Pak Adyaksa mengumpulkan mereka, saat ini mereka bertujuh tengah berdiri bergerombol di depan Pak Adyaksa.
“Terima kasih atas partisipasi kalian, saya sangat bangga dan speachlees tahun ini semua perwakilan dari SMP Nabastala masuk semifinal. Terutama kamu Meesa dan Lal, saya bangga sekali dengan kalian.”
“Malam ini saya harap kalian istirahat dengan cukup. Saya tidak memaksa untuk kalian masuk final, sampai sini saja saya sudah sangat bangga pada kalian. Jadi malam ini, istirahat yang cukup, besok keluarkan kemampuan terbaik kalian. Saya yakin kalian bisa,” sambung Pak Adyaksa begitu bijak.
“Baik, Pak. Terima kasih, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk besok,” balas Gavesha mewakili semuanya.
“Ya sudah, sana kembali ke kamar kalian masing-masing. Tidak perlu di fotsir untuk kembali belajar, istirahat saja agar besok kalian kembali fit.”
“Siap, Pak!” celetuk Shankara.
Mereka pun pergi ke kamar hotel masing-masing. Baru saja Meesa hendak melangkah, ia merasa ada yang aneh. Kedua mata belo itu menatap ke bawah, astaga ternyata sampai detik ini Lal masih menggandengnya.
Meesa merasa gugup, ia bingung bagaimana bilang hal ini ke Lal.
“Mmm ... Lal, maaf,” cicit Meesa lemah.
Lal hanya menaikan satu alisnya sebagai respon dari cicitan Meesa.
“I-itu ... tangan kamu.” Meesa menunjuk tangan kirinya yang masih di genggam oleh Lal.
Lal yang tersadar pun segera melepaskan genggamanya. “Sorry, gak usah gr.”
Dahi Meesa menyirit, gr? Bahkan dia tidak berpikiran apapun.
“Ah ya, tenang aja. Duluan ya, selamat untuk tadi.”
“Hm. Lo juga.”
Meesa hanya mengangguk singkat. “Terima kasih.”
Sebenarnya interaksi keduanya barusan menjadi pusat perhatian. Bahkan tanpa Meesa ketahui ada beberapa yang merekamnya. Gavesha dan Fashikha yang melihat itu semua memekik heboh mendekati Meesa yang baru saja di tinggal Lal.
“Demi apa, itu tadi Lal? Kayanya Lal suka sama lo deh, Sa,” papar Fashikha heboh sendiri.
“Iya deh kayanya. Cieee ... baru juga seminggu udah dapet gebetan aja. Gue yang dua tahun di Nabastala masih jomblo.”
“Yee, lo kan sibuk ngambis, Neng. Eh tapi gue rasa lo cocok sama Nalendra.”
Gavesha menonyor kepala Fashikha tak berperasaan.
“Pala lu. Darah tinggi gue sama dia, yang ada mati muda nanti.”
“Biasanya orang benci banget besoknya cinta banget,” timbrung Deepsikha.
“Gak usah ngada-ngada kalian.”
Meesa hanya tertawa renyah, ada-ada saja perdebatan mereka. Deepsikha dan Fashikha adalah si kembar SMP Nabastala yang di kenal sebagai kamus berjalan. Ya, Fashikha si master bahasa jepang dan Deepsikha si master bahasa mandarin.
Feshikha lebih pendek dai Deepsikha, dia juga lebih aktif dan bar-bar. Jika ingin membedakan antar keduanya, sejajarkan saja mereka yang lebih pendek itu adalah Feshikha. Atau bisa juga, jika dia sangat cerewet pasti itu Fashikha.
Deepsikha bukan gadis dingin, dia hanya malas menanggapi hal yang tidak penting menurutnya. Mereka melempar bahan candaan dari tadi yang lebih di heboh i Fashikha dan Gavesha yang sedang membahas cogan. Meesa menimpali sesekali atau ikut tertawa, sedangkan Deepsikha hanya merespon singkat.
“Ya udah, gue duluan. Besok lo jangan lupa tampil yang terbaik, Gave. Siapin hati lo lawan Davka.”
“Dia ganteng banget sumpah, gue kalau blank tiba-tiba gimana besok? Aduh jelas satu ruangan sama dia besok,” heboh Gavesha.
“Hahaha, gue harap lo gak lupa sama tujuan lo.”
Mereka akhirnya memasuki kamar hotel masing-masing. Gavesha langsung merebahkan tubuhnya sedangkan Meesa nampak bersih-bersih terlebih dahulu. Meesa mencuci mukanya tak lupa juga menggosok gigi.
Saat selesai membersihkan diri dan mengganti pakaianya dengan piayama, ia hanya menggeleng melihat Gavesha tengah rebahan dan bermain dengan ponselnya.
“Bersih-bersih duluu, Gave. Kalau ngantuk biar langsung tidur,” peringat Meesa.
“Iya-iya. Sa, gimana rasanya di gandeng Lal?” goda Gavesha yang bangkit dari rebahanya.
Meesa tersenyum malu. “Apasih, Gave. Udah sana kamu bersih-bersih. Besok harus bangun pagi.”
“Hahaha, kalau lo mau gue bisa bantuin lo deketin Lal.”
“Gavesha ...,” peringat Meesa.
Gavesha semakin tergelak, dia masuk ke kamar mandi masih dengan tawa yang renyah.
“Gavesha, jangan terlalu tertawa di kamar mandi. Pamali tau,” nasehat Meesa.
Gavesha mulai meredakan tawanya. Ia fokus untuk membersihkan dirinya dan sepuluh menit kemudian keluar dengan piyama berwarna lilac.
Meesa mengamati Gavesha yang baru saja keluar kamar mandi.
“Lo suka banget sama warna lilac?” tebak Meesa.
“Iya, lucu aja warnanya. Gak terlalu girly menurut gue.”
Meesa mengangguk singkat, ia merapikan sebentar kasur yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini. Jarum jam masih menunjukan pukul sepuluh.
“Lo mau langsung tidur, Sa?” tanya Gavesha dengan sebungkus keripik kentang di tanganya.
“Iya. Ngantuk banget.”
“Ya udah, tidur gih.”
“Selamat malam, Gavesha. Jangan tidur malam-malam,” pamit Meesa sebelum terlelap.
“Malam juga. Santai abis ini gue langsung tidur.”
Gavesha membuka buku catatanya, ya dia kembali belajar karena ia yakin besok soal-soal yang akan di berikan lebih susah dari pada soal-soal yang ia kerjakan hari ini. Jadinya untuk mengulas sedikit materi, ia membuka buku catatanya kembali menghafalkan beberapa rumus.
Jam sudah menunjukan tengah malam, di kamar laki-laki semuanya masih terjaga. Bahkan kini Davendra dan Shankara tengah menonton bola. Lal memang belum tertidur, laki-laki itu entah tengah membaca buku apa yang terlihat begitu tebal.
“Lal, inget kaya Pak Adyaksa tadi. Gak usah di fotsir. Lagian lo tadi dapet nilai sempurna kan? Gue yakin besok lo gak akan begitu susah menjawab soalnya,” tegur Shankara yang melihat sedari tadi Lal memang sibuk membaca buku.
Lal hanya menjawabnya dengan deheman singkat. Davendra yang sedari tadi diam mendekat ke arah Lal. Nyatanya laki-laki itu tengah membaca buku tentang sejarah dunia.
“Lo itu sama aja kaya Gavesha. Dia sering banget memaksakan dirinya, gue juga kadang bosen ngingetin dia. Hahaha.”
Lal merotasikan bola matanya malas, kemudian ia kembali fokus membaca buku.
“Tapi semenjak ada Meesa, Gavesha udah gak seambis dulu. Meesa benar-benar punya magic, bahkan orang keras kepala kaya Gavesha bisa ia takhlukan.”
Entah kenapa, Lal merasa tertarik pada pembahasan mengenai gadis lugu yang dari sebulan lalu menarik perhatianya. Lal menutup bukunya seakan ingn serius mendengarkan cerita tentang Meesa dari Davendra.
“Gue gak heran kalau lo tertarik dengan Meesa. Pertemuan pertama gue sama dia juga buat gue tertarik sama dia. Ada sesuatu yang buat gue gak tau kenapa pokoknya menurut gue dia menarik. Lo gitu juga kan?” kata Davendra.
Shankara merasa tertarik, ia bangkit dari duduknya saat ini mereka duduk di kasur dengan saling berhadapan.
“B aja,” kilah Lal.
“Lo gak bisa bohong, tatapan mata lo beda kalau natap Meesa,” desak Shankara yang di setujui oleh Davendra.
“Sotoy,” tandas Lal berusaha santai.
“Lo lupa waktu pertama kali dulu gue duduk di samping lo? Gue bisa lihat gimana perbedaan tatapan lo saat lihat Meesa,” desis Shankara yang membuat Lal terdiam.
“Lo suka sama Meesa?” tanya Davendra tepat sasaran.
Lal terdiam, sejujurnya ia bingung. Selama ini hidupnya hanya tentang buku dan belajar. Awalnya memang ia tidak begitu tertarik dengan pembicaraan hots di SMP Nabastala mengenai murid baru yang menggemparkan seluruh antero sekolah.
Pertemuan pertamanya adalah ketika ia mendengar alunan merdu piano di ruang musik. Ya, Lal melihat betapa hebat dan kuat pesona Meesa saat bermain piano. Gadis berambut sebahu dengan sikap rendah hatinya dan ramah kepada seluruh orang mampu mengetuk hatinya yang beku.
“Gue gak tau,” jujur Lal.
Davendra tertawa ringan mendengar jawaban polos dari Lal.