Part 47

1155 Kata
“Gavesha! Lo mau kemana? Kita harus siapin semua event Gebyar Demokrasi Nabastala buat hari Senin,” seru Nalendra saat Gavesha hendak pulang. Gavesha memutar bola matanya malas. Kemudian ia berbalik dengan wajah yang datar menghadap ke arah Nalendra, si ketua OSIS yang menyebalkan. “Urusan gue udah selesai semua.” “Tapikan lo di sini wakil ketua OSIS. GAVESHA! GAVE!” Gavesha tidak lagi mengindahkan panggilan Nalendra. Ia justru berjalan cepat menuju parkiran karen Davendra sudah menunggunya. “Kenapa lo?” heran Davendra saat sedari tadi Gavesha datang dengan menggerutu. “Noh, kembaran lo. Suka banget buat gue emosi.” “Hahaha. Kita langsung ke rumah Meesa?” “Emm ... masa kita gak bawa apa-apa. Enaknya bawain apa buat Meesa?” tanya Gavesha sembari memasang helm bogo miliknya. “Meesa suka es krim gak sih? Kan dia lagi sedih, kita bawain es krim aja,” usul Davendra. “Ya tapi kan dia lagi sakit kata Tante Elakshi. Masa es krim sih,” tolak Gavesha. “Kita beliin aja cake di toko roti depan komplek. Kan Meesa suka tuh cake,” usul Davendra kembali. “Boleh juga. Ya udah kita beli cakenya dulu terus ke rumah Meesa!” Gavesha duduk di jok belakang motor milik Davendra. Kemudian mereka berdua meninggalkan pelataran SMP Nabastala menuju kue roti dekat komplek yang mereka tinggali. Selesai membeli kue untuk Meesa, Gavesha dan Davendra segera pergi ke rumah Meesa. “Eh ada Non Gavesha sama Den Davendra, mau jenguk Non Meesa ya?” sapa Pak Setya ramah saat mereka sampai di pelataran megah milik kediaman Atreya. “Iya, Pak. Meesanya ada kan di rumah?” tanya Davendra takut-takut Meesa tidak ada di rumah. “Ada, Den.” Davendra memarkir motornya di samping rumah. Kemudian dirinya dan Gavesha masuk ke dalam yang di sambut hangat oleh Denallie. “Assalamu’alaikum,” salam Davendra dan Gavesha berbarengan. “Wa’alaikumussalam, eh ada Nak Gave sama Dave. Ayo masuk, mau jenguk Lava ya?” jawab Denallie begitu ramah. Gavesha dan Davendra menyalimi Denallie sopan. “Iya, Nek,” balas Gavesha. “Gavesha, Davendra, kalian udah pulang sekolah?” sapa Elakshi yang tengah menuruni anak tangga. “Iya, Tante. Kita mau jenguk Meesa,” jawab Gavesha sopan. “Kalian langsung ke kamarnya aja. Ajakin Meesa ngobrol ya, dia lebih pendiem Tante lihatnya,” pinta Elakshi sendu. “Pasti, Tante. Ya sudah saya sama Gavesha ke atas ya?” balas Davendra. “Iya. Kamarnya Meesa gak di kunci kok, kalian langsung buka aja.” “Baik, Tante.” Gavesha dan Davendra mulai menaiki anak tangga menuju kamar Meesa yang ada di lantai tiga. Setelah sampai di depan pintu bercat putih itu mereka nampak ragu untuk membukanya. Gavesha mendorong Davendra agar laki-laki itu saja yang membukanya, namun Davendra menolak tidak enak. “Lo aja, kan lo cewek.” “Apa hubunganya?” “Ya kan gak enak gue cowok masa asal buka kamar cewek,” bantah Davendra. “Biar adil, kita buka sama-sama aja,” saran Gavesha. “Oke.” Gavesha mengetuk sebentar kamar Meesa. Tok ... tok ... tok .... “Meesa, ini gue Gavesha,” ucap Gavesha memanggil Meesa. Tidak ada jawaban, Gavesha memberi kode ke Davendra untuk memutuskan mereka membuka kamar Meesa bareng-bareng. Ceklek ... ciiitt .... Pintu kamar terbuka. Terlihat Meesa dengan tatapan kosong tengah duduk di kasurnya dengan setengah badan yang di tutupi oleh selimut. Bibir ranum yang biasanya selalu tersenyum itu kini memucat. Bahkan nayanika yang biasanya terpancar laksmi, kini nampak kosong tanpa ada binarnya. Gavesha meringis melihat Meesa nampak tak baik-baik aja. Dia mendekat ke arah Meesa namun tidak ada respon dari gadis itu. Biasanya ketika Meesa melihatnya Meesa akan berseru senang dan memanggil namanya dengan heboh. Namun saat ini menoleh saja tidak. Tidak hanya Gavesha yang menatap Meesa iba. Davendra hanya mampu tersenyum kecut melihat gadis imut itu nampak seperti mayat hidup. Saat berada di samping kasur Meesa, Gavesha melepaskan sejenak sepatunya kemudian dia naik ke kasur Meesa dan langsung memeluk tubuh berisi itu. Meesa nampak tersentak sejenak, bahkan ia hampir saja menghempaskan Gavesha namun Gavesha segera bersuara yang membuatnya sadar. “Gue Gavesha,” ucap Gavesha yang membuat Meesa tersadar. “Ga-Gave-Gavesha?” gagap Meesa memanggil nama Gavesha. “Iya, gue Gavesha. Lo jangan takut.” “Iy-iya. Sorry, gue pikir lo preman itu.” “Maafin gue ya. Seharusnya hari itu gue nungguin lo kaya biasanya,” sesal Gavesha. “Gak papa, Gave. Bukan salah lo.” Meesa nampak nyaman di pelukan Gavesha, perlahan ia kembali menangis mengingat kejadian kemarin. Gimana preman-preman itu menyentuhnya bahkan hampir saja berbuat tidak senonoh kepadanya. “Keluarin semuanya, jangan takut lagi. Mulai sekarang, gue bakal nemenin lo kalau lo belum di jemput,” ujar Gavesha. “Lo tau, me-mereka kemarin ... hiks ... gue ... hiks hiks-,” “Kalau lo gak kuat buat cerita, gak usah. Jangan di ingat lagi peristiwa itu,” potong Davendra yang tidak tega. “Bener kata Davendra. Kalau lo belum siap buat cerita gak papa,” timpal Gavesha menyetujui. “Gue kotor ya, Gave?” celetuk Meesa lirih. Gavesha menggeleng kuat. “Gak, siapa yang bilang gitu?” “Hiks ... hiks ... mereka kemarin sentuh-sentuh gue. Bahkan mereka mau lecehin gue kalau aja Lal gak datang,” cerita Meesa yangg membuat Gavesha dan Davendra bertanya-tanya. “Lal?” beo Davendra. Meesa mengangguk. “Lal yang nolongin gue kemarin.” Ada perasaan tidak rela saat Meesa menyebut nama Lal apalagi menceritakan bahwa Lal adalah pahlawanya. Namun Davendra tidak ingin egois. Lagi pula jika tidak ada Lal bagaimana nasibb Meesa kemarin. “Alhamdulillah berarti Allah masih sayang sama lo. Buktinya kemarin Allah kasih Lal buat nolongin lo,” tukas Gavesha. Meesa mengangguk. Perlahan ia mulai menceritakan bagaimana bisa kejadian seperti kemarin. Gavesha terus memeluknya bahkan tidak ada niatan untuk melepas pelukanya. Di tengah cerita ternyata Elakshi datang membawa minuman dingin dan beberapa cemilan untuk mereka. “Maaf ya Tante ganggu bentar. Ini minumnya sama cemilanya. Terima kasih ya udah jenguk Meesa,” ujar Elakshi meletakan minuman serta cemilan itu di salah satu meja yang ada di kamar Meesa. “Terima kasih, Tante. Maaf ngerepotin,” balas Gavesha. “Gak ngerepotin kok. Ya udah Tante tinggal ke bawah dulu. Jangan lupa di makan cemilanya, habisin aja juga gak papa.” “Hehehe, tenang, Tan. Aman kok,” cengenges Davendra. Gavesha melototin Davendra. Laki-laki itu memang selalu membuatnya malu. “Hahaha, ya udah Meesa kamu di temani Gavesha sama Davendra dulu ya.” “Iya, Bun.” Elakshi kembali meninggalkan mereka. Hari ini ia memang sengaja libur sampai keadaan Meesa membaik. Setelah Elakshi pergi, Gavesha, Meesa, dan Davendra kembali berbincang-bincang. Mereka tidak lagi menyinggung masalah Meesa saat ini mereka mencoba untuk menghibur Meesa dengan beberapa pengalihan topik pembicaraan. “Eh sampai lupa. Gue tadi beliin cake kesukaan lo. Dave, mana cakenya tadi,” tanya Gavesha. Davendra memberikan sebuah paper bag dari toko roti yang cukup terkenal di Jakarta tersebut. “Waaahh ... makasih ya.” “Sama-sama.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN