Part 58

1135 Kata
Gadis berambut sebahu itu mengempaskan tubuh mungilnya di atas kasur empuk yang sudah sangat ia rindukan seharian ini. Badanya benar-benar rasanya sangat lelah. Akhirnya serangkaian acara telah selesai, tinggal menunggu serah terima jabatan di upacara Senin depan. “Rasanya seluruh tulang gue patah semua,” keluhnya. Bahkan saat ini cakrawala telah berwarna bitu kehitaman dan ia baru menyelesaikan semuanya. Kepalanya pun berdenyut karena seharian ini ia terus berlari ke sana kemari mengontrol jalanya salah satu event terbesar di SMP Nabastala. “Nalendra emang, untung gue sekarang udah lepas dari dia,” umpatnya menggerutu. “Masyaallah, Gavesha. Jam berapa ini kamu belum mandi? Sana cepat bersih-bersih, nanti kamu masuk angin kalau mandi kemalaman,” tegur Xena yang baru saja masuk ke kamar Gavesha. “Hehehe, bentar, Ma. Badan Gavesha pegal-pegal semua.” “Jangan lama-lama apalagi sampai ketiduran dan belum bersih-bersih. Setelah mandi, turun buat makan.” “Siap, Ma!” Setelah Xena meninggalkan kamar Gavesha, gadis cantik itu bergegas membersihkan dirinya. Dia memutuskan mandi menggunakan air dingin saja karena rasanya seluruh badanya lengket semua dan gerah. Agar lebih segar ia pun memutuskan untuk keramas juga. Lima belas menit sudah ia membersihkan seluruh badan mungilnya dan saat ini Gavesha merasa sedikit lebih segar. Ia mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk putih yang di siapkan oleh Xena. Baru setelah menyisir rambut sepunggung itu ia bergegas turun ke meja makan untuk makan malam. Jarum jam telah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Sepertinya anggota keluarga yang lainya telah makan terlebih dahulu tadi. Terlihat juga lauk yang ada di meja makan tersisa cukup untuk dirinya. “Makanan kamu udah ada di meja makan,” ujar Xena yang tengah menonton televisi di ruang tengah bersama Baasima. “Iya, Ma.” “Gimana acara hari ini? Lancar kan?” tanya Baasima berbasa-basi. “Lancar, Pa.” “Berarti setelah ini kamu sudah tidak ada kegiatan lagi?” “Tinggal persiapan serah terima jabatan aja, Pa. Setelah itu baru Gavesha terbebas dari semua tugas OSIS,” terang Gavesha. “Papa sudah mendaftarkan kamu ke salah satu tempat les untuk persiapan ujian nasional. Jadwalnya akan Papa kirim ke w******p kamu.” Gavesha mengangguk lemah. “Iya, Pa.” “Setelah ini kamu harus fokus belajar. Meskipun ujian masih lama, bukan berarti kamu bisa berleha-leha. Papa harap kamu bisa menjadi peserta dengan nilai ujian tertinggi di Jakarta. Lebih bagus lagi jika kamu masuk rangking nasional,” urai Baasima tegas. “Iya, Pa.” Setelah itu Gavesha berjalan lesu menuju meja makan. Rasanya nafsu makanya hilang. Di meja makan pun ia hanya melihat nasi beserta lauk pauknya dengan enggan. “Kenapa lo?” tanya Meera yang membuat Gavesha terkejut. “Ngagetin aja lo.” “Lagian bukanya makan malah ngelamun.” “Gak nafsu gue.” “Kenapa? Gak suka sama lauknya?” Gavesha menggeleng lemah. “Terus?” “Huft ... biasa.” “Kenapa lo gak ajak Meesa ikutan les? Biar gak bosenin banget les nya,” usul Meera. “Bener juga. Lumayan kalau gue lagi males dia bisa kasih gue catatan.” Meera menonyor pelan kepala Gavesha. “Gue aduin ke Meesa biar dia gak lagi kasih catatan ke lo,” ancam Meera bercanda. “Aduin aja. Meesa kan anak nya baik. Mana mungkin dia gak ngasih gue catatan. Tanpa gue minta aja dia selalu kasih gue catatan, wle,” ledek Gavesha. “Gue heran. Dia anaknya baik banget kenapa mesti temenanya sama lo. Kasian gue sama dia, pasti tertekan temenan sama lo.” “Enak aja,” protes Gavesha. “Hahaha, ya udah makan gih. Gak usah terlalu di pikirin perkataan Papa. Lakuin aja yang terbaik dan semaksimal mungkin,” ujar Meera sebelum pergi ke kamar. “Iya.” Gavesha mulai memakan makan malamnya. Meski tidak sepenuhnya nafsu makanya balik setidaknya ia sedikit mempunyai harapan. Besok di sekolah ia pasti akan mengajak Meesa. Ia yakin Meesa pasti mau. *** “Napa lu, Dave? Galau bener kelihatanya,” tanya Nalendra saat kembaranya itu terlihat murung di balkon kamar. “Gak mood berantem gue, Nale.” “Siapa yang ngajak lo berantem?” Davendra hanya mengedikan bahunya acuh. Ia memilih kembali masuk ke kamarnya dan membuka buku tebal yang berisikan ribuan soal untuk mengalihkan pikiranya. “Mikirin Meesa lo?” tebak Nalendra yang berdiri di samping meja belajar Davendra. “Ck, lo gak usah ganggu deh. Gue mau belajar,” usir Davendra malas. “Susah ya jatuh cinta sama orang yang friendly dan di sukai banyak orang?” kekeh Nalendra. “Apaan sih cinta-cintaan. Mending belajar, bulan depan ada TO pertama.” “Kalau lo cinta sama dia, perjuangin dong. Masa lo mau kalah padahal belum perang.” “Nale, pergi gak lo!” Nalendra semakin terbahak.seru sekali menggoda kembaranya itu. “Hahaha. Gue tau susah dapetin Meesa, yang terpenting lo jangan sampai stres gara-gara gak bisa dapetin dia,” ucap Nalendra terus membaca pikiran Davendra. “Apaan sih lo? Sok tau banget.” “Kita serahim bersama, jelas gue tau banget tentang lo.” “Gue gak mikirin Meesa, Nale. Lo gak lihat gue lagi belajar? Jangan ganggu gue mangkanya,” ketus Davendra tak nyaman. “Ya tapi gue tau pikiran lo gak di buku itu.” “Ya itu gara-gara lo ngeurusuh terus.” “Hahaha ... percuma lo belajar sampai tengah malam. Lo nya aja gak fokus, Dave.” Nalendra lari meninggalkan Davendra yang ingin mengamuk. Sangat seru memang menjahilin kembaranya itu. Sementara Davendra ia sangat dongkol dengan Nalendra yang terus menggodanya. Davendra memutuskan untuk menutup bukunya kembali. Benar memang kata Nalendra pikiranya sedang tidak ada di buku tersebut. Jadi percuma jika ia memaksakanya. Davendra memilih bermain dengan ponselnya. Mungkin dengan itu pikiranya teralihkan. Ia membuka salah satu aplikasi media sosial. Ternyata Meesa baru saja memosting foto. Gadis lugu itu terlihat sangat cantik. Pipi gembulnya membuat siapapun yang melihatnya menjadi gemas. “Gak heran kalau banyak yang suka sama lo,” ucapnya menatap postingan baru milik Meesa. Entah bisikan dari mana, Davendra justru membuka profil Meesa. Ia melihat-lihat semua postingan gadis lugu itu dan mengambil beberapa postingan yang menurutnya menarik. Tidak banyak memang yang Meesa posting, hanya beberapa foto dirinya, keluarganya, dan piano. Bahkan isi highlight gadis itu juga hanya tentang piano, traveling, dan makanan. Davendra terkekeh saat melihat foto masa kecil Meesa. Gadis kecil yang sangat menggemaskan. Dari kecil saja sudah terlihat jika Meesa akan tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik. “Gue udah sangat bersyukur bisa jadi sahabat lo. Gue gak mau kalau gue ungkapin perasaan gue yang ada lo bakal kasih jarak pertemanan kita. Sekalipun lo jadi cewek gue, gue takut kalau suatu hari kita putus dan gue kehilangan lo.” “Jadi cukup dengan persahabatan aja. Seenggaknya dalam persahabatan gak ada kata putus. Dan gue bisa selalu ada buat lo. Gue harap lo bahagia dengan siapapun nanti cowok pilihan lo,” sambung Davendra yang entah berbicara dengan siapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN