Part 49

1201 Kata
           Meesa dan Gavesha masih tertawa menertawakan kebodohan mereka berdua. “Hahaha, ya Allah gue pikir lo tuyul tadi,” tawa Gavesha sambil memegangi perutnya. Ternyata yang memanggil dan menepuk pundak Meesa tadi adalah Rafandra. Namun karena Rafandra tengah botak dan tidak memakai baju mereka berteriak mengira bahwa Rafandra adalah tuyul. Sedangkan Rafandra berteriak karena mengira kedua gadis itu adalah kuntilanak. “Astagfirullah, mau copot lho jantung Fandra gara-gara Kak Gavesha sama Kak Meesa.” “Hahaha, maaf ya, Dra. Tadi kita lagi nonton horor mangkanya masih ke bawa takutnya,” ucap Meesa bersalah. “Iya, Kak. Ya udah aku ke kamar dulu ya.” “Iya.” “Ada-ada aja si Fandra,” heran Gavesha yang masih belum bisa mengontrol tawanya. “Hahaha, ya udah ayo kita tidur. Biar besok gak kesiangan.” Meesa dan Gavesha kembali ke kamar. Setelah mematikan laptopnya, Gavesha segera menyusul Meesa untuk terlelap. Tak lama setelah mereka pergi tidur, akhirnya mereka sampai ke mimpi mereka masing-masing karena memang keduanya tengah mengantuk. *** Arunika pagi ini telah menyambut bentala dengan sinar terangnya. Gavesha dan Meesa turun dari mobil Jayendra. Ya mereka berdua berangkat bersama di antar oleh Jayendra dan Elakshi. “Kalian belajarnya yang semangat ya. Jangan lupa makan sama kewajibanya,” pesan Elakshi saat kedua gadis itu menyalimi mereka. “Makasih ya, Om, Tante, udah nganterin Gavesha hehe.” “Sama-sama, Sayang.” Mereka melambaikan tangan ke arah Elakshi dan Jayendra sebelum mobil Jayendra keluar dari perkarangan SMP Nabastala. Semua momen itu tidak luput dari perhatian para siswa siswi SMP Nabastala yang kebetulan juga baru berangkat. Kedekatan Meesa dan Gavesha semakin hari memang semakin erat. “Gavesha sama Meesa makin deket aja?” “Gue heran kenapa banyak banget murid di sini dia lebih milih Gavesha.” “Tapi semenjak ada Meesa, Gavesha udah gak segalak dulu.” “Iya, dia jarang ngerazia juga haha.” “Kak Meesa cantik ya.” “Kak Meesa!” “Kak Gavesha!” “Pagi calon pacar!” “Widih calon pacar gue berangkat sama Bu Bos Waketos.” “Gave, jangan galak-galak biar banyak yang suka kaya Meesa.” “Kak Gavesha!” “Pagi, Kak Gavesha, Kak Meesa.” Banyak yang menyapa keduanya, apalagi Gavesha karena memang posisi gadis itu sebagai wakil ketua OSIS SMP Nabastala. “Eh, itu hasuk kamu kemana?” tunjuk Gavesha pada salah satu murid laki-laki yang tidak memakai hasduk. “Hilang, Kak. Lagian ‘kan Kak Gavesha waketos, bukan wakil pradana,” bela laki-laki itu. “Tetap saja, peraturan atribut harus lengkap tanpa alasan apapun,” tegas Gavesha yang mulai mengajak berdebat. Meesa diam saja di sini. Dia merasa tidak punya hak apapun karena dia bukan siapa-siapa. Namun sebisa mungkin ia menjinakan Gavesha agar gadis itu tidak kelewatan batas. “Masih pagi, Gave,” peringat Meesa di samping Gavesha. “Pergi ke koprasi, beli yang baru,” titah Gavesha tak terbantahkan. Anak laki-laki itu hendak memprotes, namun Meesa mengkodenya agar lebih baik mengiyakan saja dulu perintah Gavesha. “Baik, Kak.” “Udah, Gave. Ayo ke kelas.” Meesa segera menggeret Gavesha agar tidak lagi merazia murid-murid SMP Nabastala. Namun saat hendak masuk lift, salah seorang murid perempuan berpakaian ketat dengan make up yang tidak pantas di gunakan ke sekolah membuat perhatian Gavesha teralihkan. “Heh lo,” tunjuk Gavesha pada murid perempuan yang berbeda lima meter darinya. “Gue?” tanya balik murid perempuan itu. “Iya. Lo mau sekolah apa mangkal? Baru anak SMP dandanan kaya gitu,” tegur Gavesha nyelekit. “Kenapa? Iri lo? Secara kan lo gak bisa dandan,” tantang murid perempuan itu. “Iri? Ya kali gue iri sama ondel-ondel perempatan depan.” “Jaga mulut lo!” “Apa? Bersihin cepet make up nya. Ganti seragamnya? Apa jangan-jangan lo gak mampu beli seragam yang lebih layak?” sarkas Gavesha semakin membuat Meesa ketar-ketir. Jujur saja Meesa hanya takut nanti akan ada pertengkaran. “Udah, Gave. Bel bentar lagi masuk,” ungkap Meesa berusaha membawa Gavesha pergi. “Lo kalau mau pergi ke kelas duluan aja. Urusan gue belum selesai di sini,” balas Gavesha yang saat ini justru mendekati murid perempuan tersebut. “Astagfirullah,” keluh Meesa nyebut. Dia bingung mesti bersikap seperti apa. Jika ia membela anak perempuan itu, jelas-jelas dia memang melanggar aturan SMP Nabastala. Namun jika ia membela Gavesha pasti makin panas suasana saat ini. Meesa hendak menghubungi Davendra, namun ia urungkan saat ia melihat Nalendra yang berjalan ke arahnya dari arah lapangan. “Nalendra!” jerit Meesa memanggil Nalendra. Nalendra yang mendengar dan melihat Meesa melambaikan tangan ke arahnya pun berlari kecil ke arah Meesa. “Ada apa, Sa?” “Nalendra, itu tolong Gavesha mau ribut sama siswi itu,” adu Meesa. Nalendra memutar badanya sembilan puluh derajat. Benar saja, di sana ada Gavesha tengah mode razia yang tidak berbelas kasih. “Biarin aja, Sa,” balas Nalendra malas. “Kok di biarin sih. Pisahin lah,” tandas Meesa geram. “Lo tenang aja. Mending lo pergi ke kelas sana gih. Urusan Gavesha biar gue aja.” “Ya Allah, Gavesha. Astagfirullah,” nyebut Meesa saat Gavesha hampir jambak-jambakan dengan murid tersebut jika dirinya tidak bergegas menarik tubuh mungil Gavesha. Meesa mendengus kesal saat Nalendra tidak merespon apapun. “Lo gak usah berkuasa deh. Abis ini jabatan lo juga bakal lengser. Lo juga bakal tetep jadi murid biasa,” tukas murid perempuan tersebut terus menantang Gavesha. “Gue bukan sok berkuasa. Tapi gue peringatin lo. Cara berpakaian dan make up lo sama sekali gak mencerminkan kalau lo pelajar.” “Ini hidup gue, lo gak usah sok ngatur. Terserah gue lah mau pakai pakaian apa, make up gimana,” nyinyir siswi tersebut yang semakin membuat suasana semakin panas. “Itu urusan gue! Karena lo sekarang ada di lingkungan sekolah. Dan lo harus mematuhi semua peraturan yang ada di sekolah termasuk cara berpakaian murid yang benar,” bentak Gavesha yang sudah di sulut emosi. “Gave, istigfar, Gave.” “Ck. Maya lo gak bosen cari masalah terus? Ganti pakaian lo dan hapus make up lo, atau gue seret paksa lo ke bk,” tegas Nalendra. Murid perempuan yang ternyata bernama Maya itu menghentakan kakinya kesal. Ia pergi begitu saja menuruti perkataan Nalendra. Gavesha yang melihat itu dia tersenyum puas melihat wajah pias Maya. Meesa, Gavesha, Nalendra, dan beberapa siswa lainya mulai menaiki lift ke kelas mereka masing-masing. Nalendra berhenti di lantai empat tempat kelas dia berada, semenara di lift hanya tersisa Gavesha dan Meesa. “Puas banget gue lihat wajah Maya hahaha,” kekeh Gavesha. “Gue deg-degan waktu kalian mau berantem tadi,” gerutu Meesa. “Hahaha, padahal tadi gue mau cakar tuh wajahnya. Lo sih keburu narik gue.” “Gave,” peringat Meesa. “Hahaha, becanda kali, Sa.” Keduanya keluar dari lift untuk masuk ke kelas mereka. Kelas yang berada di ujung dan seperti tidak ada kehidupan di sana. Meski sudah banyak siswa-siswi yang masuk, kelas mereka nampak sepi karena mereka sibuk dengan dirinya sendiri. “Assalamu’alaikum,” salam Meesa masuk kelas. “Wa’alaikumussalam,” jawab sebagian murid.            Gavesha dan Meesa duduk di kursi mereka masing-masing. Pelajaran akan di mulai lima belas menit lagi, jadi mereka memutuskan untuk menyiapkan semua akan di butuhkan di jam pertama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN