yang tengah mengalami pubertas masih asik dalam tidurnya. Jatum jam sudah menunjukan pukul delapan padahal, namun tidak ada tanda-tanda bahwa remaja tersebut hendak bangun dari tidurnya.            Suara dering dari jam beker yang berada di nakas samping tempat tidurnya berbunyi nyaring sejak setengah jam yang lalu. Namun sang empu seperti tidak mendengarnya.            “Astagfirullah, Davendra,” kesal seorang wanita paruh baya yang masih menggunakan apron.            Wanita itu menggeleng tak percaya. Anak keduanya ini sebenarnya tengah tidur atau pingsan. Bisa-bisanya suara senyaring itu tidak mengganggu tidurnya. Kasihan melihat anaknya yang terlihat begitu lelah, ia memilih untuk mematikan alarm tersebut dan kembali pergi memasak.            Seorang remaja laki-laki lainya yang mukanya hampir mirip dengan Davendra memasuki kamar Davendra begitu saja. Ia terkadang bingung, kerjaan Davendra di rumah itu hanya tidur dan bermain game, tapi jangan ragukan otaknya.            “Dave! Bangun!” serunya menggoyang-goyangkan tubuh Davendra tak berperasaan.            “Eunghh ... apasih Nale!”            “Ikut gue yok ke rumah Gavesha.”            “Ogah. Gue mau tidur, lagian hari ini Gavesha tuh gak bisa di ganggu,” desis Davendra yang masih memejamkan matanya.            “Ayolah, gue ada urusan sama dia. Tapi lo tau kan dia kalau sama gue galak banget. Lo kan pawangnya, jadi temenin gue lah. Ini kepentingan sekolah, lo kan tahu dua minggu lagi pemilihan ketos baru,” rayu Nalendra.            Ya, Nalendra adalah kembaran dari Davendra. Laki-laki yang lebih tua dari Davendra berbeda lima menit saja. Mereka sangat mirip, hanya saja kulit Davendra sedikit lebih gelap karena laki-laki itu gemar berolahraga. Yang paling mencolok adalah sifat keduanya. Davendra yang kalem dan penuh prestasi. Sedangkan Nalendra ketua OSIS yangg bar-bar dan penuh kontroversi. “Percuma Gavesha gak akan nemuin lo. Yang ada dia akan omelin lo habis-habisan.” Biasanya selesai olimpiade luar kota Gavesha akan hibernasi. Jawabanya karena sebelum olimpiade dia pasti memfotsir tenaga dan waktunya habis-habisan. Jadi setelah olimpiade ia akan benar-benar istirahat.              “Ck, lo mah. Ya udah biar gue kesana sendiri.”            Nalendra keluar dari kamar kembaranya tersebut dengan perasaan dongkol.            “Sukses, semoga lo pulang dengan selamat,” cerca Davendra dengan setengah sadar.            Nalendra mendengus kesal mendengar perkataan Davendra barusan. ***            “Lavanya, jangan malas-malasan kamu. Kamu tau kan Anwa dan Agnia sedang tidak ada di rumah. Sekarang kamu harus bersihkan rumah ini,” titah Atreya yang membuka kasar pintu kamar Meesa.            Meesa terkesiap dari tidurnya. Kepalanya berdenyut sangat sakit mendengar keributan yang di buat oleh Atreya.            “Astaga! Jam berapa ini kamu masih malas-malasan. Kamu ingat ya, di sini tuh kamu cuman numpang. Berasa jadi nona kamu jam segini masih tidur?” hardik Atreya yang menyentak Meesa agar segera bangun dari tidurnya.            “Ma-maaf, Kek. Lavanya sakit hari ini,” cicit Meesa takut.            “Jangan alasan kamu. Sekarang beresin rumah. Lihat halaman depan kotor banget kaya gitu. Anak perempuan macam apa kamu ini? Tidak berguna sama sekali.”            Atreya yang melihat Meesa masih di tempat tidur, ia menyiram paras pucat itu dengan segelas air hangat yang ada di nakas. Meesa terkejut, ia terpaksa langsung bangkit dari tempat tidurnya.            “Sana cepat pergi bereskan rumah. Saya tidak mau tahu, apa gunanya kamu tinggal di sini kalau hanya bisa tiduran saja.”            Atreya pergi dari kamar Meesa, tidak lupa membanting pintu kamar Meesa hingga berbunyi sangat nyaring. Meesa mengelus dadanya, ia terkejut bukan main dengan suara itu. Dengan langkah lemah, Meesa pergi keluar kamar untuk membersihkan rumah seperti perintah kakeknya.            Sebelum menuruni puluhan anak tangga, Meesa terlebih dahulu meyakinkan dirinya. Ia mencengkram erat pegangan tangga itu. Waspada agar ia tidak terjungkal.            “Meesa, kamu pasti bisa. Meesa kan kuat, Meesa pasti bisa! Senyum!”            Sudut bibir Meesa terangkat satu senti meter. Ia menuruni anak tangga dengan begitu lambat. Kepalanya masih kliyengan, bahkan ia harus extra hati-hati saat pandanganya terbelah.            Meesa merapatkan hoodie oversize miliknya, ia menyapu halaman depan yang nampak kotor dengan dedauan yang gugur. Pak Setya tidak tega melihatnya, bagaimana pun dia tahu bahwa cucu dari majikanya itu tengah sakit. Sangat terlihat bibir ranum yang biasanya selaly tersenyum lebar itu kini nampak putih.            “Non Meesa, biar saya saja yang nyapu,” tawar Pak Setya tidak tega.            “Biar Meesa aja, Pak. Pak Setya kan harus jaga gerbang. Kalau nanti Tante Agni tiba-tiba pulang atau Kak Ekavira pulang, nanti kelamaan nunggu Pak Setya buka gerbangnya,” balas Meesa.            “Tapi, Non. Non kelihatan lagi sakit gitu. Saya jadi tidak tega.”            “Meesa gak papa kok, Pak. Kan Meesa anaknya kuat!”            Meesa tersenyum sangat lebar. Meski nayanika itu tidak secerah biasanya. Namun masih terlihat banyak ketulusan yang terpancar di sana.            “Ya sudah, kalau Non gak kuat jangan di paksain ya, Non. Non bisa panggil Pak Setya untuk lanjutin nyapunya.”            “Iya, Pak Setya. Terima kasih ya,” tulus Meesa.            “Saya tidak membantu apapun, jadi kenapa Non Meesa terima kasih?” heran Pak Setya.            “Kan Pak Setya tadi nawarin bantuan ke Meesa. Makasih juga udah perhatian sama Meesa, hihihi.”            “Sama-sama, Non. Semangat Non Meesa!”            “Semangat juga Pak Setya jaga gerbangnya!”            Keduanya tertawa bersama. Meesa kembali menyapu halaman rumah neneknya yang sebenarnya tidak bisa di bilang sempit. Setelah setengah jam akhirnya Meesa selesai membersihkan halaman depan. Ia kembali masuk rumah untuk membersihkan yang lainya.            “Astaga, Lavanya. Kenapa kamu lamban sekali jadi orang?” cerca Atreya yang tengah duduk di ruang tamu.            “Maaf, Kek.”            “Ya sudah, sekarang cepat bersihkan rumah ini.”            “Baik, Kek.”            Meesa mulai mengambil sapu dan menyapu rumah yang sangat luas itu. Tak lupa juga beberapa perabotan yang berdebu ia lap agar terlihat bersih tidak berdebu.            “Hachim ... hachim ....”            Meesa mengusap hidungnya yang terasa gatal. Astaga dia lupa jika seharunya dia alergi dengan debu. Meesa tidak mau mengeluh, nanti Atreya bisa marah lagi ke arahnya.            “Ayo, Meesa. Kamu pasti kuat.”            Bersin-bersin Meesa semakin menjadi. Kepalanya pun semakin berdenyut sakit. Meesa bersimpuh sebentar menyandarkan dirinya di bufet. Pandanganya nampak kabur di tambah lagi sedari tadi ia harus bersin-bersin karena alergi.            Atreya yang hendak ke dapur untuk mengambil minum menatap Meesa. Bukanya kasihan justru dengan tidak punya hati dia menendang tubuh lemas Meesa.            “Hey! Saya menyuruh kamu bersihin rumah saya, bukan malah enak-enakan santai seperti ini,” hardiknya.            “Maaf, Kek. Kepala Meesa pusing banget, sebentar aja, Kek,” pinta Meesa.            “Tidak usah banyak drama kamu. Manja sekali jadi anak. Ingat, di sini kamu hanya numpang. Jadi kamu tidak bisa berlagak seperti nona.”            “Cepat beridiri dan bersihkan semuanya!” sambung Atreya dengan kasar.            Meesa mengangguk. Dengan sekuat tenaganya ia segera bangkit. Denallie yang mendengar seperti ada keributan dia keluar dari kamar. Betapa terkejutnya Denallie saat melihat kondisi Meesa.            Hidungnya nampak begitu merah, sepertinya alergi gadis itu kambuh. Bahkan beberapa totol merah terlihat di paras ayunya dan beberapa di lengan putih mulus itu.            “Astagfirullah, Lavanya. Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit? Kok gak istirahat aja, Sayang?” pekik Denallie menghampiri Meesa.            “Meesa tidak apa-apa, Nek.”            “Gak papa gimana. Ya Allah gusti. Sekarang kamu ke kamar. Istirahat. Biar Nenek telfon Bunda kamu,” panik Denallie.            “Kamu jangan terlalu memanjakan dia, Denallie. Lagian dia baik-baik saja,” ucap Atreya yang membawa segelas sirup merah.            “Mas, jangan-jangan kamu yang nyuruh Lavanya, ‘kan? Jangan keterlaluan dong, Mas. Lihat dia lagi sakit gini,” kritik Denallie.            “Apasih, aku hanya menyuruhnya membersihkan rumah. Lagipula apa gunanya punya cucu perempuan jika tidak di suruh untuk membersihkan rumah.”            “Tapi kamu keterlaluan, Mas. Kamu kan tau kalau Lavanya sedang sakit. Apalagi dia kan memang alergi dengan debu.”            “Halah, lemah sekali.”            Denallie membantu Meesa bangkit. Ia memapah Meesa untuk pergi ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN