Gadis lugu itu memasuki rumahnya dengan perasaan berbunga-bunga. Hari ini ia sangat bergembira namun senyumnya luntur saat mendengar keributan dari dalam rumah.
“Maksud nya ini apa, Mas? Empat puluh tahun pernikahan kita kamu khianati begitu aja? Apa salah aku, Mas?” suara serak Denallie menggema di ruang tamu.
“Sudahlah Denallie, kamu tidak usah berdrama. Capek aku hadapin kamu yang terus-terusan bela anak sialan itu. Wajarlah kalau aku cari kesenangan di luar sana dan mencari wanita yang mengerti ku,” ucap Atreya enteng.
“Mas! Berapa kali aku bilang sudahi dendam kamu itu. Elakshi maupun Lavanya sama sekali tidak salah apapun.”
“Tapi jika Jayendra tidak memilih perempuan itu aku tidak perlu di penjara dan keluarga kita pasti tidak akan sengsara saat itu. Kamu udah lupa? Bahkan Agnia, Anwa, dan Ekavira terancam tidak bisa melanjutkan sekolahnya,” murka Atreya.
“Mas, cukup!”
Meesa takut-takut untuk masuk ke rumah. Namun ia memutuskan untuk masuk ke rumah berharap bisa memisahkan pertengkaran antara kedua kakek neneknya itu.
“Assalamu’alaikum,” salam Meesa memasuki rumah.
“Wa’alaikumussalam,” ujar Denallie menjawab salam Meesa.
“Bela aja terus anak pembawa sial itu! Bisanya main seharian habisin duit orang tua. Gak tau apa cari uang itu tidak mudah,” gertak Atreya murka.
Meesa menunduk takut. Denallie yang tidak tega pun berjalan ke arah Meesa untuk merangkul cucu kesayanganya tersebut.
“Kamu tahu, kehadiran kamu itu tidak di harapkan. Cepat pergi dari rumah saya, muak saya lihat muka kamu. Buat saya tidak betah saja ada di rumah,” cerca Atreya.
“Mas!” peringat Denallie pada Atreya.
“Maafin Lavanya, Kek,” cicit Meesa takut.
“Maaf-maaf. Saya tidak akan memaafkan kamu sebelum kamu dan ibu kamu pergi. Tapi ingat jangan bawa anak saya pergi.”
“Mas! Jangan keterlaluan kamu!” bentak Denallie kehilangan kesabaranya.
Atreya pergi begitu saja dari rumah. Ia tidak memperdulikan teriakan Denallie yang bertanya ia akan kemana. Ia sudah muak, rasanya amarahnya memuncak saat berada di rumah. Terutama saat ada Meesa di sana. Entah kenapa, ia ingin terus menyiksa gadis itu.
“Lava, Lava sudah pulang, Sayang? Gimana latihanya tadi?” tanya Denallie membelai rambut Meesa lembut.
“Nek, Lava harus apa?”
“Sssttt ... jangan di dengerin ucapan Kakek kamu. Dia cuman lagi capek aja,” ujar Denallie menenangkan Meesa.
“Iya, Nek.”
“Kamu sudah makan, Sayang?”
“Sudah, Nek.”
“Ya sudah sekarang kamu bersih-bersih. Kamu mau nenek buatin bubur kacang hijau kesukaan kamu?” tawar Denallie yang berhasil membuat senyum Meesa tercipta kembali.
“Mau, Nek!”
“Kalau gitu kamu bersih-bersih dulu, setelah itu turun ke bawah makan bubur kacang hijau.”
“Siap, Nek!”
Denallie mencium penuh kasih sayang kening Meesa. Ia menghapus air matanya, ia tidak boleh lemah karena Meesa pasti masih begitu membutuhkanya. Denallie tidak bisa membayangkan bagaimana jika Meesa tinggal di sini tanpa dirinya. Jadi dia harus kuat untuk Meesa.
“Cantik banget sih cucu siapa sih?” goda Denallie merapikan rambut sebahu itu.
“Cucu Nenek dong.”
“Hahaha. Nenek sayang banget sama kamu, jangan dengarin orang-orang yang gak suka sama kamu. Mereka sebenarnya juga sayang sama kamu cuman cara sampaiinya berbeda aja.”
“Iya, Nek. Lava juga sayaaanggg banget banget banget banget sama Nenek.”
Meesa mulai menaiki anak tangga untuk bergegas membersihkan tubuhnya. Namun saat sampai di lantai dua ia di hadang oleh Kaivan yang menatapnya marah.
“Puas! Puas lo lihat keluarga gue hancur karena lo!” sentak Kaivan.
Kaivan mencekal tangan Meesa. Ia menyudutkan tubuh Meesa hingga terpelanting dan kepala belakangnya membentur tembok.
“Gara-gara lo Ayah selingkuh! Sampai keluarga gue hancur, gue habisin lo!”
Kaivan yang berada dalam kendali amarah pun dengan kalab memukul wajah Meesa hingga membuat sudut bibir gadis itu robek. Meesa menangis, ia tidak mampu melawan apalagi Kaivan seperti monster untuk saat ini.
“KENAPA LO DAN IBU LO HARUS DATANG HACURIN KELUARGA GUE!” teriak Kaivan nyaring meluapkan amarahnya.
Denallie yang mendengar teriakan Kaivan dari dapur ia bergegas pergi ke lantai dua. Perasaanya tidak enak, ia takut terjadi sesuatu pada Meesa. Betapa terkejutnya saat ia melihat Meesa yang berantakan.
Rambut gadis itu seperti habis di jambak nampak kusut dan berantakan. Dan luka memar di ujung bibirnya membuat Denallie tidak tega melihat keadaan cucu kesayanganya tersebut.
“Kaivan! Hentikan, Kaivan. Jangan sakiti Lavanya,” peringat Denallie yang membuat Kaivan berhenti menyiksa Meesa.
Kaivan menghempaskan tubuh Meesa begitu saja, beruntungnya gadis itu tidak menggelinding di anak tangga.
“Kaivan, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu buat Lava seperti ini?” sergah Denallie tak percaya.
“Kenapa Ibu masih membela dia? Karena ibunya dia, keluarga kita hancur, Bu,” ucap Kaivan penuh amarah.
“Itu bukan salah Lava ataupun Elakshi, Kaivan.”
“Itu salah mereka! Mereka memang pembawa sial di keluarga kita.”
Meesa menangis sesegukan di pelukan Denallie. Kepalanya terasa sangat sakit karena tadi Kaivan menjedotkanya begitu keras. Apalagi saat ini sudut bibirnya terasa begitu perih dan sulit untuk berbicara rasanya.
“Maa-maafin Meesa, Kak. Hiks ... Meesa minta maaf,” gagap Meesa meminta maaf.
“Apa setelah lo minta maaf keluarga gue bakal balik lagi kaya dulu? Gak kan?” murka Kaivan yang belum saja puas mencaci maki Meesa.
“Sudah, Kaivan. Bentar lagi Kakak mu pasti pulang, jika dia tahu kamu yang membuat Lava seperti ini kamu bisa di habisi oleh Jayendra,” peringat Denallie agar Kaivan menghentikan semuanya.
“Sebelum Bang Jayendra habisin gue, gue akan habisin dia dulu! Dasar pembawa sial!”
Sebelum meninggalkan Meesa, Kaivan masih sempat-sempatnya menendang kaki Meesa sehingga membuat Meesa menjerit tertahan. Demi apapun itu sangat sakit. Mengingat Kaivan adalah laki-laki yang tengah di kuasai oleh emosi.
“Awwhhh ...,” ringis Meesa.
“Kaivan!”
Kaivan tidak menggubris peringatan dari Denallie. Ia ingin pergi muak dengan semuanya.
“Sayang, ssttt ... mana yang sakit? Nenek obatin ya,” rayu Denallie menenangkan Meesa.
Meesa masih saja belum bisa menenangkan tangisanya.
“Lavanya, sakit ya?”
“Hiks ... Lava salah ya, Nek? Lava nakal ya? Lava harus gimana biar Kak Kaivan maafin Lava?” racau Meesa dalam dekapan Denallie.
Denallie tidak mampu menjawab apapun lagi. Jujur hatinya sangat sesak mendengar tangisan Meesa. Apalagi ucapan Meesa barusan. Bahkan gadis lugu itu bingung bagaimana caranya agar Kaivan dan yang lainya menerimanya. Padahal semua itu bukan salahnya.
“Meesa? Udah pulang? Mana rujak buah pesanan, Tante?” tanya Anwa yang baru saja keluar dari kamarnya.
Meesa menunduk takut. Astaga ia melupakan pesanan Anwa.
“Ma-maaf, Tante. Meesa lupa,” sesal Meesa.
“Ck, kamu itu memang tidak berguna. Bilang saja kamu tidak mau membelikan. Dasar pelit, kamu ingat ya kalau bukan karena Kakak saya, saya yakin kamu jadi gembel,” cerca Anwa pedas.
“Anwa, jaga ucapan kamu,” peringat Denallie.
“Apasih, Bu? Kenapa Ibu selalu membela dia? Lebih baik usir saja dia, dia itu hanya pembawa sial dan beban saja.”
“Anwa, kamu sedang mengandung. Seharusnya kamu lebih berhati-hati dalam berbicara.”
“Belain aja terus cucu Ibu yang gak berguna itu.”
Anwa kembali masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu kamarnya lumayan keras. Hal itu membuat Meesa berjingkat kaget dan menyesal melupakan pesanan Anwa.
“Sudah Lava, jangan dengarkan perkataan Anwa. Sekarang ayo pergi ke kamar kamu Nenek obatin luka kamu ini.”
“Iya, Nek.”