Part 45

1352 Kata
Di ruangan serba putih dan biru muda itu, sesekali ringisan terdengar pelan. Dengan cekatan Denallie mengobati luka-luka memar yang di alami oleh Lal. Tidak banyak sebenarnya, hanya saja terdapat luka yang cukup panjang di lengan laki-laki itu karena goresan benda tajam. “Sudah selesai. Nanti jangan lupa kompres dengan es batu biar memarnya cepat sembuh,” ucap Denallie membereskan obat-obatan untuk mengobati Lal. “Terima kasih, Nek.” Denallie tersenyum sangat ramah. “Nenek yang terima kasih. Kamu sudah menyelematkan cucu Nenek. Sekarang di minum dulu coklat panasnya sama jangan lupa cicipi kue buatan Nenek.” “Iya, Nek.” Lal menyesap coklat panas buatan Denallie. Tanganya terulur mengambil satu keping kue kering yang ada di toples. Padahal baru satu gigitan, namun ia akui rasanya sangat enak. “Enak Nek kuenya,” puji Lal tulus. “Terima kasih. Oh ya, kamu teman sekelasnya Lava?” “Bukan, Nek. Tapi kelas saya sama Lavanya sebelahan,” balas Lal begitu ramah. Sedari tadi gadis berambut sebahu itu hanya diam dan melamun. Namun sebuah senyum tipis terukir. Ia kagum pada Lal, cara Lal berbicara ke neneknya, bersikap, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Denallie begitu sopan. Berbanding terbalik pada sifat Lal yang biasanya di sekolah. “Meesa! Meesa Sayang, gimana keadaan kamu, Nak?” teriak Elakshi khawatir. Denallie tadi menelfon Jayendra dan Elakshi mengenai kabar Meesa. Jadinya kedua orang tuanya itu memutuskan untuk langsung pulang melihat bagaimana kondisi buah hatinya. Apalagi Jayendra yang merupakan ayah dari Meesa merasa sangat marah. Belasan tahun ia menyayangi Meesa namun justru laki-laki tidak bertanggung jawab seperti mereka hendak melecehkan putri kesayanganya. Begitu dengan pula Elakshi, hatinya sangat terpukul saat mendapat kabar tersebut. Wanita berumur tiga puluh enam tahun itu langsung memeluk Meesa. Ia mendekap Meesa begitu erat menyalurkan semua kasih sayangnya. Lal tersenyum kecil melihat itu, ia bisa melihat betapa orang-orang ini menyayangi Meesa. Meesa di kelilingi oleh orang baik mangkanya kepribadian gadis itu begitu baik. Elakshi memegang kepala Meesa, menatap manik mata coklat gelap itu dengan penuh ke khawatiran. “Sayang, gimana bisa? Kamu gak papa, ‘kan? Ada yang sakit?” “Bunda ... Meesa baik-baik aja. Itu semua karena Lal. Lal yang terluka,” jawab Meesa lirih. Jayendra duduk di samping Lal. “Terima kasih ya, Nak. Om sangat berhutang budi dengan kamu.” Lal menyalimi Jayendra, ia menggeleng dan tersenyum tipis menjawabnya. “Tidak usah berlebihan, Om. Lavanya adalah teman saya, jadi saya akan menolongnya ketika dia butuh bantuan,” balas Lal begitu bijak. Jayendra menatap manik hazel itu. Ia melihat ketulusan di sana. Dari cerita Meesa, bahkan sampai saat ini ia melihat langsung bagaimana Lal itu dirinya menyimpulkan sepertinya anak laki-laki di sampingnya ini memang menyukai putrinya. Namun tidak ada kekhawatiran bagi Jayendra. Apalagi setelah kejadian ini. “Bagaimana kronologinya tadi?” “Saya melihat Lavanya duduk sendirian di halte padahal sekolah sudah di pulangkan dari satu jam yang lalu. Saat hendak saya samperin, dia justru pergi. Saya inisiatif untuk mengikuti dia. Di pertigaan Jalan Kemuning saya melihat Lavanya di ganggu dengan tiga preman-,” “Sebentar, dia jalan?” potong Jayendra. Jayendra menatap ke arah Meesa meminta penjelasan. Bukan kah tadi dia sudah menyuruh Damar untuk menjemput Meesa ke sekolah. Kenapa anaknya itu justru menunggu di halte sampai satu jam dan akhirnya memutuskan untuk jalan. “Meesa, bukan kah Ayah sudah menyuruh kamu untuk menghubungi Pak Damar agar kamu di jemput sama Pak Damar?” tanya Jayendra pada Meesa. Meesa menunduk takut. Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan ayahnya tersebut? Apa dia jujur jika Agnia memaksanya untuk pulang sendiri sedangkan Damar mengantarkan Agnia ke Bogor? “Lavanya Meesa, jawab,” desak Jayendra. Lal sebenarnya kepo, namun ini sudah masuk masalah privasi Meesa. Jadi Lal memutuskan untuk pamit terlebih dahulu. “Maaf Om, Tante, Nenek. Saya pamit dulu. Terima kasih, Nek, untuk kue kering sama minumanya,” pamit Lal sopan. “Kalau kamu suka, bawa saja kue itu. Nenek bisa membuatnya lagi nanti,” suruh Denallie. “Ah, tidak perlu Nek.” “Bawa saja, anggap rasa terima kasih Nenek karena kamu sudah menyelamatkan Lavanya.” Denallie memberikan kue kering tadi beserta toplesnya untuk Lal. Lal sebenarnya merasa tidak enak namun Denallie memaksanya. Akhirnya Lal menyalimi Jayendra, Elakshi, dan Denallie kemudian pamit pulang. “Hati-hati. Terima kasih sekali lagi. Oh ya, ini kartu nama saya. Kalau kamu butuh bantuan apapun itu hubungi saya. Jangan sungkan, saya benar-benar berhutang budi kepada mu,” ujar Jayendra memberikan kartu namanya pada Lal. “Terima kasih, Om.” “Terima kasih ya, Lal. Tante juga berhutang budi sama kamu. Sering-sering main ke sini ya,” pesan Elakshi saat Lal menyaliminya. “Sama-sama, Tante. Inn syaa Allah. Kalau gitu saya pamit dulu.” “Lavanya, gue pulang dulu,” imbuh Lal berpamitan. “Iya, hati-hati. Terima kasih ya, Lal. Maaf kamu jadi luka gara-gara aku.” “Santai aja.” Setelah Lal pergi, Jayendra kembali mengintrogasi Meesa. Kenapa bisa putrinya itu pulang sendirian padahal dia sudah membayar supir untuk menjemput Meesa. “Meesa, kenapa bisa kamu pulang jalan kaki?” “Meesa gak jalan kaki, Yah. Tadi Meesa mau cari ojek. Awalnya Meesa mau pesen taksi atau ojek online, eh hp Meesa low bat, Yah,” terang Meesa. Jayendra mengusap wajahnya dan menghela nafas kasar. “Iya, kenapa kamu malah cari ojek? Kan Ayah sudah bilang hubungi Pak Damar biar jemput kamu.” “Emmm ....” Meesa menunduk takut. “Pak Damar nganterin Tante Agnia ke Bogor,” cicit Meesa. “APA!” Kan, Jayendra pasti akan marah. Meesa menciut di dekapan Elakshi. Ayahnya memang tipekal orang penyabar yang jarang marah. Mangkanya Meesa sangat takut ketika ayahnya marah seperti saat ini. “Ayah membayar Pak Damar untuk mengantar jemput kamu, Meesa. Kenapa Pak Damar justru mengantar Agnia!” murka Jayendra. Jayendra mengambil ponselnya dengan penuh amarah. Entah siapa yang saat ini ia telfon. Tapi saat ini wajah Jayendra benar-benar sangat murka. “Agnia! Pulang kamu.” “...” “Kamu pulang sekarang atau Mas susul ke Bogor.” “...” “Bagus. Cepat.” Denallie hanya diam. Dia tidak membela Agnia karena memang saat ini wanita itu telah benar-benar kelewatan batas. Karena perbuatanya Meesa hampir saja di lecehkan. Jika saja tidak ada Lal mungkin saat ini Meesa tidak akan pulang dengan kondisi utuh. “Ayah jangan marah,” cicit Meesa takut. Jayendra mencoba untuk mengontrol emosinya. Ia menatap kondisi putri kesayanganya itu sendu. Ia tidak membayangkan bagaimana tadi ketakutanya Meesa saat di hadang oleh preman-preman itu. “Meesa, sekarang kamu masuk kamar dan istirahat. Jangan turun ke bawah sebelum Ayah suruh,” titah Jayendra. “Iya, Ayah.” “Ayah jangan terlalu ke bawa emosi. Nanti Ayah jangan marahin Tante Agnia ya? Ini salah Meesa.” “Masuk ke kamar, Meesa.” “Sayang, kita ke kamar sama Bunda ya. Bunda temani Meesa istirahat,” kata Elakshi membujuk Meesa. “Iya, Bunda.” “Nenek, nanti ingatin Ayah ya biar gak terlalu ke bawa emosi,” pinta Meesa pada Denallie. “Iya, Sayang. Kamu istirahat gih. Nanti Nenek buatin cake lava kesukaan kamu ya?” “Iya, Nek.” Meesa dan Elakshi pergi ke lantai tiga untuk mengantarkan Meesa istirahat. Sementara Jayendra ia benar-benar murka saat ini. Rasanya ia ingin memukul siapapun. Apapun yang terjadi nanti, ia ingin menuntut orang-orang yang hendak melecehkan putrinya tersebut. Setelah urusanya dan Agnia selesai. Jayendra akan mencari siapapun preman-preman itu untuk memberikanya hukuman yang setimpal. “ARGH ....” Pyar. Jayendra menghempas salah satu vas bunga yang ada di meja ruang tamu. “Nak, jangan seperti ini. Ingat ucapan Meesa,” peringat Denallie yang sedari tadi diam melihat putra sulungnya itu mencoba untuk menahan emosinya. “Gak bisa, Bu. Gimana aku bisa tenang? Ibu lihat sendiri kan gimana kondisi Meesa? Dia jelas trauma setelah ini. Bagaimana dengan mentalnya setelah ini?” tukas Jayendra begitu pilu. “Ibu tau, Nak. Ibu juga gak tega apalagi tadi waktu dia pulang dia langsung nangis dan peluk Ibu. Tapi Ibu yakin dia pasti baik-baik aja. Hatinya Lava itu benar-benar bersih, Allah akan selalu menjaganya,” tutur Denallie mencoba menenangkan Jayendra. “Ambil wudu biar kamu tenang. Lagi pula Agnia pasti lama pulangnya.” “Iya, Bu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN