Pesawat yang di tumpangi Meesa baru saja take off. Ia bisa melihat langit sore dengan mega yang berwarna orange dari ketinggian. Satu setengah jam lagi ia akan sampai di Jakarta. Tadi ia sudah menghubungi Jayendra dan pria itu akan menjemputnya sepulang kerja.
“Gue besok akan hibernasi, jadi kalau lo ada perlu apa-apa sama gue mending langsung ke rumah aja ya,” tutur Gavesha yang membuyarkan lamuan Meesa.
“Ha? Hibernasi?” beo Meesa bingung.
“Iya, kita di kasih libur buat istirahat kata Pak Adyaksa. Kita bisa masuk minggu depan.”
“Kok gue gak tau?”
“Lo tadi gak dengerin? Kenapa? ada masalah?”
“Pusing dikit, kayanya efek kecapekan doang.”
“Ya udah lo tidur aja, kalau udah mau landing gue bangunin.”
“Emm ... oke deh. Makasih ya.”
“Sans.”
Meesa mulai masuk dalam mimpinya. Sedangkan Gavesha yang di sampingnya nampak asik bermain game. Kemungkinan mereka akan sampai malam karena pesawat tadi sempat delay jadinya mereka flight jam setengah lima sore.
Meesa tidak sabar pulang, ia merindukan Denallie. Sebenarnya sedari tadi ia tengah memikirkan Denallie. Elakshi tadi menghubunginya jika Denallie sudah mempersiapkan cake lava kesukaan Meesa. Kabar kemenanganya juga sudah terdengar karena memang acara tadi pagi di siarkan di salah satu tv nasional.
Setelah perjalanan yang singkat, akhirnya mereka sampai di Jakarta. Mereka kembali ke sekolah terlebih dahulu dengan bus sekolah. Kenapa tidak langsung di jemput di bandara oleh pihak keluarga? Jawabanya adalah agar lebih kondusif. Jadi pihak keluarga lebih baik menjemput di sekolah saja.
“Lo gak papa, Sa? Kok pucetan?” tanya Davendra yang membantu Meesa mengangkat koper gadis itu ke bus.
“Gak papa, cuman kecapekan aja.”
“Ya udah, kalau ada apa-apa bilang ke gue atau Gavesha ya?”
“Iya, makasih.”
“Sama-sama.”
Gavesha membiarkan Meesa duduk di dekat jendela agar Meesa bisa melanjutkan istirahatnya di pesawat tadi. Perjalanan dari bandara ke sekolah memakan waktu cukup lama. Gavesha juga memutuskan untuk tidur menyender di bahu milik Meesa.
Sebuah tangan menahan kepala Meesa agar tidak kejedot kaca bus. Ya, itu adalah tangan Lal. Lal dari tadi memperhatikan Meesa. Hanya saja ia tidak punya cukup nyali untuk memberikan perhatian terang-terangan seperti Davendra.
Bus yang mereka tumpangi baru saja memasuki kawasan SMP Nabastala. Meski hari telah petang, ternyata suasana SMP Nabastala tidak seseram itu. Meesa tersenyum sumringah, melupakan kepalanya yang sedari tadi berdenyut sakit.
Melihat paras tampan Jayendra yang nampak awet muda membuatnya kembali bahagia. Meesa berlari menghampiri Jayendra yang kemudian memeluknya erat.
“Ayaah ... Meesa rindu sama Ayah.”
“Hahaha, salam dulu, Sayang,” peringat Jayendra.
“Hehehe, assalamu’alakum Ayah.”
“Wa’alaikumussalam. Gimana kabar kamu? Sehat kan? Selama di sana gak telat kan makanya?”
“Alhamdulillah, Meesa sehat kok. Ayah gimana?”
“Alahmdulillah juga, Sayang.”
“Khem ... jadi cuman rindu ayah nih?” goda Elakshi.
“Bundaaa ... Meesa juga rindu Bunda.”
“Iya, Sayang. Bunda juga rindu kamu. Hebat banget anak Bunda.”
“Oh ya, Meesa punya temen baru lho,” ujar Meesa mulai bercerita.
“Siapa namanya?”
“Ada Fashikha, Deepshikha, mereka kembar. Deepshikha yang menang olimpiade bahasa mandari. Terus Shankara sama Lal,” cerita Meesa.
“Mereka baik ke kamu?” tanya Jayendra mendengar sang putri bercerita dengan semangat.
“Semuanya baik. Terus kemarin Meesa juga ketemu sama Qirani, temen Meesa yang di Semarang. Dulu sering main ke rumah, Bunda inget kan?”
“Iya, Sayang. Bunda inget.”
Setelah di pastikan semuanya telah di jemput oleh orang tua masing-masing. Pak Adyaksa mempersilahkan anak-anak emas SMP Nabastala itu pulang. Sebagai hadiah lainya, mereka di berikan libur tambahan. Anggap saja pihak sekolah mengembalikan waktu mereka yang selama ini di gunakan untuk jam tambahan.
“Anak-anak jangan lupa istirahat yang cukup ya. Terima kasih sudah membanggakan sekolah,” ujar Pak Adytama sang kepala sekolah yang sengaja datang menyambut mereka.
“Baik, Pak.”
“Iya, Pak.”
“Siap, Pak.”
Mereka menyalimi para guru yang ada barulah kembali pulang ke rumah masing-masing. Di dalam mobil Meesa tak ada henti-hentinya bercerita. Ia menceritakan hampir keseluruhan kejadian.
“Ayah tau? Lal tuh pinter banget, skor dia beda 0,3 dengan punya Meesa. Bahkan di babak final nilai dia 99,” cerita Meesa tentang Lal.
“Lal itu yang mana, Sayang?” timpal Elakshi yang ikut menyimak.
“Yang putih, lebih tinggi dari Davendra, mukanya suka gak berekspresi.”
“Yang ganteng sampingnya si kembar itu?”
“Iya!” seru Meesa.
***
Berbeda dengan suasana mobil Meesa yang penuh kasih sayang. Saat ini suasana mobil milik keluarga Baasima nampak sedikit mencekram. Gavesha menunduk takut.
“Kenapa hanya harapan satu, Gavesha?” suara barinton milik Baasima mengintrupsi.
“Maaf, Pa. Tapikan Gavesha masih bawa pulang piala.”
“Tapi apa itu juara harapan?”
“Maaf, Pa.”
“Papa tadi lihat, skor Meesa sangat tinggi. Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?” kata Baasima yang menyakiti Gavesha.
“Pa-,”
“Kamu terlalu banyak bermain. Dua minggu lagi ada try out, ‘kan? Papa harap kamu bisa mempertahankan posisi kamu di Nabastala,” potong Baasima.
“Iya, Pa. Akan aku usahakan.”
“Ajak Meesa belajar bersama.”
“Iya, Pa.”
Suasana kembali hening. Gavesha memainkan jemarinya. Ini yang tidak dia suka, Papanya terlalu mengekangnya menjadi yang pertama. Padahal aslinya Gavesha ingin seperti remaja di luar sana. Ia ingin bermain dan memilih sesuatu yang sesuai pasionya.
Bukan hanya tentang akademik yang Baasima selalu tekankan kepadanya, namun segala hal. Baasima hanya ingin Gavesha menjadi yang pertama dan central. Ini juga alasan ia menjadi wakil ketua OSIS. Dulu Baasima awalnya juga tidak cukup puas, ia ingin Gavesha menjadi ketua OSIS bukan hanya seorang wakil.
Namun Gavesha harus menyogoknya dengan memenangkan salah satu olimpiade dan peringkat paralel. Sejak keberadaan Meesa, Gavesha menjadi sedikit merasa bebas. Ketika bersama Meesa, tidak melulu Gavesha belajar.
***
Meesa turun dari mobil dengan perasaan gembira. Ternyata Denallie sudah menunggunya di depan pintu. Ia mengjamburkan pelukan hangat ke arah Denallie, dengan hangat juga Denallie membalas pelukan Meesa.
“Nenek, Lavanya menang lho,” seru Meesa begitu antusias.
“Iya, Sayang. Nenek tadi lihat kamu. Nenek bangga banget sama kamu, ayo masuk. Nenek udah buatin kue lava sesuai janji Nenek.”
Meesa memasuki rumah mewah itu dengan perasaan gembira. Ia menyirit saat melihat rumah nampak sepi. Kemana semuanya, padahal Meesa ingin mmebagikan oleh-oleh yang tadi siang ia beli.
“Yang lain kemana, Nek?”
“Anwa masuk rumah sakit, Vira sedang ada kerjaan di luar kota, sedangkan Kaivan sepertinya dia menginap di rumah temanya,” terang Denallie menyiapkan kue milik Meesa.
“Innalillahi, Tante Anwa kok bisa sampai masuk rumah sakit, Nek?”
“Kandungan dia lemah, tapi kamu tidak usah khawatir.”
“Tante Agnia? Terus Rafa, Radhika, sama Andra? Pada kemana juga, Nek?”
“Agni ikut jaga Anwa. Kalau yang lain kemana Nenek kurang tau. Kayanya main deh.”
“Kakek kemana, Nek?” tanya Meesa lagi.
“Ada di kamar. Kamu baru aja pulang udah cerewet banget sih,” goda Denallie.
“Hehehe, habisnya sepi banget. Berarti ini semua untuk Lava ya, Nek?”
“Iya, Sayang. Ini semua Nenek buatin spesial buat kamu.”
“Lava bawa banyak oleh-oleh lho. Terus tadi Lava juga beliin Nenek daster.”
“Oh ya? Terima kasih ya, Sayang.”
“Aduh, ada apa ini. Kayanya seru banget sampai lupa sama Ayah,” ucap Jaayendra yang baru saja masuk rumah menenteng beberapa barang bawaan milik Meesa.
“Hehehe, Meesa udah rindu banget sama Nenek.”
“Rindu sama Nenek, apa cake lava nya nih?” goda Elakshi.
Meesa nampak berpikir sejenak. “Rindu semuaaanyaaa.”
Semua yang ada di sana terkekeh. Denallie begitu bahagia menyambut cucu kesayanganya itu. Mereka menikmati makan malam bak keluarga bahagia.