Jemari lentik milik Elakshi mengelus lembut surai hitam sebahu tersebut. Hatinya tersayat saat mendengar cerita sang putri. Apalagi isak yang sampai saat ini masih belum berhenti. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana ketakutan putrinya tersebut.
“Ssstt ... udah ya. Jangan di inget lagi. Kan sekarang ada Bunda,” ucap Elakshi menenangkan.
“Hiks ... ta-tadi Lal udah bersihin bekas sentuhan premanya.”
“Oh ya? Kalau gitu jangan sedih, kan udah di bersihin sama Lal.”
“Meesa takut, Bun.”
“Jangan takut, Sayang. Bunda janji, setelah ini Bunda sama Ayah akan lebih jaga kamu,” tukas Elakshi kembali memeluk erat Meesa.
Perlahan isakan Meesa mulai mereda. Tiada henti Elakshi bersenandung untuk menenangkan Meesa sembari terus mengelus rambut gadis itu. Sampai akhirnya Meesa terlelap dalam dekapan Elakshi.
Suara decitan pintu terdengar saat Jayendra membuka pintu kamar Meesa. Ia tersenyum simpul saat mendapati putrinya itu telah tertidur. Jayendra berjalan ke arah Meesa. Ia duduk di tepi ranjang ikut membelai rambut Meesa lembut. Dengan penuh kasih sayang Jayendra mencium puncak rambut Meesa begitu lama dan tulus.
“Maafin Ayah, Sayang. Ayah udah gagal jaga kamu,” sesal Jayendra.
“Udah, Mas. Inn syaa Allah Meesa sudah lebih baik keadaanya,” tenang Elakshi.
“Apa kita perlu membawanya ke psikolog?” usul Jayendra yang di setujui oleh Elakshi.
Ia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya. Lagi pula ibu mana yang tega melihat kondisi anak perempuanya sehancur ini. Apalagi tadi Meesa sempat seperti merasa begitu rendah.
“Setelah semuanya selesai lebih baik seperti itu.”
“Aku akan membawa kasus ini ke polisi. Setelah berbicara dengan Agnia dan Pak Damar, aku akan melaporkan kasus ini ke polisi,” ungkap Jayendra.
“Aku ikut ya, Mas?” mohon Elakshi yang ingin ikut ke kantor polisi.
Jayendra menggeleng pelan. “Kamu di rumah saja jaga Meesa. Biar aku yang mengurus semuanya.”
“Baik kalau gitu, Mas.”
***
Sebuah mobil pajero sport berwarna hitam memasuki kediaman rumah Atreya. Seorang wanita berumur tiga puluh lima tahun dengan pakaian ibu-ibu sosialita itu keluar dari mobil dengan keadaan dongkol. Ia memasuki rumah mencari keberadaan kakak laki-laki pertamanya.
“Ucapkan salam dulu, Agnia,” peringat Jayendra yang telah menunggunya di ruang tengah.
“Ada apa sih, Mas! Kenapa tiba-tiba nyuruh aku pulang gitu aja,” kesal Agnia yang duduk di hadapan Jayendra.
“Kamu masih tanya apa salah kamu, Agnia?”
“Gimana aku bisa tahu salah aku. Mas aja gak kasih tau,” sungut Agnia berdebat.
“Apa maksud kamu menyuruh Pak Damar mengantar kamu ke Bogor? Kamu tahu kan Mas bayar Pak Damar untuk mengantar jemput Meesa bukan untuk mengantar jemput kamu,” geram Jayendra.
Agnia mengepalkan tanganya. Rupanya sudah berani gadis itu mengadu. Lihat saja ia akan membuat perhitungan dengan gadis sialan itu.
“Meesa kan bisa naik taksi, ojek, angkot, atau angkutan umum lainya. Gak usah lebai gitu kali, Mas. Pelit banget sih sama adek sendiri.”
“Kamu tahu? Gara-gara kamu Meesa hampir di lecehkan dengan tiga preman.”
Agnia harus berakting pura-pura syok. Jadi dia melebarkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Astaga, sekarang bagaimana keadaan dia?” tanya Agnia berpura-pura simpati.
“Dia sepertinya trauma dengan kejadian ini.”
“Aku minta maaf, Mas. Aku benar-benar gak tau kalau sampai kejadian kaya gini,” akting Agnia menyesal.
“Lain kali kalau kamu mau kemana-mana, kamu aja yang naik kendaraan umum.”
“Iya, Mas.”
Jayendra meninggalkan Agnia begitu saja setelah itu. Sementara Agnia ia benar-benar kesal dengan gadis berambut sebahu yang terus membuatnya sial.
“Ck! Kenapa sih gak sekalian aja gitu dia di itu terus di bunuh aja sama premanya. Nyusahin aja. Udah gak guna, buat beban aja,” gerundel Agnia lirih.
Agnia segera pergi ke kamarnya. Lihat saja, ia akan membalas semuanya. Namun tidak sekarang. Bisa-bisa ia di jadikan geprek oleh Jayendra jika ketahuan nanti.
“Awas aja, gue bakal buat perhitungan sama bocah sialan itu.”
***
Gavesha telah siap dengan kemeja merah muda khas kebanggaan SMP Nabastala. Ia merapikan sejenak dasi pita yang mengalung di kerah. Setelah itu ia hendak mengenakan sepatu pantofel berwarna hitam yang wajib di gunakan setiap siswi SMP Nabastala di hari Rabu dan Kamis.
Tok ... tok ... tok ....
“Assalamu’alaikum.”
“Gavesha, bukain pintunya, Sayang,” titah Xena dari meja makan.
“Iya, Ma.”
Setelah memakai sepatu di kaki satunya. Ia segera membukakan pintu untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
“Wa’alaikumussalam. Lho Tante Elakshi?” heran Gavesha saat melihat Elakshi yang datang.
“Alhamdulillah kamu belum berangkat.”
“Masuk dulu Tante,” ucap Gavesha mempersilahkan Elakshi masuk.
Elakshi duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruang tamu.
“Ada apa Tante kok pagi-pagi ke sini?” tanya Gavesha sopan.
“Eh ada Mbak Elakshi. Kenapa Mbak pagi-pagi ke sini? Ngomong-ngomong makasih ya oleh-oleh nya yang dari Padang kemarin,” ujar Xena duduk di samping Gavesha.
“Iya, Mbak, sama-sama. Ini saya ke sini mau titip surat nya Meesa. Hari ini dia gak masuk sekolah soalnya sakit,” terang Elakshi memberikan surat sakit milik Meesa.
“Meesa sakit apa, Tante? Setau saya kemarin dia baik-baik aja di sekolah,” heran Gavesha yang menerima surat sakit milik Meesa.
“Huft ... dia kayanya masih syok karena kejadian kemarin.”
“Kejadian? Kejadian apa, Mbak?” tanya Xena.
“Jadi kemarin dia hampir di lecehkan sama preman waktu pulang dari sekolah.”
“Astagfirullah, kok bisa, Mbak?”
“Bukanya Meesa kemarin di jemput sama Pak Damar ya, Tante?”
“Iya seharusnya. Tapi ternyata Pak Damar nganterin Agnia ke Bogor. Kebetulan hpnya lowbat jadi dia gak bisa naik kendaraan online. Niatnya mau cari tukang ojek, eh malah di cegat preman di Jalan Kemuning,” terang Elakshi.
“Ya Allah, tapi keadaan Meesa gak papa kan, Mbak?”
“Kayanya dia masih syok berat sih. Badan nya juga panas soalnya dari kemarin nangis terus.”
“Maaf ya Tante, seharusnya kemarin Gavesha nungguin Meesa aja. Kalau Meesa gak ada yang jemputkan biar pulang sama Gavesha,” sesal Gavesha.
“Gak papa, Sayang. Udah lewat juga.”
“Ya sudah saya pamit dulu ya. Gavesha, Tante titip suratnya Meesa ya. Terima kasih, hati-hati juga ke sekolahnya,” pamit Elakshi.
“Iya, Tante. Titip salam ya ke Meesa. Nanti pulang sekolah Gavesha bakal jenguk.”
“Iya, Sayang. Mbak Xena saya duluan ya.”
“Iya, Mbak. Titip salam juga ya buat Meesa. Semoga cepat membaik keadaanya.”
“Iya, Mbak. Terima kasih.”
Xena dan Gavesha mengantarkan Elakshi sampai depan rumah. Gavesha tidak henti-hentinya memikirkan Meesa. Rasanya ia ingin ke rumah Meesa sekarang namun saat ini sudah hampir jam tujuh.
Suara derum motor vespa berwarna putih terdengar, Gavesha tersenyum saat melihat Davendra menjemputnya.
“Ma, Gavesha berangkat dulu ya sama Davendra,” pamit Gavesha menyalimi tangan Xena.
“Iya, hati-hati ya. Yang fokus belajarnya,” pesan Xena.
“Iya, Ma.”
“Tante!” sapa Davendra saat baruu turun dari motor.
Davendra berjalan dulu ke arah Xena untuk menyalimi Xena. “Pagi, Tante.”
“Pagi juga, Davendra.”
“Dave berangkat dulu ya sama Gavesha ke sekolah.”
“Iya, hati-hati ya. Ya udah Tante masuk dulu ya.”
“Iya, Tante Xena yang cantik,” goda Davendra.
“Hahaha, kamu bisa aja.”
“Segak laku itu lo sampai nyokap gue aja lo goda hah!” gertak Gavesha yang sudah duduk di jok belakang motor Davendra.
“Sekata-kata lo.”
“Meesa hari ini gak masuk,” cerita Gavesha yang membuat Davendra urung memakai helmnya.
“Kenapa? Sakit?”
“Huum, tapi ada cerita yang lebih mencengangkan.”
“Apa!”
“Lo tau tadi Tante Elakshi kan ke rumah kasih surat izinya Meesa, nah Tante Elakshi cerita katanya kemarin sepulang sekolah dia hampir di lecehkan sama preman.”
“Kok bisa! Kan kemarin dia katanya di jemput sama Pak Damar.”
“Nah itu, katanya ternyata Pak Damar nganterin Tante Agnia ke Bogor. Meesa mau pesen kendaraan online awalnya, tapi batrai hpnya low bat. Pas dia mau cari ojek, malah di hadang sama preman-preman,” cerita Gavesha.
“Sekarang keadaan Meesa gimana?”
“Katanya masih syok.”
Davendra mulai menaiki motornya. “Nanti pulang sekolah kita jenguk dia.”
“Gue sih niatnya juga gitu. Kasian dia pasti masih trauma.”