“Assalamu’alaikum, Gavesha pulang,” salam Gavesha lesu saat memasuki rumahnya.
Saat ini jarum jam telah menunjukan pukul delapan malam. Dan dia baru saja pulang dari les. Demi apapun seluruh badanya rasanya remuk semua.
“Wa’alaikumussalam. Gimana les nya? Lancar?” tanya Baasima yang telah menunggu Gavesha di ruang tamu.
Gavesha berjalan ke arah Baasima untuk menyalimi laki-laki itu.
“Lancar, Pah.”
“Gavesha, sudah pulang? Bersih-bersih dulu sana, Mama sudah siapin makan malam buat kamu,” ujar Xena.
“Iya, Ma.”
Gavesha bergegas pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih. Namun rasanya sangat malas. Ia memutuskan untuk tiduran dulu di kasur merebahkan badanya yang terasa patah semua.
“Sumpah, rasanya patah semua tulang gue,” keluhnya.
Gavesha mengeluarkan ponselnya dari celana abu-abu yang ia kenakan. Ada beberapa notifikasi dan yang paling menarik adalah notifikasi dari Meesa.
Meesayang
[06.45 PM] Gavesha, gue udah izin ke Ayah.
kata Ayah boleh. Besok kalau Bunda pulang
bakal di daftarin.
Membaca pesan singkat dari Meesa tersebut seketika membuat pegal-pegal yang tadi Gavesha rasanya hilang. Setidaknya nanti jika ada Meesa ia jadi ada sedikit hiburan dan santai. Sepulang dari tempat les ia juga bisa pergi ke Jalan Mataram tempat jajanan-jajanan pinggir jalan berkumpul. Meesa pasti senang jika di ajak ke sana.
Setelah membalas pesan Meesa, Gavesha bergegas untuk mandi dan makan malam. Ia hampir saja lupa jika besok ada ujian lisan agama jika Meesa tidak mengingatkanya lagi. Jadi setelah makan nanti ia akan pergi menghafal untuk ujianya besok.
Gadis berambut sepunggung itu mengenakan baju santainya tengah menuruni anak tangga. Ia membuka keramik wadah yang berisi menu makan malam hari ini. Setelah itu ia pergi mengambil piring untuk segera makan. Sebenarnya tadi ia ingin makan malam di luar saja.
Hanya saja tubuhnya pegal semua sehingga dia memilih untuk makan di rumah saja. Gavesha memakan makan malamnya sendirian. Karena tidak ingin melamun, ia makan sembari menonton salah satu chanel youtube foodbloger yang terkenal.
Setelah sepuluh menit kemudian ia telah menyelesaikan makan malamnya dan bergegas pergi ke kamar kembali.
“Jangan lupa belajar kembali. Meski kamu sudah les tetap saja kamu harus mempelajari pelajaran untuk jadwal besok,” peringat Baasima saat Gavesha hendak pergi ke kamar.
“Iya, Pa. Ini aku mau belajar buat ujian lisan besok.”
“Besok ada ujian?”
“Iya, Pa.”
“Belajarlah dengan serius agar besok ujianya lancar.”
“Iya, Pa.”
Gavesha berjalan menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar ia menyiapkan beberapa buku untuk ujian besok. Ia tersenyum saat ada notifikasi dari Meesa yang memotret buku catatan gadis itu. Meesa memang yang terbaik untuk dirinya. Gadis lugu itu selalu membantunya dan membuat pekerjaanya menjadi lebih mudah.
Gavesha menyalin cacatatan yang baru saja di berikan oleh Meesa. Kemudian ia beranjak dari meja belajar menuju balkon untuk pergi menghafalkan di sana. Kebiasaan lama Gavesha memang dia selalu menghafal di balkon dan melihat langit malam yang begitu indah di taburi bintang.
“Gavesha?” panggil Xena yang membawakan segelas s**u hangat untuk Gavesha.
“Gavesha di balkon, Ma,” seru Gavesha dari balkon.
Xena masuk ke dalam kamar milik Gavesha. Ia menaruh segelas s**u vanilla itu di meja yang ada di balkon.
“Terima kasih, Ma.”
“Sama-sama. Ya sudah Mama tinggal. Semangat belajarnya!”
“Iya, Ma.”
Gavesha tersenyum manis. Setidaknya Xena selalu menyemangatinya. Setelah Xena meninggalkanya, Gavesha menyesap sedikit s**u yang Xena berikan. Kemudian dia lanjut menghafal hingga jam sepuluh malam.
Kedua mata Gavesha sudah terasa memberat. Ia meneguk habis s**u vanilla itu dan membawa gelasnya masuk. Sebelum pergi tidur, ia terlebih dahulu menyiapkan jadwal pelajaranya. Agar besok pagi ia tidak ada yang ketinggalan.
Ia mematikan sklar lampu utama kamarnya, membiarkan hanya lampu tidur di samping nakasnya yang menyala. Setelah menyetel alarm nya di jam lima subuh, ia mulai terlelap dalam mimpinya.
***
“Lo berangkat sama Gavesha hari ini?” tanya Nalendra dengan mulut yang di penuhi oleh shanwich buatan Fyneen, ibu si kembar.
“Hm.”
“Lo suka sama Meesa, nempelnya sama Gavesha. Gimana hubungan kalian gak stuck jalan di tempat,” cibir Nalendra.
“Bacot lo,” umpat Davendra kesal.
“Davendra, Nalendra, jangan bertengkar di meja makan,” peringat Fyneen.
“Nalendra tuh cuman ingetin dia aja, Bun. Lagian masa Davendra suka sama cewek tapi gak berjuang sama sekali. Kan Nalendra greget,” celoteh Nalendra ember.
“Davendra emang suka sama siapa, Nale?”
“Bunda gak tau? Bunda tau Meesa kan?”
“Anaknya Pak Jayendra yang tinggal di Blok F itu?” tebak Hirawan.
“Iya, Yah! Friendzone dia.”
“Lo diem deh. Lemes banget mulut lo,” sungut Davendra kesal.
“Bunda pikir kamu suka sama Gavesha. Eh ternyata Meesa.”
“Apasih, Bun. Jangan di dengerin, Nalendra suka ngaco,” kilah Davendra.
“Gak papa sih kalau Ayah. Gavesha ataupun Meesa. Meesa kan anak baik-baik juga, kita juga kenal keluarganya,” timbrung Hirawan.
“Davendra gak ada apa-apa sama Meesa, Yah. Kita cuman sahabatan sama kaya Davendra ke Gavesha.”
“Sahabat apa sahabat?” goda Nalendra menaikk turunkan alisnya.
“Sahabat.”
“Terus waktu lo cerita ke gue, ketemu cewek yang gak sengaja lo tabrak di depan komplek? Katanya lo suka sama dia,” sindir Nalendra mengingatkan Davendra tentang kejadian beberapa bulan lalu.
Davendra memutar bola matanya malas. Ia bergegas menyelesaikan sarapanya segera agar bisa segera berangkat ke sekolah.
“Yah, Bun, Dave berangkat,” pamit Davendra menyalimi tangan Fyneen dan Hirawan.
“Kenapa buru-buru banget?” heran Fyneen.
“Ada piket.”
“Assalamu’alaikum,” lanjut Davendra memberikan salam.
“Wa’alaikumussalam.”
Davendra memanaskan motornya sejenak. Setelah itu dia pergi ke blok F untuk menjemputt Gavesha.Saat ini jarum jam memang masih menunjukan pukul enam lebih empat puluh lima menit. Wajar jika sepertinya Gavesha belum siap. Davendra harus menunggu Gavesha sarapan dulu pagi ini.
“Kamu gak sarapan sekalian, Dave?” tanya Xena.
“Dave udah sarapan tadi di rumah, Tante,” balas Davendra.
“Biasanya juga lo sarapan dua kali,” cibir Gavesha.
“Diem lo!”
Xena hanya geleng-geleng melihat keduanya. Ia sangat mengenal Davendra. Karena laki-laki itu adalah teman satu-satunya yang Gavesha punya dulu. Davendra dulu juga sering menginap di sini. Baasima bahkan menganggap Davendra seperti anaknya sendiri karena memang sebetulnya ia menginginkan anak laki-laki.
“Om Sima udah berangkat ke kantor ya, Tan?”
“Iya, akhir-akhir ini memang suka lembur dan berangkat pagi,” ballas Xena.
“Kalau Kak Meera?”
“Meera masih di kamarnya. Paling-paling dia sarapan kalau mau ke kampus nanti.”
Davendra mengangguk mengerti. Setelah lima menit kemudian akhirnya Gavesha menyelesaikan makanya. Gavesha memakai sepatunya terlebih dahulu baru setelah itu mereka berangkat ke sekolah.
“Hati-hati ya. Davendra, jangan ngebut ya,” ucap Xena.
“Siap, Tante!”