Part 22

1171 Kata
Siang ini sang baskara nampak begitu terang memancarkan sinarnya. Ketujuh remaja itu tengah bersenda gurau. Ralat, enam remaja yang tengah bercengkrama hangat. Sebentar lagi pengumuman final akan di umumkan, sang juara akan di ketahui hari ini. Dan esok, piala-piala itu akan berkilau untuk di bawa pulang. “Sumpah gue deg-degan parah. Tadi soalnya gak main-main sumpah, serasa tingkat nasional,” keluh Fashikha dengan segelas sari apel di tangan kananya. “Iya sama. Pasrah banget tadi, soal yang di berikan Pak Chandra hampir beda jauh,” keluh Gavesha menyetujui ucapan Fashikha. “Eh tapi gue tadi sempet denger, dari sekolah kita ada empat orang yang masuk final,” timpal Shankara yang membuat semua perhatian ketujuh orang itu terpusat ke arahnya. “Tau dari mana lo?” heran Davendra. Shankara nampak cengengesan sambil menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal. “Tadi waktu gue ke kamar mandi lewat ruang panitia, terus denger ada yang bilang SMP Nabastala bakal bawa pulang 4 piala kejuaraan.” “Lo tau siapa yang masuk final?” Shankara menggeleng, “gue cuman denger kalau SMP kita bakal bawa pulang empat piala.” “Kepada seluruh peserta, harap kumpul ke aula. Sebentar lagi pengumuman akan di berikan karena satu jam lagi final akan di laksanakan.” Suara dari speaker barusan membuat ribuan peserta bergegas pergi ke aula. Ya walaupun yang kemarin tidak lolos ke babak semi final mereka masih di haruskan untuk menonton babak selanjutnya. Bahkan untuk babak final nanti, mereka dari masing-masing bidang akademik wajib menonton peserta yang masuk final. Ya babak final akan di laksanakan secara lisan dengan pertanyaan rebutan. Mereka semua bergegas memenuhi aula yang telah di siapkan. Dua orang panitia olimpiade telah berada di atas mimbar dengan secarik kertas yang berisi nama-nama peserta yang lolos ke babak final. “Saya akan membacakan urutan, nama, beserta skor peserta. Untuk peserta yang masuk tiga besar, maka akan masuk ke babak final.” Panitia mulai membacakan pengumumanya. Sayangnya Fashikha di urutan lima besar, tapi syukurlah gadis itu masih bisa membawa piala untuk harapan dua. Shankara dan Gavesha berada di urutan keempat, ya mereka berdua mendapatkan juara harapan satu. Gavesha nampak menghela nafas kasar, sebenarnya ada kekecewaan karena dia tidak masuk tiga besar kali ini. Namun dengan sigap Meesa menenangkanya. Meesa mengelus pundak Gavesha, memberikan selamat untuk meyakinkan bahwa gadis itu sudah melakukan yang terbaik. “Selamat ya. Jangan sedih, kamu udah berusaha dengan baik. Juara harapan satu itu bagus banget kok. Kamu masih pulang bawa piala,” ujar Meesa pada Gavesha. Gavesha tersenyum kaku, ia kecewa pada dirinya sendiri. Seandainya ia dapat berusaha lebih keras pasti dia bisa masuk tiga besar. Apalagi perbedaan skor antara juara tiga hanya berselisih dua poin saja. “Cuman beda dua poin, Sa. Kalau gue lebih keras lagi pasti gue bisa melebihi dia.” “Kamu tetap yang terbaik kok di mata ku. Jangan sedih, kan kamu juga dapat juara.” Gavesha tersenyum tulus pada akhirnya. Kata-kata dari Meesa seperti masuk ke dalam hatinya. Tidak apa, benar kata Meesa. Yang terpenting ia tetap membawa pulang piala. Ya, yang masuk babak final adalah Meesa, Lal, Deepsikha, dan Davendra. Meesa dan Lal tetap berada di posisi mereka dengan nilai tertinggi. Sedangkan Deepsikha ia memperoleh urutan kedua dan Davendra dengan skor 89 mendapatkan posisi ketiga lagi. “Selamat ya, Sa. Lo hebat banget bahkan nilai lo masih tetap yang tertinggi,” puji Gavesha takjub. Meskipun nilai Meesa tidak sempurna seperti babak penyisihan mereka, tapi nilainya mendekati sempurna. Meesa mendapatkan skor 98 untuk babak ini. Sedangkan Lal ia makin fantastis karena nilainya adalah 99. Ya, lebih nyaris sempurna. “Sama-sama. Alhamdulillah,” jawab Meesa rendah diri. “Wih sumpah sih lo, Sa, Lal. Kalian makan apa nilainya bisa tinggi begitu?” heboh Fashikha. Meesa terkekeh renyah, “kamu bisa lihat tadi makanan kita sama.” “Hahahaha, iya juga ya.” Lal, Meesa, Davendra, dan Deepsikha harus segera masuk ke ruangan masing-masing. Mereka akan berada di ruangan berbeda, karena nanti di setiap satu ruangan hanya akan ada satu mata pelajaran. “Semangat Meesa, Davendra!” seru Gavesha saat ia akan memasuki ruangan matematika. “Hahaha, makasih.” “Yoi, Sist.” Meesa memasuki ruangan nya, di sana sudah banyak para peserta yang belum beruntung untuk lolos ke babak ini. Di atas panggung, sudah ada dua orang yang sepertinya adalah lawanya nanti. Meesa duduk di salah satu meja khusus, di depanya ada tombol untuk nanti rebutan soal. “Baik, selamat untuk kalian yang sudah lolos ke babak ini. Nanti akan ada tiga puluh soal rebutan yang harus kalian jawab. Siapa yang memencet bel duluan, maka dia yang akan menjawal soal. Jangan menjawab sebelum di persilahkan. Mengerti?” terang panitia lomba. “Mengerti!” jawab mereka bertiga serempak. *** Davendra telah menjawab sepuluh soal sejauh ini. Skornya bahkan tertinggi untuk saat ini. “Charless was sent to work in Warren’s blacking factory and endured appalling conditions as well as loneliness and despair.” “What does the word ‘appaling’ mean? A. Horrifying B. Fascinating C. Interesting D. Enthalling,” sambung panitia membacakan soal. Davendra memencet belnya untuk kesebelas kali. “Ya, SMP Nabastala?” “A horrifying.” “Yup! Benar.” Davendra tersenyum bangga, senyum smriknya membuat peserta lainya yang tengah menonton memekik. Lebih tepatnya peserta wanita. Kemenangan telak sebenarnya sudah terlihat, ya Davendra berhasil mengumpulkan skor sebanyak seratus sepuluh. “Last question.First watch the reading in front,” tunjuk panitia pembawa acara kepada salah satu monitor besar di depan mereka. Di sana ada sebuah bacaan yang cukup panjang. Davendra tak menyianyiakan kesempatan, skornya memang lebih tinggi. Tapi nantis skor mereka akan di jumlah dengan skor-skor yang di peroleh sebelumnya. “The question is what will you probably do after reading the text?” “A. Book the Railway Mountain Tour at Ambarawa Railway Museum. B. Plan to visit Ambarawa Railway Museum. C. Find the best route to visit Ambarawa Railway Museum for the visit. D. Reserve a hotel room in Ambarawa and enjoy the scenery of Ambarawa.” Persaingat sengit karena bel antara anak SMP Nabastala dan SMPN 1 Malang hampir bersamaan. “Ya, SMPN 1 Malang.” Davendra menghela nafas kasar, padahal ia duluan yang memencet bel. “C. Find the best route to visit Ambarawa Railway Museum for the visit,” jawab perempuan berambut blonde itu yakin. “Sorry SMPN 1 Malang, but your answer is wrong. So, SMP Nabastala what’s your answer?” kata panitia dengan nada kecewa. Davendra tersenyum miring, syukurlah kesempatan masih berada pada dirinya. “B. Plan to visit Ambarawa Railway Museum,” jawab Davendra santai. “Corect!” “Selamat untuk Davendra Ekawira Hirawan dari SMP Nabastala!” “Bedasarkan skor sementara SMP Nabastala berada di urutan pertama, di susul dengan SMP Buntara di urutan kedua, dan SMPN 1 Malang di urutan ketiga,” ujar panitia pembawa acara tadi. “Tidak usah berkecil hati. Kalian sama-sama hebatnya. Nanti malam akan di umumkan para juara yang sesungguhnya. Sekali lagi, selamat!” Davendra tersenyum sangat lebar. Bahkan saat ini pipi kirinya nampak bolong, ya ia memiliki lesung pipi di pipi kirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN