Part 64

1113 Kata
“Lavanya,” panggil Denallie saat melihat Meesa tengah duduk santai di taman belakang. Meesa yang mendengar suara Denallie pun langsung membalikan badanya untuk memastikan. Ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Denallie yang berada di ambang pintu belakang. “Nenek? Nenek kok di sini? Bukanya Nenek lagi sakit?” “Nenek udah baik-baik saja, Sayang. Nenek rindu banget sama kamu. Gimana sekolahnya?” “Alhamdulillah lancar, Nek. Minggu depan Lava try out pertama.” Denallie membelai rambut sebahu itu lembut. Kemudian dia menepuk pahanya menyuruh Meesa untuk tiduran di pahannya. Meesa menurut, ia menjadi paha Denallie sebagai bantalan. Sangat nyaman sekali, di tambah tangan yang mulai mengeriput itu membelai rambutnya lembut. “Abis ini kamu mau SMA ya?” “Iya, Nek. Lava gak sabar banget jadi anak SMA. Katanya masa-masa SMA itu adalah masa-masa paling indah seumur hidup,” ucap Meesa lugu. Denallie terkekeh ringan. “Iya. Dulu Nenek ketemu Kakek juga pas SMA.” “Oh ya? Gimana ceritanya? Ceritain dong, Nek,” pinta Meesa. “Dulu Kakek kamu itu murid terbadung di SMA nya Nenek. Kerjaanya bolos dan buat masalah sama guru. Pokoknya nakal banget.” Meesa tertawa membayangkanya. “Terus Nenek?” “Nenek kebalikan sifat dari Kakek kamu. Kita ketemu waktu itu Nenek kebetulan lagi telat, Kakek kamu juga telat. Kakek yang bantuin Nenek untuk masuk ke sekolah yang gerbangnya udah di tutup. Tapi sayangnya kita ketahuan. Karena Nenek sebelumnya gak ada masalah apapun di sekolah, jadi Nenek di biarin masuk kelas.” “Tapi Kakek kamu di hukum. Waktu itu Nenek bilang ke guru Nenek. Kalau Kakek kamu di hukum berarti Nenek juga harus di hukum. Kan kita sama-sama telat. Nah sejak saat itu Nenek deket sama Kakek kamu,” sambung Denallie menceritakan masa-masa empat dekade lebih itu. “Hahaha, seru banget ya, Nek kayanya?” “Ya gitu.” Denallie masih membelai surai sebahu itu. Ia benar-benar sayang pada Meesa. Melebihi apapun, apalagi mengingat bagaimana tegarnya gadis itu. “Lavanya,” panggil Denallie lembut. “Iya, Nek?” “Kamu tidak harus menutupi semuanya dari Ayahmu. Kamu boleh mengadukan semuanya,” ujar Denallie. Meesa menggeleng lemah. “Lava gak papa, Nek. Kalau Lava ngadu ke Ayah yang ada nanti suasana rumah ini makin runyam. Maafin Lava ya, Nek. Gara-gara Lava, rumah ini selalu aja ada masalah.” “Ini semua bukan salah kamu, Lavanya.” “Nek, boleh ceritain sebenarnya apa yang terjadi?” Sejujurnya Meesa sangat penasaran. Apa alasan Atreya dan yang lainya begitu membencinya. Denallie tersenyum manis, ia menatap mata belo yang sedari tadi menatapnya teduh. “Waktu itu kondisi ekonomi kami lagi berada di titik terendah. Namun ada orang baik yang ingin menolong kami. Dengan syarat Ayah kamu harus menikahi anaknya. Namun Ayah kamu menolak. Karena memang saat itu Ayah kamu sudah memiliki Bunda kamu. Mereka akan menikah bulan depan.” “Tapi Kakek kamu justru memaksa Ayah kamu untuk menikahi anak dari teman Kakek itu. Padahal seluruh persiapan pernikahan Ayah dan Bunda kamu sudah hampir selesai. Jelas Ayah kamu menolak mentah-mentah permintaan Kakek kamu. Hingga akhirnya Ayah kamu memutuskan untuk menikah secara diam-diam dengan Bunda kamu.” Denallie menghela nafas sejenak. Iris coklatt terangnya menatap kedepan menerawang kejadian pedih belasan tahun silam. “Ayah kamu pulang membawa Bunda kamu yang sudah mengandung kamu. Kakek marah besar di tambah teman Kakek yang murka karena memang saat itu teman Kakek sudah menyuntikan dana yang cukup besar dalam usaha Kakek kamu. Kakek kamu di penjara karena tidak dapat mengembalikan dana yang temanya itu kasih.” “Keuangan keluarga kita benar-benar hancur. Agnia terpaksa tidak bisa lagi kuliah. Anwa juga tidak bisa lagi meneruskan pendidikan nya. Apalagi Kakek, tulang punggung keluarga di penjara,” terang Denallie. Meesa terdiam. Ia akhirnya paham apa alasan Atreya dan yang lainya begitu membencinya. “Maafin Lava ya, Nek.” “Ini bukan salah kamu, Sayang. Lagian semuanya juga sudah lewat. Itu juga berkat Bunda kamu. Lagian Nenek senang, apalagi tahu kalau Nenek punya cucu yang lucu kaya kamu.” Denallie mencubit pelan pipi gembul milik Meesa. Ia tidak ingin Meesa terlalu memikirkan masalah ini. “Kakek pasti sayang banget sama kamu. Cuman memang dia gengsi mengakuinya.” “Gengsi?” beo Meesa. “Iya. Dulu tuh Kakek kamu gengsi banget akuin kalau cinta sama Nenek. Tapi setiap Nenek deket sama cowok lain, Kakek kamu pasti marah ke Nenek.” Meesa tertawa renyah. “Hahaha, berarti Kakek sayang juga ya sama Meesa?” “Pasti dong, Sayang. Siapa sih yang gak sayang sama kamu. Masa ada orang yang tega benci sama cucu Nenek yang paling gemesin ini.” Meesa dan Denallie tertawa bersama.  *** Gavesha memutar-mutar pensilnya asal. Ia sedang tidak ada niat untuk belajar. Jadi saat ini ia tengah memainkan pensilnya sambil melamun. “Gavesha, kenapa kamu justru melamun? Kamu lupa minggu depan kamu ada try out? Jangan sampai nilai kamu turun apalagi nama kamu tidak dalam peringkat,” peringat Baasima yang baru saja masuk ke kamar Gavesha. Gavesha terlonjak kaget. “Iya, Pa.” “Belajar yang serius. Tidak ada waktu untuk main-main lagi.” “Iya, Pa. Maaf.” Baasima keluar dari kamar Gavesha. Saat ini Gavesha kembali sendirian. Jujur ia makin muak dan enggan untuk belajar. Entah kenapa rasanya sangat susah materi-materi di hadapanya ini masuk ke otaknya. “Ck, gue ajak Meesa sama Davendra kali ya. Bisa hilang akal gue kalau kaya gini.” Gavesha mengambil ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Ia menghubungi Meesa terlebih dahulu. Semoga saja gadis itu tidak sedang sibuk. “Hallo, Sa.” “Assalamu’alaikum, Gavesha. Ada apa?” tanya Meesa dari sebrang sana. “Wa’alaikumussalam. Lo lagi apa?” “Gak ngapa-ngapain sih. Lagi main piano aja.” “Kerumah gue sih. Ayo belajar bareng.” “Oke deh. Bentar ya, gue ambil buku dulu ke kamar.” “Oke sip. Gue tunggu.” Gavesha mematikan telfonya sebelah pihak. Kemudian ia menghubungi Davendra. “APASIH, GAVE!” teriak Davendra ngegas. Gavesha menjauhkan telfonya dari telinga. “Santai kali, Dave. Ngegas aja lo.” “Apasih? Gue lagi push rank. Gara-gara lo AFK nih gue,” kesal Davendra. Gavesha terkekeh. Ia membayangkan pasti saat ini muka Davendra sangat lucu saat kesal. “Lo mau ikut gak?” “Kemana?” “Gue sama Meesa mau belajar bareng.” “Belajar mulu hidup lo. Try out masih minggu depan aja,” cibir Davendra. “Yeeuu ... mau ikut gak?” “Otw.” Davendra mematikan telfon Gavesha secara sepihak. Gavesha misuh-misuh di buatnya.  “Dasar Davendra. Pantes aja jadi kembaran Nalendra. Sama-sama prik.” Setelah itu. Gavesha turun sebentar ke bawah. Ia ingin menyiapkan cemilan untuk kedua sahabatnya nanti. Rencananya ia ingin belajar di dekat kolam renang  saja biar fress.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN