Part 21

1532 Kata
Bel tanda waktu mengerjakan telah habis baru saja berbunyi. Para pengawas berpencar mengambil lembar soal serta jawaban para peserta. Setelah itu mereka di persilahkan untuk istirahat sejenak. Barulah selesai makan siang nanti, babak final di mulai untuk mencari siapa juara 1, 2, dan 3. Meesa menunggu dulu semua peserta keluar karena ia enggan berdesakan. Barulah setelah hampir seluruh peserta keluar Meesa melangkah kan kakinya keluar. Saat hendak pergi ke cafetaria ternyata tanganya di cekal oleh Aarav. Laki-laki bertubuh semampai denganya tersebut sepertinya masih belum puas. “Gue minta nomor lo,” pintanya to the point. “Maaf, Aarav. Tapi aku gak bisa kasih nomor ku ke sembarang orang,” tolak Meesa halus. “Kenapa? Takut cowok lo tadi marah?” selidik Aarav. Meesa menggeleng cepat, “bukan gitu. Gimana tukeran user i********: aja?” “Gue udah follow i********: lo.” “Ya udah nama i********: kamu apa biar aku follback.” “Gue mau nomor lo bukan lo follback i********: gue,” desak Aarav. “Maaf, Aarav. Gak bisa.” “Lo-,” “Kalau dia gak mau gak usah di paksa, Bocil,” potong Lal yang entah sejak kapan ada di samping Meesa. “Cemburu lo?” “Pergi,” usir Lal dengan nada dingin tak terbantahkan. “Kalau gue gak mau?” ujar Aarav justru menantang. Lal menggenggam jemari milik Meesa, membawa gadis lugu itu pergi dengan langkah panjangnya. Meski tinggi Meesa hanya berpatut delapan senti meter dengan Lal, jujur saja ia kualahan dengan langkah besar milik Lal. “Lal, pelan-pelan,” tegur Meesa. Aarav yang terima pun mengejar Lal yang membawa kabur Meesa. Ia mencekal tangan Meesa yang hampir membuat Meesa terjungkal karena Lal juga masih senantiasa menggenggam tanganya. “Astagfirullah,” kaget Meesa saat rasanya badanya di tarik ke kanan dan ke kiri. Mereka menjadi pusat perhatian, sampai akhirnya anak-anak yang ada di kelasnya tadi menyebarkan berita yang sebenarnya. Ya meskipun ada beberapa yang melebih-lebihkanya. Kabar Meesa yang enggan memberikan nomornya ke Aarav dan Lal yang membela Meesa. Bahkan ada yang mengabarkan ternyata Lal dan Meesa tengah menjalin hubungan. “Udah-udah, pusing aku di tarik kaya gini,” sentak Meesa berusaha menarik tanganya dari kedua laki-laki itu. Dari arat barat Gavesha dan Davendra datang dengan berlari mendapat kabar bahwa Meesa yang di ganggu oleh salah satu peserta dari SMP Nirwala. “Lepasin gak tangan Meesa,” peringat Gavesha garang. Davendra membantu Gavesha untuk menarik tubuh tinggi milik Meesa hingga akhirnya tidak lagi di tarik oleh kedua laki-laki itu. “Ada apa sih ini?” tanya Gavesha menyelidik. “Iya, ngapasin sih kalian?” timpal Davendra menyetujui. Shankara, Deepsikha, dan Fashikha baru saja datang dengan nafas tersengal karena memang ruangan mereka berada jauh di pojok utara. “Nih teman kalian, sok kecantikan banget. Gue minta nomor nya aja gak boleh. Jual mahal banget sih,” sungut Aarav. Davendra mendelik kesal, jadi alasanya seperti itu? “Kan aku bilang, kita tukeran user i********: aja,” balas Meesa memberi penawaran. “Kalau dia emang gak mau gak usah di paksa, Bro,” tungkas Davendra membela Meesa. Aarav nampak kesal karena berbagai bisikan mulai terdengar. Padahal niat awalnya tadi ingin mendekati Meesa. Ia ingin Meesa menjadi pacarnya. “Gak usah sombong deh lo. Ketimbang nomor aja. Lagian gak ada yang mau sama cewek gendut kaya lo.” “Emang ada yang mau sama lo, arogan,” sarkas Gavesha telak. Semua yang ada di sana tertawa, seakan benar-benar merendahkan Aarav. “Maaf Aarav kalau aku menyinggung kamu. Tapi nomor itu adalah hal privasi untuk aku. Jadi bagaimana jika kita bertukar user i********: saja, dm saja aku nanti biar aku follback kamu,” terang Meesa berusaha membuat agar Aarav mengerti. “Gak, udah gak minat gue sama lo. Gue bakal cari cewek yang lebih baik dari lo. Bukan cewek gendut yang sok kecantikan,” nyinyir Aarav. Entah kenapa Lal tidak terima, dia reflek meninju rahang Aarav. Hal itu sontak membuat kericuhan. Semuanya yang melihat itu memekik, bahkan semua orang tahu jika Lal sepertinya benar-benar marah. Wajah putih bersih itu kini telah memerah, jemari kekarnya mengepal kuat. “Lo!” sungut Aarav tidak terima. Baru saja Aarav hendak membalas pukulan Lal tadi tapi panitia olimpiade beserta guru pendamping baik dari SMP Nabastala maupun SMP Nirwala datang membubarkan kerumunan. “Kalian ini ada yang berantem bukanya di pisahkan malah di dukung,” cerca salah satu panitia yang baru saja datang. “Ada apa ini?” “Lal, kenapa kamu pukul dia?” “Aarav kamu gak papa?” “Ada apa yang sebenarnya?” “Ini bukan ring tinju, kalau mau berantem pergi dari sini.” “Aarav, Lal, ikut kami ke ruang panitia.” Banyak pertanyaan yang di tanyakan dari panitia maupun dari para guru pendamping. Meesa yang merasa ikut andil pun ia mengikuti Lal dan Aarav yang baru saja di giring ke ruang panitia. Lal dan Aarav duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruang panitia. Aarav nampak begitu masih menyimpan emosi berbeda dengan Lal yang nampak tenang seperti tidak terjadi apapun. “Kenapa kalian berantem? Kalian tahu bukan ini kawasan olimpiade,” tegas salah satu panitia olimpiade. “Dia yang mulai duluan,” tunjuk Aarav pada Lal. “Lo dulu.” “Sudah, jangan saling menuduh. Apa yang sebenarnya terjadi?” tengah Bu Wikrama. “Lal, saya tahu ini bukan kamu. Kamu yang saya kenal murid berprestasi dan jauh dari hal-hal yang berbau kekerasan. Kenapa tadi kamu memukul Aarav?” tanya Pak Adyaksa. Meesa mengetuk pintu ruangan panitia yang tertutup rapat, kemudian salah satu panitia membukakan pintu untuknya. Pria berkepala empat itu menyirit, apa yang di lakukan salah satu peserta tersebut. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya nya. “Maaf, apa saya boleh masuk, Pak? Saya bisa jelaskan apa yang tadi terjadi.” “Oh, baiklah kamu bisa masuk.” “Terima kasih.” Meesa di persilahkan untuk masuk, ia meringis saat melihat Lal dan Aarav seperti di hakimi. Kedua laki-laki itu duduk di salah satu sofa panjang dan di depanya setidaknya ada enam guru seperti mengintimidasi mereka. “Assalamu’alaikum,” salam Meesa begitu sopan. “Wa’alaikumussalam.” “Meesa, ada apa, Nak?” tanya Bu Wikrama dengan ramah. “Maaf Pak, Bu, boleh saya menjelaskan kejadian aslinya?” “Nah, dia biang keroknya. Gara-gara dia saya di pukul sama Lal, padahal saya tidak ngapa-ngapain,” firnah Aarav menunjuk ke arah Meesa. Meesa terkejut, padahal niatnya ini tadi ingin membantu kedua laki-laki itu. “Udah tukang nyinyir, tukang fitnah lagi,” sindir Lal dengan suara yang sengaja di keraskan. “Apa maksud lo? Kenyataan kan? Lo nonjok gue gara-gara cemburu, padahal cewek lo aja yang gatel,” dusta Aarav sekali lagi. “Oh jadi masalahnya gara-gara kamu?” sinis salah satu guru dari SMP Nirwala. “Maaf Bu, tapi saya yakin Meesa tidak seperti itu. Dia adalah murid yang sopan, ramah, dan baik,” bela Bu Wikrama. “Halah, kalian membelanya jelas itu karena dia adalah murid emas.” “Maaf Bu, mungkin ini juga memang karena saya. Tadi saya menolak saat Aarav meminta nomor telfon saya. Saya sudah menawarkan untuk kami saling bertukar user i********: saja tapi dia tidak mau.” “Aarav terus memaksa saya. Saya enggan memberikan nomor saya karena memang itu adalah hal privasi untuk saya. Sedangkan saya dan Aarav baru saja berkenalan,” sambung Meesa menerangkan kejadian yang sebenarnya. “Dia tadi hina-hina Meesa bawa-bawa fisik, kalau bapak dan ibu gak percaya tanya aja sama anak-anak yang tadi ada di sana. Mereka saksinya,” imbuh Lal. “Apa benar itu, Meesa?” tanya Pak Adyaksa. Meesa mengangguk lemah. “Dia ngatain kamu apa, Nak?” tanya salah satu panitia wanita yang berusia tiga dekade lebih. “Tidak apa, Bu. Mungkin memang salah saya yang sudah menolaknya. Ya sudah, tidak usah di perpanjang biar saya kasih nomor saya saja ke Aarav setelah ini,” tutur Meesa dengan senyum manisnya. “Gak usah, gue udah gak minat sama lo,” sinis Aarav. “Maaf, Aarav.” “Pak, Bu, saya punya video buktinya. Meesa tidak salah, tapi laki-laki arogan itu memang kurang ajar,” sela Fashikha yang baru saja datang. Fashikha menunjukan salah satu video yang terjadi di koridor tadi. Di sana terlihat jelas Aarav memaki dan merendahkan Meesa. Pak Adyaksa yang melihat itu mengeram kesal, ia tidak terima anak didiknya di rendahkan seperti itu. “Tidak mungkin Aarav berprilaku seperti itu. Pasti video itu sudah di edit,” elak salah satu guru pendamping SMP Nirwala. “Maaf Bu, tapi ini tidak di edit. Meesa memang menolak untuk memberikan nomornya tapi dia menolaknya dengan halus bahkan memberikan penawaran yang lebih baik,” balas Fashikha berani dan tidak terima. “Lihat sikap anak didik anda seperti tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Saya minta kamu, minta maaf ke Meesa. Dan juga anda, anda harus meminta maaf kepada anak didik saya,” geram Pak Adyaksa. Aarav masih kekeh bahwa dia tidak salah, begitupun dengan guru pendamping dari SMP Nirwala. Pihak panitia olimpiade pun ikut turun tangan. Mereka memberikan pilihan, meminta maaf pada pihak SMP Nabastala atau mereka akan di diskualifikasi karena membuat keributan. Akhirnya pihak SMP Nirwala pun memilih untuk meminta maaf saja. Namun bisa di lihat seperti tidak ada ketulusan, bahkan Aarav masih menatap Meesa begitu rendah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN