“Assalamu’alaikum,” salam Meesa memasuki ruang musik.
“Wa’alaikumussalam.”
“Meesa, baru datang?” tanya Charity menghampiri Meesa.
“Iya, Bu. Ini barusan dari kantin beli minum.”
Meesa menyalimi Charity baru kemudian duduk di depan pianonya.
“Ingin minum dulu atau langsung latihan?” tawar Charity berdiri di samping Meesa.
“Anak band udah selesai latihan, Bu?”
“Kita udah main dua lagu, Sa,” jawab gitaris SMP Nabastala.
“Ya udah berarti giliran aku ya. Oh ya, tadi aku juga beli beberapa minuman dan camilan.”
“Makasih ya, Sa. Terbaik emang lo.”
“Makasih, Sa. Makin cantik nan imut deh.”
“Ini nih yang gue cari. Seret tenggorokan gue dari tadi.”
“Gue yang nyanyi padahal, kenapa lo yang seret.”
“Hahaha, sama-sama. Jangan rebutan, semua pasti kebagian kok,” tengah Meesa.
Kelima remaja laki-laki itu mulai berebut makanan yang Meesa bawa. Ya anggota band memang berisikan laki-laki semua dan mereka adalah murid-murid hits SMP Nabastala karena ketampananya yang berada di atas standar. Selain anak band, anak dancer juga gudangnya cogan.
“Kamu harus jaga suara kamu ya. Besok kita libur latihanya dan saya minta kamu harus jaga kesehatan terutama tenggorokan kamu biar nanti suara kamu fress saat tampil,” pesan Charity bukan hanya pada Meesa saja.
“Iya, Bu.” “Siap, Bu.”
Meesa mulai memetik tuts-tuts pianonya dengan lembut. Suara merdunya mulai terdengar begitu halus dan lembut. Apalagi paras ayu itu nampak semakin membuat semua orang betah melihatnya. Kelima laki-laki itu bahkan hanyut dalam lagu yang di bawakan oleh Meesa. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu memalingkan pandangan mereka.
“Adem banget suara dia.”
“Gak heran. Ngomong aja suaranya alus banget. Apalagi nyanyi gini.”
“Dave, jodohin kek gue sama dia.”
“Ogah, lo playboy.”
“Gue tobat mainin cewek kalau dapet Meesa.”
“Seyakin itu lo dapetin Meesa? Saingan lo Lal noh. Hahahaha.”
“Sialan, jangan di ingetin lah.”
“Hahaha, yang ada belum-belum udah babak belur lo.”
Kelima laki-laki itu tidak ada hentinya berdebat bahkan hingga lagu yang di bawakan Meesa selesai.
Prok prok prok prok prok
Charity bertepuk tangan dengan performa latihan Meesa. Ia rasa tidak ada lagi yang perlu di perbaiki. Semuanya sudah sempurna.
“Bagus, Meesa. Pertahankan sampai lusa.”
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Selanjutnya Meesa berlatih untuk memainkan piano klasik. Permainanya terlihat begitu energik namun terkesan begitu elegan karena meski lagu yang dia bawakan energik pembawaan Meesa yang kalem membuatnya semakin apik.
Latihan mereka selesai sehabis dhuhur. Karena tidak ada lagi yang perlu di siapkan jadinya untuk kali ini mereka cepat pulang. Besok Meesa akan membawakan permainan piano klasik dua lagu dan satu lagu pop yang nantinya ia akan bernyanyi sambil bermain piano.
“Sa, lo pulang sama siapa?” tanya Davendra yang sudah berjalan di samping Meesa.
Belum sempat menjawab pertanyaan Davendra barusan, Lal sudah terlebih dahulu menjawabnya.
“Sama gue,” balas Lal yang entah sejak kapan berada di belakang keduanya.
“Ya udah kalau lo udah ada yang nganterin. Gue mau latihan volly.”
“Iya, hati-hati, Dave. Jangan terlalu di fotsir buat latihan volly, kan Senin lo juga tampil,” peringat Meesa.
“Iya, Bawel.”
Davendra mencubit gemas kedua pipi cubby Meesa. Namun ia tidak tahu jika pipi kanan Meesa masih lebam akibat tambaran Agnia tadi pagi. Meesa menahan ringisanya, sebenarnya cubitan Davendra tidak begitu kuat, namun pipi kananya terasa ngilu karena luka lebamnya belum membaik.
“Awwss ...,” ringis Meesa.
Davendra yang melihat Meesa kesakitan pun melepas cubitan di pipi Meesa. Ia menatap tajam pipi kanan Meesa yang nampak memerah. Apa sekeras itu ia mencubitnya.
“Sorry, gue terlalu kuat ya nyubit lo?” sesal Davendra hendak memgang pipi kanan Meesa.
Meesa mencegah tangan kekar Davendra untuk memegang pipinya.
“Gak papa. Cuman kulit gue sensitif aja mangkanya kelihatan merah banget,” elak Meesa berusaha membuat Davendra percaya.
“Bener? Sebagai ucapan permintaan maaf, selesai latihan nanti gue beliin es krim.”
“Hahaha, santai aja kali, Dave. Tapi kalau es krim, boleh deh.”
Davendra mengacak-acak rambut sebahu gemas. Meesa memang selalu berhasil membuatnya gemas. Sementara itu Lal kesal melihat semua perilaku Davendra. Ada gejolak panas yang menjalar di dadanya. Apalagi saat melihat tangan Davendra menyentuh Meesa. Ingin sekali Lal menepis tangan itu.
“Ya udah gue duluan ya.”
“Iya, hati-hati!”
Setelah Davendra pergi ke lapangan volly, tersisa Meesa dan Lal di koridor lantai satu gedung tiga tersebut. Lal merapikan rambut Meesa yang tadi di berantakin oleh Davendra namun pandanganya salah fokus dengan pipi Meesa yang nampak memerah.
Itu bukan seperti bekas cubitan jika di lihat dengan teliti. Namun seperti bekas tamparan. Dan luka itu bukan seperti lebam baru yang di sebabkan cubitan Davendra. Karena ia yakin Davendra tidak mungkin menyakiti Meesa apalagi mencubit hingga sekeras itu. Lagi pula ia yakin benar itu adalah luka bekas tamparan.
Lal membelai lembut pipi gembul itu, namun tetap saja hal itu membuat Meesa meringis karena luka lebamnya di sentuh oleh Lal.
“Ini kenapa?”
“Kan kamu tadi lihat, Lal.”
“Gak. Jangan berbohong, Lavanya.”
Meesa mendadak tegang. Ia tidak lagi berani menatap kedua iris hazel tersebut.
“Siapa?” desak Lal agar Meesa mengaku siapa yang sudah membuat luka lebam itu.
Bukanya menjawab pertanyaan Lal, Meesa justru menunduk takut.
“Kalau ada orang tanya, jawab, Lavanya. Tatap mata gue, lo gak lagi bicara sama sepatu gue,” tegas Lal dengan suara naik satu oktaf.
“Maaf, Lal.”
“Kenapa malah minta maaf?”
Meesa semakin takut, apalagi Lal tengah berbicara dengan nada dingin dan mengintimidasi.
“Lal, ayo pulang,” ajak Meesa mengalihkan pembicaraan.
“Jawab, Lavanya. Siapa yang nyakitin lo? Jangan mengalihkan topik,” desak Lal yang terus mendesak Meesa agar menjawab pertanyaannya.
“Maaf, Lal. Tapi aku gak bisa jaw-,”
“Kenapa?” potong Lal semakin mendesak.
Meesa memberanikan diri untuk menatap manik mata hazel itu.
“Ada beberapa pertanyaan yang gak harus di jawab. Dan pertanyaan kamu adalah salah satunya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak berhak tahu tentang semua masalah ku.”
Lal menghela nafas kasar. Ia mengusap paras tampanya frustasi. Benar kata Meesa, Davendra saja tidak di beritahu Meesa. Apalagi dirinya yang memang hanya teman biasa.
“Oke. Tapi lo udah obatin luka lo?”
“Udah kok.”
“Ya udah. Lo ada acara setelah ini?”
“Nggak kok.”
“Jalan sama gue mau?” tawar Lal.
“Emm ... oke. Tapi ke masjid dulu ya, aku belum salat dhuhur.”
“Iya, gue juga mau sekalian ganti.”
Mereka berjalan beriringan menuju masjid yang tersedia di SMP Nabastala. Kebetulan Lal memang masih memakai baju karatenya. Karena dia baru saja selesai berlatih.