Jarum jam menunjukan pukul delapan pagi. Gadis berambut sebahu itu hendak bersiap-siap karena hari ini adalah hari terakhirnya latihan. Ia memutuskan untuk pergi mandi karena jam sepuluh nanti ia akan pergi ke sekolah. Baru saja gadis lugu itu hendak membuka pintu kamarnya, namun seseorang telah terlebih dahulu membukanya dengan kasar.
“Tante Agnia, ada apa, Tan?”
Agnia menarik rambut sebahu itu kencang.
“Ada apa? Kamu jangan berlagak sok polos. Kamu tahu, gara-gara kebodohan mu saya kemarin di marahin oleh abang saya sendiri. Cuman gara-gara anak pembawa sial seperti kamu, abang saya memarahi saya,” murka Agnia dengan semakin kuat menjambak rambut Meesa.
“M-maaf Tante, awwss ... tolong lepasin, sakit,” pinta Meesa berusaha melepaskan jambakan Agnia dari rambutnya.
Agnia semakin kuat menjambak Meesa. Ia menatap nyalang kedua bola mata belo tersebut.
“Saya kemarin diam bukan berarti saya memaafkan mu begitu saja. Karena kamu saya tidak jadi ikut arisan dengan teman-teman sosialita saya, bahkan karena kamu Bang Jayendra yang tidak pernah kasar ke saya kemarin dia membentak saya cuman gara-gara kamu!”
“Ma-maaf Tante. Maafin Meesa.”
“Maaf kamu bilang? Kamu ingin saya maafkan hm?”
“Iy-iya, Tan.”
“Saya tidak akan pernah memaafkan mu sebelum kamu menderita!”
Agnia melepaskan jambakanya di rambut Meesa. Namun saat ini ia beralih mencengkram kedua pipi gembul itu dengan kuat.
“Kamu harus ingat, Lavanya Meesa. Sampai kamu dan Bunda kamu tidak pergi dari rumah ini, jangan harap hidup kamu akan tenang,” ancam Agnia.
Agnia menatap penggaris besi yang ada di meja belajar Meesa. Ia tersenyum sinis sebuah ide tidak masuk akal terlintas di kepalanya. Setelah melepaskan Meesa saat ini justru dengan bruntal lagi Agnia memukuli Meesa dengan penggaris besi tersebut.
Tidak ingin mengambil resiko, Agnia memukul lengan Meesa serta paha gadis itu yang masih tertutup piyama.
“Ampun, Tante. Hiks ... sakit, maafkan Meesa, Tante,” pinta Meesa yang menangis menahan perih dari pukulan penggaris besi tersebut.
“Ini belum seberapa. Kalau kamu berani ngadu ke ayah kamu, siap-siap kamu akan saya bunuh sekalian,” ancam Agnia.
Agnia berjongkok di depan Meesa. Ia mengangkat dagu Meesa kasar agar menghadap ke arahnya. Dengan tidak ada hati, ia justru menampar keras pipi cubby yang menggemaskan itu..
“Seharusnya kamu kemarin tuh gak usah selamat. Biar aja kamu di gilir oleh preman-preman itu kalau perlu biarin aja mereka bunuh kamu,” ucap Agnia dengan smrik yang menghiasi wajahnya.
Sebelum meninggalkan Meesa. Agnia yang belum puas menyakiti gadis itu, ia menendang Meesa yang masih tidak berdaya untuk melawanya.
Dug ....
Terdengar begitu keras saat high heels miliknya menendang Meesa yang masih bersimpuh di lantai.
“Jangan sampai orang tua kamu mengenai hal ini atau kamu akan mendapatkan lebih dari hal ini.”
Baru setelah mengucapkan ancaman tersebut Agnia meninggalkan Meesa.
Gadis berambut sebahu itu merapikan sejenak rambutnya yang nampak berantakan bahkan rontok akibat jambakan Agnia. Dengan air mata yang masih mengalir karena jujur saja seluruh badanya terasa sakit semua.
“Hiks ... ya Allah ini sakit semua,” keluh Meesa.
Meesa berusaha bangkit meski saat ini kakinya sangat sakit sehabis di tendang oleh Agnia. Di depan cermin besar itu ia menatap sejenak paras ayunya yang tadi sempat di tampar oleh Agnia. Di pipi gembul putih itu, begitu kentara tercetak lima jari yang nampak memerah dan kemungkinan bengkak.
“Ya Allah, gimana ini? Abis ini Meesakan harus ke sekolah,” monolog Meesa di depan cermin.
Meesa memutuskan untuk mengompres sejenak pipi kananya yang bengkak bekas tamparan Agnia. Setelah sedikit mereda ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.
Gadis berambut sebahu itu telah siap dengan rok selutut berwarna putih dan kemeja peachnya membalut tanktop hitam crop top tersebut. Tadinya Meesa hendak menguncir rambutnya, namun ia urungkan melihat bekas tamparan Agnia yang masih begitu kentara. Dengan telaten Meesa berusaha menutupi memar tersebut dengan bedak.
Meski tidak sepenuhnya hilang, namun itu sedikit membantu untuk menyamarkan. Paras lugu itu sengaja ia poles saja agar nanti ada alasan mengapa ada noda merah di pipi itu.
“Bismillah, semoga aja gak ada yang lihat.”
Setelah siap, ia menyangklot sling bag berwarna senada dengan kemeja miliknya. Tadi ia telah menghubungi Pak Damar dan laki-laki berumur tersebut itu sudah menghubunginya jika ia sudah siap di bawah.
Meesa menutup pintu kamarnya kemudian pergi menuruni anak tangga dengan senyum merekah. Sebenarnya pipinya terasa ngilu jika di buat untuk tersenyum. Namun ia tidak boleh terlihat lemah.
“Kak Meesa mau kemana?” tanya Rafa saat Meesa berada di anak tangga lantai dua.
“Mau ke sekolah buat latihan.”
“Ooh, ya udah hati-hati ya, Kak.”
“Terima kasih, Rafa.”
Rafa kembali melanjutkan langkahnya untuk ke lantai tiga sedangkan Meesa kembali menuruni anak tangga untuk bergegas pergi ke sekolah.
“Lava, kamu mau kemana?” tanya Denallie yang duduk santai di ruang tengah.
“Nenek? Lava baru aja mau ke kamar Nenek. Lava mau izin pergi ke sekolah buat latihan event Gebyar Demokrasi Nabastala Senin lagi,” izin Meesa berpamitan pada Denallie.
“Ya sudah kalau gitu, hati-hati ya? Jaga diri kamu baik-baik dan langsung pulang kalau latihanya selesai,” pesan Denallie mencium kening Meesa penuh kasih sayang.
“Iya, Nek. Lava berangkat dulu ya. Nenek mau titip sesuatu? Kalau Lava pulang biar Lava belikan.”
“Tidak per-,”
“Belikan saya rujak manis yang ada di dekat sekolah mu,” potong Anwa yang baru saja datang dari dapur.
“Tante Anwa, iya, Tan. Meesa pamit ya, Tan kalau gitu,” pamit Meesa sopan.
Meesa menghampiri Anwa hendak menyalimi ibu hamil tersebut namun Anwa justru menepis tanganya dengan kasar.
“Sudah sana pergi. Mual saya lihat muka kamu,” sinisnya mengusir Meesa.
“Anwa!” peringat Denallie.
Anwa hanya memutar bola matanya malas saat sang ibu membela Meesa.
“Assalamu’alaikum,” salam Meesa pergi meninggalkan rumah.
“Wa’alaikumussalam.”
***
“Gavesha, gimana udah siap semua? Panggung aman kan?”
“Buta lo? Noh lagi di pasang,” kesal Gavesha.
Bisa-bisanya Nalendra ketua acara ini justu baru saja datang. Sedangkan dia sudah ada di sini sejak pagi tadi.
“Katring buat besok aman? Snack? Kotak suaranya udah di keluarin kan dari gudang?” Terus-,”
“Gave! Gavesha, lo mau kemana? Woy gue tanya ini,” teriak Nalendra saat Gavesha bukanya menjawab pertanyaannya ia justru pergi begitu saja.
“Bodo, Nale. Bodo!” gerutu Gavesha.
Gadis berambut sepunggung itu tengah haus sekali. Ia berniat mencari minuman segar di kantin karena meski libut begini ada beberapa penjual yang buka untuk anak-anak ekstra atau hal seperti ini. Gavesha berjalan dengan perasaan dongkol melewati koridor gedung dua.
“Meesa!” teriaknya memanggil Meesa saat melihat Meesa ingin memasuki gedung dua.
Meesa berpenampilan begitu cantik dan anggun, berbeda dengan dirinya yang hanya menggunakan celana jeans dan hoodie oversize berwarna ungu. Gavesha mempercepat langkahnya untuk segera menghampiri Meesa.
“Lo mau latihan ya?” tanya Gavesha saat sudah ada di dekat Meesa.
“Iya, lo udah dari tadi di sekolah?”
“Hooh. Nalendra sialan. Masa gue di sini dari jam enam, sedangkan dia baru aja datang. Ya udah gue tinggal aja, ini gue mau ke kantin buat cari minum,” curhat Gavesha mengebu yang membuat Meesa terkekeh.
“Hahaha, sabar abis ini masa jabatan lo kan udah abis.”
“Iya juga sih.”
“Ya udah ayo gue temani ke kantin. Haus juga gue, abis dari kantin baru gue ke ruang musik. Kayanya juga anak band dulu yang latihan” tutur Meesa menggandeng jemari mungil Gavesha.
“Ayo! Sumpah capek banget gue. Sejak gue dateng sampai sekarang belum istirahat. Pegel kaki gue berdiri sama lari sana sini urus semuanya. Nalendra mah enak, datang-datang nanyain kaya bos aja,” gerundel Gavesha yang terus curhat ke Meesa.
“Sabar, Gavesha.”
“Mana bisa gue sabar kalau hadepin Nalendra.”