Meesa memakai sneakers putihnya. Setelah selesai memakai sepatunya, ia bergegas pergi ke parkiran karena Lal telah menunggunya. Di parkiran seorang laki-laki tampan itu tengah duduk santai di jok motor Kawasaki D-Tracker SE berwarna hitam. Ia tersenyum tipis saat melihat gadis lugu itu berjalan cepat ke arahnya.
“Lama ya?” tanya Meesa sambil menerima helm yang di berikan oleh Lal.
“Iya.”
“Maaf ya?” ucap Meesa tidak enak.
Lal tersenyum menahan tawanya meledak. Sebenarnya ia hanya bercanda.
“Iya.”
Meesa duduk menaiki motor Lal tersebut dengan bantuan oleh Lal. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman barulah Lal menjalankan motornya keluar dari pelataran SMP Nabastala.
“Kita mau kemana?” tanya Meesa sedikit berteriak.
“Terserah.”
“Ha? Pasar? Ngapain?” heran Meesa.
“Terserah!” ulang Lal menaikan suaranya satu oktaf.
“Gimana kalau ke taman kota? Tempatnya adem dan nyaman,” usul Meesa yang di setujui oleh Lal.
Lal menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju taman kota. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di taman kota yang nampak ramai karena weekend.
Lal memarkir motornya, kemudian Meesa turun dan berusaha melepas helmnya namun ia nampak kesulitan.
Bahkan sampai Lal selesai menyandarkan motornya Meesa masih sajabelum selesai melepas helm Arai RX7X tersebut. Melihat Meesa yang kesusahan membuka helmnya membuat Lal terkekeh.
Ia mengulurkan tanganya untuk membantu Meesa membuka helm tersebut. Karena perlakuanya saat ini kedua tangan kekarnya nampak menggenggam jemari lentik itu.
Meesa sedikit tersentak, kedua iris mata coklat tuanya menatap manik mata hazel tersebut. Kemudian ia membiarkan Lal membukakan helm nya.
“Terima kasih.”
“Hm.”
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki taman kota yang nampak ramai di penuhi oleh anak kecil yang berlarian kesana kemari. Salah seorang laki-laki menabrak Lal namun justru anak laki-laki itu tersungkur di bawah Lal.
Ia membawa bola yang nampak kotor dan sayangnya bola tersebut mengenai snekers putih milik Lal.
“Astagfirullah,” kaget Meesa.
Meesa berjongkok melihat keadaan anak laki-laki itu.
“Adek gak papa?” tanya Meesa begitu lembut.
“Hiks ... hiks ... ma-maafin Artha, Kak. Artha gak sengaja. Jangan marahin Artha ....”
“Hey ... siapa yang marahin kamu? Kak Lal pasti maafin kamu, lagian kamu pasti gak sengaja, ‘kan?” rayu Meesa untuk menenangkan anak laki-laki bernama Artha itu.
Lal tidak merespon apapun. Ia hanya melihat datar Artha.
“Hiks ... tapi Kakak ganteng itu kelihatan marah. Hiks ... hiks.”
“Kak Meesa tanya dulu ya ke Kak Lal. Kak Lal, Kak Lal gak marah, ‘kan?”
Sebenarnya Lal tidak marah. Ia hanya bete saja karena sekarang sneakers putihnya jadi kotor karena Artha. Namun saat melihat kedua iris coklat tua itu moodnya kembali membaik.
“Gak.”
“Tuh, Kak Lal gak marah. Jadi Artha jangan nangis ya? Artha gak luka kan?”
Bocah laki-laki itu mengusap air matanya namun masih sesegukan.
“Artha baik-baik aja. Kak-Kak La-,”
“Lal,” potong Meesa memberi tahu.
“Kak Lal, Artha minta maaf ya? Maaf Artha gak sengaja nabrak Kak Lal dan buat sepatu Kak Lal kotor,” sesal Artha memelas.
Meesa ikut menatap Lal juga namuan Lal justru menatap Meesa balik seakan bertanya ia harus merespon apa. Gadis lugu itu tersenyum manis sambil mengangguk memberi syarat agar Lal memaafkan Artha.
“Hm,” balas Lal berdehem singkat.
“Lal ...,” peringat Meesa.
“Iya, gue maafin,” balas Lal dengan nada datar.
Artha tersenyum senang, ia mengambil bola yang tadi menggelinding tak jauh dari sisi Meesa.
“Kak Lal mau main bola sama Artha?” tawar Artha dengan senyum lugunya yang menggemaskan.
“Males,” tolak Lal kasar.
Artha yang tadinya tersenyum lebar langsung berubah murung. Ia menundukan kepalanya seakan ingin menangis.
“Kak Lal masih marah ya?”
Kedua bola mata belo itu mulai berkaca-kaca. Meesa yang melihat itu jadi tidak tega.
“Lal ... apa salahnya ajak Artha main?”
Lal menatap Artha jengkel. Bocah laki-laki itu menggagalkan rencananya hanya berjalan dengan Meesa. Padahal hari ini ia hanya ingin bersama Meesa, bukan bermain dengan bocah cengeng di hadapanya tersebut.
“Ya udah, Artha main sama Kak Meesa aja gimana? Kayanya Kak Lal lagi capek tadi abis latihan karate,” bujuk Meesa yang kembali berjongkok dan mensejajarkan tinggi badanya seperti tinggi Artha.
“Kak Meesa mau main sapa Artha?”
“Mau dong.”
Artha kembali tersenyum senang. Ia terlihat begitu menggemaskan sampai Meesa tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipi gembul itu.
“Yeay!”
“Ck, ayo main,” tukas Lal ketus.
Ia tidak suka melihat Meesa begitu dekat dengan bocah laki-laki itu.
“Kak Lal mau ikut main juga?” tanya Artha polos.
“Iya.”
Artha semakin tersenyum senang. Ia meloncat kegirangan bahkan senyumanya tidak lagi luntur. Saat ini ketiganya tengah bermain lempar tangkap bola. Meski jika di lihat hanya Artha dan Meesa yang menikmati permainan.
“Artha, ayo lempar ke Kak Meesa bolanya,” seru Meesa.
“Tangkap, Kak!”
Dug ....
Bukanya di lempar ke arah Meesa, lemparanya justru meleset ke kepala Lal. Meesa bergegas mendekati Lal, ia mengecek apakah ada luka yang di sebabkan oleh lemparan Artha. Meski tidak terlalu kuat Artha melemparnya, namun rasanya cukup sakit.
“Lal, kamu baik-baik aja?” khawatir Meesa.
“Kak Lal, maafin Artha ya?” rayu Artha yang tingginya hanya sepinggang Lal.
“Gak papa,” balas Lal saat rasa sakitnya tidak lagi mendera.
“Artha!” panggil seorang wanita berjilbab merah.
“Mama!”
“Astaga, kamu kemana aja, Nak? Mama cemas cari kamu,” ucap wanita tersebut menggendong Artha.
“Artha main sama Kak Lal dan Kak Meesa. Kenalin Ma, mereka baik banget udah temanin Artha main,” celoteh Artha begitu lugu.
“Meesa, Tante,” ujar Meesa memperkenalkan dirinya.
“Terima kasih ya, Nak. Artha gak nakal, ‘kan?”
“Nggak kok, Tante. Justru saya gemas sama Artha.”
“Maaf ya kalau Artha ngerepotin kalian.”
“Nggak kok, Tante.”
“Kalau gitu Tante pamit dulu ya, Papanya Artha pasti juga udah cemas karena tadi tiba-tiba Artha hilang. Sekali lagi terima kasih sudah jagain Artha,” pamit wanita tersebut mengajak Artha pergi.
“Sama-sama, Tante.”
“Artha, pamit dulu sama Kakaknya,” titahnya.
Artha turun dari gendongan mamanya. Ia berjalan begitu menggemaskan mendekati Meesa.
“Kak Meesa terima kasih ya udah temenin Artha. Kakak cantik, nanti kalau Artha ketemu Kak Meesa lagi. Kak Meesa mau ya jadi pacar Artha?” celetuk Artha lugu yang membuat Meesa tertawa gemas.
“Emang kamu tahu apa itu pacaran?” gemas Meesa mencubit pipi gembul itu.
“Tau dong! Kata temen Artha, kalau Artha suka sama cewek, Artha harus jadiin dia milik Artha. Caranya Artha harus jadiin dia pacar Artha,” terang Artha polos.
“Hahaha. Artha mau jadi pacar Kak Meesa?” goda Meesa.
“Iya!”
“Gak boleh, dia pacar gue,” timbrung Lal tiba-tiba.
“Yaahhh ... Kak Meesa udah punya pacar ya? Artha jadi sadboy deh.”
Meesa semakin tertawa. Ia merentangkan tanganya untuk memeluk Artha, bocah laki-laki lugu yang ingin menjadi pacarnya.
“Artha belajar yang rajin, raih cita-citanya, baru nanti boleh main cinta-cintaan,” pesan Meesa melepaskan pelukanya.
“Jadi Artha boleh pacaran kalau udah jadi tentara?”
“Artha mau jadi tentara?”
“Iya! Cita-cita Artha mau jadi tentara kaya Papa,” cerita Artha begitu menggemaskan.
“Hahaha, iya kamu harus jadi tentara dulu.”
“Kalau Artha udah jadi tentara Kak Meesa mau jadi pacar Artha?” tanya Artha begitu mendesak ingin menjadikan Meesa sebagai pacarnya.
“Keburu nikah sama gue kali,” celetuk Lal ketus.
Mamanya Artha tak bisa menahan tawanya. Ia gemas dengan dengan kedua laki-laki berbeda abad tersebut yang tengah merebutkan gadis lugu berparas ayu itu.
“Ayo Artha. Kamu gak boleh ganggu pacar orang,” kekeh wanita itu mengajak Artha.
“Yaahhh ... padahal Artha udah suka sama Kak Meesa,” murung Artha berjalan mendekati mamanya.
“Hahaha, kamu lucu banget sih,” gemas Meesa dengan tingkah lugu Artha.
Wanita berkrudung merah itu kembali menggendong Artha. Ia tersenyum geli melihat anaknya yang nampak galau.
“Ya udah kalau gitu kami pamit ya. Maaf Artha sudah ganggu kencan kalian,” kekeh wanita itu mengajak Artha pergi dari sana.