Part 65

1192 Kata
Davendra menyambar binder nya yang ada di atas meja belajar. Bodo amat nanti masalah buku ia bisa pinjam ke Gavesha. Laki-laki berumur enam belas tahun itu menuruni anak tangga dengan cepat. Saat hendak menarik gagang pintu rumahnya Nalendra yang tengah duduk tiduran di sofa ruang tamu menganggunya. “Mau kemana lo?” “Kepo.” Tidak menggubris Nalendra, ia kembali melanjutkan langkahnya. Hari ini ia ingin jalan kaki saja ke komplek Gavesha. Lagi pula tidak jauh dari rumah. Hitung-hitung olahraga juga. Sesampainya di rumah Gavesha, Baasima yang membukakan pintu langsungg menyuruhnya ke kolam renang. Ternyata Meesa juga sudah datang. “Mau belajar bareng ya?” tebak Baasima berbasa-basi. “Iya, Om.” “Ya udah langsung aja ke kolam renang. Meesa juga sudah datang.” “Ooh gitu. Iya, Om. Kalau gitu Dave masuk ya.” Baasima mengangguk. Ia kembali membaca koran yang tadi sempat tertunda. Davendra menghampiri Meesa dan Gavesha yang tengah serius dengan buku tebal di hadapan mereka. Sebuah ide jail muncul di otaknya. Sepertinya seru mengerjain kedua gadis itu. “DOR!” “Astagfirullah.” “Setan!” Kedua respon yang berbanding terbalik sudah di pastikan siapa yang mengucapkanya. Davendra tergelak. Ia tertawa hingga berguling-guling di atas rerumputan. “Hahaha. Muka lo ... hahahaha,” tawanya mengingat betapa lucu kondisi muka kedua gadis itu. “Sialan emang lo. Baru datang ngerusuh. Nyesel gue ngajak lo,” dengus Gavesha. “Hahaha.” Davendra masih belum dapat meredakan tawanya. Apalagi saat mengingat wajah kedua gadis itu. Namun lebih tepatnya ia menertawakan komuk Gavesha. Hingga lima menit kemudian tawanya mulai mereda. Ia berjalan ke arah kedua gadis yang menatapnya datar. “Hahaha, ampun ndoro-ndoro,” ucapnya meminta maaf. Davendra duduk di hadapan Gavesha dan Meesa. “Mana buku lo?” tanya Gavesha saat tidak melihat Davendra membawa buku latihan soal. “Ini,” tunjuk Davendra mengangkat bindernya dengan polos. Gavesha memutar bola matanya malas. “Pinjem pensil dong,” pinta Davendra. Laki-laki itu memang hanya membawa binder. Tanpa alat tulis atau buku latihan soal seperti yang di bawa Meesa ataupun Gavesha. “Ini.” Meesa menyerahkan kotak pensilnya ke Davendra. Agar laki-laki itu memilih sendiri pensil mana yang akan ia gunakan. “Thank’s. Lo emang yang terbaik, Sa,” puji Davendra. “Hahaha, iya.” “Terus lo gimana belajarnya kalau gak bawa buku lo?” tanya Gavesha garang. “Join lah sama kalian. Lagian satu buku juga cukup kali buat bertiga,” ucap Davendra enteng. Gavesha memutar bola matanya malas. Mereka pun kembali melanjutkan belajar bersama yang tertunda karena Davendra. Sebenarnya kegiatan mereka banyak di selingi candaan sih. Entah perdebatan Davendra maupun Gavesha. Pertanyaan random Davendra. Atau Davendra yang jengah karena Gavesha terus saja tidak memahami keterangan Meesa. “Hahaha. Udah dong, dari tadi kalian berantem mulu,” ucap Meesa menengahkan keduanya. “Gedek banget gue sama dia. Pingin gue hih,” kesal Gavesha. “Lo aja yang sensian sama gue. Jangan-jangan lo naksir ya sama gue?” “Dih? Gue? Naksir sama lo? Si kembaranya Nalendra yang kelakuanya sebelas dua belas? Mending gue gak nikah.” “Hush. Jangan gitu, Gave. Omongan itu doa lho,” peringat Meesa. “Hehehe. Lagian Davendra sih. Ngeselin banget dari dulu.” “Udah-udah. Kita istirahat dulu deh. Udah hampir tiga jam juga kita belajar,” usul Meesa. “Hm ... laper gur. Kalian laper gak?” tukas Davendra memegangi perut nya. “Gue juga,” timpal Gavesha. “Cari makan yuk keluar,” ajak Davendra bersemangat. “Naik apa?” tanya Meesa polos. “Boncengan aja bertiga,” usul Davendra ngawur yang di hadiahi tampolan renyah dari Gavesha. “Pala lu. Lo pikir gue sama Meesa cewek apaan.” “Udah-udah. Kita naik sepeda aja sekalian sepedaan,” usul Meesa yang lebih normal. “Setuju gue sama Meesa. Gak kaya saran lo, s***p semua,” cibir Gavesha. “Lo nya aja yang sensi,” protes Davendra. Meesa dan Davendra pergi mengambil sepeda mereka. Sedangkan Gavesha harus memompa sepedanya terlebih dahulu karena banya kempes. Meesa membantu Gavesha memompa sepeda gadis berambut sepunggung itu. Baru setelah itu keduanya menjemput Davendra yang ada di blok depan. “Sumpah gue baru segini aja ngos-ngosan,” keluh Gavesha yang mengayuh sepedanya. “Hahaha. Lo udah lama gak olahraga sih.” “Iya sih. Biasanya selalu naik motor sama Davendra.” Mereka berhenti di depan rumah Davendra yang ternyata sudah siap dengan sepedanya. Hanya saja mereka juga melihat Nalendra yang juga siap dengan sepedanya. “Ngapain tuh bocah ikutan?” sinis Gavesha pada Nalendra. “Dia mau ikut kita cari makan,” jawab Davendra santai. “Ngapa lo! Gak suka!” tantang Nalendra. “Jelas! Buat gue udah gak nafsu aja.” “Udah-udah. Kok kalian malah berantem sih,” tengah Meesa. “Nah. Udah ayo kita cari makan. Udah laper banget gue,” tukas Davendra. Mereka berempat bersepeda dengan santai. Mereka tidak egois untuk mengambil posisi beriringan. Meski jalanan komplek nampak sepi, takut-takut ada mobil lewat dan membuat mereka bingung. “Makan dimana nih?” tanya Nalendra yang berada di belakang sendiri. “Gimana kalau cafe yang ada di Jalan Surryakanta?” usul Meesa. “Boleh. Katanya juga tempatnya bagus makananya juga enak-enak,” timbrung Davendra menyetujui. “Kalau gitu ayo ke sana.” Mereka berempat kembali melanjutkan bersepedanya. Lima menit kemudian mereka sampai di cafe tersebut. Siang ini cafe tersebut nampak ramai dengan anak-anak muda seusia mereka maupun anak-anak SMA lainya. Mereka berempat memilih tempat duduk di tengah karena memang hanya itu yang terlihat kosong dan cukup untuk mereka. Seorang pelayan datang, membawakan menu cafe tersebut. “Spagetti carbonara sama millo float,” ujar Meesa memesan makanan. “Saya samain aja sama dia,” ucap Nalendra santai. “Saya ... chiken chrunstick, minumnya coffecado,” ucap Davendra memberikan daftar menu ke Gavesha. “Saya nasi paprika minumnya orange juice,” pesan Gavesha memberikan menu tersebut ke pelayan. “Baik, Kak. Di tunggu sebentar ya pesananya.” “Iya, terima kasih.” Sementara pelayan tersebut menyiapkan pesanan mereka. Mereka mengobrol ringan. Gavesha sibuk menginstastory kan cafe tersebut yang memang instagramable. Sedangkan Meesa hanya tersenyum ketika kamera Gavesha di arahkan ke dia. “Davendra, say hii, Bestie!” “Hai,” balas Davendra datar. “Meesa Meesa!” “Haiii ...,” sapa Meesa begitu antusias menghargai Gavesha. “Jangan lupa repost ya, Sa.” “Iya, Gave.” “Pansos mulu kerjaan lo,” cibir Nalendra. “Diem lo kutil.” “Sa, kok lo betah sih temenan sama dia. Apa gak tekanan batin lo? Kalau lo mau nyerah, lambaikan tangan di kamera,” celetuk Nalendra mengibarkan bendera perang. “Hahaha, jangan gitu kali, Nale. Lihat tuh Gavesha kembang kempis kesal.” “Hahaha.” Nalendra tertawa puas berhasil membuat Gavesha kesal. Gavesha memberikan jari tengahnya di depan wajah Nalendra. Kedua bola mata nya melotot seakan mengancam Nalendra. “Lo pulang lewat mana hah!” “Udah sih. Kalian ribut mulu, bosen gue lihatnya,” protes Davendra. Gavesha dan Nalendra nampak sedikit lebih tenang. Mereka akhirnya lebih akur walau masih suka berdebat. Makanan mereka datang. Baru saja Gavesha hendak memfoto makananya namun Nalendra kembali mengecohkanya. Dengan sengaja Nalendra mengobrak-abrik makanan milik Gavesha. “Nalendra!” “Hahahahaha.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN