Part 66

1354 Kata
“Lal,” panggil wanita berprawakan keibuan tersebut. Lal menoleh ke arah pintu kamarnya. “Iya, Bunda?” “Kamu sedang apa?” “Lagi ngerjain latihan soal.” Wanita tersebut mendekati Lal. Ia berdiri di belakang Lal menumpukan tangan kirinya di kursi belajar milik Lal. “Gimana sekolah kamu?” “Lancar.” “Bunda dengar kamu dekat dengan perempuan?” Lal menghentikan jemari lentiknya yang tadi tengah menulis rumus-rumus. “Dia Lavanya, sahabat Lal.” “Lavanya?” heran Kirana pasalnya yang ia dengar gadis itu namanya bukan Lavanya. “Lavanya Meesa,” imbuh Lal. “Apa kamu menyukainya, Lal?” “Dia hanya teman ku, Bun,” elak Lal. Kirana tersenyum simpul. “Apa kau lupa jika aku adalah Bunda mu? Aku bisa merasakanya.” “Bunda ...,” rengek Lal. “Hahaha. Tapi kamu harus ingat, Lal. Jangan sampai perempuan itu membuat nilai mu turun,” peringat Kirana. Lal mengangguk mantab. Ia kembali mengerjakann soal-soal di hadapanya. “Lavanya itu berbeda, Bun. Dia juga sangat pintar. Sepertinya dia lebih pintar dari Gavesha.” “Gavesha? Gadis saingan terberat mu itu? Yang selalu dapat posisi pertama paralel?” tebak Kirana. Kirana mulai tertarik dengan pembicaraan Lal. Ia menarik salah satu single sofa yang ada di kamar Lal. Ia mengarahkan sofa tersebut di samping kursi belajar milik Lal. “Iya.” “Berarti dia juga saingan berat kamu?” “Sepertinya. Kemampuanya tidak perlu di ragukan. Dia anak baru pindahan dari Semarang.” “Kau menguntitnya, Lal? Tumben kamu tahu sejauh ini tentang orang lain.” Lal mengedikan bahunya acuh. “Semua orang tahu tentang itu, Bun,” balas Lal. “Dia yang memenangkan olimpiade IPA terpadu itu?” tebak Kirana. “Ya, dan tahun lalu dia juga yang memenangkan olimpiade tersebut.” “Menarik, kamu tidak berniat mengenalkanya pada Bunda?” Lal menoleh menghadap Kirana. Apa Kirana akan memarahi Meesa? Apa Kirana akan melarangnya berteman dengan Meesa? “Untuk apa?” “Bunda hanya ingin berkenalan dengan dia.” “Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan dia, Bun. Aku janji, aku akan meningkatkan nilai ku. Bahkan aku akan bersaing denganya secara sehat,” urai Lal yang membuat Kirana terkekeh. “Bunda tidak melarangmu berhubungan dengan dia. Menurut yang Bunda dengar dia merupakan gadis yang pintar dan lugu. Jadi Bunda tidak khawatir jika dia bisa membuat nilai mu turun.” “Baiklah. Besok akan aku ajak dia ke rumah.” “Bunda pegang janji kamu.” “Aku tidak berjanji, Bunda. Kalau dia sibuk bagaimana?” “Hahaha ... ya sudah lanjutkan belajarnya. Bunda tinggal dulu.” “Iya, Bunda.” “Selamat malam.” “Malam juga.” Sebelum meninggalkan Lal, Kirana terlebih dahulu mencium kening Lal. Meski Kirana dan Nadir selalu menekan Lal untuk menjadi yang mereka inginkan. Tapi mereka masih membuat Lal nyaman dan tidak merasa terbebani. Untung saja Lal adalah anak yang penurut. Jadinya Kirana dan Nadir tidak begitu kesusahan untuk mendidik Lal. Lal juga dari dulu selalu berpikir jika apa yang di perintahkan oleh Nadir dan Kirana adalah yang terbaik untuknya. Jadi ia menurut saja. Sebuah bulan sabit terbentuk indah di paras tampan itu. Ia menaruh pensilnya, memegang gelang hitam yang melingkar di tangan kirinya. Ah tiba-tiba saja dia merindukan Meesa. Memang akhir-akhir ini ia jarang bertemu dengan gadis itu. Mereka telah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Apalagi Lal memang akan ada pertandingan karate sebentar lagi. Jadinya ia sibuk latihan karate juga. Entah bisikan dari mana, Lal mengambil ponselnya dan menelfon salah satu kontak teratas yang ada di kontaknya. Suara lembut itu terdengar dari sebrang sana. Bahkan suara itu mampu membuat hati Lal bergetar sangat hebat. “Assalamu’alaikum, Lal. Ada apa?” “Lal?” “Hallo?” “Laaallll ....” “Lal kamu gak papa, ‘kan?” Lal tersadar dari lamuanya. Entah setan mana yang merasuki. Justru pertanyaan tidak berbobot yang keluar dari mulutnya. “Lo lagi ngapain?” “Ini lagi ngerjain tugas tugas bahasa indonesia. Kenapa, Lal?” “Lo udah makan?” “Udah kok.” “Ya udah kalau gitu gue tutup. Jangan tidur larut.” Tut .... Lal mengetuk-ngetuk kepalanya kesal. Ada apa sih dengan dirinya. Ia yakin pasti Meesa bisa ilfiil setelah ini dengan dirinya. “g****k banget sih gue. Apaa-apaansih gue itu,” gerutu Lal merutuki kebodohanya. *** Suasana lapangan indoor nampak begitu ramai. Hari ini adalah hari pertandingan Davendra. Tentu saja Gavesha dan Meesa menyempatkan untuk menonton dan menyemangati Davendra. Gavesha dan Meesa sengaja memilih tempat duduk di depan sendiri. Mereka sama-sama heboh meneriaki Davendra dan tim SMP Nabastala. “AYO DAVENDRA!” “GO DAVENDRA ... GO DAVENDRA GO.” “SMP NABASTALA!” “HUUUUUUUU SEMANGAT!” “AYO SEMANGAT!” “DAVENDRA SEMANGAT!” Teriakan heboh dari tribun penonton benar-benar menggelegar. Gavesha pun nampak sangat bersemangat dengan dua botol kosong yang ada di tanganya. Ia juga selalu berteriak saat tim SMP Nabastala mencetak poin. Sementara itu Meesa nampak kalem. Meski sesekali ia juga ikut berteriak tapi tidak seheboh Gavesha. “WOOOHOOOOO YES! SEMANGAT!” teriak Gavesha saat Davendra berhasil cetak poin. Pertandingan pertama pun di menangkan oleh tim dari SMP Nabastala. Semuanya semakin heboh karena mereka yakin SMP Nabastala akan masuk final nanti. “Davendra gak pernah berubah dari dulu. Permainan dia selalu hebat,” puji Gavesha. “Hahaha iya. Hebat banget dia,” timpal Meesa menyetujui. Babak kedua di mulai. Selain takjub pada Davendra, Meesa juga takjub pada Gavesha. Gadis itu memiliki suara melengking yang sepertinya tidak pernah habis. Dia selalu berteriak dan bersemangat dari tadi. Meesa yang melihatnya cukup ngeri juga. Takut Gavesha kehilangan suaranya. “Gave, jangan teriak mulu. Nanti tenggorokan kamu bisa sakit,” peringat Meesa. “Lo tenang aja. Udah biasa gue kaya gini. Apalagi kalau Davendra tanding.” Meesa mengangguk saja. Mereka kembali fokus menonton pertandingan. Di babak kedua pun permainan di menangkan oleh tim SMP Nabastala. Jadilah hari ini SMP Nabastala masuk babak final. Gavesha mengajak Meesa untuk mendatangi Davendra dan yang lainya. Kedua gadis itu berjalan dengan cepat agar tidak menjadi sorotan. “Selamat, Bestie! Permainan lo gak pernah berubah,” puji Gavesha pada Davendra. “Makasih. Lo juga gak pernah berubah teriaknya,” kekeh Davendra. “Hahaha, iya dong. Tenang suara gue masih cukup buat final nanti.” “Selamat ya, Dave. Semangat finalnya,” ujar Meesa pada Davendra. “Makasih ya, Sa. Gimana kuping lo aman gak, Sa? Saran gue abis dari sini lo ke THT deh.” “Ha? THT?” beo Meesa. “Iya, kan lo tadi duduk di samping Gavesha. Gue takut kuping lo kenapa-napa,” ejek Davendra pada Gavesha. “Sialan lo,” umpat Gavesha kesal. “Hahahaha.” Meesa dan Gavesha juga menyelamati semua tim dari SMP Nabastala. Gavesha memang terlihat sudah akrab dengan mereka. Karena mereka tahu Gavesha adalah sahabat Davendra. Setiap pertandingan juga Gavesha pasti selalu lihat dan berteriak yang paling heboh. Mereka berbincang-bincang sejenak hingga tidak terasa babak final akan segera di mulai. Davendra dan yang lainya mulai bersiap. Begitu pula Meesa dan Gavesha sudah kembali ke tribun. “SEMANGAT!” “AYO SMP NABASTALA!” “SMP NABASTALA!” “SMP NABASTALA!” “DAVENDRA WUUUHUUUU!” “SEMANGAT BESTIE!” Davendra yang mendengar lengkingan itu hanya terkekeh dari lapangan menatap Gavesha. Gavesha yang di notice oleh Davendra pun melambaikan tanganya. Pertandingan berjalan sengit. Namun tim volly dari SMP Nabastala memang tidak pernah di ragukan lagi kehebatanya. Ya, tim dari SMP Nabastala berhasil membawa piala kejuaraan. Gavesha pun berteriak hingga terbatuk-batuk sangking senangnya. “Ini, Gave. Minum dulu. Udah aku bilang, ‘kan. Jangan teriak-teriak mulu,” omel Meesa memberikan air mineral ke Gavesha. “Hehehe, makasih ya.” “Sama-sama.” Gavesha menarik tangan Meesa untuk kembali bertemu Davendra. Ia ingin mengucapkan selamat langsung pada sang empunya. “Wiidiih menang nih. Traktiran dong hari ini,” siul Gavesha yang baru saja datang menarik Meesa. “Hahaha. Iya-iya.” Dari dulu memangs setiap Davendra memenangkan kejuaraan, Davendra akan menraktir Gavesha. “Selamat ya, Dave.” “Makasih, Sa.” “Oh ya lupa gue. Selamat, Bestie.” “Lo mah. Traktiran mulu yang di ingat,” cibir Davendra pada Gavesha. “Hahaha, sorry sorry.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN