Part 53

1218 Kata
Siang ini baskara nampak begitu terang namun sinarnya terhalang dengan dedaunan rimbun di taman kota. Gadis lugu itu tengah duduk santai sembari melihat anak-anak yang bermain ke sana kemari. Di sampingnya seorang laki-laki tampan lebih tertarik menatap parasnya ketimbang keseruan di depan mereka. “Lal ....” “Hm?” “Jangan lihatin kaya gitu,” protes Meesa karena sedari tadi Lal terus memperhatikanya. “Kenapa?” “Malu,” cicit Meesa memalingkan wajahnya. “Terus gue harus lihatin apa?” “Tuh, lihat tiga anak itu. Lucu kan,” tunjuk Meesa pada tiga anak kecil yang tengah bermain di ayunan. “Lo lebih lucu,” balas Lal enteng. Meesa tersipu malu. Ia menundukan wajahnya hingga tanpa sadar es krim yang ada di hadapanya meleleh. Lal mengambil sapu tangan yang memang selalu ia bawa. Jadinya ia mengelap tangan kuning langsat milik Meesa yang nampak kotor karena lelehan es krim vanila tersebut. “Eh? Makasih.” “Sama-sama.” Meesa melanjutkan kegiatanya memakan es krim sambil melihat anak-anak bermain di play ground yang memsang tersedia di taman kota tersebut. “Lal.” “Hm?” “Kamu mau lanjut ke SMA mana?” tanya Meesa mencoba untuk membuka pembicaraan. “Belum kepikiran,” balas Lal santai. Karena memang nantinya ia akan ikut apa kata ibunya. Seperti sebelum-sebelumnya semuanya akan di siapkan oleh ibunya dan ia akan menurut saja. “Aku bingung. Aku gak tau SMA yang bagus di Jakarta. Dulu aku udah ngerencanain buat masuk ke SMA Janardana di Semarang. Tapikan gak mungkin aku masuk sana, sekarang udah pindah di Jakarta,” cerita Meesa. “Lo mau ambil kelas apa nanti?” “Emm ... IPA. Soalnya aku mau jadi psikiater, cita-cita kamu apa?” “Gak tau.” “Kok gak tau? Masa kamu kalah sama Artha.” “Lo pengen punya suami profesi apa?” tanya Lal yang hampir saja membuat Meesa tersedak es krimnya. “Apa ya? Apa aja asal jodoh,” jawab Meesa enteng. Lal terkekeh gemas. Duduk berdua dengan Meesa seperti ini saja ia merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka bahwa ternyata bahagia sesederhana ini. Bahkan ia lebih bahagia ketika bersama Meesa seperti ini ketimbang menerima mendali emas di kejuaraan karate. “Va.” “Iya, Lal?” “Kalau ada apa-apa, lo boleh cerita apapun ke gue,” pesan Lal serius. “Iya, makasih ya udah selalu bantuin aku.” “Lo gak mau cerita?” pancing Lal. “Cerita apa?” “Gue tau banyak yang lo tutupi.” Meesa tersenyum tipis. Ia tahu kemana arah pembicaraan Lal. “Kadang, gak semua cerita bisa di ceritakan.” “Tapi gak semua cerita juga bisa lo pendam sendiri,” debat Lal. “Hahaha, kamu ternyata pinter ngomong ya.” “Lavanya, gue serius. Siapa yang ngelakuin itu semua ke lo?” desak Lal. “Lal ... aku ga-,” “Kalau lo baik-baik aja, lo gak mungkin luka. Gak ada luka yang baik-baik aja, Va,” potong Lal. “Oke, aku akan cerita. Tapi gak sekarang ya?” bujuk Meesa. “Kenapa? Lo di ancem? Jangan takut, Va.” “Bukan gitu. Cuman aku belum siap cerita.” Lal menghela nafas kasar. “Oke, tapi lo harus cerita ke gue.” “Hahaha, iya-iya.” “Ayo,” ajak Lal yang sudah bangkit dari duduknya. “Kemana?” “Lo belum makan siang, ‘kan?” Meesa mengangguk, ia mengikuti langkah lebar milik Lal. “Bentar, Lal. Aku mau buang ini dulu,” izin Meesa saat bertemu dengan tempat sampah. Lal menunggu Meesa selesai membuang sampah, saat Meesa sudah ada di sampingnya barulah ia kembali melanjutkan langkahnya. “Lo mau makan apa?” tanya Lal saat mereka telah sampai di salah satu puja sera yang berada di dekat taman kota. “Emmm ... aku pengen mie ayam.” “Oke.” Lal pergi ke salah satu stan penjual mie ayam. Ia memesan mie ayam dua dan dua minuman untuk merek berdua. “Aku minumnya air mineral aja,” pinta Meesa karena biar bagaimana pun ia harus menjaga suaranya. Jadinya Meesa tidak boleh meminum es dulu. “Oke.” Mereka berdua duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Lal sengaja duduk di samping Meesa agar ia bisa memperhatikan Meesa yang tengah memainkan ponselnya.  “Va,” panggil Lal karena merasa sedari tadi di acuhkan oleh Meesa. “Iya, Lal?” Meesa memasukan ponselnya ke tas slingbag yang ia kenakan. Kemudian ia menghadap ke Lal yang tadi memanggilnya. “Pengen aja manggil,” celetuk Lal enteng. Setelah mengatakan itu justru saat ini Lal yang sibuk bermain ponsel “Gusti Allah.” Meesa bersenandung lirih sambil menatap jalanan kota yang nampak ramai. Meski Lal terlihat sibuk bermain dengan ponselnya sebenarnya sedari tadi ia memperhatikan Meesa. Bahkan ia mendengar senandung lirih Meesa yang membuatnya tenang. Secara diam-diam Lal memotret Meesa dari samping. Ia tersenyum melihat hasil bidikanya. Meesa nampak begitu manis dari sisi ini. Pipi cubbynya terlihat sedikit memerah mungkin itu karena lebam bekas tamparan tapi hal itu tidak mengurangi kecantian paras ayu milik Meesa. “Ini Mas, Mbak pesananya. Selamat menikmati,” ujar salah satu pegawai stan mie ayam tadi. “Terima kasih,” ucap Meesa ramah sambil tersenyum manis. “Sama-sama, Adek Manis,” goda mas-mas yang mengantarkan pesanan Lal tadi. Lal menatap laki-laki itu tidak suka. Ia tidak suka saat laki-laki lain menatap Meesa dengan begitu terpikat. Meesa menaruh mie ayam dan es jeruk milik Lal di hadapan laki-laki itu. Namun Lal sepertinya masih menatap pegawai laki-laki tadi kesal hingga tidak sada jika makananya sudah ada di hadapanya. “Lal,” panggil Meesa memperingati Lal. “Iya.” Lal mulai meracik mie ayam miliknya. Sesekali makan siang yang terlambat mereka di iringi dengan beberapa pembcaraan ringan. Atau lebih tepatnya Meesa yang banyak mendominasi pembicaraan. “Aku dulu kalau pulang sekolah suka banget mampir ke warung mie ayam dekat sekolah. Enak banget rasanya, tempatnya juga adem. Kalau kamu ke Semarang, kamu wajib sih datang ke sana,” cerita Meesa dengan semangat. “Hm ... oke.” Dari tadi memang Lal hanya membalas singkat namun ia nampak begitu tertarik dengan apapun pemmbicaraan yang di ucapkan oleh Meesa. Hanya saja dia memang tidak terbiasa untuk merespon, jadi hanya seadanya. Sekedar iya, oke, nggak, kok gitu, kenapa? oohh, dan berbagai balasan singkat. “Makanan kesukaan kamu apa?” tanya Meesa tiba-tiba. Sebenarnya Meesa ingin Lal juga bercerita seperti dia yang sedari tadi bercerita panjang lebar ke Lal. “Udang asam manis sama cumi bakar,” jawab Lal singkat. “Kamu suka seafaood?” tebak Meesa tepat sasaran. Lal mengangguk singkat. “Iya.” “Berarti kamu sama kaya Rafandra.” “Siapa Rafandra?” tanya Lal seperti tidak suka Meesa membicarakan laki-laki lain. “Dia adik sepupu aku. Dia juga tinggal di rumah Nenek. Dia suka banget sama seafood apalagi nasi goreng seafood. Kalau Nenek masak nasi goreng seafood dia bisa habis tiga piring,” seru Meesa bersemangat bercerita. Ada perasaan lega saat mendengar laki-laki yang tadi di ceritakan oleh Meesa adalah sepupu gadis itu. Ia tersenyum dan kembali mendengarkan Meesa bercerita. Tidak terasa mereka sudah hampir satu jam berada di sana. Hari juga sudah mulai sore. Lal memutuskan untuk mengantarkan Meesa pulang. Hari ini ia sangat bahagia karena sudah tahu banyak hal tentang Meesa memalui gadis itu sendiri. “Terima kasih, Lal.” “Sama-sama.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN