Part 48

1509 Kata
Ketiga remaja itu menoleh ke arah pintu kamar Meesa saat mendapati seorang laki-lak bertubuh tegap berdiri di ambang pintu. Saat ini posisi Meesa memang tidak lagi di atas kasur. Ketiganya tengah duduk di karpet berbulu motif beruang yang ada di dalam kamar Meesa. “Gue boleh masuk?” tanya laki-laki tersebut yang membuyarkan lamuan ketiganya. “Eh, Lal. Boleh. Ayo sini masuk,” seru Meesa tersadar dari lamuanya. Lal memasuki kamar Meesa yang bernuansa soft tersebut. Ia melepaskan sepatunya kemudian ikut bergabung dan duduk di samping Davendra. “Nih buat lo,” ucap nya memberikan sebuah paper bag ke arah Meesa. “Waaahh apa ini? Terima kasih ya.” “Sama-sama.” Meesa membuka paper bag yang berisi sebuah kotak di sana. Alih-alih membelikan kue atau buah, Lal justru membelikan sebuah kotak musik berbentuk piano untuk Meesa. Tadinya Lal bingung ingin membelikan Meesa apa karena ia tidak tau kesukaan gadis itu apa selain piano. “Bagus banget, terima kasih ya, Lal,” puji Meesa yang mulai memainkan kotak musik tersebut. “Iya,” jawab Lal singkat. Saat ini Gavesha dan Meesa justru sibuk bermain dengan kotak musik pemberian Lal. Bahkan Davendra hanya melongo karena kedua gadis itu langsung mencuekinya. Hanya saja ia lega, Meesa sudah tidak sesedih tadi. Bahkan gadis itu kini sudah mulai bisa tersenyum. “Dasar cewek,” sindir Davendra saat kedua gadis itu asik bermain sendiri. “Syirik aja lo,” sinis Gavesha balik. “Oh ya, Lal. Kamu udah gak papa, ‘kan?” khawatir Meesa karena seingatnya kemarin Lal terluka. “Gak papa.” “Thanks, Bro!” ucap Davendra tiba-tiba yang membuat Lal bingung. “Makasih udah selametin Meesa kemarin,” imbuh Davendra menjelaskan maksud ucapanya. “Iya.” Davendra hanya merotasikan bola matanya malas. Dasar Lal. Jika interaksi dengan Meesa saja ia akan manis dan menggunakan nada yang lembut. Jika dengan orang lain tetap singat dan dingin. Keempat remaja itu kini bermain monopoli atas usulan Gavesha. Kebetulan Meesa memang mempunyai permainan tersebut, jadilah kedua laki-laki itu hanya menurut saja. Gavesha merampas dadu yang hendak di mainkan oleh Davendra. “Kan lo lagi di penjara, jadi gak boleh main dulu,” serunya. “Terus gimana cara gue keluar?” kesal Davendra. “Ya, beli aja kartu bebas penjara atau bayar $50.” “Ck, hukum apaan bisa di beli.” “Hukum Indonesia gak sih?” tebak Meesa yang membuat ketiga remaja itu tertawa. Ya hanya bertiga karena Lal hanya tersenyum tipis. “Parah lo, Sa. Tapi gue dukung,” seru Gavesha. Mereka kembali melanjutkan permainanya. Sampai akhirnya tidak terasa hari sudah mulai senja. Kedua remaja laki-laki itu memutuskan untuk pulang. Gavesha memutuskan untuk menginap di rumah Meesa, ia sudah mengubungi mamanya dan tentu saja Xena langsung menyetujui hal itu. “Daaa ... hati-hati makasih udah jenguk,” seru Meesa yang ada di teras rumah. Meesa melambaikan tanganya untuk Lal dan Davendra. Kondisinya saat ini sudah mulai pulih asal tidak ada yang mengingatkanya mengenai peristiwa kemarin. “Kita balik ke kamar yok. Sekarang girls time!” Gavesha tadi sempat pulang sebentar untuk menaruh barang-barangnya dan mengambil beberapa barang yang di butuhkan. Seperti saat ini, ia sedang menyusun beberapa rencana agar Meesa bisa kembali ceria dan besok sudah bisa kembali bersekolah. “Abis salat isya, kita maskeran sambil nonton gimana? Gue udah bawa laptop, gue tau enaknya nonton apa malam nanti,” usul Gavesha yang ikut tiduran di kasur Meesa. “Boleh, mau nonton apa?” “Horor! Gue udah download filmnya, seru banget pokoknya.” “Oke, tapi jangan serem-serem ya hantunya,” ucap Meesa lugu. “Kalau gak serem bukan hantu lah, Sa,” gemas Gavesha. “Hahaha, iya maksudnya hatunya jangan yang serem banget.” “Eh, Sa. Menurut gue kayanya Lal beneran suka deh sama lo. Lo suka gak sama Lal? Masa lo gak suka sih sama cowok seganteng dia,” tany Gavesha mengalihkan pembicaraan. “Lal kan emang baik, Gave. Lo aja yang gak tau.” “Ya jelas gue gak tau, semua orang juga gak tau, Sa. Lal tuh ya kurub es Nabastala. Dia tuh kaya kulkas sepuluh petak yang berjalan,” hiperbola Gavesha. “Ada-ada aja lo.” “Hahaha. Jangan-jangan lo suka ya sama Lal? Wajar sih, kalau gue di posisi lo jelas udah baper tujuh turunan gue.” “Gave,” panggil Meesa dengan nada serius. “Kenapa?” “Lo gak salah makan, ‘kan hari ini?” Gavesha mencak-mencak mendengar pertanyaan Meesa barusan. Padahal dia ingin menginterview Meesa mengenai Lal. “Ih, lo mah. Gue tanya serius juga,” gerundel Gavesha. “Hahaha. Gue gak ada apa-apa sama Lal, Gave. Ya mungkin sama kaya lo, sama kaya Davendra.” “Kalau Lal nembak lo gimana?” Meesa nampak terdiam sebentar. “Gue gak mau pacaran dulu. Mau fokus kejar cita-cita dulu. Kan lo tau gue mau jadi psikiater,” jawab Meesa enteng. “Hmm ... gitu ya?” “Iya. Kata Ayah juga gue di suruh fokus belajar dulu buat raih cita-cita gue. Urusan cinta-cintaan gue belum pikirin.” “Ooh.” Gavesha dan Meesa melanjutkan omongan mereka dengan random. Sesekali mereka tertawa dan berdebat. Auzora kala itu semakin menggelap, hingga akhirnya lantunan indah suara perintah dari sang pencipta menggema di langit senja. Mereka berdua pun bergegas untuk melaksanakan kewajiban masing-masing. *** “Gue maskerin lo, terus lo maskerin gue,” titah Gavesha yang kini telah siap dengan semangkuk masker organik di hadapanya. Meesa menurut. Ia memasang bandana handuk terlebih dahulu agar rambutnya tidak menutupi paras ayunya. Gadis berambut sebahu itu duduk di hadapan Gavesha. Ia mengaduk sebentar mangkuk masker miliknya. “Gimana persiapan Gebyar Demokrasinya?” basa basi Meesa sambil mulai memakaikan masker ke wajah milik Gavesha. “Nunduk dikit dong, Sa,” peringat Gavesha karena ia sedikit kesusahan saat memaskeri Meesa. Meesa terkekeh pelan sebentar, kemudian ia sedikit menundukan badanya. “Udah di atas delapan puluh persen persiapanya. Oh ya, lo yakin bisa tampil besok Senin? Kalau gak bisa, biar gue bilang ke Nalendra. Lagian dia juga bakal ngerti keadaan lo,” terang Gavesha dengan serius memakaikan masker organik ke wajah Meesa. “Besok aja gue udah masuk ke sekolah. Jadi Senin gue yakin bisa tampil,” balas Meesa. Gavesha menghentikan sebentar kegiatanya. “Gue serius. Jangan di paksain kalau emang lo gak bisa.” “Gue juga serius, Gave. Gue udah gak papa.” “Ya udah, tapi kalau lo berubah pikiran lo langsung bilang ke gue ya?” pinta Gavesha. “Iya, tenang aja.” “Besok kan gue bakal pulang sore, jadi lebih baik lo besok balik sama Davendra. Gue paling minta jemput Papa atau Kak Meera,” saran Gavesha. Meesa tersenyum manis Gavesha terlihat posesif kepadanya. “Makasih ya. Lo jangan terlalu di fotsir juga kerjanya. Istirahat kalau emang capek, makan sama salatnya juga jangan lupa,” pesan Meesa pada Gavesha. “Utututu, perhatian banget sih lo sama gue.” “Iya dong. Kan gue gak mau lo sakit karena lupa sama keadaan lo sendiri.” Gavesha terkekeh. Dia senang karena saat ini bukan hanya Davendra yang cerewet kepadanya. Saat ini ada Meesa yang lebih perhatian dan tentunya lebih baik dari Davendra yang terkadang begitu menyebalkan. “Nah selesai! Kuy nonton.” Setelah merapikan peralatan masker mereka. Keduanya bergegas menuju ke kasur untuk pergi menonton film horor. Tadi Meesa juga sudah meminta ke Elakshi untuk menyiapkan beberapa cemilan serta minuman agar acara menonton mereka terasa lebih seru. Bahkan lampu kamar Meesa sengaja di matikan dan hanya menyalakan lampu tidur dengan sinar redup. “AAAAAAA ...,” jerit keduanya saat adegan jums scare. “Hantu sialan, ngagetin gue aja,” umpat Gavesha random. “Huaaa ... iihhh serem,” kali ini pekik Meesa yang lebih kalem. “Lari woy lari! b**o banget malah diem. Woy itu belakang lo.” “AAAAAAAA.” “MAMA!” “BUNDA!” Sepanjang menonton mereka sering berteriak. Bahkan setelah film selesai, keduanya masih senantiasa berpelukan. “Sa, ini gimana kita bilas maskernya?” lirih Gavesha yang masih memeluk Meesa. “Gue gak berani, Gave.” “Sama dong.” “Masa sampai besok pagi. Glowing enggak bruntusan iya yang ada.” “Ya udah kita keluar sama-sama. Terus nanti masuk kamar mandinya juga sama-sama,” usul Meesa. Keduanya sama-sama bangkit dari kasur mengendap-ngendap pergi keluar kamar. Sial, lampu utama di lantai tiga sudah di matikan karena memang saat ini sudah hampir tengah malam. “Sa, gue gak berani,” cicit Gavesha yang memeluk Meesa dari samping. “Jam berapa sih kok udah mati lampunya,” gerutu Meesa. Mereka berjalan dengan hati-hati sampai akhirnya ada yang menepuk bahu Meesa. “Gave, kenapa sih?” “Hah? Apa?” “Kenapa nepuk-nepuk pundak?” Gavesha menyirit. “Kan tangan gue meluk lo, Sa. Gimana gue bisa nepuk pundak lo?” heran Gavesha. Gavesha dan Meesa tersadar. Keduanya saling tatap-tatapan seperti berbiacara dengan telepati. “Jangan-jangan ...,” ujar Gavesha menggantungkan perkataanya. “Jangan noleh, udah jalan ada ke kamar mandi,” usul Meesa. “Kak,” panggil suara barinton dengan suara serak yang membuat Meesa dan Gavesha reflek menoleh. “AAAAAAAAAAA!” jerit ketiganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN