Siang kali ini suasana kantin SMP Nabastala nampak begitu ramai. Sesuai janji Davendra kemarin, hari ini ia akan menraktir Gavesha serta Meesa makan siang. Gavesha dan Meesa tengah duduk anteng menunggu Davendra yang sedang memesankan makan siang mereka.
Salah seorang laki-laki bertubuh jakung tiba-tiba berdiri di hadapan Meesa.
“Lal? Ada apa?” tanya Meesa memasukan ponselnya ke saku.
“Gue mau bicara sama lo.”
“Ya udah bicara aja. Ada apa?”
Gavesha yang peka ia membisikan sesuatu ke Meesa.
“Udah lo ikut Lal aja dulu. Nanti gue keep makanan lo,” bisik Gavesha pada Meesa.
“Ikut gue,” ajak Lal menggenggam pergelangan tangan Meesa.
“Eh eh ... iya. Gave bentar ya.”
“Iya, Sa. Good luck!” kekeh Gavesha memberikan acungan jempolnya.
Lal membawa Meesa ke koridor lantai tiga. Kemudian dia menyuruh Meesa duduk di salah kursi yang berada di kelas sembilan D.
“Ada apa, Lal?”
“Lo hari ini sibuk?” tanya Lal balik.
“Enggak sih. Kenapa?”
“Bunda suruh gue ajak lo ke rumah,” terang Lal jujur.
Meesa nampak sedikit terkejut. Ia membulatkan kedua mata belonya sehingga nampak semakin menggemaskan di mata Lal.
“Ada acara?”
“Bunda mau ketemu sama temen baru gue.”
Meesa mengangguk paham.
“Kapan?”
“Pulang sekolah.”
“Pulang sekolah?” beo Meesa.
Lal mengangguk singkat. “Lo keberatan?”
“Eng-enggak sih. Hari ini juga gak ada jadwal latihan. Cuman jam lima nanti ada les,” urai Meesa.
“Les apa?”
“Les di Rumah Belajar Arumi.”
Lal nampak sediki terkejut.
“Lo les di sana? Sejak kapan?”
“Baru dari minggu kemarin sih.”
“Ya udah nanti lo berangkat les sama gue aja,” balas Lal enteng.
“Terus Gavesha?”
“Kenapa Gavesha?” heran Lal.
“Kan dia berangkat lesnya sama aku, Lal.”
“Suruh aja berangkat sendiri.”
“Kasihan tau,” protes Meesa.
“Lo gak mau berangkat sama gue?”
Meesa menggeleng. Bukan gitu maksudnya.
“Ya udah sepulang sekolah ikut gue dan nanti lo berangkat les sama gue,” putus Lal.
Meesa mengangguk saja. Lagi pula hari ini kan Davendra daftar les di sana juga. Jadi Gavesha bisa berangkat dengan Davendra hari ini.
“Kamu gak ke kantin?”
“Gue udah makan. Sana gih balik ke kantin. Lo belum makan, ‘kan?”
“Iya. Ya udah duluan ya. Daaa ....”
Meesa melambaikan tanganya meninggalkan Lal untuk pergi ke kantin. Lal tersenyum simpul menanggapinya. Gadis lugu itu selalu membuatnya terpana dan di mabuk asmara.
Di sisi lain Davendra menyirit saat tidak mendapati Meesa di meja mereka.
“Meesa mana?” tanya nya pada Gavesha sambil menaruh nampan makan siang mereka.
“Di culik Lal,” jawab Gavesha enteng.
“Ha? Di culik?” ulang Davendra.
“Udah santai. Kalaupun dia gak balik gue siap tampung makanan dia.”
“Gak gitu maksudnya,” ujar Davendra kesal.
Gadis berambut sebahu itu kembali memasuki area kantin. Ia menghampiri meja nya tadi yang ternyata Davendra sudah datang membawa makanan mereka.
“Dari tadi?” tanya nya tidak enak.
“Enggak. Lo habis dari mana?” tanya Davendra memberikan makanan milik Meesa.
“Terima kasih. Dari koridor depan sama Lal.”
“Emang dia ngajak lo apa?” tanya Gavesha yang mulai memakan makananya.
“Oh ya. Maaf ya, Gave. Kayanya hari ini kita gak bisa berangkat bareng ke tempat les. Sepulang sekolah Lal ngajak gue ke rumahnya sekalian nanti berangkat les bareng,” terang Meesa jujur.
“Ngapain dia ngajak lo ke rumahnya?” sewot Davendra.
Gavesha terkekeh. “Santai aja kali, Pak.”
“Gak ngapa-ngapain, Dave. Bunda nya mau ketemu gue katanya. Katanya mau kenalan sama teman baru Lal,” urai Meesa.
“Ya udah gak papa. Gue nanti berangkat sama Dave aja. Ya gak, Dave?”
Davendra memutar bola matanya malas namun ia mengiyakan perkataan Gavesha.
“Kalau ada apa-apa di sana hubungi gue atau Gavesha,” pesan Davendra.
“Iya-iya, Dave. Lagian Lal gak akan ngapa-ngapain kali. Lal itu baik, Dave.”
“Tau tuh. Sewot aja lo,” timpal Gavesha menyetujui ucapan Meesa.
“Kalian kalau bersekongkol kompak banget ya,” cibir Davendra.
Meesa dan Gavesha terkekeh renyah. Keduanya pun tos bersama sambil mengejek Davendra. Kedekatan mereka memang menjadi daya tarik sendiri bagi siswa siswi SMP Nabastala. Davendra dan Gavesha yang selalu heboh dan Meesa yang selalu menenangkan mereka. Jadi terlihat begitu lucu dan friendship goals.
Mereka bertiga kembali melanjutkan makan siang dengan tenang. Meski banyak perdebatan antara Gavesha dan Davendra namun tidak terlalu rusuh. Seusai makan mereka pergi ke masjid untuk melaksanakan salat dhuhur. Namun kali ini Gavesha tidak ikut karena dia sedang halangan.
***
Jam tambahan untuk kelas unggulan SMP Nabastala memang di pindahkan di pagi hari. Jadi mereka harus berangkat jam enam pagi untuk melaksanakan kelas pagi bimbingan ujian nasional dan tes masuk SMA favorit. Jadilah saat ini jam pulang kelas unggulan pun sama dengan kelas lainya.
Hanya saja untuk hari Rabu dan Jum’at mereka ada kelas ekstra. Bel pulang telah berbunyi lima menit yang lalu. Guru yang mengajarpun telah keluar. Meski jam pulang koridor kelas unggulan memang tidak seramai dan seheboh kelas lainya. Mereka tetap tertib dan tidak berisik.
“Sa, Lal udah nungguin lo tuh di depan,” ujar Gavesha yang melihat Lal sudah ada di ambang pintu kelas sembilan A1.
Meesa mengangguk. Ia segera merapikan alat tulisnya.
“Lo jadi pinjam catatan IPS?” tanya Meesa saat hendak memasukan buku cacatanya.
“Iya, mana?”
“Nih.”
Meesa tidak jadi memasukan buku catatanya. Ia memberikan buku catatan itu ke Gavesha. Setelah mejanya rapi ia mencangklot tas coklat pastelnya ke punggung.
“Gue duluan ya. Sorry hari ini gue gak bisa bareng les sama lo,” pamit Meesa.
“Iya santai. Sana gih Lal udah nungguin lo.”
“Oke. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Dave, duluan ya!” seru Meesa pada Davendra yang masih mencacat.
“Iya, hati-hati.”
Meesa menemui Lal yang sudah menunggunya di ambang pintu. Ia tersenyum manis saat sudah di depan Lal.
“Lama ya nunggunya?”
“Gak kok. Ayo.”
Lal baru saja hendak menggandeng tangan Meesa. Namuan Meesa nampak menghindar karena ia memang tidak biasa. Jadilah saat ini mereka berjalan beriringan saja.
“Eh aku harus bawain apa ini buat Bunda kamu?” tanya Meesa.
“Gak usah.”
“Gak enak, Lal. Emm ... Bunda kamu suka apa?”
“Bolu.”
“Ya udah nanti anterin aku ke toko bolu dulu ya?” pinta Meesa memohon.
“Gak usah, Lavanya. Kan Bunda yang undang lo ke rumah.”
“Tetep aja gak enak, Lal. Please ....”
“Oke.”
Bisik-bisik mulai terdengar. Mereka semakin yakin mana mungkin Lal dan Meesa tidak memiliki hubungan apapun. Mereka berdua juga semakin hari terlihat semakin dekat. Lal yang biasanya terlihat selalu sendiri saat ini ia selalu bersama Meesa. Bahkan jika di lihat-lihat Lal lebih dekat dengan Meesa ketimpang Shankara.
“Masa sih mereka gak punya hubungan apa-apa.”
“Kayanya gak mungkin sih.”
“Mereka kelihatan serasi ya.”
“Iya. Gue sih kapal mereka.”
“Sama gue juga.”
“Tiga tahun caper sama Lal malah yang dapetin murid baru.”
“Hahaha ... sama.”
“Meesa pake pelet apa ya?”
“Dukun Meesa yang mana ya?”
Bisik-bisik semakin gencar bahkan beberapa siswi memekik saat Meesa memasuki mobil jemputan Lal. Hari ini mereka pulang bareng? Mereka jadi semakin yakin jika Meesa dan Lal pasti mempunyai hubungan spesial.