Lal menghela nafas kasar saat mendapat pesan dari supirnya kalau ternyata mobil yang biasa ia tumpangi tengah mogok. Tadinya Lal hendak memesan taksi online, namun ia menyirit saat melihat Meesa masih ada di halte depan sekolah.
Baru saja Lal hendak menghampiri ternyata Meesa sudah terlebih dahulu berjalan meninggalkan halte. Lal menyirit saat memikirkan kenapa Meesa masih belum pulang, padahal bel sudah berbunyi satu jam yang lalu. Mendapat signal tidak enak, Lal memutuskan untuk mengikuti Meesa.
Kedua tanganya mengepal saat melihat Meesa hendak di lecehkan. Apalagi teriakan takut dari pujaan hatinya itu benar-benar membuat hatinya teriris.
“Jangan sentuh saya!”
“Jangan memberontak, Sayang.”
“Lepasin! Lepasin saya!”
“Setelah kita main, gue akan lepasin lo.”
“TOLONG! TOLONG! HIKS ... TOLONG!”
Lal mempercepat langkahnya, ia berlari saat seorang preman berambut gondrong itu hendak menyentuh Meesa. Tanpa aba-aba, dia meninju rahang preman tersebut sehingga membuat preman itu tersungkur.
“Lepasin dia,” titah Lal dingin penuh penekanan.
Salah seorang preman berbadan cungkring tertawa. Ia menatap Lal remeh.
“Gak usah jadi pahlawan kesiangan lo. Gimana kalau kita bareng-bareng nikmati tubuhnya.”
Bugh ....
Lal kalap. Ia menonjok preman itu dengan bruntal tak memberi celah sedikit pun. Jangan lupakan Lal adalah seorang atlet karate yang tidak usah di ragukan lagi kemampuanya. Sedari umur empat tahun ia sudah belajar karate, bahkan saat ini ia telah memegang sabuk tertinggi dalam ilmu bela diri tersebut.
Air mata Meesa turun deras, apalagi ringisan gadis itu membuat Lal semakin murka. Amarahnya benar-benar memuncak, terlihat saat wajahnya begitu merah dan saat ini tenaganya berlipat ganda.
Sudah satu preman yang ia tumbangkan. Lal tidak peduli meski wajahnya sudah babak belur saat ini.
“Lal, hati-hati,” pesan Meesa dengan suara seraknya.
Bugh.
Bugh.
Bugh bugh.
Krak.
Krak ....
Suara tulang patah terdengar begitu renyah. Meesa bahkan sampai meringis mendengarnya.
“Pergi atau kalian gue habisi.”
“Lepasin. Atau lo mau bernasib sama seperti mereka,” murka Lal terhadap preman bertubuh gempal yang memegangi Meesa sedari tadi.
Preman bertubuh gempal itu langsung melepaskan Meesa begitu saja karena takut nasibnya sama dengan kedua temanya. Mereka pun segera lari dari hadapan Lal dan Meesa, takut jika laki-laki itu akan menghabisinya. Salah satu dari teman mereka yag kakinya di patahkan oleh Lal terpaksa mereka bopong.
Setelah ketiga preman itu pergi, Lal segera memeluk Meesa. Mengamakan Meesa dalam dekamanya.
“Sssttt ... udah jangan takut lagi, Lavanya,” ucap Lal menenagkan Meesa.
“Mereka ... mereka hiks ... tadi dia ... hiks hiks-,”
“Ssttt ... udah ya.”
Lal mendekap erat Meesa. Ia membelai rambut sebahu yang sangat berantakan itu untuk merapikanya.
“Tadi dia mau ci-cium aku hiks ....”
“Kan gak jadi, Lavanya. Jangan takut, ada gue.”
“Tapi-tapi, tadi dia sen-sentuh-,”
“Mana yang di sentuh?” potong Lal melepaskan pelukanya.
Meesa menunjukan pipi dan lenganya. Kemudian Lal mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Mengelap bagian tubuh Meesa yang sempat di pegang preman tadi.
“Udah ya, jangan nangis lagi. Kan udah gue bersihin. Udah gak ada lagi bekas sentuhan preman tadi.”
Meesa mengangguk, tapi air matanya masih belum bisa berhenti. Ia masih sangat ketakutan. Coba bayangkan jika tidak ada Lal. Pasti hari ini adalah menjadi hari kehancuranya. Melihat Meesa yang belum saja tenang, Lal kembali mendekap Meesa.
“Jangan takut, Lavanya. Ada gue.”
“Hiks ... hiks ... kotor. Ak ... aku udah kotor,” racau Meesa yang begitu menyayat hati Lal.
“Enggak. Kan udah gue bersihin, Lavanya. Gak ada lagi bekas preman itu.”
“Mereka tadi mau ... mau hiks ....”
“Udah, jangan di ingat. Yang penting sekarang lo udah aman.”
Melihat Meesa sehancur ini, jujur Lal ingin sekali membunuh ketiga pria tadi.
“Lal ....”
“Iya, Lavanya?”
“Takut.”
“Jangan takut lagi. Berhenti nangis oke? Atau lo mau gue bunuh mereka biar lo gak takut lagi hm?” tawar Lal.
Meesa menggelengkan kepalanya kuat. Ia mengusap air matanya kasar, namun Lal menahanya. Tangan kekar Lal mengusap air mata Meesa dengan lembut. Meski masih sesegukan, tapi air mata Meesa sudah tidak lagi keluar.
“Kenapa lo belum pulang?”
“Hp aku lowbat jadi gak bisa pesan taksi online,” cicit Meesa.
Lal menghela nafas kasar. Ia merogoh ponselnya untuk menghubungi sang supir agar menjemputnya di sini saja. Sekalian ia akan mengantarkan Meesa pulang. Mana tega ia membiarkan Meesa pulang dengan keadaan seperti ini.
“Pulang sama gue.”
Meesa hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lal barusan. Ia masih takut dengan keadaan tadi.
“Jangan takut, ada gue.”
Lal masih senantiasa membawa Meesa di dekapanya. Saat ini keduanya duduk di trotoar dengan Meesa yang masih dalam dekapan Lal. Sepuluh menit kemudian Palguna akhirnya sampai. Ia hendak bertanya kenapa dengan gadis yang ada di pelukan anak majikanya itu menangis namun tidak jadi karena kode dari Lal.
“Masyaallah, Den Lal kenapa babak belur gini?” pekik Palguna saat melihat kondisi Lal yang lebam-lebam.
“Nanti saya jelasin. Sekarang antarkan teman saya dulu ke rumahnya.”
“Iya, Den.”
Lal membukakan pintu mobil untuk Meesa baru setelah itu ia masuk dan duduk di samping Meesa.
“Rumah lo di mana?”
“Perumahan Jatukrama blok f nomor lima belas,” jawab Meesa lirih.
“Perumahan Jatukrama blok f lima belas,” ulang Lal memberitahu sang supir.
“Baik, Den.”
Suasana dalam mobil mewah itu nampak hening. Meesa hanya memandang kosong jalanan sedangkan Lal masih terus mempehatikan Meesa. Palguna yang ada di kursi pengemudi itu sesekali menatap ke arah spion tengah untuk melihat kedua penumpangnya tersebut.
Setelah dua puluh menit akhirnya mereka sampai di depan rumah milik Meesa. Lal memutuskan untuk membantu Meesa masuk ke rumahnya.
Gadis berambut sebahu itu berlari ke arah Denallie saat mendapati sang nenek yang tengah duduk di teras sambil merawat tanaman hiasnya. Meesa langsung memeluk Denallie dan kembali menangis di dekapan Denallie.
“Lava, kenapa, Sayang? Kok nangis. Siapa yang jahatin kamu?” tanya Denallie khawatir.
“Assalamu’alaikum, Nek. Selamat siang, saya Lal temenya Lavanya. Tadi saya bertemu dengan Lavanya di pertigaan Jalan Kemuning. Lavanya sedang di ganggu oleh tiga preman dan hampir di lecehkan. Tapi syukurlah saya datang tepat waktu. Sepertinya Meesa masih syok saja,” terang Lal begitu sopan.
Denallie yang mendengar keterangan dari Lal pun tak kalah syok nya. Pantas saja cucu kesayanganya yang selalu ceria saat ini terlihat begitu sedih dan trauma.
“Ya Allah ya gusti. Terima kasih ya, Nak.”
“Sama-sama, Nek.”
“Sudah, Lava. Jangan takut, sekarang kan kamu sudah aman. Di sini gak akan ada yang jahatin kamu, Sayang. Sudah, Sayang,” bujuk Denallie menenangkan Meesa.
“Kalau gitu saya pamit dulu ya, Nek,” pamit Lal hendak kembali ke mobil.
“Kamu tidak mau mampir dulu? Biar Nenek buatin coklat hangat sama kue,” tawar Denallie.
“Mungkin lain kali, Nek. Saya masih ada urusan,” tolak Lal halus.
“Wajah kamu lebam dan ada beberapa luka di tubuh kamu. Biar Nenek obatin dulu sebagai tanda terima kasih kamu udah nolongin cucu kesayangan Nenek. Jangan di tolak ya, Nak.”
Lal akhirnya mengangguk. “Iya, Nek.”
“Lava Sayang, ayo masuk dulu. Kamu mau Nenek buatin coklat panas kesukaan kamu? Jangan takut lagi, kan Lava sudah baik-baik aja. Sekarang kamu sudah aman, Sayang.”
Denallie mengusap lembut rambut hitam kelam milik Meesa tersebut. Saat sudah mulai tenang, Meesa bangkit dan mau di ajak untuk masuk rumah.
“Kamu duduk sini dulu ya temenin teman kamu. Nenek mau buatin minuman dulu buat kalian. Sekalian obatin teman kamu itu.”
“Iya, Nek.”