Part 20

1207 Kata
Pagi ini suasana kota pahlawan nampak cerah. Sang baskara telah memancarkan arunikanya sejak pukul lima. Gadis lugu itu nampak telah siap dengan kemeja berwarna pink yang di padupadankan dengan rok nila selutut.            Rambut sebahunya ia gerai dengan bandana berwarna merah bermotif bunga. Paras ayu itu hanya di poles bedak putih tipis dan lipblam untuk melembabkan bibir merah alaminya.            “Sa, sumpah gue deg-degan banget,” heboh Gavesha yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Meesa.            “Astagfirullah, ngagetin aja lo.”            Gavesha hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.            “Sorry, Sa. Lagian lo ngapain pagi-pagi ngelamun,” bela Gavesha.            “Gue gak ngelamun, cuman ya siapa yang gak kaget tiba-tiba lo teriak gitu aja,” cerca Meesa.            “Hehehe, peace. Ya udah gantian, gue juga mau dandan juga kali. Kan nanti gue bakal ketemu Davka.”            Meesa pergi dari hadapan cermin. Ia duduk di salah satu single sofa untuk memakai sepatu.            “Lo itu deg-deg an gara-gara olimpiadenya apa Davka?” malas Meesa.            “Hehehe, dua-duanya lah. Makin deg-degkan di tambah ada Davka.”            Meesa menggelengkan kepalanya, ada-ada aja ulah random Gavesha.            “Ya udah ayo cepet siap-siap kita mesti sarapan dulu.”            Gavesha mengangguk, karena keasikan belajar semalam dia tidur tengah malam. Bahkan ia tidur karena Meesa terbangun ingin ke kamar mandi. Meesa yang mengetahui Gavesha belum tidur pun mengomeli gadis itu semalaman.            “Gimana penampilan gue? Udah canci kan?” exited Gavesha.            “Udah, cantik. Cantik banget. Ayo cepat pakai sepatu. Udah telat ini. Fashikha sama Davendra udah heboh chat sama telfon ini,” omel Meesa.            “Iya-iya, Bu Meesa. Ini juga lagi pakai sepatu.”            Setelah siap, Gavesha dan Meesa mengalungkan id card mereka, kemudian mereka bergegas turun ke cafetaria untuk sarapan. Saat ini jam telah menunjukan pukul tujuh, ya satu jam lagi babak semifinal akan di mulai.            Saat mereka sampai di cafetaria ternyata sudah sangat ramai. Bahkan kelima temanya telah menunggu di meja bundar itu. Meesa dan Gavesha bergegas mengambil menu sarapan mereka karena memang pagi ini sarapanya prasmanan.            Meesa memutuskan untuk sarapan dengan sereal saja sedangkan Gavesha ia mengambil roti yanng kemudian ia beri selai keju. Mereka duduk di kursi yang tersisa, sepertinya mereka datang begitu terlambat karena sarapan yang lainya sudah hampir habis.            “Kok kalian lama banget sih?” tanya Fashikha sambil menyuapkan kuah soto ke mulutnya.            Belum saja Meesa atau Gavesha menjawab, Davendra terlebih dahulu menyela.            “Pasti Gavesha kesiangan ya kan?” tebak Davendra tepat sasaran.            “Iya, kok tau?” heran Meesa.            “Lo lupa gue teman kecil dia? Tau lah, kebiasaan. Pasti semalam dia begadang kan?” tebak Davendra lagi.            “Hahaha iya, gue harus ngomeli dia dulu biar dia tidur.”            Gavesha yang sedang di bicarakan pun hanya mengerucutkan bibirnya kesal.            “Hahaha, udah gue duga sih.”            Meja mereka kembali hening, mereka fokus pada makanan masing-masing. Meesa yang merasa di perhatikan pun menoleh ke arah kiri. Tepat beberapa detik kemudian kedua mata belo itu terkunci pada tatapan elang milik pangeran es.            “Kenapa, Lal?” tanya Meesa blak-blakan yang membuat Lal tersedak rotinya.            Laki-laki itu tidak sadar kalau Meesa sudah sadar jika sedari tadi dia perhatikan. Meesa terkejut karena Lal tiba-tiba saja tersedak. Tanganya pun terulur membantu Lal untuk minum.            Shankara yang melihat interaksi keduanya tersenyum kecil, ah kawanya itu sudah besar sepertinya.            “Kamu gak papa, Lal?” tanya Meesa memastikan.            “Gak papa,” balas Lal singkat.            Meesa kembali melanjutkan sarapanya. Sementara Lal yang ada di sampingnya mencoba untuk menetralisir degup jantungnya.            Mereka bertujuh kembali kumpul ke aula untuk melakukan upel pembukaan sebelum babak semifinal nanti. Mereka di berikan penyuluhan sebentar kemudian di tunjukan dimana letak ruangan mereka.            Untuk kali ini, satu ruangan akan berisi sepuluh peserta campuran. Dan kali ini anak IPA dan IPS di gabung. Meesa melihat papan pengumuman yang sudah di kerumuni puluhan siswa.            Karena banyak peserta yang tidak sabaran, Meesa sempat terdorong kesana kemari. Bahkan ia hampir jatuh, untung saja Lal menahan tubuh cukup berisinya. Meesa segera bangkit, ia memberi sedikit jarak antara dirinya dan Lal agar tidak canggung.            “Terima kasih, kamu banyak menolong ku ya, hehe. Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan buat bilang ke aku ya?” ucap Meesa karena tak enak Lal selalu menolongnya.            “Ikut gue.”            Lal menarik tangan Meesa agar mengikutinya. Meesa tersentak, ia belum dapat melihat dimana ruanganya nanti. Namun saat ini Lal justru menariknya. Mereka berdiri di salah satu ruangan yang membuat Meesa bingung.            “Aku belum lihat dimana ruangan ku, Lal,” tutur Meesa saat hendak kembali ke papan pengumuman.            “Di sini.”            Meesa bingung, Lal selalu berbicara singkat dan membuat dirinya bingung memahami perkataan Lal.            “Maksudnya?”            “Ck, ruangan lo di sini.”            “Sama gue,” imbuh Lal.            Meesa mengangguk mengerti, “oh ... terima kasih.”            Meesa memasuki ruangan tersebut untuk mencari mejanya. Ternyata ia berada di meja paling depan dan di belakangnya bersela satu meja itu adalah tempat Lal.            Olimpiade babak semi final akan di mulai sepuluh menit lagi. Meesa nampak duduk dengan tenang di tempat duduknya. Seorang laki-laki mendekatinya, dari bed sekolahnya sepertinya laki-laki itu berasal dari SMP Nirwala.            “Hai, kenalin gue Aarav,” ucap laki-laki bernama Aarav yang menjulurkan tangan kananya ke arah Meesa.            “Hai, ak-gue Meesa,” kaku Meesa.            Meesa menerima jabat tangan Aarav singkat, kemudian dia segera melepaskanya.            “Lo anak SMP Nabastala kan?”            “Iya.”            “Cantik, boleh minta nomor lo?” to the point Aarav.            “Maaf, Aarav. Tapi gue gak bisa kasih nomor gue ke orang asing,” tolak Meesa halus.            “Kan kita udah kenalan.”            “Iy-iyah, tapi-,”            “Gak usah sok jual mahal. Badan segede gaban aja sombong,” nyinyir Aarav.            Lal melihat semuanya, ia berdiri dari tempat duduknya kemudian menyingkirkan Aarav dengan kasar.            “Kalau dia gak mau, gak usah di paksa,” sarkas Lal dingin.            “Lo siapanya? Cowoknya hah? Bukan kan, jadi gak usah sok ngatur.”            “Pergi, sebelum gue habisin lo.”            “Gak usah sok jagoan deh lo.”            Lal menarik kerah baju Aarav, namun kegiatan mereka terhenti karena seorang pengawas datang.            “Ada apa ini? Ini ruangan olimpiade bukan ring tinju. Kalau ingin berantem lebih baik kalian keluar,” peringat pengawas tersebut.            Lal melepaskan kerah baju Aarav dengan kasar. Kemudian dia kembali ke mejanya dengan perasaan dongkol. Ingin sekali Lal menghajar laki-laki itu. Setelah kondisi ruangan sudah mulai kondusif salah satu pengawas pun membagikan soal, lembar jawaban serta alat tulis yang akan mereka gunakan.            Meesa mulai mengerjakan soalnya dengan lancar. Sebenarnya entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yang tidak enak. Jujur sebenanya dia tidak nyaman dengan perilaku Aarav barusan.            Meesa hanya sedikit merasa terkejut karena Aarav yang tiba-tiba datang meminta nomor telfonya. Diam-diam Meesa menatap ke arah meja di pojok kanan, meja tempat Aarav duduk. Sialnya Aarav menatap juga ke arahnya.            Meesa buru-buru kembali menunduk dan mengerjakan soalnya. Ia harus fokus karena ini bukan babak yang terakhir. Masih ada satu babak lagi yang harus bisa lalui. Dengan pelan ia mencoba mengatur degup jantungnya. Saat sudah mulai tenang, Meesa kembali mengerjakan soalnya.            Di belakang Meesa, Lal terus memperhatikan gadis itu. Ia dapat membaca gerak-gerik Meesa yang bahkan beberapa kali gadis itu menghela nafas kasar. Lal berusaha kembali fokus pada soal di hadapanya, setelah ini ia akan mengurus semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN