“Dave! Lo fokus dong. Pertandingan udah lusa ini,” tegur Bram salah satu pemain volly.
Davendra mengangguk pelan.
“Sorry.”
“Lo ada apa sih, Dave? Gak biasanya permainan lo buruk?” tanya Avas menepuk pundak Davendra.
“Santai, gue gak papa.”
“Lo itu ketua tim ini. Kalaupun ada masalah pribadi, lo harus profesional kalau di lapangan,” peringat Bram.
“Iya, sorry ya. Gue akan main lebih serius lagi setelah ini.”
“Kita istirahat dulu aja,” usul Mike.
Seluruh anggota menyetujui. Jadilah saat ini kedua belas remaja laki-laki itu melipir ke tepi lapangan. Mereka menyelonjorkan kaki masing-masing dan meneguk air mineral yang di oper agar semuanya kebagian.
“Lo beneran gak papa, Dave? Lusa kita tanding lho. Kalau permainan lo kaya gini, kita bisa kalah,” ujar Avas yang duduk di samping Davendra.
“Gue gak papa santai. Cuman emang lagi gak fokus aja tadi.”
Davendra memijat pangkal hidungnya sejenak. Benar kata Bram. Biar bagaimana pun ia harus profesional ketika berada di lapangan. Davendra bangkit dari duduknya membuat beberapa orang yang ada di sana menyirit.
“Mau kemana lo?”
“Ke toilet bentar. Habis dari toilet kita latihan lagi,” tutur Davendra.
“Siap, Pak Ketu!”
Davendra berjalan santai di koridor lantai satu gedung dua. Karena memang lapangan volly dekat dengan gedung dua jadi dia memutuskan untuk ke toilet gedung dua saja. Namun saat berada di depan kelas delapan H ia mendapati gadis berambut sepunggung itu tengah berjalan santai sembari bersenandung.
“Meesa, baru selesai latihan piano ya?” tanya Davendra menghentikan langkahnya.
“Eh, Dave. Iya. Lo belum selesai latihan volly nya?”
“Belum. Lo pulang sama siapa?”
“Di jemput sama Pak Damar. Pak Damar udah di depan kok,” ujar Meesa membuat Davendra lega.
“Ya udah kalau gitu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa hubungi gue.”
“Iya, Dave. Lo semangat latihanya! Gue yakin lusa lo bisa bawa pulang piala,” tukas Meesa mengepalkan tanganya dan meninju udara memberi semangat untuk Davendra.
Senyum manis dengan lesung pipi di pipi Davendra tercetak sempura. Entah kenapa semangat dari Meesa benar-benar meningkatkan gairahnya untuk bersemangat latihan.
“Makasih ya.”
“Iya, gue duluan ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Langkah Meesa nampak begitu riang. Gadis itu memang selalu bersemangat sih. Laki-laki mana yang tidak gemas melihatnya. Apalagi kedua pipi tembem itu. Rasanya ingin sekali memakanya seperti bakpau.
“Thank’s, Sa. Lo bisa buat gue semangat dan lebih fokus lagi latihanya.”
Davendra bergegas ke kamar mandi kemudian ia kembali ke lapangan dengann wajah yang sumringah. Bahkan senyum manis itu tidak luntur dari paras tampanya.
“Dave, lo gak papa kan?” heran Avas yang bergidik ngeri.
Bukan apa-apa, tadi wajah Davendra nampak kusut dan tatapanya kosong seperti tidak berkonsentrasi. Bahkan saat latihan Davendra kerap kali melamun hingga membiarkan bola memasuki net mereka.
Namun saat kembali dari kamar mandi, Davendra nampak begitu sumringah seperti habis menang lotre. Avas ngeri jika tadi Davendra ketempelan ‘sesuatu’ di kamar mandi.
“Gak papa. Ayo latihan! Go! Go! Go!” seru Davendra semangat.
“Sumpah, gue agak ngeri sih. Lo ketempelan setan yang di mana? Katanya kamar mandi di lantai satu gedung dua emang berhantu,” ungkap Avas.
“Musyrik lo percaya gituan. Lagian kita tuh harus takut sama Allah, bukan hantu. Lagian gue yakin, yang ada hantu takut sama lo.”
Davendra terkekeh renyah, di setujui oleh rekan-rekan lainya dan mereka ikut tertawa juga.
“Enak aja lo. Udah ayo latihan.”
Permainan kedua Davendra benar-benar bagus seperti biasanya. Memang tidak di ragukan lagi kemampuan laki-laki itu. Jika tidak hebat mengapa ia bisa menjadi ketua tim volly SMP Nabastala.
“Gak buruk juga setan yang tempelin lo. Permainan lo bagus banget sore ini,” tukas Bram.
“Sekata-kata. Jangan percaya sama Avas, mana mungkin gue ketempelan.”
“Hahaha.”
Seusai latihan mereka membereskan sejenak lapangan volly tersebut. Mengembalikan bola di ruangan olahraga dan membuang botol-botol serta bungkus makanan mereka yang tersebar di tepi lapangan.
Davendra memakai hoodie berwarna merahnya. Kemudian ia memakai helm bogo yang ada nangkring di spion vespa putih miliknya. Sekolah sudah mulai sepi, karena hari sudah hampir magrib. Jadi saat ini parkiran pun bisa di hitung jari sepeda siapa yang masih ada.
“Besok kita emang libur latihanya. Jaga stamina kalian buat lusa. Jangan lupa juga jaga kesetahanya biar hari H kalian vit,” pesan Davendra yang duduk di atas motor vespanya.
“Terhura gue di perhatiin Davendra,” celetuk Avas yang di hadiahi lemparan kerikil oleh Davendra.
“Gue serius,” ucap Davendra ngegas.
“Hahaha, siap, Pak Ketu.”
“Lo juga, Dave. Jangan sampai lo kaya latihan pertama tadi,” peringat Bram yang memang wakil ketua tim volly SMP Nabastala.
“Santai.”
“Kalian hati-hati pulangnya, gue duluan.”
Davendra mulai melajukan motornya keluar dari pelataran SMP Nabastala. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Jalanan nampak ramai karena memang saat ini jam-jamnya macet pulang kantor.
Mengenai mengapa Davendra tidak ikut les juga, sebenarnya kemarin Meesa mengajaknya. Hanya saja karena ia harus latihan hingga petang membuat Davendra menunda dulu ikut les bersama Gavesha dan Meesa. Niatnya setelah pertandingan ia akan ikut daftar juga les di tempat Gavesha serta Meesa.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya Davendra sampai di rumahnya. Azan magrib pun sudah berkumandang. Ia memutuskan untuk segera mandi dan melaksanakan kewajibanya.
“Baru balik lo?” tanya Nalendra yang ia temui di anak tangga menuju kamar.
“Gak, udah dari setahun lalu,” sewot Davendra tidak santai.
“Yeeeuu ... sensi mulu lo.”
Davendra tidak menggubris Nalendra. Ia kembali ke kamarnya tidak lupa menguncinya agar malam ini Nalendra tidak mengacaukanya.
Seusai membersihkan badanya dan salat, Davendra tiduran dulu di kasur empuk miliknya. Ia bermain game online sejenak sebelum belajar untuk materi besok pagi.
Tok ... tok tok tok tok
Nalendra mengetuk pintu kamar Davendra dengan bruntal membuat Davendra mengeram kesal. Kembaranya satu itu memang kerap kali membuat masalah denganya. Davendra bangkit dari rebahanya untuk membukakan pintu dan menatap kesal ke Nalendra.
“Apaansih!”
“Bagi tugas matematika yang bab persamaan fungsi kuadrat. Kelas lo pasti udah kan?”
Davendra memutar bola matanya malas. Ia pikir ada apa.
“Ck, ambil aja sendiri di meja belajar. Jangan di berantakin!” peringat Davendra.
“Sip.”
Nalendra main nyelonong masuk begitu saja ke kamar Davendra.
“Avas cerita ke gue tadi. Katanya lo gak fokus pas latihan. Mikir apa lo? Meesa?” tebak Nalendra yang tengah mengobrak-abrik isi meja belajar Davendra.
“Gue bilang jangan di berantakin, Njing!” kesal Davendra saat Nalendra justru membuat meja belajarnya yang tadi tertata rapi saat ini begitu berserakan.
“Lagian mana sih buku matematika lo.”
“Tuh atas laptop. Mangkanya pake melek kalau cari barang tuh.”
Nalendra nyengir kuda.
“Beresin gak!” geram Davendra kesal.
“Hahaha, iya-iya.”
Nalendra merapikan kembali meja belajar Davendra. Namun setelah itu bukanya pergi, ia justru duduk di atas meja belajar Davendra dengan anteng.
“Bener hari ini lo gak fokus latihan gara-gara Meesa?” desak Nalendra karena tadi Davendra justru mengalihkan topik.
“Lo gak usah sok tau deh. Apa-apa Meesa.”
“Tapi kenyataankan?”
Nalendra menaik turunkan alisnya dengan tersenyum tengil yang terlihat begitu menyebalkan di mata Davendra.
Davendra bangkit dari tiduranya. Ia mendorong Nalendra agar keluar dari kamarnya.
“Sana lo pergi dari kamar gue. Ganggu orang istirahat aja,” usir Davendra.
“Dih, bener kan, Dave? Hahahaha, kalau lo beneran suka. Perjuangi lah! Keburu di embat sama Lal nanti lo nangis, jadi sadboy.”
“Perrrgiiii ....”
Davendra mendorong tubuh kembaranya itu agar keluar dari kamarnya. Nalendra begitu menjengkelkan, ia saja bingung bagaimana bisa laki-laki itu menjadi kembaranya. Cukup tekanan batin ia hidup selama ini satu atap dengan Nalendra. Ia bahkan bingung mengapa dulu ia bisa betah satu rahim dengan laki-laki itu.