Part 28

1231 Kata
Meesa memasuki kamarnya, ia menghempaskan tubuh berisinya ke atas kasur. Sebentar saja, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Tiga hari ini berjalan lancar dan cukup berat. Pikiranya menerawang tentang Lal. Laki-laki dingin namun terus menolongnya. Namun pikiranya kali ini mengingat tentang Aarav. Apa Meesa menyakiti Aarav? Apa dia salah tidak mengasihkan nomor nya ke Aarav? Apa dia salah menolak berdansa dengan Aarav? Ah sebentar, memang dia menolak? Bahkan dia belum menjawab ajakan itu. “Yaa Allah, maafin Meesa kalau Meesa menyakiti Aarav. Tapi demi Allah, tidak ada niatan Meesa menyakiti Aarav,” lirih Meesa. Meesa mencari ponselnya di tas selempang kecil yang tadi ia kenakan. Ia mendesah berat saat mengecek ternyata ponselnya mati. Meesa memilih bangkit dari tempat tidurnya. Ia bergegas untuk mengcharger ponselnya kemudian pergi bersih-bersih. *** Auzora malam di kota metropolitan terlihat mendung. Gemerlapan sang bintang di tutupi oleh sang mega kelabu. Gadis berambut panjang sepunggung itu menatap kosong ke langit. “Sebentar lagi pelepasan jabatan gue. Setelah itu waktu gue hanya untuk belajar, belajar, dan belajar. Bisa gak ya nanti gue?” monolognya. “Hahaha, tapi kan sekarang gue bakal belajar sama Meesa. Gak cuman sama Davendra yang nyebelin itu.” Gavesha mengingat pertemuanya dengan Meesa, gadis lugu yang mengiranya hantu. Gavesha akui, berkat Meesa, Gavesha berubah banyak. Gavesha yang dulu selalu ambisius saat ini mulai mereda egonya. Gavesha yang bahkan bisa di bilang dulu jauh dari Allah, berkat Meesa kini ia lebih dekat lagi dengan Allah. Meesa selalu mengajaknya salat saat selesai makan siang. Meesa selalu mengingatkanya untuk salat sebelum jam tambahan terakhir. Dan Meesa yang selalu mengingatkan Gavesha saat Gavesha kelewatan batas ketika marah. Jika Meesa tidak datang, kemungkinan Gavesha semakin menjadi. Apalagi saat ini mendekati UN. Bisa di pastikan tingkat ambisius, egoisme, dan individualisme gadis itu semakin membara. “Makasih lo udah hadir dan ubah hidup gue yang dulu cuman abu-abu. Hahaha, berasa lesbi gue. Tapi gue emang sayang lo, sama kaya gue sayang ke Davendra.” Gavesha menatap jendela di lantai tiga sebrang rumahnya. Terlihat lampunya masih menyala hanya saja gorden kamar itu telah tertutup. Gavesha selalu berharap Meesa baik-baik aja, bukan apa-apa teman sebaik Meesa sulit di dapatkan bukan? Gadis berambut sepunggung itu memutuskan untuk pergi tidur, malam semakin larut. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu hibernasinya. Sebelum setelah ini, sepertinya ia tidak bisa lagi istirahat setenang saat ini. *** Arunika telah menyambut bentala dengan litani yang menggema dari seluruh penjuru dunia. Gadis berambut sebahu itu masih asik di balik selimut tebal. Tubuhnya menggigil, padahal AC di kamar itu tengah mati. Biasanya di jam segini ia sudah menampilkan senyum manisnya, menyapa seluruh orang yang ia temui dengan gembira. “Meesa, kamu masih belum bangun, Sayang?” tanya Elakshi yang datang ke kamar bernuansa peach itu. Langkah kaki wanita berumur kepala tiga itu terburu-buru saat melihat anak semata wayangnya masih meringkuk di balik selimut bahkan terlihat menggigil. Telapak tangan Elakshi menyentuh dahi Meesa, ia terkejut ternyata Meesa tengah demam tinggi. “Astagfirullah, kenapa kamu gak bilang Bunda, Sayang? Ini tinggi banget demam kamu, kita ke rumah sakit ya?” panik Elakshi. Meesa menggeleng, ia tidak suka rumah sakit. Lebih tepatnya ia takut jarum suntik. “Sayang, tapi ini demam kamu tinggi banget lho. Takut kamu kenapa-napa. Kita ke rumah sakit aja ya? Biar Bunda panggilin Ayah dulu.” Meesa mencegah tangan Elakshi yang hendak beranjak darinya. “Meesa gak papa, Bun. Ini cuman demam biasa karena kecapekan. Nanti juga turun kalau udah minum obat warung,” tolak Meesa enggan di bawa ke rumah sakit. “Kenapa hm? Kamu takut sama jarum suntik? Kita cuman periksa doang, Sayang. Gak akan di suntik. Biar tau juga kamu sakit demam biasa atau takutnya ada penyakit lain,” desak Elakshi. “Astagfirullah. Bunda doain Meesa sakit parah gitu?” “Bukan gitu, Sayang.” “Meesa gak papa, Bun. Lagi pula kan sekarang gak sekolah. Jadi cukup istirahat seharian paling juga udah sembuh.” “Gak bisa, Sayang. Bunda khawatir lho ini sama kamu.” “Bunda ... gini deh, kalau panasnya gak turun-turun baru ke rumah sakit. Tapi jangan sekarang ke rumah sakitnya,” rengek Meesa merayu. “Ya sudah. Sekarang Bunda siapin kompresan buat kompres kamu, sama Bunda siapin bubur buat sarapan.” “Jangan bubur dong, Bun. Kan Meesa gak suka bubur,” rajuk Meesa lagi. “Terus kamu mau sarapan apa, Sayang?” “Roti aja deh.” “Ya udah. Kamu tunggu sini ya, jangan banyak tingkah.” “Siap, Bunda. Terima kasih, maaf ya ngerepotin Bunda pagi-pagi gini.” “Sama-sama, Sayang. Kamu sama sekali gak ngerepotin Bunda. Kan udah tugas Bunda buat rawat anak kesayangan Bunda ini.” Sebelum meninggalkan Meesa, Elakshi mencium kening Meesa sejenak. Ia mengusap rambut sebahu itu penuh sayang. Hatinya menghangat saat melihat senyum kecil di bibir yang nampak pucat tersebut. “Cepet sembuh Putri Kesayangan Bunda. Jangan sakit-sakit.” “Siap, Bu Bos!” Elakshi meninggalkan kamar Meesa. Ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan kompresan dan sarapan putri kesayanganya. Saat tengah menyiapkan air hangat untuk Meesa, Jayendra datang ke dapur hendak meminta kopi. “Bunda, itu kompresan buat siapa? Siapa yang sakit?” tanya Jayendra. “Meesa, Yah. Badanya demam tinggi.” “Inna lillahi, kenapa gak bilang sama Ayah? Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang,” heboh Jayendra. “Bunda tadi udah nawarin, Yah. Tapi Meesa gak mau. Kamu tahu sendiri dia paling gak mau di bawa ke rumah sakit soalnya takut sama jarum suntik,” terang Elakshi. “Ya sudah, itu kompresan buat dia? Biar Ayah yang kompres dia. Bunda siapin sarapan buat Meesa aja. Sekalian obatnya.” Jayendra mengambil alih baskom yang di bawa oleh Elakshi. “Iya, Yah.” Dengan langkah lebar Jayendra bergegas ke kamar Meesa. Hatinya teriris melihat putri semata wayangnya yang selalu ceria dan jarang sakit itu kini meringkuk di atas kasur. “Assalamu’alaikum, selamat pagi Putri Kesayangan Ayah.” Meesa membuka matanya, ia tersenyum hangat menyambut kedatangan Jayendra. “Wa’alaikumussalam, selamat pagi juga Ayah!” “Putri Kesayangan Ayah kok bisa sakit sih? Kenapa hm?” Jayendra duduk di tepi kasur. Ia menaruh punggung tanganya di dahi Meesa. Benar saja, dahi dan leher Meesa terasa begitu panas. Sebelum mengompres, Jayendra mengusap sebentar puncak rambut Meesa. Merpalkan doa untuk putri kesayanganya, barulah ia kecup dengan lama dahi yang terasa panas itu. “Bismillahirrahmanirrahim.” Jayendra mulai membasahi handuk kecil lalu mengompres dahi Meesa. “Terima kasih, Ayah. Maaf ya Meesa jadi merepoti. Kan pagi-pagi gini harusnya kan Ayah santai sambil minum kopi sebelum berangkat ke kantor,” celoteh Meesa dengan suara serak. “Sama-sama, Sayang. Kamu gak ngerepotin Ayah, Sayang. Cepet sembuh ya, nanti kalau sembuh jangan lupa buatin kopi buat Ayah.” “Ayah suka kopi buatan Meesa?” Jayendra tersenyum hangat, membelai lembut rambut sebahu yang terasa begitu lembut bak rambut bayi. “Suka dong. Apapun yang kamu buat Ayah pasti suka.” “Enak mana kopi buatan Meesa atau Bunda?” “Hayo, lagi ghibahin Bunda ya,” ucap Elakshi yang baru saja datang membawa senampan sarapan. Meesa dan Jayendra terkekeh. Kemudian Jayendra membisikan sesuatu ke Meesa yang semakin membuat gadis itu tertawa lepas. “Jangan bilang ke Bunda tapi, masih enak buatan Anak Kesayangan Ayah dong.” “Hayo, bisik-bisik apa nih?” “Hihihi, Bunda kepo deh.” Elakshi duduk di samping Meesa yang selebah kanan. Ia membantu Meesa untuk duduk sejenak. “Makan dulu ya. Abis itu minum obat. Biar cepet sembuh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN