Part 25

1239 Kata
Malam ini suasana aula nampak begitu megah. Semua nampak rapi dengan pakaian bebas tapi sopan. Malam ini Meesa menggunakan rok kotak-kotak dengan baju blouse berwarna putih yang di rangkap dengan tanktop hitam. Penampilanya begitu feminim dan nampak sangat anggun. Dia duduk di apit oleh Gavesha dan Lal, karena saat ini Davendra duduk di samping Gavesha. Meesa menyirit saat sebuah jaket menutupi kaki jenjangnya, saat ini pandanganya menatap ke arah Lal yang nampak santai. “Terima kasih,” tulus Meesa dengan senyum manisnya. “Sama-sama.” Gavesha yang tadinya tengah asik bercanda dengan Davendra, saat ini ia menoleh ke Meesa. Ah sahabat barunya itu seperti tengah di mabuk cinta. Keduanya sama-sama kuat, siapa yang bisa menolak pesona Lal? Jangan lupakan, siapa juga yang tidak tertarik pada gadis lugu seperti Meesa. “Sa, kayanya Lal beneran suka sama lo,” bisik Gavesha menggoda Meesa. “Apasih, Gave.” Gavesha terkekeh saat melihat Meesa tersenyum malu-malu. Saat ini mereka tengah menikmati pertunjukan malam puncak. Banyak sekali hiburan dan makanan yang di sediakan. Sesekali mereka semua memvideokan acara yang terjadi, atau bahkan ada yang tengah live i********: untuk mengabadikan semuanya. “Sa, itu bukanya Aarav?” tanya Gavesha saat melihat laki-laki yang kini tak jauh dari kursi mereka. “Iya. Kenapa, Gave?” “Dia kayanya lihatin lo dari tadi.” “Gak tau sih, bisa jadi dia lihat orang yang ada di belakang atau depan kita, ‘kan?” ujar Meesa yang terus berfikir positif. “Hati-hati deh, gue takut dia ada niat jahat sama lo.” “Tenang aja, dia baik kok.” “Baik dari mana, lo tau kan gimana tadi dia merlakuin lo?” “Ya mungkin dia khilaf,” enteng Meesa. Gavesha hanya memutar bola matanya malas. Meesa itu terlalu lugu dan baik. Bahkan ia yakin Meesa mudah tertipu daya. “Pokoknya lo kalau kemana-mana harus di temenin,” kekeh Gavesha. “Iya-iya. Lagian gue gak mau kemana-mana, Gave.” Mereka kembali fokus ke acara. Saat ini adalah penentuan juara. “Selamat malam Para Juara. Gimana kabar kalian malam hari ini?” sapa MC panitia olimpiade. “Baik!” jawab semuanya serempak. “Sesuai yang saya katakan pagi tadi, malam ini adalah pengumuman juara satu, dua, dan tiga. Sedikit bocoran, ada skor yang seimbang. Tapi tenang saja, skor sama kali ini ada dalam dua mata pelajaran yang berbeda. Mereka berhasil mendapatkan skor tertinggi dan menjadi juara. Kalian ingin tahu siapa mereka?” “Gue tebak pasti Meesa sama Lal.” “Pasti Meesa.” “Lal gak sih?” “Kata temen gue, tadi Meesa berhasil jawab tiga belas soal di babak rebutan.” “Demi?” “Iya, sumpah.” “Meesa deh sama Lal.” “SMP Nabastala menang banyak kali ini.” “Hahaha, dulu SMP Buntara gara-gara Meesa, sekarang SMP Nabastala gara-gara Meesa pergi kesana.” “Sumpah sih, mereka pasangan sensasional jebolan olimpiade.” “Hahaha, gak main-main.” Pengumuman juara sudah di mulai. Riuh tepuk tangan di dalam aula, untuk kali SMP Nabastala membawa ketujuh piala juara dengan tiga piala juara harapan. Karena hal itu, SMP Nabastala mendapatkan penghargaan karena prestasinya. Semua memekik saat mendengar skor Meesa dan Lal. Bahkan skor mereka melebihi 100. Meesa mendapatkan skor 109,3 sedangkan Lal mendapatkan 109,6. Meesa, Lal, dan Deepsikha berhasil memperoleh juara 1 sedangkan Davendra mendapatkan juara 2. Pencapaian SMP Nabastala tidak main-main, semua orang di buat speachlees. Besok pagi ada upacara penutupan sekaligus pemberian piala dan hadiah untuk setiap para juara. Yang spesial di tahun ini, untuk peserta yang masuk rank sepuluh besar akan mendapatkan mendali. Jadi semua peserta yang hari ini masuk babak semifinal akan pulang membawa mendali dan hadiah. Acara selesai hampir di tengah malam. Bahkan suasana kali ini seperti prom night. Semua peserta menikmati pertunjukan live musik. Bahkan mereka bebas berjoget atau berdansa. Sangat menyenangkan tidak terasa jika event saat ini yang mereka ikuti adalah olimpiade terbesar di pulau Jawa-Bali. “Ayo Sa joget,” ajak Fashikha yang sudah bersemangat. Meesa menggeleng kecil. “Kamu aja,” kekehnya. Di sana Shankara, Fashikha, dan Davendra ikut berjoget di acara live musik. Gavesha, Meesa, Deepsikha, serta Lal masih setia duduk di kursi mereka. “Selamat Deepsikha untuk kejuaraan kamu,” puji Meesa. “Lo juga. Skor lo boleh juga, makan apa bisa dapet skor begitu?” canda Deepsikha. “Hahaha, kamu kaya Feshikha aja. Lagian masih tinggi skor Lal.” “Namanya juga gue kembaranya Fesh, makanya mirip.” Meesa tergelegak, Deepsikha bisa ngelucu juga ternyata. “Hahaha, iya juga sih.” Gavesha duduk anteng di samping Meesa. Ia tidak tertarik untuk gabung menari di sana. Saat ini lagu yang tadinya begitu heroik kini beralih ke jazz. Seorang laki-laki dengan tinggi semampai seperti Meesa menghampiri ketiga cewek yang justru asik bercerita. “Mau dansa sama gue? Sebagai permintaan maaf gue atas kejadian tadi siang,” pinta Aarav mengulurkan tanganya. Belum sempat Meesa menjawab, Lal terlebih dahulu menarik Meesa. “Dia dansa sama gue.” Hendak protes, tapi Aarav tidak ingin berurusan dengan Lal. Ia pun pergi dengan perasaan yang dongkol. Gavesha dan Deepsikha yang melihat kejadian itu sama-sama tercengang. Meski selama ini Deepsikha tidak peduli dengan sekitar, namun ia tahu sedikit tentang Lal, pangeran es SMP Nabastala. “Kenapa kamu bilang gitu ke Aarav? Kan dia makin salah paham, Lal,” ujar Meesa. “Lo gak mau dansa sama gue?” tanya Lal membalikan fakta. Meesa melongo, jadi masuk Lal? “Ayo.” Lal menarik tangan Meesa. Ia mengambil kembali jaketnya agar tidak di injak oleh Meesa yang bisa membuat gadis itu jatuh. “Eh, eh, Lal.” “Kenapa? Lo gak mau dansa sama gue?” Meesa tak enak menolak, ia pun mengiyakan saja. Lal menaruh tanganya di pinggang Meesa, kemudian tangan satunya lagi menggenggam jemari milik Meesa. Mereka benar-benar menjadi pusat perhatian, bahkan Shankara, Davendra, dan Fashikha yang sedari tadi ikut menari melongo dibuatnya. Mereka masih tidak percaya, apalagi mendengar dari Gavesha jika Lal yang mengajak Meesa. “Itu, Lal?” tanya Fashikha yang masih speachlees. “Iya.” “Temen kecil gue dah gede ternyata.” “Demi apa Lal?” “Serasih gak sih mereka?” “Sumpah gue iri sama Meesa, gimana rasanya di gandeng sama Lal?” “Gave, itu Meesa?” justru saat ini Davendra masih tidak percaya. Beberapa pasang mulai ikut berdansa, bahkan beberapa di antaranya berdansa dengan lawan dari sekolah lain. Meesa dan Lal berada di tengah kerumunan, bisa di bilang mereka seperti sentral malam ini. Gavesha ikut berdansa dengan Davendra, sedangkan Shankara bersama Fashikha. Deepsikha tidak tertarik, ia lebih memilih minum sirup. Tidak terasa saat ini jam telah menunjukan pukul satu dini hari. Meesa pun sudah terlihat begitu mengantuk karena dari tadi tidak sengaja menginjak kaki Lal. Jadinya pesta kali ini juga berakhir. Meesa malu, dari tadi Gavesha dan Fashikha terus meledekinya. Bahkan sampai di kamar pun Gavesha masih membahas hal tersebut. “Gimana rasanya dansa sama Lal?” goda Gavesha dari tadi. “Gave iihhh ... udah dong.” “Hahahaha, muka lo merah banget hahaha. Mirip banget kaya kepiting rebus hahaha.” Gavesha terus tertawa, muka lugu Meesa nampak malu-malu karena sedari tadi di goda. “Udah iihh ... mending ayo tidur. Kita besok harus chek out lho. Biar besok gak kesiangan jadi kita gak buru-buru packingnya.” “Iya-iya. Lo bisa tidur emangnya, Sa? Kalau gue jadi lo sih mana bisa gue tidur abis dansa sama Lal.” “Gavesha ... udah dong,” rengek Meesa. “Hahahaha, iya-iya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN