Part 60

1392 Kata
Gadis berambut sebahu itu baru saja keluar dari mobil yang di kemudikan oleh Damar untuk menjemputnya tadi. Ia berjalan riang memasuki rumah dengan senyum yang lebar seperti biasanya. Namun saat berada di ambang pintu utama rumah megah itu senyumnya pudar. “Mas! Apa kurangnya aku? Kita sudah menikah empat puluh tahun dan kamu khianati begitu saja,” sentak Denallie menuntut Atreya. “Aku sudah tidak mencintai mu sejak sepuluh tahun lalu. Aku muak karena kamu terus membela Elakshi. Shreya datang menghiburku dan dia selalu mendukungku. Tidak seperti dirimu yang selalu membangkang,” urai Atreya dengan nada yang tak kalah tinggi juga. “Astagfirullah. Berapa kali aku ingatkan. Hentikann dendam tidak berguna itu, Mas. Lagi pula saat ini kehidupan kita juga lebih dari cukup.” “Tidak bisa. Aku masih begitu ingat bagaimana dinginya penjara karena Jayendra lebih memilih Elakshi ketimbang gadis pilihan ku,” tolak Atreya tegas. Mata coklat tua itu bertubrukan dengan mata belo milik Meesa. Ia bergegas mendekati gadis itu dan menariknya dengan kasar. “Kalau kau masih terus menyalahkan ku. Jangan harap dia bisa hidup tenang,” tuding Atreya yang mencengkram leher Meesa erat. “Arrghh ... maafin Meesa, Kek. Tolong lepasin,” rintih Meesa yang mulai kehabisan nafasnya. “Kamu lihat, keluarga saya jadi berantakan karena ulah ibumu!” tuduh Atreya yang semakin menguatkan cengkramanya. “Mas! Cukup, lepasin Lavanya. Dia tidak salah apapun, Mas!” titah Denallie. Atreya menghempaskan tubuh Meesa dengan kuat. “Ini yang mmebuatku semakin muak dengan mu. Bela saja terus cucu kesayangan mu yang tidak berguna ini. Sudah aku ingin pergi dan jangan berharap aku pulang.” “Mas! Mas! Mas jangan pergi! MAS!” Denallie berteriak hendak mengejar Atreya yang sudah menaiki mobil sedan hitam miliknya. Kaivan yang sedari tadi hanya memperhatikan pertengkaran itu dari anak tangga saat ini berlari menyusul Denallie. “Sudah, Bu. Jangan seperti ini, Ayah pasti pulang,” ucap Kaivan menenangkan Denallie. “Hiks ... Ayah kamu tega sekali menghianati pernikahan Ibu. Sudah empat puluh tahun kita menikah, kenapa dia begitu tega menghianati Ibu,” isak Denallie dalam pelukan Kaivan. “Ibu tenang, Ayah tidak mungkin meninggalkan Ibu. Ayah sangat sayang dengan Ibu.” Meesa bangkit dari posisi tersungkurnya yang tadi di sebabkan oleh Atreya. Ia mendekati Denallie dan hendak memeluk Denallie untuk menenangkan sang nenek. Namun saat Meesa hendak memeluk Denallie, Kaivan menyentakann tanganya. “Puas lo! Gara-gara lo keluarga gue hancur. Lo emang pembawa sial di keluarga ini,” pedas Kaivan membentak Meesa. “Ma-maaf, Kak.” “Maaf-maaf. Lo pikir dengan lo minta maaf bisa kembaliin keluarga gue yang utuh kaya dulu lagi? Lo emang pembawa sial, gak pantes untuk hidup. Jijik gue lihat lo. Pergi lo dari sini. Muak gue sama lo,” cecar Kaivan sinis. “Kaivan, jangan seperti itu. Ini Bukan salah Lava,” bela Denallie. “Ibu jangan terus-terusan membela dia. Ini memang kesalahan dia,” debat Kaivan tak terima. “Kaivan, jangan seperti ini. Sekarang antarkan Ibu ke kamar saja,” titah Denallie. “Baik, Bu.” “Lava, kamu bersih-bersih sana. Nenek sudah menyiapkan makan siang untuk kamu. Setelah membersihkan diri kamu, langsung turun untuk makan ya, Sayang,” ujar Denallie begitu lembut pada Meesa. “Iya, Nek. Nenek jangan sedih lagi ya?” “Iya, Sayang.” Kaivan membawa Denallie ke kamar. Sementara itu ketika Meesa hendak pergi ke kamarnya. Ia di hadang oleh Anwa yang ada di lantai dua. “Kamu itu memang pembawa masalah. Rumah ini sangat damai sebelum kamu datang. Semenjak kamu datang selalu saja ada masalah di rumah ini. Memang ada baiknya kamu pergi saja dari sini sebelum membawa malapetaka yang lebih besar,” sinis Anwa. “Ma-maf, Tante.” “Kamu itu sama aja seperti ibu mu. Sama-sama pembawa sial untuk keluarga ini. Heran kenapa Ibu masih menerima ibumu dan dirimu di rumah ini. Kalau saja bukan karena Ibu, sudah saya seret kamu dan ibumu pergi dari rumah ini sejak dulu.” Meesa menunduk takut. Meski Anwa jarang bermain fisik denganya namun perkataan pedas Anwa sangat menyakitinya. “Gak usah sok paling tersakiti deh. Kamu pikir dengan menangis saya akan kasihan? Pergi sana ke kamar. Muak saya lihat muka kamu. Satu lagi, jangan harap kamu bisa makan hari ini. Makanan yang telah Ibu saya siapkan itu untuk Radhika saja,” sergah Anwa. “Iya, Tante.” Meesa menaiki anak tangga untuk pergi ke lantai tiga. Ia mengunci pintu kamarnya takut-takut nanti Kaivan datang dan menghajarnya, lagi. Seusai melepas sepatunya, Meesa merangkak naik ke tempat tidurnya tanpa mengganti seragam sekolahnya. Ia menangis, jujur ia takut namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Jika Meesa mengadukan ini ke Jayendra atau Elakshi, yang ada suasana rumah ini akan semakin panas dan runyam. Ia juga tidak berani untuk bercerita ke siapapun. Apalagi Gavesha atau Davendra. Yang ada mereka nanti akan mengadukan ke Jayendra. Meesa menaikan rok nya sampai paha. Di sana banyak sekali luka. Ini semua luka yang di beri Agnia dan Kaivan. Kedua orang itu selalu menyiksanya untuk meluapkan amarah mereka. “Hiks ... ya Allah, Meesa harus gimana? Hiks ... ya Allah, Meesa harus apa?” rintih Meesa tidak tahu harus bagaimana. Meesa memeluk dirinya sendiri. Ia sangat takut. Biasanya Denallie yang selalu memeluknya. Namun saat ini kondisi Denallie tidak memungkinkan untuk memeluknya. “Ya Allah, apa Meesa salah? Meesa harus gimana biar Kakek, Kak Kaivan, Tante Agnia, dan Tante Anwa maafin Meesa. Hiks ... hiks ... hiks ....” Tangisan Meesa berhenti saat ponselnya berdering. Sebuah panggilan telfon masuk, ternyata itu adalah panggilan dari Jayendra. “Assalamu’alaikum, Putri Cantik Ayah,” salam Jayendra dari sebrang sana. “Wa’alaikumussalam, Ayah,” jawab Meesa dengan suara seraknya. Meesa sudah berusaha untuk terlihat tidak sehabis menangis. Namun tetap saja suaranya begitu kentara seperti habis menangis. “Putri Cantik Ayah kenapa? Kok suaranya serak begitu. Kamu sakit, Sayang?” “Meesa sakit, Mas?” sela Elakshi. Meesa terkekeh sebentar. Ia berusaha menenangkan dirinya untuk mencari alasan agar tidak ketahuan habis menangis. “Meesa baik-baik aja, Bun, Yah. Ini tadi Meesa habis lihat film. Ceritanya sedih banget, eh Meesa kebawa suasananya.” Terderan suara gelak tawa dari Jayendra maupun Elakshi dari sebrang sana. Mereka tahu jika Meesa memang gemar menonton film dan sudah biasa hati lembut Meesa pasti akan terbawa suasana. “Ya Allah, Sayang. Ayah pikir kamu kenapa. Gimana kabar kamu?” “Alhamdulillah, Meesa baik kok, Yah. Ayah sama Bunda baik juga kan?” “Iya, Sayang. Bunda rinnduuu banget sama kamu,” balas Elakshi antusias. “Hehehe, kalau rindu cepet pulang dong.” “Inn syaa Allah besok Ayah sama Bunda pulang.” “Alhamdulillah. Hati-hati ya, Yah, Bun.” “Kamu mau apa, Sayang?”  tanya Elakshi menawarkan Meesa jika ingin oleh-oleh sesuatu dari Malang. “Meesa mau Ayah sama Bunda pulang cepet, hehehe.” “Kamu gak mau sesuatu?” “Yang terpenting Ayah sama Bunda nanti pulang dalam keadaan sehat tidak kurang satu apapun. Itu udah lebih dari cukup buat Meesa,” balas Meesa. “Masyaallah. Ya sudah. Kamu sudah makan atau belum, Sayang?” “Su-sudah, Bun,” jawab Meesa sedikit gugup.  “Semuanya baik-baik aja kan, Sayang, di sana?” tanya Jayendra. “Iya, Yah. Oh ya, Yah. Ada yang mau Meesa bicarain sama Ayah.” “Apa, Sayang?” “Emm ... Gavesha tadi ngajakin Meesa buat les di Rumah Belajar Arumi. Yang ada di ruko Arumi itu lho, Yah. Katanya tempat lesnya bagus sama udah terkenal murid-muridnya nanti dapat nilai tinggi di ujian nasional dan di terima di SMA favorit,” cerita Meesa. “Kamu mau les di sana?” “Kalau Ayah sama Bunda bolehin sih.” “Asal itu tidak memberatkan kamu. Kan kamu di sekolah juga ada jam tambahan. Bunda serahkan ke kamu,” jawab Elakshi menyetujui. “Kalau Ayah, yang terpenting kamu jangan terlalu kecapekan dan lupa sama kewajiban kamu Ayah boleh-boleh aja,” jawab Jayendra. “Yeay! Jadi boleh?” “Boleh, Sayang.” “Besok kalau Bunda udah sampai di Jakarta, Bunda langsung daftarin.” “Terima kasih, Ayah, Bunda. Meesa sayang banget sama Ayah sama Bunda.” “Sama-sama, Sayang. Ayah juga sayang banget sama Meesa.” “Iya, Sayang. Bunda juga sayang banget sama Meesa.” “Ya udah, Sayang. Ayah tutup dulu ya. Jangan lupa kewajibanya, jangan keasyikan nonton film sampai lupa sama kewajibanya,” pesan Jayendra. “Siap, Ayah!” “Assalamu’alaikum, Sayang.” “Wa’alaikumussalam, Ayah, Bunda.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN