Part 26

1110 Kata
Hari ini adalah hari terakhir Meesa di Surabaya. Pagi ini mereka akan melaksanakan upacara penutupan sekaligus pemberian piala serta hadiah untuk para sang juara. Pesawat mereka untuk pergi ke Jakarta sengaja di pesan sore. Karena setelah upacara Pak Adyaksa dan Bu Wikrama akan mengajak mereka berkeliling Surabaya sebentar. Saat ini Meesa telah siap dengan seragam kebesaran milik SMP Nabastala, begitupun juga Gavesha yang tengah sibuk berdandan. Gavesha tadi heboh, Davka memfollback i********:. Ya laki-laki yang berasal dari Bali itu menotice Gavesha semalam. “Sa, gimana penampilann gue? Rambut gue udah oke kan? Gak kelihatan aneh kan?” rempong Gavesha yang entah itu sudah pertanyaan yang keberapa. “Iya, Gavesha. Udah, cantik.” “Bener kan?” “Iya, Gavesha.” Gavesha akhirnya memakai sepatunya kemudian ia mengambil id card miliknya yang berada di atas meja rias. Setelah Gavesha siap, keduanya pun bergegas pergi ke aula. Meesa membenarkan sejenak dasi pitanya yang nampak terlalu ketat, namun Gavesha justru menariknya hingga dasi pitanya lepas. “Astagfirullah, kenapa lagi, Gave?” tanya Meesa dengan sabar. “Itu Davka,” pekik Gavesha tertahan saat di lantai lima belas Davka baru saja masuk lift yang kebetulan mereka naiki. “Ya udah sapa aja.” “Malu lah, Saa ... masa gue duluan, kan gue cewek,” rengek Gavesha. Meesa membenarkan kembali dasi pita miliknya. “Terus mau lo gimana?” jengahnya. “Ya dia lah yang harusnya nyapa gue duluan.” Meesa tidak paham lagi isi pikiran Gavesha. “Gavesha ya? Anak SMP Nabastala kan?” sapa Davka yang ada di depan Gavesha. Gavesha semakin mencengkram erat tangan Meesa karena gugup. Tanpa dia sadari hal itu menyakiti Meesa. “Argh ...,” ringis Meesa tertahan. “Hehehe, iya. Lo Davka kan? Btw, selamat ya atas keberhasilan lo jadi juara tiga.” “Hahaha, lo juga selamat. Selisih kita kan beda dikit di babak semifinal.” Jujur tangan Meesa sangat sakit, Gavesha benar-benar mencengkramnya erat. Selain itu juga karena kuku Gavesha yang panjang semakin menyakiti pergelangan tangan milik Meesa. “Gave, sakit,” adu Meesa berbisik. “Lo sakit? Kenapa gak bilang sama gue dari tadi? Langsung gue antar ke ruang kesehatan ya?” pekik Gavesha panik. Bahkan karena ucapan Gavesha yang terlampau keras membuat semua orang yang ada di lift itu kini menatap ke arah Meesa. “Gak gitu. Ini tangan gue sakit, tolong longgarin dikit gandengnya.” Gavesha akhirnya tersadar. Pantas saja Meesa kesakitan ternyata saat ini pergelangan Meesa sangat merah bahkan mengecap kuku milik Gavesha. “Sorry, sakit ya pasti?” sesal Gavesha. “Iya gak papa, santai.” “Merah kaya gitu lebih baik di kompres biar gak terlau sakit,” saran Davka yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya. “Bener kata Davka, kita ke ruang kesehatan dulu ya? Kita kompres bentar baru itu ke aula.” “Gak usah. Ini gak papa kok, paling abis ini merahnya juga ilang. Acaranya kan mau di mulai abis ini,” tolak Meesa halus. “Tapi Sa, itu tangan lo.” “Gak papa, Gave. Kalau masih merah selesai acara, baru kita ke ruang kesehatan.” “Ya udah deh kalau mau lo gitu.” Pintu lift akhirnya terbuka mereka semua berjalan ke aula untuk mengikuti upacara penutupan yang akan di laksanakan. Meesa dan Gavesha duduk di dekat Fashikha dan Deepsikha yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Lima menit setelah kedatangan mereka Davendra dan yang lainya menyusul. Upacara penutupan di buka dengan pidato mentri pendidikan Republik Indonesia yang sengaja datang hari ini. Setelah sepatah dua kata pidato di lanjutkan oleh ketua panitia tim olimpiade. Dan acara inti di mulai, pemberian piala serta hadiah pada para pemenang. Lal nampak dengan muka datarnya memegang piala dan sterofoam yang bertuliskan hadiah senilai dua puluh juta. “Hahaha, lihat muka Lal. Ada orang dapet duit dua puluh juta datar banget kaya dia,” bisik Gavesha pada Meesa. “Hus, jangan gitu. Ada-ada aja kamu.” Yang terakhir adalah foto bersama. Para juara berjejer membawa piala masing-masing berfoto dengan Pak Mentri Pendidikan. Setelah acara berakhir mereka bubar untuk siap-siap chek out hotel. *** Saat ini Meesa dan yang lainya tengah berada di kebun binatang Surabaya. Ini semua atas usulan Fashikha yang merengek pada Adyaksa. Adyaksa pun mengiyakan sebagai hadiah karena mereka bertujuh berhasil membawa pulang piala-piala kejuaraan. “Eh, Sa lihat deh itu pandanya lucu banget,” seru Fashikha yang sedari tadi heboh sendiri. “Hahaha, iya. Eh ayo foto,” seru Meesa kembali. Yang terlihat begitu semangat adalah Fashikha, Meesa, Gavesha, dan Shankara. Mereka sedari tadi aktif seperti anak-anak yang bergembira saat di ajak ke kebun binatang. Jangan tanyakan bagaimana Lal dan Deepsikha. Mereka dengan wajah datar mengikuti saja. Namun sesekali Deepsikha masih menimpali atau bahkan membuat story. “Berasa ngasuh anak Tk gue,” keluh Davendra yang sedari tadi kedua sahabatnya itu sangat akttif. “Dave ayo foto. Eh naik gajah kayanya seru,” ide Meesa. “Ide bagus, tapi gue maunya naik unta.” “Sekalian harimau juga gak papa,” timpal Deepsikha. “Lo mah gak asik.” Meesa dan Gavesha pergi naik gajah, sedangkan Fashikha dan Shankara pergi naik unta. Sisanya hanya menatap keempat teman mereka itu datar. Ayolah mereka akan menjadi anak SMA, sedangkan keempat anak itu masih seperti anak TK. “Lo bakal nyesel kalau gak nyobain naik gajah. Sumpah seru banget, iya ‘kan Sa?” ujar Gavesha yang mulai memprofokator. “Iya, seru banget. Coba deh, Dave. Asik banget.” “Gak, makasih.” “MEESAA ... GAVESHA ... sumpah, gue hampir aja jatuh tadi hahaha. Tapi seru. Rugi lo gak coba, Deep,” pekik Fashikha yang baru saja turun dari unta. “Gak minat.” Mereka benar-benar bersenang-senang siang itu. Banyak wahana yang tersedia di sana, melihat pertunjukan para hewan, dan memberi makan beberapa hewan. Rasa penat selama dua hari kemarin terbayarkan di hari ini. Mereka benar-benar bahagia. “Kalau singanya ngamuk terus kacanya pecah gimana ya?” celoteh random Shankara. “Paling lo di ngab,” balas Davendra santai. “Sekata-kata lo.” Selesai puas bermain di kebun binatang mereka bergegas pergi ke hotel untuk paking. Seperti saat ini Meesa tengah mengemas barang-barangnya ke koper. Ia tadi juga telah memebeli oleh-oleh untuk keluarganya di Jakarta. Sejujurnya Meesa bingung ingin membeli apa, ia membeli saja banyak makanan dan beberapa baju untuk sepupunya. “Sa bantuin gue dong. Koper gue gak muat masa,” keluh Gavesha yang kesusahan menutup kopernya. “Kamu tadi beli apa aja, Gave?” Meesa membantu Gavesha merapikan barang-barang gadis itu. Benar saja koper Gavesha sulit untuk di tutup, jadinya Meesa mengakali beberapa barang harus di taruh di tas. Setelah selesai, mereka bergegas chek out hotel. Sebelum pergi ke bandara, mereka pergi makan siang dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN