Part 62

1291 Kata
Cakrawala sore ini nampak begitu terang. Sang baskara yang mulai meredup di ufuk barat menyiptakan semburat jingga yang begitu indah. Sehingga sandikala adiwarna itu menghiasi langkit kota metropolitan dengan teduh. Gadis berambut sebahu itu menuruni anak tangga dengan riang. Tas putih yang senada dengan dres selututnya ia cqangklot di punggung. Senyumnya sangat manis membentuk bulan sabit di parasnya yang ayu. “Mau kemana kamu sore-sore seperti ini, Lavanya? Main mulu pekerjaan kamu. Seperti anak yang tidak terdidik saja kerjaanya kelayapan. Apa ini yang ibumu didikan?” sinis Atreya yang tengah duduk di ruang tengah. Meesa menunduk takut-takut. Ia memainkan ujung jarinya yang mulai dingin. “Lavanya mau pergi les, Kek,” jawab Meesa jujur. Hari ini dia memang mulai les di tempat yang kemarin Gavesha mengajaknya. Atreya membanting koran ynag ada di tanganya dengan keras. Ia berdiri dari duduknya berjalan mendekati Meesa. “Las les las les, kamu hanya membuang-buang uang anak saya saja. Kalau bodoh, bodoh saja. Tidak perlu pakai les-les segala,” cerca Atreya begitu dingin dan tajam. “Jangan menangis! Muak saya apa-apa menangis. Dasar lemah dan tidak berguna. Sudah sana pergi, kalau perlu jangan kembali lagi kesini,” usir Atreya saat melihat kedua mata belo itu mulai berkaca-kaca. Atreya mendorong kuat tubuh Meesa hingga gadis itu hampir saja tersungkur jika tidak siap. “Lavanya pamit ya, Kek. Assalamu’alaikum.” Baru saja Meesa hendak menyalimi tangan Atreya, Atreya justru menampar pipi Meesa dengan keras. “Tidak sudi tangan suci saya kamu pegang. Sana cepat kamu pergi.” Meesa mengangguk lemas. Ia menunduk berjalan keluar. Namun suara pekikan Denallie membuat langkahnya terhenti. “Mas! Cukup jangan siksa Lavanya terus menerus atau aku akan adukan semua perbuatan mu ke Jayendra.” “Aku tidak peduli. Justru bagus jika Jayendra tau, aku bisa membunuh anak sialanya itu langsung di depanya.” “Jangan keterlaluan kamu, Mas!” “Sudah Denallie, lama-lama aku muak juga sama kamu. Jangan salahkan jika aku lebih memilih Shreya dari pada dirimu,” ucap Atreya tegas. “Sudah, Nek. Lava tidak apa-apa. Nenek jangan buat Kakek marah ya. Lava mau berangkat les dulu,” ucap Meesa menengahi keduanya. “Mana yang sakit, Sayang?” khawatir Denallie memeriksa paras ayu Meesa. “Lava tidak apa-apa, Nek. Lava pamit ya, Lava sudah terlambat,” tutur Meesa lembut. “Hati-hati kalau gitu. Jangan lupa salat ya,” pesan Denallie mencium pipi gembul milik Meesa. “Iya, Nek. Assalamu’alaikum.” Meesa menyalimi tangan Denallie. Kemudian ia sedikit menunduk saat Denallie hendak mencium keningnya. “Belajar yang semangat ya, Sayang.” “Terima kasih, Nek.” “Sama-sama, Lavanya.” Meesa berangkat ke tempat les di antar Pak Damar. Gavesha pun ikut bersamanya, jadi saat ini keduanya berangkat bersama di antar oleh Pak Damar. Mobil alphard berwarna hitam itu berhenti di depan gerbang rumah milih Gavesha. “Pak Damar tunggu sebentar ya, Meesa mau panggil Gavesha dulu.” “Iya, Non.” Meesa masuk ke dalam rumah Gavesha langsung karena satpam rumah Gavesha sudah membuka pagarnya. Tok ... tok ... tok .... “Assalamu’alaikum, Gavesha ... Gavesha ....” “Wa’alaikumussalam, udah siap, Sa?” tanya Gavesha yang sudah siap dengan style casual. “Ayo!” Mereka berdua berjalan ke mobil Meesa untuk segera berangkat. “Gue gak perlu izin ke Tante Xena?” tanya Meesa tidak enak. “Mama lagi keluar. Gue udah bilang kok kalau gue bakal berangkat sama lo,” jawab Gavesha enteng. “Ooh gitu.” *** Saat ini jarum jam menunjukan pukul setengah tujuh malam. Kedua gadis cantik itu telah melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslimah. Saat ini istirahat masih ada sisa tiga puluh menit lagi. “Eh, Sa. Gue tau tempat jajanan street food yang enak-enak di dekat sini. Gimana kalau kita pergi ke sana sekalian cari pengganjal perut. Udah laper banget nih gue,” rengek Gavesha memegang perutnya yang rata. “Hahaha, tapi kita taruh mukenah dulu. Sekalian gue ambil dompet yang di tas,” kekeh Meesa. “Siap, Bestie!” Gavesha dan Meesa pergi ke kelas mereka. Setelah itu keduanya berjalan sekitar seratus meter untuk ke tempat jajanan street food yang tadi di bicarakan oleh Gavesha. Benar saja di sana ada banyak sekali penjual jajanan receh. “Lo mau beli apa?” tanya Gavesha. “Apa ya, banyak banget yang jual sampe bingung, hahaha.” “Hahaha iya, gue mau beli semua rasanya.” “Emang bakal habis?” “Lo raguin kemampuan makan gue?” “Hahaha, iya-iya. Tapi ya gak beli semua juga. Emm ... gue mau beli es krim itu deh,” tunjuk Meesa pada penjual es krim gerobakan. Gavesha merotasikan bola matanya malas. “Lo gak di mana-mana es krim mulu.” “Hahaha, ayo!” Gavesha menurut. Ia membeli cilor yang kebetulan penjualnya berada di samping es krim yang Meesa beli. Kemudian keduanya berjalan-jalan membeli beberapa makanan dan minuman. Setelah melihat jam di jam tangan Meesa yang sudah menunjukan hampir jam tujuh malam. Keduanya memutuskan untuk kembali ke tempat les. Jadilah saat ini keduanya memakan jajanan mereka di kelas. Satu kelas hanya berisi delapan orang. Kebetulan juga Meesa langsung akrab dengan mereka. “Meesa, lo beneran pacarnya Lal?” tanya gadis berkuncir kuda yang tadi Meesa berkenalan denganya. “Nggak, kami sahabatan aja. Kaya gue sama Gavesha,” balas Meesa enteng. Meesa juga di sini menggunakan logat lo-gue atas perintah Gavesha. Agar gadis itu tidak terlalu kaku katanya. “Masa sih cuman temenan aja.” “Hahaha, iya. Kenapa emangnya?” “Enggak, hubungan lo sama dia udah kesebar luas tau.” “Hoax itu.” “Lo kenal Lal?” heran Gavesha pasalnya gadis itu bukan dari SMP Nabastala. “Siapa sih yang gak kenal Lal? Lagian dia juga les di tempat ini, dia anak kelas Baskara.” “Oh ya?” “Iya, dia udah dari kelas tujuh kali les di sini. Setiap try out selalu dia yang jadi juara pertama.” “Waw.” Saat ini Meesa hanya menyimak pembiacraan mereka. Ia tidak tertarik untuk mengghibah. Meski Gavesha bilang, mereka itu tidak sedang mengghibah. Melainkan mereka tengah melakukan observasi mengenai kisah seseorang.     “Selamat malam, Anak-Anak. Kalian siap untuk pelajaran selanjutnya?” salam Pak Abhra guru les mata pelajaran Fisika. “Selamat malam, Pak Abhra. Siap dong!” jawab mereka serempak. Ya untuk pelajaran IPA terpadu di sini memang sudah di pisah-pisah. Hal itu di lakukan untuk persiapan mereka yang ingin memasuki kelas IPA di SMA nantinya. Pelajaran malam ini berakhir di jam delapan malam. Gavesha pulang di jemput oleh Baasima, begitupun Meesa, Jayendralah yang menjemputnya malam ini. Jayendra memang sengaja untuk semua waktu luangnya akan ia gunakan untuk bersama keluarga terutama putri kesayanganya tersebut. “Selamat malam, Putri Kesayangan Ayah. Gimana lesnya malam ini?” ucap Jayendra saat Meesa duduk di sampingnya. “Assalamu’alaikum, Ayah. Selamat malam juga. Seru banget! Gurunya baik-baik, Meesa juga jadi punya teman dari sekolah lain. Oh ya tadi pas istirahat Gavesha ajak Meesa belanja di jajanan street food gitu. Meesa jadi ingat waktu di Semarang biasanya Ayah dan Bunda ajak Meesa ke sana kalau malam minggu,” cerita Meesa begitu antusias. “Wa’alaikumussalam, Sayang. Oh ya? Yang jual banyak juga kaya waktu di Semarang?” timpal Jayendra yang juga antusias mendengar cerita Meesa. “Banyak banget! Mees sampai bingung mau beli apa tadi.” “Jadi tadi kamu beli apa?” “Tadi beli es krim, telur gulung, sama cilok.” “Kamu lapar sekarang?” “Emmm ... iya sih.” Jayendra terkekeh. “Kamu mau Ayah belikan apa mumpung kita belum masuk ke komplek?” “Meesa mau makan di rumah aja, Yah. Mau makan masakan Nenek.” Meesa menyengir kuda membuat Jayendra gemas. Anaknya itu memang selalu sederhana padahal ia tidak masalah jika Meesa ingin apapun. “Ya sudah, kita langsung pulang ya.” “Iya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN