Part 4

1130 Kata
           Sandykala nampak begitu adiwarna dengan auzora kejinggaan. Kedua bola mata belo tersebut tersenyum melihat tiga pasang seragam barunya. SMP Nabastala, akan menjadi tempat sekolahnya nanti. SMP swasta yang terkenal dengan murid-murid berprestasinya.            Kemeja putih di balut rompi v bordir berwarna navy untuk hari senin dan selasa. Kemeja merah muda dengan dasi yang khas di padukan rok berwarna nila untuk seragam khas kebanggaan SMP Nabastala di hari Rabu dan Kamis. Dan yang terakhir, seragam pramuka untuk hari Jum’at.            “Seragamnya bagus banget, Bun!” seru Meesa bersemangat mencoba seragam barunya.            “Kamu suka?”            Meesa mengangguk mantap, “suka banget!”            Elakshi tersenyum hangat, ia membelai surai hitam sebahu tersebut. Senyumnya semakin merekah tatkala nayanika itu menatap penuh binar barang-barang yang baru saja ia belikan.            “Besok kamu sudah boleh sekolah. Bunda sama ayah akan antarkan kamu.”            “Yeay! Meesa jadi gak sabar.”            “Ya sudah, sekarang turun untuk persiapan salat magrib.”            “Iya, Bun.”            Elakshi pergi meninggalkan kamar Meesa, sedangkan Meesa masih harus menyimpan seragam barunya tersebut. Rasanya ia tak sabar untuk menyambut esok. Pasti begitu menyenangkan sekolah barunya nanti. Ia harap nanti teman-teman barunya bisa menerima dan berteman baik denganya.            Setelah membereskan segaram serta beberapa buku yang baru saja Elakshi berikan, Meesa bergegas keluar menuju musala dalam rumah. Untuk kali ini ternyata di imami oleh Davanka, suami dari Anwa.            Sedikit informasi, Davanka adalah seorang dosen aqidah dan filsafat islam di universitas negeri islam yang terkenal di Jakarta. Di antara Pranaya dan Davanka, Meesa memang lebih akrab pada Davanka. Sesekali di waktu senggang Davanka, Meesa bertanya beberapa hal mengenai agama islam.            Seperti biasa, seusai salat dan tadarus al quran Meesa pergi membantu menyiapkan makan malam. Kali ini di dapur hanya ada Meesa, Ekavira, dan Elakshi. Elakshi tengah sibuk memumis kangkung sementara Ekavira menggoreng ayam.            “Meesa, kamu siapin minuman ya. Ini bawa ke meja makan juga sekalian,” tutur Ekavira memerintah.            “Iya, Kak.”            Meesa memang memanggil Ekavira dan Kaivan dengan sebutan ‘kak’. Itu pun permintaan mereka, agar tidak terlihat begitu tua karena memang mereka belum berumah tangga. Jadinya jika di panggil om dan tante membuat mereka terlihat begitu tua.            Meesa mulai membuat beberapa minuman, setelah siap ia mulai menata meja makan. Suasana makan malam ini nampak sepi. Karena ternyata keluarga Agnia sedang makan malam di luar karena ada pertemuan penting dengan rekan kerja Pranaya. Sedangkan Kaivan, ia sedang pergi dengan teman-teman kampusnya.            Di sisi lain, gadis berambut panjang dengan style casual tersebut nampak sibuk dengan beberapa tumpukan buku di hadapanya. Kedua mata coklat tuanya dengan jeli membaca rentetan huruf yang sebenarnya sudah membuat kedua mata itu lelah.            “Gue denger besok ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita,” celetuk laki-laki di hadapanya yang juga sama sibuknya seperti gadis itu.            “Lo tau dari mana?”            Laki-laki itu memainkan alisnya, jangan lupakan Davendra si murid kesayangan wali kelas. Gasheva hanya merotasikan bola matanya malas melihat paras menyebalkan laki-laki di hadapanya tersebut.            “Cewek atau cowok?”            “Cewek.”            “Oh. Itu lo udah selesai belum sih? Lama banget timbang ngerjain gitu doang,” gerutu Gavesha karena sedari tadi Davendra belum saja selesai mengerjakan tugas kelompok mereka.            “Hampir jadi, cuman tinggal buat kesimpulan makalahnya aja.”            “Ya udah cepet. Keluar yok cari makan, laper gue. Mana nyokap gak balik-balik lagi.”            “PMS lo hari ini? Sewot bener dari tadi,” tebak Davendra karena sedari tadi Gavesha tidak bisa santai.            “Iya, kenapa?” sewot Gavesha begitu galak dengan suara naik satu oktaf.            “Iiss, jangan galak-galak. Nanti lo cepet tua,” goda Davendra sembari memainkan alisnya.            Gavesha tak menanggapinya, ia hanya melirik Davendra sinis. Mereka berdua memang tampak begitu dekat. Maklum, mereka telah berteman dari kecil. Davendra satu-satunya teman Gavesha, lagi pula siapa yang mau berteman dengan gadis galak penuh ambisius tersebut? Tak jarang juga rumor mereka memiliki hubungan lebih sering terdengar. Namun hal itu di tepis mentah-mentah oleh Gavesha.            “Gue mau cerita,” seru Davendra menyingkirkan laptop touch screen dari pangkuanya.            “Selesaiin dulu tugasnya.”            Davendra mendengus kesal, ia memberikan laptop tersebut ke arah Gavesha. Memperlihatkan bahwa tugasnya telah selesai. Gadis berambut panjang se pinggang itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil merevisi hasil kerja Davendra.            “Lo boleh cerita,” putus Gavesha sambil mengoreksi hasil kerjaan Davendra.            “Gue kemarin sore ketemu cewek. Cantik, imut, badanya emang sedikit berisi tapi gak gendut-gendut amat sih soalnya dia tinggi gak kaya lo, pendek.”            Gavesha menatap Davendra tajam, “cerita-cerita aja. Gak usah hina-hina gue.” Sinis Gavesha yang membuat Davendra terkekeh renyah.            Sudah Davendra bilang, Gavesha itu galak pakaii banget. Pantas tidak ada yang mau berteman dengan gadis itu. Mereka kebanyakan takut di ngab oleh Gavesha.            “Gue gak pernah liat dia, tapi gue ketemu di blok A. Gue kan lagi buru-buru mau latihan voli tuh gak sengaja nabrak dia. Al hasil es krim dia jatuh kena hoodie gue. Gak masalah sih, cuman gue punya hutang ganti es krimnya. Dia kaya gak ikhlas gitu waktu es krimnya jatuh,” jelas Davendra menceriakan kejadian tempo lalu.            “Nangis gak dia?”            “Kayanya mau nangis sih. Kaku banget orangnya, polos banget juga ceweknya. Kalem, lemah lembut, gak kaya lo.”            Gavesha menudingkan bolpoin miliknya ke arah Davendra, “suka lo sama dia?”            “Gemes aja sih. Kalau gue ketemu lagi, nanti gue kenalin ke lo. Tapi jangan di galakin anak orang.”            Gavesha hanya memutar bola matanya malas. Ia menyalin tugas mereka ke flashdisk yang kemudian akan mereka print malam ini. Setelah selesai, Gavesha membereskan buku-buku yang berserakan di bantu dengan Davendra.            “Gue taruh ini dulu ke kamar. Habis ini kita ke tukang fotokopi habis itu cari makan,” ujar Gavesha bangkit dari duduknya.            Davendra mengangguk singkat. Ia berjalan ke arah sepeda motor miliknya untuk bersiap. Beberapa menit kemudian Gavesha keluar dengan cardingan oversize berwarna lilac yang membalut kaos putih polos. Gavesha duduk di jok belakang motor milik Davendra.            “Udah?” tanya Davendra yang mulai menstater motornya.            “Iya.”            Dengan kecepatan sedang, Davendra mengendarai vespa matic berwarna putih miliknya. Membelah jalanan ibu kota yang nampak masih begitu ramai meski malam hari. Sebenarnya tempat fotokopi ada di depan komplek, jadi hanya perlu lima menit mereka telah sampai.            Gavesha turun untuk pergi mengeprint makalah mereka, sedangkan Davendra menunggu di atas motor. Sembari menunggu Gavesha, Davendra memainkan ponselnya agar tidak terlalu bosan. Setelah sepuluh menit kemudian Gavesha selesai mengeprint serta menjilid tugas mereka.            Gavesha menepuk punggung lepar Davendra dengan makalah yang telah ia jilid membuat Davendra terperanjat terkejut. Tidak ada protes dari Davendra, apalagi mengingat Gavesha sedang halangan. Yang ada nanti dia habis di tangan Gavesha.            “Mau beli apa?” tanya Davendra pada gadis yang tengah duduk di jok belakang motornya.            “Emm ... nasi goreng kayanya enak.”            “Siap meluncur untuk Nyonya Gavesha.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN