“Selanjutnya kita saksikan penampilan dari pianis baru Nabastala. Lavanya Meesa ....”
Suara gemuruh tepuk tangan menggema di lapangan SMP Nabastala. Sebuah piano telah di siapkan di tengah panggung. Teriakan semakin menggelegar saat gadis lugu itu memasuki panggung.
“CALON PACAR GUE TUH!”
“ETS, BAGI DUA.”
“CBL CBL CBL, CANTIK BANGET LHO.”
“GBL GBL, GEMES BANGET LHO.”
“SAYANG SEMANGAT!”
Meesa terkekeh manis mendengar teriakan random yang kebanyakan dari kaum adam. Ia duduk di depan pianonya dan mulai memainkan lagu piano klasik era victoria. Saat tuts-tuts itu mulai menggema, suara histeris yang tadi terdengar nampak hening. Semua menatap takjub sang pianis baru SMP Nabastala tersebut.
Apalagi kedua iris hazel itu. Sebuah lengkungan kecil terukir di paras tampanya. Pandanganya tidak pernah sedetik pun teralihkan dari paras ayu gadis lugu tersebut. Shankara yang memang duduk di samping Lal pun menyenggol lengan Lal dengan tersenyum tengil.
“Lo harus gerak cepat kalau gak mau Meesa di embat cowok lain. Lihat noh,” ucap Shankara pada Lal.
Lal hanya menatap Shankara malas, tidak berniat membalas ucapan Shankara barusan.
Setelah memainkan dua lagu, Meesa kembali berdiri dan memberikan salam santun ke para penonton. Meesa berjalan keluar panggung karena setelah ini adalah acara debat kandidat calon ketua dan wakil OSIS SMP Nabastala.
Kedua mata belo itu membulat karena terkejut, saat laki-laki tampan yang ternyata tengah menunggunya di bawah panggung.
“Astagfirullah. Lal ...,” kaget Meesa yang hampir terlonjak.
“Permainan kamu hebat banget,” puji Lal jujur.
“Terima kasih, Lal.”
Davendra datang dengan penuh riang. Ia memberikan kamera milik Ekavira yang di pinjam Meesa untuk merekam penampilanya kemarin.
“Penampilan lo emang gak pernah mengecewakan, Sa,” puji Davendra memberikan kamera tersebut.
“Terima kasih, Dave. Makasih juga udah mau ngerekamin,” ujar Meesa dengan senyum manisnya.
“Sama-sama. Ya udah yok kita cari tempat duduk, habis ini acara debatnya bakal di mulai,” ajak Davendra.
“Iya. Ayo, Lal,” tutur Meesa mengajak Lal juga.
Davendra menatap Lal yang ternyata sudah berdiri di samping Meesa. Ia bahkann tidak sadar jika sedari tadi Lal sudah ada di dekat Meesa.
Mereka bertiga duduk di salah satu kursi yang tersedia. Kali ini Meesa duduk di apit oleh kedua laki-laki itu. Sesekali Meesa mengambil beberapa jepretan selama kegiatan berlangsung. Ia juga memotret Davendra dan Lal yang berada di sampingnya.
Kedua laki-laki yang menjadi incaran para kaum hawa di SMP Nabastala itu memang tidak usah di ragukan lagi ketampananya. Mereka memiliki ciri khas masing-masing. Dan yang begitu kentara adalah sifat keduanya. Davendra yang selalu humble dengan setiap orang dan Lal yang selalu bersikap dingin.
Saat debat berlangsung ada beberapa siswi SMP Nabastala yang salah fokus. Ya mereka salah fokus ke Meesa yang duduk di apit kedua pangeran tampan SMP Nabastala itu. Mereka sangat iri dan ingin sekali berada di posisi Meesa. Bagaimana tidak, baru dua bulan gadis itu sekolah di sana dia sudah dekat dengan kedua pangeran itu.
Yang paling tidak sangka adalah ini hanya Meesa satu-satunya orang yang beruntung bisa berada di dekat Lal. Shankara yang di kenal sebagai teman dekat Lal saja ia tidak terlihat begitu dekat seperti kedekatan Lal dan Meesa. Kabar isu mengenai Lal yang menyukai Meesa itu bukan lagi rahasia yang tersebar di seantero sekolah.
“Beruntung banget ya Kak Meesa. Bisa di kelilingi cogan kaya gitu.”
“Mau tanya, Kak Meesa kira-kira pakai dukun yang dimana ya?”
“Hush ... mana mungkin mah kalau dukun. Kak Meesa kan ilmu agamanya kuat.”
“Kali aja gitu.”
“Tiga tahun gue satu kelas sama Lal. Eh Lal milih anak baru.”
“Kalau Meesa mah emang kalah telak gue.”
“Hahaha, bener juga sih.”
“Gue yang spek reog kalah telak sama Meesa yang spek bidadari.”
Meesa meundukan kepalanya karena ia sedang melihat beberapa hasil jepretranya tadi. Ia tersenyum saat tidak terlalu buruk hasilnya. Setelah acara debat nanti akan ada break sebentar yang di hibur oleh Band Meraki. Barulah setelah itu seluruh murid SMP Nabastala kan menentukan suara mereka untuk siapa yang akan memimpin periode selanjutnya.
Sebenarnya sedari tadi kedua iris hazel itu tengah memperhatikan Meesa. Ia tidak peduli dengan acara yang tengah berlangsung. Lagi pula ia juga tidak peduli siapa nanti yang akan terpilih. Tatapan Lal menajam saat melihat sudut bibir Meesa. Seperti terluka, apakah ada yang melukai Meesa kembali?
Namun siapa? Mengapa akhir-akhir ini ia kerap kali mendapati bahwa gadis lugu itu mempunyai luka. Meski samar karena tertutup dengan make up yang Meesa gunakan, jika di teliti dan di lihat sedekat ini pasti semuanya juga akan menyadari jika ada luka di sudut bibir gadis itu.
Lal seperti tidak asing dengan luka itu. Karena ia merupakan salah satu atlet cabang olahraga bela diri. Luka seperti itu biasanya di dapatkan dari tonjokan. Apa ada seseorang yang menonjok Meesa? Namun siapa yang tega menonjok gadis selugu Meesa.
Gatal sekali mulut Lal ingin bertanya, namun ia yakin Meesa tidak akan menjawabnya. Ia memilih diam saja, lagi pula kemarin lusa kan Meesa sudah berjanji akan bercerita ketika gadis itu siap.
“Gue ke panggung dulu ya. Lo sama Lal aja, dia pasti bakal jagain lo,” pamit Davendra karena acara debat akan segera berakhir.
“Iya. Semangat, Dave!”
“Siap!”
Davendra mulai kembali ke panggung. Beberapa murid juga nampak meninggalkan kursi mereka untuk mencari pengganjal perut. Meesa menatap sekeliling, stan-stan makanan mulai penuh. Padahal ia ingin beli gelato karena waktu di atas panggung tadi ia melihat salah satu stan yang menjual es krim itu.
“Lo mau apa?” tanya Lal peka saat Meesa nampak melihat sekeliling.
“Tapi aku mau beli sendiri ya? Aku udah banyak kamu traktir, jadi hari ini aku yang traktir kamu ya?” pinta Meesa.
“Lo gak suka gue beliin?”
“Bukan gitu, Lal. Kan kamu udah sering beliin aku terus. Kata Ayah juga lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Jadi sekarang gantian,” terang Meesa yang membuat Lal gemas.
“Kan gue beliin bukan lo yang minta.”
“Lal ...,” rengek Meesa karena Lal membalikan omonganya.
“Iya-iya.”
“Ayo, kamu mau beli apa?”
Meesa bangkit dari duduknya. Ia mengalungkan kamera milik Ekavira itu di lehernya.
“Samain aja kaya lo.”
Meesa mengangguk paham. Mereka pun mulai berkeliling untuk mencari makanan dan minuman. Meesa berdiri antri di salah satu stan jualan es krim gelato incaranya tadi. Ia memesan dua buah es krim cone dengan rasa coklat dan vanila. Sementara Lal, ia hanya mengikuti saja kemana Meesa pergi.
Mereka kembali duduk di kursi yang tadi mereka duduki. Meesa memakan es krim nya dengan sesekali menggelengkan kepalanya sangat lucu.
“Va.”
“Iya, Lal?”
“Berhenti menggemaskan bisa?”
“Ha?” cengo Meesa yang tidak paham.
“Lupakan.”