Part 24

1237 Kata
Swastamita kota pahlawan itu nampak tertutup mega kelabu. Bahkan saat ini rinai mulai membasahi bentala. Laki-laki bermata hazel itu nampak sedikit gusar, karena sang pujangga tengah terbaring lemas. “Galau lo, Lal?” tebak Shankara yang entah sejak kapan ada di belakang Lal. Lal hanya menatap Shankara sejenak, kemudian meninggalkan laki-laki itu. “Berhenti bersikap sok gak peduli, Lal. Meesa baik-baik aja, cuman kayanya dia kelelahan sama gara-gara tadi di kerumuni banyak orang.” “Gue gak peduli.” “Basi. Kalau lo gak peduli, kenapa sejak awal lo udah perhatian sama dia?” desak Shankara. “Cinta itu gak penting, itu hanya akan buat lo gagal. Jadi gue, peduli sebagai temen,” kelakar Lal. Shankara tertawa hambar. “Tapi sayangnya lo gak bisa memilih kapan cinta itu datang. Gue rasa cinta bukan hal yang buruk. Asal lo bisa menguasai itu dengan baik,” kelit Shankara. Lal terdiam, dia berusaha mencerna kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Shankara. Enam belas tahun ia hidup, memang dia dari dulu tidak ada niatan untuk tahu mengenai dunia merah jambu. Yang Lal tahu itu hanya tentang belajar, menghafal, dan berlatih. Bahkan dia sudah berhenti bermain sejak masuk TK. Sedari dulu dunianya hanya tentang akademik dan karate. Selebihnya ia tidak tertarik. “Meesa itu gadis baik. Wajar kalau lo suka sama dia. Pesen gue, kalau emang lo suka ya perjuangin. Takut di tikung, hahahaha. Nanti lo nyesel kalau ada yang ambil start duluan.” Setelah mengatakan hal itu, Shankara meninggalkan Lal di kamar sendirian. Ia ingin mencari Davendra, katanya sih laki-laki itu tengah di taman hotel. “Lo mau ikut?” tawar Shankara saat hendak benar-benar keluar dari hotel. “Gak.” “Oke.” Kenapa Shankara begitu mengerti Lal? Jawabanya karena dia teman kecil Lal. Mereka bertetangga. Dulu Shankara begitu kepo mengapa ada anak sekaku Lal. Sedari dulu Lal memang kaku, dia tidak pernah ikut bersama anak-anak lainya. Lal hanya menatap mereka datar kemudian kembali masuk ke rumah. Sampai suatu saat, Shankara mendapatkan jawabanya. Lal adalah anak tunggal saat itu. Ayahnya memang di kenal sebagai atlet karate sedangkan ibunya adalah seorangg dosen. Ya, karena Lal adalah anak satu-satunya maka mereka menuntut Lal untuk menjadi seperti mereka. Lal yang memang dasarnya adalah anak yang penurut, dia menuruti saja semua kata orang tuanya. Termasuk larangan untuk bermain karena itu hanya membuang-buang waktu. Yang ada di pikiran Lal saat ini adalah posisinya di SMP Nabastala. Jika dulu saingan beratnya adalah Gavesha, gadis arogan yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS SMP Nabastala. Maka saat ini adalah Meesa, gadis lugu yang berhasil mengambil perhatianya. Sejujurnya Lal tidak tahu, sejak kapan ia menyukai musik. Dari dulu Lal tidak boleh memilih. Namun saat Meesa memainkan piano satu bulan lalu, untuk pertama kalinya Lal merasa tertarik pada hal yang tidak di perintahkan oleh orang tuanya. “Sebenarnya lo manusia apa bukan sih, Sa? Kenapa seperti ada magnet dalam diri lo dan selalu membuat gue tertarik,” monolog Lal yang melihat auzora perlahan membiru. Jika di pikirkan lagi, sebenarnya Meesa bukan sainganya. Melihat betapa santai gadis itu. Namun yang patut di akui adalah, dia memang gadis yang cerdas. Dia tidak berambisi seperti Gavesha atau dirinya. Atau memang dirinya yang tidak melihat ambisi Meesa. Lal membuka ponsel miliknya. Ia melihat beberapa tangkapan paparazi yang berhasil ia dapatkan. Tatapanya terfokus pada sosok gadis lugu yang duduk di depan piano. Nampak begitu anggun dan manis. Rambut sebahunya sebagian menutupi wajah imut itu, namun semua orangg masih bisa melihat jika paras itu begitu ayu. “Lo terlalu baik buat gue. Gadis selugu lo, gak bisa di cintai oleh iblis penuh ambisi kaya gue. Mana mungkin malaikat dan iblis bisa bersatu,” lirih Lal. Ada perasaan yang tidak enak saat melihat Meesa begitu dekat dengan Davendra. Walau ia tahu, Meesa memang dekat dengan Davendra karena mereka bersahabat. Malam tadi Lal mendapatkan banyak info tentang Meesa dari Davendra. Meesa suka es krim, Meesa suka warna putih, Meesa suka kue lava buatan neneknya, Meesa suka bermain piano, Meesa suka musk, Meesa suka warna-warna soft, dan Meesa suka hamster. Lal terkekeh sendiri mengingatnya. Sangat lucu, ini pertama kali ia merasa jatuh cinta bahkan ini pertama kali ia menyukai sesuatu yang tidak di perintahkan oleh orang tuanya. Rasa jatuh cinta ternyata cukup memacu adrenalin. Terkadang membuatnya gugup, marah, bahkan sangat senang. Hal baru yang kini ia sangat sukai yaitu melihat senyum manis Meesa. *** Gavesha baru saja mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan hair drayer yang tersedia di wastafel kamar mandi. Saat ini ia memakai pakaian santai, baru nanti saja ketika hendak makan malam dan mengikuti malam puncak ia akan berganti dengan pakaian yang lebih rapi. Terdengar suara ketukan di depan kamar hotelnya, dengan bergegas Gavesha pergi membukakan pintu. Ia tersenyum lebar saat melihat Meesa yang baru saja di antarkan Bu Wikrama. Meesa nampak begitu fress tidak sepucat tadi siang. “Meesa! Huuaaa gue takut lo kenapa-napa. Kan nanti gue jadi tidur sendiri,” pekik Gavesha memeluk Meesa erat. “Hahaha, aku gak papa, Gave.” “Nanti gue bakal jagain lo biar gak di desek-desek sama orang-orang. Kalau ada yang mau mendekat gue usir!” Bu Wikrama ikut tertawa dengan Meesa. Anak didiknya yang dulu sangat terkenal begitu berambisi dan tidak mempunyai teman selain Davendra kini nampak lebih baik sejak kedatangan Meesa. Meesa mampu merubah Gavesha banyak, dan itu semua mengarah ke hal positif. “Ya sudah Gavesha, kamu jaga Meesa ya. Saya tinggal dulu. Kalau ada apa-apa telfon Ibu. Kalau kalian merasa tidak enak badan jangan sungkan juga untuk menguhubungi Ibu,” pamit Bu Wikrama. “Iya, Bu.” Meesa dan Gavesha menyalimi Bu Wikrama. Kemudian Bu Wikrama berjalan hendak memasuki lift untuk kembali ke hotelnya. Baru saja Meesa dan Gavesha hendak masuk kamar, perhatian mereka teralihkan pada Lal yang baru saja keluar dari kamar hotelnya. “Lal, mau kemana?” sapa Meesa ramah seperti pada umumnya. “Susulin Dave sama Shanka,” balas Lal santai namun mampu membuat Gavesha terperanga. Barusan itu Lal? Menjawab basa-basi Meesa? Lal yang biasanya hanya menatap datar sang lawan berbicara dan enggan menjawab pertanyaan yang basa-basi, baru saja menjawab pertanyaan Meesa yang bisa di bilang memang hanya berbasa-basi? Berarti fix, sepertinya Lal telah menaruh hati pada Meesa. “Oh, ya udah hati-hati ya.” “Gimana keadaan lo?” tanya Lal dengan santai dan kali ini benar-benar membuat Gavesha tercengang. Catat waktunya, seorang Lal Abirama Gasendra baru saja berbasa-basi untuk pertama kalinya. “Alhamdulillah, udah baik-baik aja.” “Ya udah gue duluan.” “Iya hati-hati.” “Hm.” Saat Lal sudah menjauh, Gavesha buru-buru memekik. Demi apa seharusnya tadi dia merekamnya. Pasti itu akan menjadi berita yang menggemparkan seantero SMP Nabastala. “SA! LO BERUNTUNG BANGET SUMPAH. LO LIHAT TATAPAN LAL BARUSAN? FIX DIA SUKA SAMA LO. SUMPAH BERUNTUNG BANGET LO. GUE DUKUNG KALIAN!” pekik Gavesha heboh saat mereka masuk kamar. “Sssttt ... jangan keras-keras, Gave. Nanti yang lainya keganggu sama suara kamu,” peringat Meesa. “Gue gak peduli, sumpah gue masih speachlees. Gue masih gak percaya, itu tadi Lal? Apa jangan-jangan itu tadi hantu yang tiruin wujud Lal?” cerocos Gavesha semakin ngawur. “Huss ... ada-ada aja kamu. Udah aku mau mandi, kamu udah salat?” “Oh ya, tadi gue mau salat tapi lupa hehehe. Kan tadi kue terlalu excited lihat lo balik.” Meesa menggeleng lemah. “Ya udah kamu wudu dulu gih, aku mau mandi.” Gavesha mengangguk, ia segera mengambil wudu sementara itu Meesa menyiapkan bajunya untuk ganti nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN