Part 55

1337 Kata
Gadis berambut sebahu itu tengah menatap dirinya di depan cermin. Meski sudut bibirnya masih terlihat luka, namun polesan make up yang di berikan Ekavira mampu menutupinya. Hari ini adalah salah satu event terbesar yang ada di SMP Nabastala. Meesa telah siap dengan dress berwarna putih semata kaki dan sepatu boots berwarna hitam berhak lima senti meter membuat kakinya semakin terlihat jenjang. Rambut sebahunya di buat curly dengan make up tipis natural yang di poles oleh Ekavira. “Udah, cantik banget. Sumpah sih kamu terlihat cantik banget,” puji Ekavira puas dengan hasil dandananya. “Terima kasih, Kak Vira. Inikan juga karena Kak Vira yang dandanin Meesa,” balas Meesa sambil tersenyum manis. “Gue foto dulu ayo. Kayanya gue berbakat juga jadi MUA,” bangga Ekavira dengan senyum puasnya. “Hahaha, aku pikir juga gitu.” Ekavira memotret Meesa tak lupa juga ikut berselfie dengan Meesa. Rasanya ia ingin sekali hadir di sekolah Meesa untuk melihat penampilan Meesa nanti. “Gue yakin temen-temen lo pasti pangling lihat lo. Apalagi siapa itu yang katanya lagi deket sama lo? Atlet karate itu lho. Gue yakin dia bakal makin kesemsem sama lo,” hiperbola Ekavira yang terlihat nampak exited. “Hahaha, ada-ada aja, Kak Vira.” “Pokoknya nanti jangan lupa bilang ke Davendra, kalau ngevideoin yang bagus. Angle nya harus pas, biar gak sia-sia gue make up in lo dari habis subuh.” “Iya-iya, Kak. Terima kasih ya.” “Yup! Sama-sama. Ya udah ayo pergi sarapan sekalian nanti lo biar gue antar aja.” “Kak Vira gak sibuk?” “Nggak, jadwal photoshoot gue masih nanti jam sepuluh.” Ekavira merapikan sejenak alat make upnya yang ada di meja rias milik Meesa. Setelah itu ia menggandeng Meesa untuk pergi ke meja makan. Ia ingin menyombongkan hasil make overnya. “PAGI SEMUA. LIHAT DEH AKU PUNYA KEJUTAN,” seru Ekavira bersemangat. Ekavira menggandeng tangan Meesa untuk pergi ke meja makan. Kemudian ia memamerkan hasil kerjaanya dari tadi subuh. “TAAADAAAAAA ... gimana ratingnya dari satu sampai sepuluh?” “Minus satu,” jawab Kaivan cuek. “Heh! Mata mu minus satu,” umpat Ekavira kesal. “Lagian ngapain sih lo pakai make up in dia segala. Sama aja kali, sampah mau kaya gimana aja tetap sampah. Buang-buang make up lo aja. Make up mahal lo gak pantes di wajah b***k dia,” hardik Kaivan kejam. “Sampah jika di olah kembali di tangan yang benar, ia bisa menjadi barang yang bagus dan bernilai mahal. Jaga ucapan mu Kaivan, tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu,” peringat Denallie yang baru saja datang dari dapur membawa menu sarapan mereka. “Masyaallah, ini cucu Nenek? Cantik banget sih,” puji Denallie sangat manis. “Iya dong, siapa dulu yang make up in. Cantik kan, Bunda?” bangga Ekavira. “Iya, cantik. Cantik banget,” tulus Denallie tersenyum hangat ke arah Meesa. “Terima kasih, Nek.” “Ayo, Sayang, sini makan. Kamu harus makan yang banyak biar semangat tampilnya nanti,” seru Denallie. Meesa duduk di hadapan Kaivan. Dengan telaten Denallie menyiapkan sarapan Meesa. Hal itu membuat Kaivan muak. Rasanya ia ingin mengacak-ngacak penampilan gadis di hadapanya tersebut. “Waahh ... Kak Meesa? Cantik banget,” puji Radhika yang baru saja datang. “Terima kasih, Radhika.” “Iya dong, siapa dulu MUA nya,” sombong Ekavira. “Hahaha, iya deh Kak Vira yang paling the best,” sanjung Radhika sambil terkekeh. “Badan udah segedhe gentong makan kaya kuli. Lihat tuh badan kamu, gimana mau cantik kalau makanya aja versi kuli,” cerca Agnia mengomentari piring Meesa yang tadi di siapkan oleh Denallie. “Agnia,” peringat Denallie pada Agnia. “Tuh baju udah kaya lepet, untuk warna putih. Coba hijau, persis lemper nanti, hahahaha,” timpal Kaivan menyetujui ucapan Agnia tadi. “Bener tuh kata Kaivan,” timbrung Anwa yang sedari tadi hanya menyimak. “Dek Anwa,” kali ini Davanka yang memperingati Anwa. “Apa sih, Mas. Lagian aku bilang jujur kali.” “Sudah-sudah, gak baik ribut di meja makan. Lebih baik kalian diam. Lava, jangan dengarkan apapun kata tante-tante kamu.” Meesa mengangguk. Ia mulai memakan sarapanya. Hari ini Jayendra dan Elakshi memang sedang bertugas di luar kota. Meesa sedikit lega untuk hal itu. Karena ia tidak perlu mencari alasan mengapa sudut bibirnya lebam kemarin lusa. Setelah sarapan sesuai ucapan Ekavira, ia akan mengantar Meesa. Di antara keempat adik Jayendra memang hanya Ekavira yang bersikap baik pada Meesa. Karena Ekavira tahu, Meesa tidak salah apapun. Hanya saja keegoisan Atreya yang telah menghasut ketiga saudaranya tersebut. Sebenarnya Ekavira kasihan pada Meesa. Meski ia tahu Meesa tidak memikirkan lebih perkataan Agnia, Anwa, atau Kaivan. Ia merasa begitu kagum pada Meesa. Jika di balikan posisi, sepertinya ia tidak akan kuat menjadi Meesa. Rumah di mana tempatnya pulang, justru rumah adalah tempatnya yang paling tidak aman. “Meesa,” panggil Ekavira yang masih fokus menyetir. “Jangan pikirkan perkataan mereka yang berusaha menjatuhkan mu. Tetap jadilah diri mu sendiri, tidak peduli apapun cacian seseorang. Kamu tidak harus menjadi apa yang di katakan oleh orang lain, karena kamu tidak hidup untuk memenuhi ekspetasi orang lain,” pesan Ekavira memberikan Meesa petuah. “Iya, Kak.” “Dulu pertama gue baru terjun di dunia entertaim juga gak semulus itu. Gue sempet di hujat karena kulit gue gak seputih yang mereka harapkan. Tapi karena hal itu, gak buat gue berusaha menjadi putih. Justru gue berusaha buat pandangan mereka berubah. Gue cantik dengan apa yang ada dalam diri gue.” “Bukan gue harus jadi kaya bagaimana. Cantik gak melulu harus putih, mulus, langsing, glowing. Semuanya cantik. Karena Allah udah bilang kalau kita adalah makhluk yang sempurna pada surah At-tin ayat 4,” sambung Ekavira memberikan semangat untuk Meesa. “Terima kasih ya, Kak.” “Satu lagi. Yang paling penting itu bukan cantik fisik, tapi cantik hatinya. Karena percuma kalau seseorang punya kecantikan yang setara dengan dewi kalau perilakuanya kaya iblis. Itu akan sia-sia.” “Iya. Kata Bunda, fisik kita nanti akan di kubur di tanah sedangkan kebaikan kita tidak akan pernah terkubur sekalipun jasad kita sudah terkubur. Bener kan, Kak?” tanya Meesa. Ekavira tersenyum mengangguk membenarkan. “Ya, sayangnya kebaikan kita juga bisa terkubur. Dan itu semua hanya karena satu kesalahan,” imbuh Ekavira. Meesa tersenyum kecil menanggapinya. “Intinya hari ini lo harus tampil yang maksimal. Tunjukin ke semua orang tentang bakat lo. Gue yakin lo bisa.” “Siap!” Minicoper warna merah milik Ekavira telah sampai di pelataran SMP swasta tersebut. Meskipun saat ini masih jam tujuh SMP Nabastala sudah nampak ramai. Sudah banyak siswa siswi yang berlalu lalang. Di lapangan juga sudah ada beberapa stan yang berisi. “Makasih banyak ya, Kak Vira! Semangat buat photoshootnya nanti,” ujar Meesa menyalimi tangan Ekavira. “Sama-sama. Lo juga ingat harus semangat tampilnya nanti. Kan nanti bakal gue post di youtube gue.” “Hahaha, siap, Bu Komandan.” Saat Meesa keluar dari mobil milik Ekavira pusat perhatian mulai terpusat ke arahnya. Bahkan beberapa ada yang memekik atau sengaja meneriaki Meesa. Ekavira tersenyum puas dari dalam mobil, ia lega setidaknya Meesa di terima di sini. “Eh itu Kak Meesa?” “Itu Meesa?” “Yang di mobil tadi Kak Vira bukan sih?” “Kak Vira selebgram sekaligus youtuber terkenal itu? Kok bisa Kak Meesa di anter Kak Vira?” “Kudet lo. Semua orang juga tau kali kalau Kak Meesa tuh ponakanya Kak Vira.” “WOOOO ... pantes cantik banget. Gen keluarga ternyata.” “Cantik banget Meesa gak ada obat.” “Buset bidadari mah lewat ini.” “Sumpah gimana nanti pas dia tampil? Gini aja udah damage banget.” “MEESA MAU GAK JADI PACAR GUE?” “MEESA MEESA AYO FOTO SAMA GUE.” “MEESA PUNYA GUE FIX, GAK ADA YANG BOLEH GANGGU GUGAT.” “MEESA SUMPAH LO CANTIK BANGET HARI INI.” Meesa tersenyum kaku mendengar semuanya. Ia merasa tidak enak aslinya. Beberapa siswi menghampirinya untuk bersua foto denganya. Hari ini ia berasa menjadi artis dadakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN