Part 23

1257 Kata
Suasana ruangan yang berisi setidaknya tiga ratus orang itu nampak ricuh, mereka menatap kagum pada sosok gadis berambut sebahu yang tiap kali menjawab pertanyaan dengan tenang dan tepat. “Sumpah emang si Meesa. Pembawaanya santai, kalem, dan kelihatan banget pinternya.” “Gue semakin insecure sama dia.” “Lo lihat tadi kan? Pas dia nguncir rambutnya, buset damage banget woy.” “Cantik banget ya.” “Eh tapi emang bener dia ada hubungan sama Lal?” “Anak IPS yang nilainya hampir sempurna tadi?” “Iya, tapi gak heran kalau selera Lal itu Meesa.” “Tapi menurut gue kalau dia kurusan lebih cantik sih.” “Iya bener.” “Kaya gini aja udah cantik, banyak yang suka. Gimana kalau kurus?” Banyak sekali bisikan-bisikan ricuh. Meesa sebenarnya sangat gugup. Meskipun ia berhasil menjawab dua belas soal, tapi tetap saja ia masih merasa ragu. “Baik ini adalah soal terakhir, harap kalian simak baik-baik. Kali ini adalah materi fisika.” “Tentukan titik berat gabungan antara kubus dan balok. Dengan ukuran sisi kubus yakni seperlima lebar balok. Ujung kiri bawah balok adalah nol koordinat kartesian sumbu y,” “Pilihan jawabanya, a 0,65. B 0,57. C 0,55. Dan d 0,54,” sambung sang panitia pembawa acara. Ketiga peserta babak final tersebut nampak menghitung dengan serius. Meesa dengan lincah menggerakan bolpoin yang tadi di beri oleh panitia. Tidak perlu waktu lama, ia kembali memencet bel untuk ketiga belas kalinya. Kedua peserta yang masih menghitung pun mendesah berat dan peserta lainya yang melihat hal itu benar-benar tercengang kagum. “Ya, SMP Nabastala. Berapa jawaban mu?” “0,55?” Para juri nampak berdiskusi sejenak. Bahkan dua di antara empat juri itu sampai berdiri untuk bertepuk tangan. Nama Lavanya Meesa memang kerap sliweran di telinga olimpiade sains. Tidak heran jika hasil yang di dapatkan gadis itu selalu memuaskan. Bahkan seorang Lavanya Meesa tidak pernah lengser dari tiga besar sampai tingkat nasional. “Benar! Saya tidak sangka kamu memenangkan telak perlombaan ini,” puji salah satu juri yang tadi berdiri. Meesa sedikit membungkukan badanya untuk berterima kasih.”Terima kasih.” “Ini mah jelas SMP Nabastala yang menang.” “Iya, Rehan sama Artha aja belum selesai ngitung.” “Bukanya tahun lalu dia yang menangin olimpiade ini ya?” “Iya, tapi dulu dia ikut matematika.” “Oh, gue yang kaya gini berasa pinter banget. Lihat Meesa langsung sadar diri.” “Hahaha, mangkanya jangan sombong. Di atas langit masih ada langit.” Pertandingan selesai. Nanti malam adalah malam puncak sekaligus pengumuman pemenang olimpiade. Meesa turun dari panggung. Ratusan peserta yang tadi menontonya kini berbondong-bondong untuk memberi selamat dan pujian dari prestasinya barusan. “Selamat ya, Sa.” “Gue speachlees banget lihat lo tadi.” “Hebat banget kamu.” “Eh bener kamu pacaran sama Lal?” “Tips punya otak pinter dong, Sa.” “Sa, follback i********: gue dong.” “Ayo foto sama gue.” “Eh, Sa kenalin aku ke Shankara dong.” “SPP di Nabastala berapa, Sa?” “Gimana rasanya jadi orang pinter?” “Sa, makan apa bisa kaya kamu?” Jujur Meesa pusing dan bingung harus menjawab seperti apa. Dia bahkan rasanya sangat pengap di kerubungi seperti ini. “Maaf ya aku pergi dulu, permisi, permisi. Tolong beri jalan dong,” ucap Meesa yang sepertinya tidak terdengar. Suara lembutnya jelas kalah dengan riuh orang-orang yang saat ini mengerumuninya. Kepala Meesa mendadak sangat pusing karena memang pasokan oksigen sepertinya menipis. Pandanganya pun mulai memburam bahkan saat ini bibir ranum itu nampak pucat dengan senyum yang tak semerekah tadi. “Maaf, tolong beri aku jalan,” pinta Meesa sekali lagi yang sayangnya tidak di dengar. Meesa sudah tidak tahan, dadanya rasanya sesak, serta kepalanya sangat pusing. Saat ini pandanganya benar-benar telah gelap. Ya, tubuh berisinya limbung membuat orang-orang yang tadi mengerumuninya memekik dan menjauh. “Eh Meesa kenapa?” “Meesa pingsan.” “Meesa sakit?” “Tolongin woy, ini Meesa pingsan.” “Pak, Pak, Meesa pingsan.” Para panitia yang mendengar pekikan itupun bergegas untuk menolong salah satu peserta yang tadi baru saja memenangkan babak final. “Jangan di kerumuni, beri dia speace. Kesehatan! Cepat tangani,” titah salah satu juri yang tadi sempat bertepuk tangan melihat betapa mengagumkan Meesa. Para petugas medis yang berjaga pun bergegas membawa Meesa di tandu. Mereka tergesah-gesah membawa Meesa ke ruang kesehatan. Para peserta lainya yang nampak kepo pun mengikuti para petugas medis yang membawa Meesa pergi barusan. Namun saat mereka hendak memasuki ruang kesehatan di cegah oleh salah satu panitia. “Maaf jangan membuat kerumunan di sini,” peringatnya. Mereka pun mendesah kecewa dan hanya mampu berdesak-desakan melihat keadaan Meesa dari celah jendela kaca ruang kesehatan. Pak Adyaksa dan Bu Wikrama yang mendengar kabar bahwa Meesa pingsan pun bergegas menuju ruang kesehatan. Mereka sangat khawatir dan terkejut mendengar kabar barusan karena memang sebelum lomba Meesa nampak baik-baik saja. “Ada apa ini, Pak? Kenapa bisa anak didik saya seperti ini?” khawatir Pak Adyaksa. “Bapak tenang saja. Sepertinya dia pingsan karena kecapekan dan sesak karena kerumunan yang tadi mendesak nya,” terang salah satu wanita yang memakai jas putih. “Syukurlah,” syukur Bu Wikrama. “Setelah mendapatkan oksigen dan sadar pasien akan baik-baik saja. Sebaiknya beri ruang untuk pasien agar tidak merasa sesak.” *** Gavesha nampak tersenyum lebar menyambut Davendra yang baru saja keluar dari ruangan laki-laki itu dengan kemenangan. Namun senyum mereka berdua luntur saat Fashikha datang dengan tergopoh-gopoh memberitahukan kabar bahwa Meesa pingsan dan saat ini berada di ruang kesehatan. “Hosh ... hosh ... hosh ... Gave, Dave, hosh ...,” sapa Fashikha dengan nafas yang tersengal karena tadi ia sedang berlari kencang. “Ada apa sih, Fash? Kaya abis di kejar hantu aja,” celetuk Davendra. “M-meesa. M-me-mesa-,” “Kenapa Meesa?” potong Gavesha tak sabaran. “Meesa pingsan. Sekarang ada di ruang kesehatan.” “Pingsan?” beo Gavesha dan Davendra berbarengan. “Iya, ayo cepet kita lihat Meesa.” Gavesha dan Davendra pun bergegas ke ruang kesehatan. Bahkan mereka meninggalkan Fashikha yang masih menetralkan nafasnya. “Anying gue di tinggal. Woy! Tunggu!” Fashikha kembali berlari. Saat ini ruang kesehatan nampak begitu ramai. Berita Meesa pingsan telah menyebar luas. “Permisi, kasih gue jalan dong gue mau lihat temen gue.” “Woy, minggir!” “Minggir dulu gue mau lihat temen gue.” “MINGGIR DULU ANYING GUE MAU LIHAT TEMEN GUE!” sungut Gavesha yang emosi karena sedari tadi ia tidak di dengarkan. Mungkin juga karena tubuh mungilnya sehingga ia tidak terlihat, hahaha. “Santai, Gave,” peringat Davendra sambil terkekeh ringan. Para peserta yang tadinya menghalangi jalan Gavesha mulai menyingkir karena teriakan garang gadis mungil itu. “Gitu kek dari tadi,” gerutu Gavesha yang saat ini hendak memasuki ruang kesehatan. Gavesha meringis melihat kondis Meesa. Apa separah itu? Apa Meesa sakit keras? Kenapa Meesa harus di oksigen segala? Dengan langkah cepat Gavesha mendekat ke arah Meesa. “Meesa kenapa, Pak, Bu?” tanya nya pada Pak Adyaksa dan Bu Wikrama yang memang kebetulan ada di sana. “Dia hanya sesak karena tadi di kerubungi,” balas Bu Wikrama. “Tapi dia baik-baik saja, ‘kan Bu?” tanya Davendra. “Kalian tenang saja. Setelah sadar dia bisa kembali ke kamar hotel.” Tak ingin menganggu istirahat Meesa mereka memutuskan untuk keluar dari ruang kesehatan tersebut. Kata Bu Wikrama tadi lebih baik mereka kembali ke hotel untuk bersih-bersih. Masalah Meesa nanti Pak Adyaksa dan Bu Wikrama yang akan mengantarkanya ke hotel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN