Sudut bibir Meesa sebenarnya terasa berdenyut saat di gunakan untuk tersenyum. Namun biar bagaimanapun juga ia harus nampak biasa saja. Gavesha menarik tangan Meesa agar keluar dari kerumunan yang ingin bersua foto dengan dirinya. Karena Gavesha peka jika Meesa terlihat tidak nyaman.
“Sorry ya, tapi Meesa harus siap-siap,” tutur Gavesha menarik Meesa dari keramaian.
“Yaaahh ... gak seru.”
“Meesa, padahal gue masih mau foto sama lo.”
“Baru aja mau foto sama Meesa buat prewed.”
“HUUUUUUU ....”
Beberapa di antara mereka menyoraki Gavesha namun Gavesha tidak memikirkan panjang mengenai hal itu.
“Kalau lo gak nyaman, gak ada salahnya lo bilang ‘gak’. Sa,” pesan Gavesha.
“Terima kasih, Gave.”
“Lo cantik banget sumpah hari ini,” puji Gavesha melihat penampilan Meesa.
“Terima kasih, Gave. Kamu juga cantik hari ini, kelihatan keren gitu pakai kemeja hahaha.”
“Hahaha, gak lah. Dekil banget gue gara-gara Nalendra. Lo tau gue datang dari tadi jam enam. Bayangin aja gue harus urus panggung yang ternyata belum siap,” keluh Gavesha.
“Ututututu, kacian banget sih. Capek ya?”
“Banget. Gue aja udah berasa lengket semua ini badan gue padahal masih pagi.”
Meesa terkekeh melihat wajah letih Gavesha. Ia mengepalkan tanganya dan menaruhnya di atas kepala untuk menyemangati Gavesha.
“Semangat, Gavesha! Semoga acara hari ini lancar dan sukses sampai akhir acara,” seru Meesa.
“Hahaha, jadi semangat gue gara-gara lo. Makasih ya. Bye the way gue tinggal ya, lo bisa ke kelas tujuh H di sana juga udah ada Davendra.”
“Iya.”
“Daaaa ... Meesa.”
“Daaaa ... Gavesha. Semangat, Bestie!”
Meesa berjalan ke arah gedung satu yang memang gedung paling dekat dengan panggung acara nanti. Benar kata Gavesha di sana sudah nampak ramai dengan peserta peramai acara lainya. Bahkan anak dance tengah di make over di sana.
“Assalamu’alaikum,” salam Meesa lembut memasuki kelas yang telah di sulap menjadi basecamp.
“Wa’alaikumussalam.”
“Meesa? Duh Gusti makin geulis aja.”
“Sumpah lo cantik banget, Sa, hari ini.”
“Sumpah gue sempet gak ngenalin lo.”
Meesa terkekeh mendengar celotehan itu. Kemudian dia duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.
“Di antar Gavesha?” tanya Davendra yang pindah duduk di samping Meesa.
“Nggak, tapi tadi sempet ketemu Gavesha. Cuman dia lagi ada urusan, jadi di tunjukin doang ada di sini,” jawab Meesa.
“Kemarin lo kemana aja sama Lal? Gue lihat lo pulang sorean.”
Kemarin memang Davendra melihat Meesa yang di bonceng Lal saat ia hendak menjemput Gavesha.
“Ke taman kota. Kenapa?”
“Oh, gak. Cuman tanya aja. Gue pikir selesai latihan langsung pulang.”
“Lal ngajak main bentar. Gimana persiapan lo?” tanya Meesa balik untuk berbasa basi.
“Acara di mulai setengah delapan. Ya habis ini gue tampil sebagai pembukaan. Lo juga udah mateng kan semuanya?”
“Iya dong.”
Acara hari ini memang di buka dengan penampilan Band SMP Nabastala. Band mereka berisikan lima orang laki-laki semua dan di beri nama dengan ‘Band Meraki’. Meraki yang berarti melakukan sesuatu dengan cinta. Jadi mereka selalu bernyanyi dan mempersembahkan lagu dengan penuh cinta.
“Lo udah makan, ‘kan tadi?”
“Udah kok. Lo?”
“Udah sih. Kali aja belum, nanti lo pingsan pas tampil kan gak lucu,” canda Davendra.
“Hahaha, mungkin pingsan karena grogi.”
“Lo nervous?”
“Lumayan.”
“Gue yakin lo pasti bisa.”
“Iya, lo juga.”
“Dave! Mojok aja lo sama Neng Meesa yang geulis. Udah ayo kita harus ke panggung, acara mau di mulai,” seru salah satu teman band Davendra.
“Iya!”
“Gue ke panggung dulu ya,” pamit Davendra ke Meesa.
“Iya. Semangat, Davendra!”
“Sip.”
Setelah memberikan jempolnya ke Meesa, Davendra berlalu ke luar kelas untuk pergi ke panggung. Penampilan Meesa masih agak siangan, jadi ia memutuskan untuk pergi jalan-jalan dulu lihat-lihat stan bazar di lapangan.
“Lavanya,” panggil suara barinton yang berada tiga meter dari tempat Meesa berdiri.
“Lal,” sapa balik Meesa.
Lal tidak bisa memalingkan pandanganya dari Meesa. Demi apapun gadis itu benar-benar sangat cantik hari ini. Bahkan sampai Meesa yang sekarang sudah berada di hadapanya ia masih belum sadar.
“Lal?”
Meesa melambaikan tanganya di depan wajah tampan milik Lal agar laki-laki itu tersadar dari lamuanya.
“Pagi-pagi udah ngelamun aja,” kekeh Meesa.
“Lo cantik,” ungkap Lal tulus dan jujur.
Meski sudah banyak yang memujinya pagi ini. Entah kenapa seperti ada kupu-kupu yang bertebangan di perut Meesa saat Lal yang memujinya.
“Terima kasih, Lal.”
“Mau kemana?”
“Pengen lihat-lihat aja. Soalnya masih lama juga aku tampilnya,” terang Meesa.
“Jangan.”
“Kenapa?”
Bagaimana Lal menjelaskan jika dia tidak suka laki-laki lain menatap Meesa dengan begitu gairah? Apalagi penampilan Meesa saat ini. Bahkan karena rambut sebahunya yang di curly, membuat leher jenjang putih mulus itu sedikit terekspos. Lal tidak suka, jika laki-laki lain terus-terusan menatap Meesa.
“Jangan pokoknya.”
“Kan aku cuman lihat-lihat doang, Lal. Gak keluar juga dari lingkungan sekolah,” protes Meesa.
“Ya udah tapi sama gue.”
“Ayo.”
Lal berjalan beringan dengan Meesa. Laki-laki berkemaja putih yang di balut rompi v bordir berwarna navy dengan logo SMP Nabastala di saku kirinya itu selalu menatap tajam laki-laki yang memperhatikan Meesa. Ingin sekali ia memeluk inggang Meesa erat agar semua orang tahu bahwa Meesa itu hanya miliknya.
“Meesa, lo ngapain di sini?” heran Gavesha dengan papan d**a yang ia tenteng.
“Lihat-lihat doang sih. Bosen juga di basecamp gak ngapa-ngapain,” terang Meesa.
“Oh, gue rasa ada yang gak suka lo berkeliaran deh,” bisik Gavesha.
“Ha? Maksud nya?”
“Hahaha. Ya udah gue tinggal dulu ya. Jangan lupa lo tampil setelah sambutan-sambutan nanti.”
“Iya, Gavesha. Semangat!”
Gavesha kembali meninggalkan Meesa. Senyum tengil tercetak di bibir manisnya. Ia kadang gemas dengan Meesa, padahal menurutnya Lal telah terang-terangan menunjukan rasa sukanya namun Meesa seakan tidak mengetahuinya.
Meesa tertarik pada salah satu stan yang menjual berbagai macam aksesoris. Dia menghampiri stan tersebut untuk melihat-lihat. Hingga akhirnya sebuah gelang couple menarik perhatianya.
“Yang ini harganya berapa?” tanya Meesa pada salah satu murid yang menjaga stan tersebut.
“Dua puluh ribu aja, Kak. Itu udah diskon lima belas persen karena Kak Meesa yang beli,” papar siswi tersebut.
“Ya udah aku beli ini ya.”
“Buat couple sama Kak Lal ya? Kok Kak Meesa sih yang beli, kan seharusnya tuh Kak Lal yang beli,” celoteh siswi lainya mengompori.
Lal memutar bola matanya malas. Sebelum Meesa memberikan uangnya, Lal terlebih dahulu menyodorkan uang lima puluh ribu ke siswi kompor tadi.
“Eh, Lal. Kan aku yang mau beli gelangnya,” tukas Meesa ingin mengembalikan uang Lal.
“Lo suka sama gelang itu?” tanya Lal mengalihkan pembiacraan.
“Iya.”
“Ya udah.”
“Iiih ... kan aku bisa beli sendiri, Lal,” protes Meesa.
“Udah, Kak, terima aja. Kalau aku jadi Kakak gak bakal nolak aku mah,” timbrung siswi berambut kuncir kuda itu.
“Ini Kak gelangnya,” ucap siswi lainya yang memberikan gelang tersebut ke Meesa.
“Terima kasih.”
Meesa memberikan paper bag kecil itu ke Lal.
“Buat lo,” balas Lal enteng.
“Padahal kan tadi aku yang mau kasih kamu. Kok malah jadi kamu yang kasih ke aku sih,” gerutu Meesa lucu.
Lal terkekeh. Ia mengambil alih paper bag itu dari tangan Meesa. Kemudian dia memasangkan satu gelang berwarna putih dengan liontin bulu dari perak yang terlihat begitu apik di tangan putih milik Meesa. Dan selanjutnya ia juga memakai gelang berwarna hitam dengan bentuk liontin yang senada seperti milik Meesa.
“Padahal tadi aku mau beli ini buat tanda kita sahabatan,” celetuk Meesa.
Sedikit sakit sebenarnya Lal mendengar kata sahabat dari mulut Meesa. Namun ia juga tidak menuntut lebih. Itu sudah menjadi perkembangan yang cukup pesat. Setidaknya ia bisa memiliki waktu yang lebih lagi dengan Meesa dengan hubungan baru mereka.
“Ya udah, kita jadi sahabat,” enteng Lal.
“Kamu mau jadi sahabat aku?”
Jadi cowok lo aja gue gak akan nolak, Sa.
“Iya.”
“Makasih ya.”
“Sama-sama.”