Pagi ini cuaca di kota metropolitan tersebut nampak mendung. Bahkan arunika pagi ini tidak terlihat. Gadis berambut sepunggung itu turun dari motor milik Davendra. Mereka memang kerap berangkat bersama ketika Baasima sedang ada urusan di pagi hari.
Gavesha merapikan rambutnya yang berantakan, kemudian dia memberikan helmnya ke Davendra. Mereka berdua berjalan beriringan hingga di depan gedung tiga mereka bertemu dengan Meesa.
“Meesa!” panggil Gavesha bersemangat.
“Pagi, Gavesha,” sapa balik Meesa.
“Yok ke kelas bareng,” ajak Gavesha menggandeng tangan Meesa.
“Ayo!”
Kedua gadis itu berjalan dengan riang dengan bergandengan tangan. Davendra yang di acuhkan hanya menghela nafas kasar. Jika kedua gadis itu bersatu pasti asik dengan dunia mereka sendiri. Jadilah saat ini Davendra mengikuti keduanya dari belakang. Ia seperti mengasuh dua bayi besar jika di lihat-lihat.
“Kenapa lo kaya bahagia banget hari ini?” tanya Meesa yang berdiri di samping Gavesha saat memasuki lift.
“Iya dong gue bahagia banget banget banget. Kan abis ini gue bakal bebas dari Nalendra,” seru Gavesha senang.
“Hahaha, hati-hati kangen lho.”
Gavesha menggeleng tegas. “Gak akan dan gak mungkin!”
“Hahaha.”
Mereka bertiga berjalan di koridor lantai lima yang nampak sepi. Ya memang jika di lihat koridor lantai lima itu paling sepi. Hanya beberapa yang berlalu lalang dan tidak ada mereka yang nongkrong di depan kelas seperti koridor lantai lainya. Kebanyakan murid yang menghuni koridor lantai lima lebih suka di kelas.
“Assalamu’alaikum,” salam Meesa memasuki kelas.
Kelas sembilan A1 itu nampak sudah di penuhi beberapa siswa dan siswi. Namun kelas terlihat sepi karena mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bisa di bilang sisi sosialitas di sini cukup rendah. Kebanyakan dari mereka lebih suka sendiri atau membentuk kelompok yang tidak lebih dari lima orang.
Namun bukan berarti sisi peduli mereka rendah. Rasa empati mereka masih begitu tinggi antara satu sama lain. Hanya saja mereka memilih untuk tidak peduli dalam hal yang tidak penting.
“Sa, lo bisa ajarin gue IPA bab tiga? Ada yang belum gue pahami,” pinta seorang laki-laki yang baru saja datang di meja Meesa.
“Iya boleh. Mana yang belum kamu pahami?” balas Meesa ramah.
Laki-laki bername tag Baga A. tersebut duduk di kursi yang ada di depan Meesa. Ia membuka buku paketnya dan mulai menanyakan materi yang belum ia pahami ke Meesa.
“Pewarisan sifat pada manusia itu bedasarkan gen dan kromosom. Benar, ‘kan?”
“Huum, iya.”
“Tolong jelasin yang tentang kromosom. Gue masih belum paham yang bagian kromosom,” pinta Baga.
Meesa mengangguk. Ia mengambil alih buku paket Baga. Kemudian dengan sabar dan rinci ia menjelaskan tiap detail materi yang Baga masih belum pahami.
“Pengertian kromosom sendiri kamu paham kan?”
“Yang bentuknya kaya kumpulan benang halus itu, ‘kan?” tebak Baga sedikit ragu.
“Iya benar. Kromosom dalam tubuh manusia itu ada 23 pasang, bisa dibedakan menjadi kromosom tubuh atau autosom dan kromosom kelamin atau gonosom. Autosom berfungsi untuk mengontrol sifat-sifat tubuh tapi tidak ikut menentukan jenis kelamin. Nah kalau gonosom fungsinya untuk menentukan jenis kelamin,” urai Meesa menjelaskan.
Baga menyimak dengan serius. Beberapa penjelasan yang mudah di pahami ia catat. Meesa pun menjelaskan pelan-pelan dan mendekte Baga ketika melihat laki-laki itu tengah mencatat. Sifat humble Meesa itulah yang membuat teman-teman sekelasnya begitu respect ke dia.
Meesa tidak pernah pelit untuk berbagi ilmu. Gadis itu akan dengan senang hati menjelaskan materi yang temanya tidak paham. Bahkan Meesa juga tidak masalah jika ia harus mengulangi keteranganya kembali jika temanya belum paham.
“Kamu udah paham?”
“Paham. Makasih ya.”
“Iya, sama-sama.”
Baga kembali ke tempat duduknya dan lima menit setelah itu bel masuk mulai berbunyi. Pelajaran pertama mereka adalah bahasa jerman. Meesa lebih banyak diam untuk kali ini. Sebenarnya ia sedang mengantuk sih. Semalam ia tidak bisa tidur.
***
“Sa.”
“Iya, Gave?”
Meesa menoleh ke arah Gavesha yang ada di sampingnya. Saat ini keduanya tengah duduk di kantin sambil menunggu Davendra yang memesankan makanan untuk mereka.
“Lo mau ikut gue les gak?” tawar Gavesha.
“Les? Dimana?”
“Di Rumah Belajar Arumi. Tempat les-lesan yang terkenal di ruko Arumi itu lho,” terang Gavesha.
“Lo les di sana? Sejak kapan?”
“Emm ... baru mulai minggu ini sih. Papa yang daftarin. Please, lo ikut les di sana ya. Biar gue ada temen,” rengeh Gavesha.
Meesa mengangguk. “Tapi gue bilang ke Ayah dulu nanti,” putus Meesa.
“Yeay! Makasih ya. Akhirnya gue gak kesepian nanti,” pekik Gavesha memeluk Meesa dari samping.
“Hahaha,” tawa Meesa ringan.
Davendra datang membawa nampan makan siang mereka. Meesa membantu Davendra yang nampak kesusahan. Setelah itu ketiganya mulai makan dengan beberapa obrolan ringan.
Ketiga sahabat itu menoleh saat melihat seorang laki-laki yang datang membawa makan siangnya.
“Gue boleh gabung?” tanya laki-laki itu.
“Iya, duduk aja,” jawab Meesa mempersilahkan.
Lal duduk di samping Davendra, hal itu yang membuat Davendra harus menggeser tempat duduknya terlebih dahulu. Jadilah saat ini meja mereka berisi empat orang yang menjadi center SMP Nabastala.
“Tumben lo sendiri, Shankara mana?” heran Davendra karena biasanya dimana ada Lal di sana akan ada Shankara.
“Gak tau,” acuh Lal mengedikan bahunya.
Tadi saat bel berbunyi Shankara memang buru-buru pergi entah kemana. Dia juga tidak peduli dengan hal itu.
“Gue cariin lo eh lo malah enak-enak makan di sini. Kurang ajar emang,” cecar Shankara yang panjang umur tiba-tiba datang saat baru saja Davendra menanyakanya.
“Oh.”
“Sabar, Shan. Anak baik gak boleh ngumpat, tapi sumpah lo ngeselin banget,” kesal Shankara menggerutu.
“Astagfirullah, istigfar, Shan. Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,” peringat Meesa pada Shankara.
“Astagfirullah. Berdosa sekali kamu wahai anak muda. Cepatlah bertaubat kamu,” timbrung Davendra.
“Astagfirullah,” istigfar Shankara.
“Habis dari mana lo?” tanya Davendra sambil menyeruput jus mangganya.
“Ruang kesiswaan. Terus gue balik ke kelas buat ngajak nih bocah ke kantin, eh taunya malah gue di tinggal ke kantin duluan. Tumben bener lo ke kantin tanpa gue,” cerocos Shankara.
“Ya udah pesen makan gih. Keburu masuk nanti,” peringat Gavesha.
Shankara melipir untuk mengantre membeli makanan. Lal hanya mengedikan bahu tidak memperdulikan Shankara yang terus mengumpatinya. Ia memakan makananya sembari menatap Meesa. Hal yang ia sukai menambah satu lagi, yakni menatap wajah Meesa. Entah mengapa tidak pernah bosan ia menatap wajah Meesa.
Setelah mengantre cukup lama akhirnya Shankara datang membawa sepiring nasi goreng, satu burger, satu wadah kentang goreng, dan milo float. Meesa dan Gavesha cukup tercengang melihat Shankara.
“Laper apa gimana, Shan?” tanya Meesa saat Shankara duduk di hadapanya.
“Laper banget!”
“Hahaha. Pelan-pelan, Shan. Jangan lupa baca doa juga.”
“Iywa,” jawab Shankara dengan mulut yang di penuhi oleh nasi goreng.